Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Wednesday, 17 October 2012

Tarian Sufi Rabbani Wahed Difilmkan

Komunitas Pecinta Film Dokumenter Aceh, kembali menggarap pembuatan film “Sufi Tapi Bukan Sufi” Rabbani Wahed setelah melakukan riset dua bulan lebih sejak September lalu.
Tarian Sufi Rabbani Wahed asal Samalanga, Bireuen ini merupakan kearifan lokal yang selama ini tidak populer lagi di masyarakat Aceh.
Pendiri dari Tarian Rabbani Wahed, T. Muhammad Daud Gade (80), menjelaskan tarian ini merupakan tarian saman pesisir bermakna Tuhan yang satu, Tarian Sufi Aceh yang mengajarkan tentang tauhid, agama, kekompakan, melalui gerakan energik
Dalam Tarian Rabbani Wahid ada banyak gerakan seperti rateb duek (duduk) dan rateb deng (berdiri), kurang lebih 30 gerakan mengikuti syair dan pada hakikatnya sama dengan Tarian Meugrob (meloncat), tarian yang dilaksanakan pada hari besar Islam, biasanya dilakukan pada malam hari raya idul Fitri, setelah pembagian zakat fitrah.
Tarian Meugrob sendiri muncul ratusan tahun lalu, dibawakan oleh Murid Muhammad Saman. Namun tidak bisa berkembang, lantaran perubahan politik saat perang saudara antara ulama dan ulee balang sekitar tahun1949-an, dan terjadi sentimentel antara sesama masyarakat.
Tarian Rabbani Wahid Samalanga ini sampai sekarang sudah banyak dinikmati oleh masyarakat luas, seperti Jepang dan Turki.
Sutradara film “Sufi Tapi Bukan Sufi” Azhari menyebutkan, hasil kajian tersebut akan difilmkan dengan durasa 15 menit, bercerita tentang perjalanan tarian sufi Aceh, mulai dari 1990 yang berasal dari tarian Meugrob, proses transisi tarian Meugrob ke tarian Rabbani Wahed sampai nanti pada pelaku tarian sufi yang lebih dominan dilakukan oleh para masyarakat yang tinggal di daerah pesisir
“Film ini mencoba memberikan informasi secara visual mengenai gerakan-gerakan, dan syair secara langsung, agar masyarakat mengetahui keberadaannya,” tambah Azhari.
 
sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Festival Pliek U, 20-21 Oktober di Sabang

Pemerintah Kota Sabang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Festival Pliek U, makanan khas Aceh, 20-21 Oktober mendatang.
“Festival digelar untuk memberikan kesan bahwa kuliner Aceh merupakan salah satu ciri kepariwisataan Kota Sabang, dan Indonesia pada umumnya,” kata Manajer Publikasi dan Komunikasi Festival Pliek U Boy Febrian di Banda Aceh, Selasa (16/10).
Dalam festival digelar di Pantai Sumur Tiga, Kota Sabang, tersebut, kata dia, ada dua kegiatan yang ditampilkan. Yakni lomba masak gulai pliek u dan pameran kuliner khas Aceh.
Lomba masak gulai pliek u, kata dia, rencananya diikuti kelompok peserta dari 23 kabupaten/kota. Begitu juga dengan pameran kuliner khas Aceh, akan memamerkan makanan khas dari berbagai daerah di Provinsi Aceh.
“Undangan peserta sudah kami sampaikan kepada para bupati/wali kota di Provinsi Aceh. Hingga kini kami masih menunggu konfirmasi kelompok peserta lomba masak gulai pilek u dan pameran kuliner khas Aceh,” ujar Boy Febrian.
Ia menjelaskan festival ini digelar atas dukungan penuh Pemerintah Kota Sabang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh.
“Festival dengan tema “Kuliner Aceh, Cita Rasa Dunia” ini digelar untuk menjadikan masakan khas Aceh sebagai industri yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan dukungan positif terhadap sektor pariwisata di Indonesia,” ungkap dia.
Selain itu, kata dia, festival ini digelar untuk menggugah insan-insan pariwisata untuk lebih kreatif mengemas potensi masakan khas Aceh, sehingga menjadi aset pendukung pariwisata yang dapat diandalkan.
“Tujuan lainnya, Festival Pliek U diharapkan memberikan daya tarik yang kuat kepada wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Sabang, dan Provinsi Aceh pada umumnya,” kata Boy Febrian. 
sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Thursday, 11 October 2012

Maher Zain : Aceh Adalah Kota Yang Sangat Indah


Penyanyi religi asal Swedia, Maher Zain mengaku bangga bisa menggelar konser di Aceh. Baginya konser di provinsi berjuluk "Serambi Mekkah itu merupakan momen spesial.

"Ini konser spesial bagi saya, walau sebelumnya saya pernah menggelar konser serupa di Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Saya bangga menjadi penyanyi internasional yang pertama menggelar konser di Aceh," ungkapnya di Banda Aceh, Rabu (10/10).

Sebelum datang ke Aceh, Maher mengaku sangat antusias untuk berkunjung ke Aceh dan menggelar konser. Ia bahkan sudah lebih dahulu mempelajari provinsi itu. Dan, setelah datang dan melihat langsung, Aceh ternyata lebih indah seperti yang selama ini didengarnya, kata dia.

Tidak hanya keindahan kota, ia juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Aceh. Apalagi  saat melihat antusiasme masyarakat Aceh menyambut kedatangannya.
Baca Selengkapnya

Tuesday, 9 October 2012

Yuk Kita Intip Pelabuhan Sinabang

Tahun Pembangunan 1982
Pembangunan Kembali 2005
Kapasitas Dermaga 500 GRT
Kedalaman ± 6 M
Jenis Dermaga Pelencengan

No. PRASARANA VOLUME
A FASILITAS SISI LAUT


1
Konstruksi Abutment 1.00
Buah
2
Mooring Dolphin 2.00
Buah
3
Breasting Dolphin 3.00
Buah
4
Catwalk 64.00
M2
5
Talud pelindung lereng 1.00
Paket
6
Breakwater 91.00
M2
7
Movable bridge 48.00
M2
8
Rambu Suar Laut


9
Pengerukan kolam pel.


B
FASILITAS SISI DARAT


1
Gedung Operasional 240.00
M2
2
Pos Periksa tiket 9.00
M2
3
Tower air + Instalasi 1.00
Unit
4
Sumur bor/deep whell 1.00/1.00

5
Tangki BBM + R.Pompa


6
Gang way 1.00
Paket
7
Jalan dan lapangan Parkir 117.60
M2
8
Pagar dan pintu 330.00
M2
9
Terminal taksi 1.00
Paket
10
Terminal Umum


11
Rambu Suar Darat 1.00
Unit
12
Pos Jaga 9.00
M2
13
Landscape 1.00
Paket
14
Mushalla






Pelabuhan Aceh Lainnya :


Baca Selengkapnya

Sultan dan Sultanah Yang Perlu Kita Ketahui Rekam Jejak Sejarahnya

Berikut adalah beberapa sultan dan sultanah Aceh yang sempat memimpin kerajaan di Aceh secara turun menurun. Banyak kisah yang mengharukan serta semangat untuk memimpin Kerajaan Aceh dengan hukum-hukum yang ditetapkan masa itu. Untuk melihat profil beliau youk kita klick namanya :

A. Sultan Aceh
  1. Sultan Ali Mughayat Syah
  2. Sultan Salahuddin ibn Ali Malik az Zahir 
  3. Sultan Alauddin ibn Ali Malik az Zahir 
  4. Sultan Ali ibn Alauddin Malik az Zahir
    Sultan Husain Ali Riayat Syah
  5. Sultan Muda 
  6. Sultan Sri Alam
    Sultan Firman Syah ibn Alauddin
  7. Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah 
  8. Sultan Alauddin Mansur Syah ibn Ahmad 
  9. Sultan Ali ibn Munawar Syah
  10. Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil 
  11. Sultan Ali Riayat Syah 
  12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam 
  13. Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah 
  14. Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin 
  15. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui 
  16. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir 
  17. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir 
  18. Sultan Jauharul Alam Aminuddin 
  19. Sultan Syamsul Alam 
  20. Sultan Alauddin Ahmad Syah 
  21. Sultan Alauddin Johan Syah 
  22. Sultan Badruddin Johan Syah 
  23. Sultan Mahmud Syah
  24. Sultan Sulaiman Syah
  25. Alauddin Muhammad Syah 
  26. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 
  27. Sultan Syarif Saif al-Alam 
  28. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 
  29. Sultan Muhammad Syah 
  30. Sultan Sulaiman Syah 
  31. Sultan Mansur Syah 
  32. Sultan Mahmud Syah 
  33. Sultan Muhammad Daud Syah
B. Sultanah Aceh
  1. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam 
  2. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam 
  3. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah 
  4. Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah 


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_penguasa_Aceh
Baca Selengkapnya

Sunday, 7 October 2012

Tarian "Rahasia" dari Gayo yang Bernama Guel

Tari Guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di NAD. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.

Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.

Pemda Daerah Istimewa Aceh ketika itu juga menerjunkan sejumlah tim dibawah koodinasi Depdikbud (dinas pendidikan dan kebudayaan), dan tersebutlah nama Drs Asli Kesuma, Mursalan Ardy, Drs Abdrrahman Moese, dan Ibrahim Kadir yang terjun melakukan survey yang kemudian dirasa sangat berguna bagi generasi muda, seniman, budayawan untuk menemukan suatu deskripsi yang hampir sempurna tentang tari guel. Sebagian hasil penelitian ini yang saya coba kemukakan, apalagi memang dokumen/literatur tarian ini sedikit bisa didapatkan.

Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari Guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.

Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh). Memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta. Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan.

Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia lukiskanlah seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.

Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari Guel berasal: Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan; diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah.

Setelah itu, sang Gajah yang bertubuh putih nampak keluar dari persembunyiaannya. Ketika berpapasan dengan rombongan Sengeda, sang Gajah tidak mau beranjak dari tempatnya. Bermacam cara ditempuh, sang Gajah masih juga tidak beranjak. Sengeda yang menjadi pawang pada waktu itu menjadi kehilangan ide untuk menggiring sang Gajah.

Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah: indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan. Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari Guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.

Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari Guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah: dalam Tari Guel. Reinngkarnasi kisah tersebut, dalam tari Guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.

Di tanah Gayo, dahulunya dikenal begitu banyak penari Guel. Seperti Syeh Ishak di Kampung Kutelintang-Pengasing, Aman Rabu di kampung Jurumudi-Bebesan, Ceh Regom di Toweran. Penari lain yang kurun waktun 1992 sampai 1993 yang waktu itu masih hidup adalah Aman Jaya-Kampung Kutelintang, Umer-Bebesan, Syeh Midin-Silih Nara Angkup, Safie-Gelu Gele Lungi-Pengasing, Item Majid-Bebesan. Mereka waktu itu rata-rata sudah berusia 60-an. Saat ini sudah meninggal sehingga alih generasi penari menjadi hambatan serius.

Walaupun ada penari yang lahir karena bakat sendiri, bukan langsung diajarkan secara teori dan praktik oleh para penari pakar seperti disebutkan, keterampilan menari mereka tak sepiawai para pendahulunya. Begitu juga pengiring penggiring musik tetabuhan seperti Rebana semakin langka, apalagi ingin menyamakan dengan seorang dedengkot almarhum Syeh Kilang di Kemili Bebesan.

Tari Guel dibagi dalam empat babakan baku. Terdiri dari babak Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau gerak dasar adalah Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan. Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Penari Pria dalam setiap penampilan selalu tampil sebagai simbol dan primadona, melambangkan aman manyak atau lintoe Baroe dan Guru Didong. Jumlah penabuh biasanya minimal 4 orang yang menabuh Canang, Gong, Rebana, dan Memong. Tari Guel memang unik, pengalaman penulis merasakan mengandung unsur dan karakter perpaduan unsur keras lembut dan bersahaja. Bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini, terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa. Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya memengaruhi antara Sengeda dan Gajah Putih. Upaya untuk menundukkan jelas terlihat, hingga kipasan kain kerawang Gayo di Punggung Penari seakan mengandung kekuatan yang luar biasa sepanjang taarian. Guel dari babakan ke babakan lainnya hingga usai selalu menawarkan uluran tangan seperti tarian sepasang kekasih ditengah kegundahan orang tuanya. idak ada yang menang dan kalah dalam tari ini, karena persembahan dan pertautan gerak dan tatapan mata adalah perlambang Cinta. Tapi sayang, kini tari Guel itu seperti kehilangan Induknya, karena pemerintah sangat perhatian apalagi gempuran musik hingar modern seperti Keyboar pada setiap pesta perkawinan di daerah itu.
Baca Selengkapnya

Saturday, 6 October 2012

Tarian Ratoh Duek yang Bermakna Ibadah Dilakukan Secara Duduk


Tari Ratoh Duek adalah sebuah tarian masyarakat Aceh yang tengah berkembang pesat di Jakarta. Umumnya, masyarakat Jakarta mengenal dan menyebutnya dengan nama Tari Saman. Hampir tidak ada perbedaan antara kedua jenis tari ini, tari Ratoh Duek dilakukan oleh penari perempuan, sedangkan tari Saman dilakukan oleh penari laki-laki.
Baca Selengkapnya

Friday, 5 October 2012

Reyhan dan Afla Nadya Duta Wisata Aceh Barat

Reyhan Gufriyansyah (19), mahasiswa semester III Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bersama Afla Nadya (18), mahasiswi FKIP Bahasa Inggris Unsyiah Banda Aceh, Sabtu (1/9) malam terpilih masing-masing sebagai juara I sekaligus dinobatkan sebagai pasangan Duta Wisata Kabupaten Aceh Barat Tahun 2012.

Pasangan ini lolos sebagai pemuncak setelah berhasil menyisihkan 15 pasangan lainnya dan berhasil pula menyisihkan dua pasangan finalis dalam babak final yang dilaksanakan panitia penyelenggara di Cafe Pantai Barat Meulaboh.

Dengan prestasi itu, Reyhan bersama Afla berhak mewakili Kabupaten Aceh Barat dalam ajang pemilihan Duta Wisata Aceh yang akan dilaksanakan di Banda Aceh. Pasangan ini juga mendapatkan tropi, piagam penghargaan, dan uang pembinaan dari Pemkab Aceh Barat.

Dalam babak final yang berlangsung hingga menjelang tengah malam itu, tiga pasangan yang lolos ke babak grandfinal adalah Reyhan Gufriansyah-Afla Nadya, Andri Wilia Habmila-Intan Kemala Tanzil, serta Radhi Fadhilah-Novi Tria Mardalena.

Dari hasil seleksi terungkap bahwa Reyhan dan Afla memiliki total nilai paling tinggi untuk item yang dinilai dewan juri. Meliputi  kemampuan berbahasa Inggris, wawasan kepariwisataan, sosial, budaya, agama, dan kreativitas.

Tim jurinya terdiri atas Cut Nyak Dian SPsi (aspek psikologi), Junaidi Ibas SAg MSi (aspek keagamaan dan bahasa Inggris), serta Gusnawati (aspek seni budaya).

Pemkab Aceh Barat melalui Dinas Perhubungan, Telekomunikasi, dan Pariwisata setempat juga memberikan hadiah, tropi, dan piagam penghargaan kepada 24 peserta lainnya, meski tidak lolos ke babak semifinal maupun grandfinal.

Saat ditanyai Serambi, baik Reyhan maupun Afla Nadya berkomitmen untuk meraih juara I dalam pemilihan Duta Wisata Aceh di tingkat provinsi. “Kami akan mengharumkan nama Aceh Barat sekaligus mempromosikan potensi wisatanya,” kata Reyhan, diamini Afla. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Pariwisata Aceh Barat, Saiful AB melalui Kabid Pariwisata Mulyadi mengaku bangga atas Duta Wisata Aceh Barat Tahun 2012 iitu. “Kita harapkan merekalah yang akan menjuara lomba Duta Wisata Aceh di Banda Aceh nantinya,” kata Mulyadi.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (visit now)
Baca Selengkapnya

Peserta Wisata Trail Puji Alam Aceh

Para peserta ‘Aceh Dirt Bike Adventure 2012’ dari berbagai daerah di Indonesia, takjub dan memuji keindahan alam Tanah Rencong selama menjelajah hutan belantara dengan sepeda motor trail sejak 15-16 September 2012.

Peserta asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Bambang kepada Serambi kemarin mengatakan, kondisi alam Aceh ternyata cukup indah. Selama dua hari mereka melewati bukit-bukit terjal, hutan lebat dan sungai yang alami. Aceh, katanya, ternyata juga sudah aman dan tak seperti yang ia sangka sebelumnya.

Menurut anggota Komunitas Trail Adventure Balikpapan ini, banyak teman-teman dari daerahnya menyesal tak ikut dalam even tersebut. Pasalnya, banyak teman-temannya masih merasa takut untuk datang ke Aceh, karena menganggap kondisi Aceh masih sering tidak kondusif.

“Waktu kami beritahu bahwa Aceh aman dan alamnya sangat indah dan menantang, banyak teman-teman dari Kalimantan Timur menyesal tidak ikut ke Aceh,” ujar Bambang dibenarkan peserta dari luar Aceh lainnya, saat ditemui Serambi, di depan Kantor Wali Kota Banda Aceh, kemarin. Semua perserta mengaku cukup puas mengikuti even tersebut.

Seperti diberitakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh menggelar Aceh Dirt Bike Adventure 2012 yang bertujuan mempromosikan wisata Aceh sambil mengendarai motor trail. Even ini merupakan yang pertama kali di Aceh.

Pada hari pertama, peserta menempuh rute Banda Aceh-Siem-Cot Keueung-Babah Rimba-Seulimum-Jantho. Kemarin, peserta start di depan Kantor Bupati Aceh Besar menuju Cumcum-Siron-Indrapuri-Samahani dan finish di Kantor Wali Kota Banda Aceh. Saat finish, mereka disambut Asisten II Setdako Banda Aceh, Ramli Rasyid.

Sementara Kadisbudpar Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi MSi mengatakan, kegiatan ini sangat bagus untuk mengkampanyekan keindahan alam dan kondisi Aceh yang sudah aman. Dia berharap, para peserta dari luar Aceh dapat menyebarkan informasi tentang kondisi keamanan Aceh dan keindahan alam Aceh kepada masyarakat di daerah asalnya masing-masing, agar tahun depa pesertanya bisa lebih banyak.(adi)

Tantangannya Berat

JALURNYA dibagi dua. Bisa memilih jalur pro atau amatir. Jalur pro tantangannya lebih berat dan dakiannya lebih tinggi serta tingkat kesulitan lebih rumit. Kalau yang amatir treknya lebih gampang. Ini tujuannya agar semua kalangan bisa ikut dalam even ini.

Saat pulang di kawasan Uteun Jok, Aceh Besar cukup sulit. Karena bukit yang tinggi dan jalan bebatuan. Ada lima sungai yang dilalui, seperti sungai Pentagon, sungai Krueng Jreu, sungai Kuta Malaka. Di kawasan Kuta Malaka, treknya licin. Tapi dalam perjalanan saling membantu serta ditangani oleh tim evakuasi. Semua peserta selamat tiba di Banda Aceh.
* Reza Saputra, Ketua Cahroad Aceh.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (Visit Now)
Baca Selengkapnya

Aceh Daerah Wisata Religius Terbesar di Asean

Aceh adalah daerah tujuan wisata religius terbesar di Asia Tenggara (Asean). Pemerintah Aceh saat ini sedang melakukan pembenahan menyeluruh pada objek wisata termasuk menyiapkan  masyarakat sadar wisata.

“Aceh telah menjadi tujuan wisata religius. Wisatawan terbanyak datang dari Malaysia. Mereka ingin menikmati suasana religius Aceh, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam,” kata Kadis Pariwisata Aceh, Jasman J Ma’ruf menjawab Serambi di Jakarta, Selasa (25/9).

Menurutnya, Dinas Pariwisata Aceh menggalang kerja sama dengan travel di Malaysia untuk mempromosikan wisata religius Aceh. Pada Hari Raya Idul Adha mendatang, kata Jasman, akan diperlihatkan cara orang Aceh menyambut hari raya itu. Pada Ramadhan lalu, tambah Jasman, banyak wisatawan Malaysia yang menghabiskan sepuluh malam terakhir di Aceh dan mengikuti buka bersama dengan anak yatim di Banda Aceh. “Mereka juga langsung memberi sedekah kepada anak-anak yatim,” katanya.

Ditambahkan, Dinas Pariwisata Aceh juga menggelar pelatihan kepada masyarakat untuk mendukung program pariwisata. “Kita melatih tukang becak, pemilik rumah makan, manajemen masjid sebagai bagian dari kegiatan mendukung pariwisata Aceh,” pungkasnya.

sumber : http://aceh.tribunnews.com
Baca Selengkapnya

Akbar-Afyela Duta Wisata Aceh Utara

Teuku Akbar (20), mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Malikussaleh dan Afyela Risqa (25) alumni Akademi Kesehatan Lhokseumawe terpilih sebagai pasangan duta Wisata Aceh Utara tahun 2012. Mereka terpilih dalam pemilihan yang diadakan Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan (Dishuparbud) Aceh Utara 29 September-1 Oktober 2012 di Lhokseumawe.

“Jumlah peserta yang mengikuti pemilihan duta pariwisata tahun ini mencapai 130 orang dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum. Dalam proses seleksi, hanya 22 orang yang tersisa, sedangkan yang lainnya gugur. Setelah itu, terpilih Akbar dan Afyela sebagai duta wisata Aceh Utara tahun ini,” kata Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Dishubparbud Aceh Utara, Ir Nurliana kepada Serambi, Kamis (4/10) kemarin.

Disebutkan, mereka akan mewakili Aceh Utara ke ajang pemilihan duta pariwsisata tingkat provinsi di Banda Aceh, 17 Oktober ini. “Kita berharap mereka bisa menunjukkan kemampun sehingga berprestasi di tingkat provinsi. Kita sudah memberikan materi kepada keduanya untuk dipelajari,” katanya. Ditambahkan, aspek yang dinilai dalam pemilihan duta itu adalah etika, wawasan tentang kebudayaan dan pariwisata, serta kemampuan berbahasa Inggris.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (visit now)
Baca Selengkapnya

"Kompas.com" Turut Promosikan Pariwisata Indonesia

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengaku sering mengakses situs Kompas.com. Terlebih lagi, saat ia sedang bepergian ke luar negeri.

"Saya sering ke luar negeri. Jadi, saya bukanya Kompas.com supaya tetap mengetahui berita-berita yang terjadi di Indonesia," katanya kepada Kompas.com, Selasa (29/5/2012).
Memang, sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan pariwisata, Sapta harus sering menghadiri bursa pariwisata di luar negeri.

Ia menuturkan bahwa setiap orang seharusnya aktif mengakses media digital. "Dulu, kalau mau baca koran untuk tahu berita di Indonesia, saya harus baca di Jakarta. Sekarang, kita bisa akses berita digital di mana pun," ungkapnya.

Ia pun mengakui peran media digital yang membantu dalam promosi pariwisata, Terlebih lagi, lanjutnya, akses ke media digital relatif semakin mudah dengan adanya smartphone.

Sapta sendiri merasa Kompas.com telah turut membantu promosi pariwisata Indonesia melalui berita-berita terkait destinasi wisata di Indonesia. Hanya, ia berharap lingkup berita pariwisata diperluas.
"Saya berharap semakin diperluas, akses pembaca untuk informasi pariwisata. Lebih diperbanyak, terutama mengenai destinasi dan atraksi wisata yang di Indonesia, termasuk juga kalender wisata Indonesia," tuturnya. 

sumber : http://travel.kompas.com (visit now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 4 October 2012

Tarian Didong "Nyanyian Sambil Bekerja"

Sebuah kesenian rakyat Gayo yang dikenal dengan nama Didong, yaitu suatu kesenian yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.

Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.

Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.

Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.

Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh.

Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung”. Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang terdiri atas 4–5 orang ceh dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa. Selain itu, ada juga kelompok remaja. Malahan, ada juga kelompok didong remaja yang campur (laki-laki dan perempuan). Dalam kelompok campuran ini biasanya perempuan hanya terbatas sebagai seorang Céh. Peralatan yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.

Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah (pada zaman Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong ini secara mendalam.
Baca Selengkapnya

Tuesday, 2 October 2012

Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, Ulama Aceh di Mesir

Ada dua hal tentang ulama Aceh ini. Pertama, di Aceh dan boleh jadi di Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, ada kitab yang selalu dibaca oleh kaum santri atau siapapun yang tertarik dengan ilmu perobatan, yakni Kitab Tajul Muluk. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi (jawoe), maka asalpaham siapun bisa membacanya.Kedua, di Aceh anak muda yang sudah belajar di pesantren modern atau Madrasah ‘Aliyah, diantara impian mereka adalah bisa belajar di Kairo, Mesir. Negeri yang sudah mencetak ribuan ulama,bahkan tidak sedikit jiwa pembaruan di Nusantara, disemai dari mereka yang pernah menimba ilmu di Mesir. Sehingga anak muda Aceh yang merantau ke Mesir itu tidak sedikit. Saat ini sudah ada yang berbakti di Darussalam, seperti Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim yang juga pengasuh khusus 
 
“KAI” di Harian Serambi Indonesia yang rutin setiap hari Jumat. Juga ada Prof. Dr.Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh). Di dalam era kontemporer, dunia Islâm di Aceh memang tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan Islâm yang didapatkan oleh sarjana-sarjana Aceh yang pernah menuntut ilmu di Kairo ini.Berangkat dari dua hal tersebut, saya lalu mencoba mecari apakah ada ulama Aceh yang cukup disegani di Mesir? Dalam beberapa ‘catatan tercecer’ telah dikupas beberapa nama ulama Aceh di Mekkah serta jasa mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Mekkah berikut Serambinya (Aceh). Tanpa sengaja saya kemudian tersentak bahwa pengarang kitab Tajul Muluk adalah ulama Aceh yang pernah menetap di Mesir. Lagi-lagi, nama beliau tidak pernah terdengar di Aceh, walaupun hanya untuk nama jalan, seperti yang terlihat sekarang, dimana ada nama-nama ulama besar hanya dijadikan sebagai nama-nama jalan di kota besar Aceh. Syeikh tersebut adalah Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib al-Asyi

Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi tidak banyak dikenal oleh generasi Aceh kini. Padahal karya Tajul Muluk sering dibaca sampai sekarang. Sebelum berangkat ke Mekkah beliau berguru pada Syeikh Ali Asyi di Aceh dan sewaktu beliau berada di Mekkah diantara guru gurunya adalah Syeikh Daud bin Abdullah Al Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani. Kedua ulama ini memang sangat disegani, tidak hanya di tanah Arab, tetapi juga di rantau Melayu, seperti di Aceh, Pattani, dan Kelantan. Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi agaknya tidak lepas dari jaringan keilmuan Nusantara ini. Kendati, sampai sekarang hampir tidak ada peneliti yang berani melakukan pengkajian terhadap biografinya secara lengkap.
 
Selain Tajul Muluk, ada karyanya yang masih ada sampai saat ini adalah Jam’u Jawami’il Mushannifat. Salah satu kitab yang wajib dibaca di dayah-dayah, tidak hanya di Aceh, melainkan juga di Pattani dan Kelantan. Di dalam kitab tersebut, Syeikh Ismail menulis sepenggal kalimat yang sangat puitis:
“Wahai ikhwan yang Muslimin,
orang yang yakin akan Rabbana,
Karangan ini intan ku karang,
segala manikam himpun di sana.’’
Kitab ini kumpulan kitab ulama lain yang dihimpun oleh Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi, yaitu Hidayatul ‘Awam karya Syeikh Jalaluddin bin Kamaluddin Asyi, Faraidh al-Quran, tanpa nama pengarang. Kasyful Kiram karya Syeikh Muhammad Zain bin Jalaluddin Asyi, Talkhishul Falah karya Syeikh Muhammad Zain bin Jalaluddin Asyi, Syifaul Qulub karya ‘Arif Billah Syeikh ‘Abdullah Baid Asyi, Mawaizhul Badi’ah karya Syeikh ‘Abdur Rauf Fansuri Assingkili,. Dawaul Qulub karya Syeikh Muhammad bin Syeikh Khathib Langgien Asyi, I’lamul Muttaqin karya Syeikh Jamaluddin bin Syeikh ‘Abdullah Asyi.
Cetakan awal kitab tersebut diusahakan oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah. Halaman terakhir cetakan ke lapan, 1320 H/1902 M. Jadi, tidak dapat disangsingkan bagaimana keilmuan yang dikuasai oleh Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi. Sebab, dalam tradisi Syarah dah Hasyiyah, seorang ulama yang berani menghimpun kitab-kitab ulama adalah mereka yang sudah pernah mendapatkan ijazah ilmu, baik secara lahir maupun batin. Hal ini disebabkan dalam tradisi keilmuan Islâm, model ijazah adalah salah satu syarat untuk menjadi murid atau punya hubungan batin dengan ulama sebelumnya.
 
Sedangkan kitab Tajul Muluk, Syeikh Ismail al-Asyi memulakannya dengan karya Syeikh ‘Abbas al-Asyi yang berjudul Sirajuz Zhulam, yang membicarakan ilmu hisab dan falakiyah. Pada akhir kitab Sirajuz Zhalam karya Syeikh ‘Abbas al-Asyi, Syeikh Ismail al-Asyi mencatat, “Maka telah selesai hamba salin kitab ini dalam negeri Mekah yang Musyarrafah pada hari Sabtu, pada 28 hari bulan Rabiulawal 1306H.” Kitab terakhir dalam Tajul Muluk ialah yang berjudul Hidayatul Mukhtar karya Syeikh Wan Hasan bin Wan Ishaq al-Fathani. Cetakan awal yang telah ditemui ialah yang diusahakan oleh Mathba’ah al- Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah/1893 Masehi. Jadi, perlu diupayakan oleh para sarjana Aceh untuk membuka kembali bagaimana tradisi tulisan ulama, seperti yang dilakukan oleh Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi ini.
 
Di dalam hal ini, Syeikh Ismail selain mentashihkan kitab kitab ulama Aceh pada saat itu agar mudah dibaca umum juga mengarang kitab sendiri seperti Muqaddimatul Mubtadi-in, yang dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1307 Hijrah/1889 Masehi. Tuhfatul Ikhwan fi Tajwidil Quran, diselesaikan pada waktu Dhuha hari Jumaat dua likur Jamadilawal 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan pertama Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah/1893 Masehi. Terdapat lagi cetakan Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1324 Hijrah/1906 Masehi, Fat-hul Mannan fi Bayani Ma’na Asma-illahil Mannan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Makkah, 1311 Hijrah/1893 Masehi, Fat-hul Mannan fi Hadits Afdhal Waladi ‘Adnan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi.
 
Ditugaskan ke Mesir
Wan Muhammad Sangir Abdullah, pengumpul manuskrip kasrya karya ulama Nusantara, mengatakan bahwa Syeikh Ismail Abdul Muthalib Asyi, setelah lama belajar dan mengajar di Mekkah oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani mengirim beliau ke Mesir untuk mengurus dan membina kader kader muda Islam Nusantara yang lagi belajar di Al Azhar Kairo bersama Syeikh Muhammad Thahir Jalaluddin, Syeikh Ahmad Thahir Khatib, Syeikh Abdurrazak bin Muhammad Rais, dan Syeikh Muhammad Nur Fathani. . Sesampainya di sana beliau mendirikan wadah pemersatu pelajar pelajar Nusantara disana dan beliau diangkat menjadi ketua pertama persatuan pelajar pelajar Melayu di Mesir oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani. Syeikh Ismail Asyi meninggal dunia di Mesir dan sedangkan keturunannya ramai menetap di Makkah. Sampai sekarang belum diketahui dimana pusaranya. Namun, jasa dan embrio keilmuan yang ditiupkan oleh Syeikh Ahmad Fathani kepada Syeikah Ismail Abdulmuthalib Asyi sudah berhasil. Buah dari hijrah ini sudah dapat kita rasakan sampai hari ini, tidak hanya bagi orang Aceh, tetapi juga bagi umat Islâm di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan.
 
Inilah secuil kisah dan peran Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi. Ada banyak hal yang perlu ditelaah lebih lanjut. Perlu dilacak lagi bagaimana jaringan keilmuannya di Mesir. Sehingga ada ‘alasan sejarah’ mengapa generasi Aceh selalu bermimpi untuk menuntut ilmu ke negeri itu. Ruh ini ternyata sudah dilakukan oleh Syeikh Ismail Abdulmuthalib Asyi melalui dorongan dari gurunya yang berasal dari Pattani. Untuk itu, kita berharap nama ulama ini bisa mendapat tempat yang terhormat di Aceh, tidak lantas kemudian menjadi nama-nama jalan di kota besar.
 
Menghormati dan menghargai ulama adalah dengan cara membaca karyanya dan berdoa atas jasa yang telah diberikan kepada kita saat ini. Begitu banyak manfaat kitab Tajul Muluk, namun tidak seimbang dengan pengetahuan pembaca akan penulis kitab ini. Akhirnya ‘sejarah tercecer’ kali ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah Aceh. Sudah saatnya digagas untuk menulis dan mencari dimana ulama-ulama Aceh di Timur Tengah..Kita berharap ada upaya nyata dari pemerintah untuk menggali dan mencari jejak-jejak ulama Aceh, yang telah berjasa dalam pengembangan keislaman dan keilmuan sehingga menjadi iktibar bagi generasi Aceh selanjutnya

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Monday, 1 October 2012

Tarian Bines Berisikan Dakwah dan Informasi Pembangunan

Tari Bines merupakan tarian tradisional yang berasal dari kabupaten Gayo Lues. Tari Bines merupakan bentuk tarian yang dimainkan oleh 12-14 orang perempuan dengan gerakan mengayunkan tangan dan diikuti irama gerakan badan serta alunan lagu-lagu Gayo yang di bawakan oleh salah satu penari. Mereka menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengan perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak.

Tari ini juga merupakan bagian dari tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya diatas kepala perempuan yang menari.
Baca Selengkapnya

Tarian Tarek Pukat dari Pesisir Pantai

Tarek Pukat merupakan salah satu tarian daerah Aceh yang sangat terkenal.  Tarian ini menceritakan tentang bagaimana kehidupan rakyat Aceh yang tinggal di pesisisr pantai, dimana sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan.

Tarian Tarek Pukat biasanya di tarikan oleh 7 sampai 9 orang wanita, dan 4 atau 5 orang laki-laki yang mengiringi tarian ini. Pada dasarnya, gerakan tarian ini sangatlah sederhana, dan mudah untuk di pelajari, dimana para wanita berdiri dan duduk sambil merangkai rangkaian tali yang mencerminkan jaring ikan, lalu para laki-laki mengiringi tarian ini di belakang para wanita dengan memperagakan gerakan yang mencerminkan seseorang menangkap ikan.

Tarian ini sudah banyak berkembang, baik dari segi gerakan, pakaian adat, maupun aransemen musik yang mengiringinya, namun perubahan-perubahan yang terjadi tidak terlalu mencolok dan tidak melenceng dari bentuk tarian aslinya. Sebagai warisan kebudayaan Aceh, tarian ini harus kita jaga dan kita lestarikan, terutama kepada generasi muda yang kurang mencintai kebudayaan daerah.
Baca Selengkapnya

27 Rider Harley DCI Bandung Berwisata di Aceh Tengah

Sebanyak 27 riders Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Bandung, dalam rangka Sumatera Bike Week, Senin 1 Oktober 2012 tiba di Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Kehadiran ke-27 bikers HDCI Bandung ini disambut oleh beberapa club motor di Aceh Tengah pada pukul 18.30 Wib di Paya Tumpi Takengon, dan langsung mengarah ke Mapolres Aceh Tengah, kemudian ke pendopo Bupati dan di sambut dengan tarian tradisional Gayo (tari Guel). Rombongan diterima oleh Pj. Bupati Aceh Tengah, Ir. Mohd Tanwier, MM.
Setelah jamuan makan malam dalam coffee party, Tanwier mengatakan kedatangan club Harley Bandung ini merupakan sebagai momen promosi Aceh Tengah khususnya kopi.

Kang Joni, salah satu bikers yang mengetuai HDCI Bandung mengungkapkan kekagumannya kepada daerah Gayo, karena telah menyambut kedatangan mereka. “Kami tak menyangka sambutan sehebat ini, hal ini merupakan suprise bagi kami semua”, kata Kang Joni. Joni menambahkan, kehadiran club-nya di Takengon merupakan sebuah langkah awal target kunjungan bagi para HDCI lainnya.

Dalam kesempatan ini juga disungguhkan hiburan musik yang dibawakan oleh musisi-musisi muda tanoh Gayo, Pj Bupati juga menyanyikan sebuah lagu Gayo berjudul Deso Ni Uyem diiringi oleh Lut Tawar Grup.
HDCI Bandung direncanakan akan meninggalkan Takengon besok siang, setelah mengunjungi beberapa objek wisata di Aceh Tengah diantaranya Pantan Terong dan kawasan wisata Atu Tamun ditepian Danau Lut Tawar.

HDCI Bandung akan menyusul dengan HDCI lainnya ke Banda Aceh, Sabang, Meulaboh, Medan kemudian kembali ke Jakarta, dalam agenda mereka mengelilingi pulau Sumatera.
Baca Selengkapnya

Dendang Melayu Aceh Tamiang Akan Tampil di Knejpe Festival Denmark

Kelompok musik dendang melayu Aceh Tamiang, bukan saja tampil di arena festival musik daerah dan nusantara, tapi kelompok musik berirama joget tersebut juga akan tampil di negara Denmark.
Kelompok musik dari Sanggar Pucok Suloh, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, itu dilaporkan akan bertolak ke Denmark pada 3 Oktober 2012 mendatang.

“Pihak penyelenggara, tertarik dengan musik Melayu yang memiliki sejarah dengan jalur pelabuhan yang menghubungkan Sumatera dengan Lautan Hindia,” ujar Humas Sanggar Pucok Suloh, Tengku Shuhada dan menambahkan, mereka tertarik dengan musik melayu Aceh Tamiang.
Katanya, pusat seni budaya negara Denmark, Kulturvaerftet (The Culture Yard) dan Musikhuset Esjbergakan menyelenggarakan festival musik internasional bernama Knejpe Festival pada 13-15 Oktober 2012.

Sanggar Pucok Suloh sendiri tampil di Kota Helsingordan Esbjerg, dengan membawakan 40 lagu ciri khas melayu Tamiang dan Aceh. Disbutkan, Shuhada, musik melayu Tamiang merupakan musik melayu yang dinyanyikan untuk para bangsawan pada zaman kerajaan melayu Tamiang, menceritakan kisah peperangan, kemanusiaan, perdamaian dan nasehat serta para pemuda.

Para pemain sanggar yang tampil, MukhtarLutf (pemainakordion), Teguh Prasetyo Wibowo (Pemain Biola), MakmurEfendi (PemainGendang), Elisa (Vokalis), dan Muhammad Riza Nurdin (Manager tim festival/penterjemah). “Mereka berangkat pada 3 Oktober dan bertolak kembali ketanah air pada 14 Oktober 2012,” ujarnya.

Selama berada di Denmark, para pemusik akan melakukan sejumlah penampilan (konser) seni musik Melayu Tamiang di malam pembukaan, Told Kammeret, konser di Kota Helsingor sekolah, dan di Kota Esbjerg.  

 sumber : www.seputaraceh.com (Visit Now)
Baca Selengkapnya

Tgk.H.Hasan Kruengkalee, Ulama Aceh Sepanjang Masa

Tgk.H.Hasan Kruengkale merupakan nama seorang ulama besar di Aceh. Beliau lahir pada tanggal 15 Rajab tahun 1303 H (18 April 1886) dalam pengungsian di Meunasah Ketembu, kemukiman Sangeue, kabupaten Pidie setelah tiga belas tahun peperangan dahsyat berkecamuk di Aceh antara prajurit kerajaan beserta rakyat Aceh dengan serdadu-serdadu agresor Belanda(A.Hasyimy, 1988). Tgk.H.Hasan Kruengkale dilahirkan disana sewaktu orang tuanya pindah dari Kutaraja(Banda Aceh sekarang) dalam rangka mempertahankan ide-idenya untuk memperjuangkan Islam dari cengkeraman kolonialisme penjajahan kafir Belanda.

Ketika dalam pengasingan tersebut, beliau belajar pengetahuan dasar agama langsung dari kedua orangtuanya sambil berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di daerah pengungsian. Dan setelah mempunyai pengetahuan dasar tentang agama Islam yang memadai, bahasa Arab, sejarah Islam dan lain-lain, pada tahun 1906 M, Tgk H.Hasan Kruengkalee yang telah menjadi remaja berangkat ke Yan, Keudah - Malaysia untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah beliau pelajari sebelumnya. Beliau dikirim kesana oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di Dayah Yan yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk.H.Muhammad Arsyad, seorang ulama besar yang berasal dari Kerajaan Aceh Darussalam. Tgk.H.Muhammad Arsyad adalah teman pengajian ayahnya dulu sewaktu di Lamnyong. Selain itu, keberangkatan beliau ke Keudah juga atas dorongan Teuku Raja Keumala dan Tgk Syaikh Ibrahim Lambhuk. Disana beliau memperdalam ilmu pengetahuan selama beberapa tahun.

Dayah Yan di Keudah sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan Islam di Semenanjung tanah Melayu. Para sultan Kerajaan Aceh Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk membangun dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah Seberang. Setelah menamatkan studinya di Dayah Yan, Tgk H.Hasan Kruengkalee yang telah mempunyai pengetahuan agama dan bahasa arab yang cukup, atas persetujuan gurunya pada tahun 1910 berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan Ibadah H. serta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di Masjidil Haram Makkah. Disana beliau belajar selama lima tahun, dan yang menjadi gurunya merupakan ulama-ulama besar yang menjadi masyaikh (para guru besar) dalam Masjidil Haram dan sangat terkenal di kota Mekkah. Diantara guru-guru beliau tersebut adalah Syaikh Said Al-Yamani Umar bin Fadil, Syaikh Khalifah, Syaikh Said Abi Bakar Ad-Dimyaty dan Syaikh Yusuf An-Nabhany dan sebagainya.

Setelah menempuh pendidikan sekitar enam tahun di Mekkah, Tgk H.Hasan Kruengkalee pulang ke tanah air. Sekembali beliau tersebut pada tahun 1916 beliau langsung mengambil alih pimpinan Dayah Kruengkalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus lagi. Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama bertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Kruengkalee membangun kembali Dayah tersebut. Dalam waktu singkat, Dayah Kruengkalee telah berubah menjadi pusat pendidikan agama Islam terbesar di Aceh sejajar dengan nama-nama besar lainnya seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro dan Dayah Samalanga,(Shabri A, dkk, Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX, (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Prop.NAD, 2007), hal. 6).

Dalam perkembangan kemudian, Tgk H.Hasan Kruengkalee melalui Dayah yang dikelolanya telah berhasil mencetak banyak kader-kader da’i, pendidik, ulama dan pemimpin umat yang sangat berjasa bagi rakyat Aceh, baik sebagai pembimbing mereka dengan nilai-nilai agama, maupun sebagai pimpinan masyarakat atau sebagai komando dalam jihad fisabilillah melawan agressor Belanda ketika itu. Sebagai lembaga pendidikan Islam, dayah Kruengkalee ini pada dasarnya lebih banyak berperan dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal lainnya seperti sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Sekolah pada waktu itu tidak sanggup mengemban tugas untuk menampung semua lapisan masyarakat, karena ketentuan yang digariskan penjajah Belanda yang membatasi kesempatan bersekolah bagi masyarakat luas atas dasar kepentingan penjajah Belanda.


Menurut berbagai catatan sejarah, sebagian besar ulama-ulama besar generasi tua di Aceh saat ini tercatat pernah menimba ilmu kepada beliau. Mereka tersebar di seantaro Aceh menjadi mercusuar dalam lapangan khazanah keilmuan Islam. Diantara ulama-ulama dari murid-murid Tgk H. Hasan Krueng Kalee, yang cukup terkenal di daerahnya masih masing antara lain dapat disebutkan: Tgk Ahmad Pante, ulama dan imam masjid Baiturrahman Banda Aceh, Tgk Hasan Keubok, ulama dan Qadhi XXVI mukim di Aceh Besar, Tgk M. Saleh Lambhouk, ulama dan imam masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Tgk Abdul Jalil Bayu, ulama dan pemimpin dayah Al-Huda Aceh Utara, Tgk Sulaiaman Lhoksukon, ulama dan pendiri dayah Lhoksukon, Aceh utara, Tgk M. Yusuf Peureulak, ulama dan ketua majlis ulama Aceh Timur, Tgk Mahmud Simpang Ulim, ulama dan pendiri dayah Simpang Ulim, Aceh Timur, Tgk H. Muda Waly Labuhan H., ulama dan pendiri dayah Darussalam, Labuhan Haji Aceh Selatan, Tgk Syeh Mud Blang Pidie, ulama dan pendiri dayah Blang Pidie Aceh Selatan, Syeh Shihabuddin, ulama dan pendiri dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara, Kolonel Nurdin, bekas Bupati Aceh Timur, yaitu anak angkat beliau sendiri, Tgk Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri dayah Ulee Titie(Fauziah, 1988). Murid-murid beliau tersebut pada umumnya mengikuti jejak gurunya, menjadi ulama yang membuka dayah di tempat mereka masing-masing hampir ke seluruh pelosok nanggroe Aceh.

Selain itu, disamping memimpin Dayah Kruengkalee dan usahanya mencetak ulama Aceh pewaris para Nabi, beliau juga termasuk salah seorang putra Aceh yang ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, beliau juga pernah menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai Islam Perti. Tgk H.Hasan Kruengkalee juga pernah mengeluarkan fatwa tentang seruan jihad fi sabilillah untuk melawan Belanda pada tanggal 15 Oktober 1945, dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia yang ditangani oleh beberapa ulama Aceh lainnya, diantaranya oleh Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Daud Beureueh, Tgk Ja’far Lamjabat dan Tgk H.Ahmad Hasballah Indrapuri, keempat ulama besar Aceh tersebut mengeluarkan fatwa bahwa berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia adalah perang sabil dan kalau mati hukumnya mati syahid. (Prof. A. Hasjmy, Para Pejuang Kemerdekaan yang Mendukung Pancasila dan Memusuhi Komunisme, hal. 448).

Himbauan jihad diatas, telah menggerakkan masyarakat tampil ke medan perjuangan di tanah Aceh untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Dengan adanya fatwa tersebut diatas, rakyat Aceh telah berjuang selama tahun-tahun dengan revolusi fisik, sehinnga tanah Aceh terbebas dari penjajahan Belanda. Mereka umumnya tergabung dibawah berbagai wadah organisasi perjuangan, misalnya Pusa, pemuda Pusa, kasyafatul Islam, Muhammaddiyah, Pemuda Muhammaddiyah, Perti, Permindo (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), maupun organisasi-organisasi Islam lainnya. Para pemuda yang telah dibina iman dan semangat jihadnya dalam madrasah-madrasah dan dayah bersama-sama rakyat Aceh lainnya ikut berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan.

Pada masa itu pula beliau mempersiapkan alat-alat serba mungkin, untuk menghadapi pemberontakan yang terjadi di beberapa tempat diantaranya pemberontakan Bayu di Lhokseumawe tahun 1944 di Lhokseumawe, yang dipimpin oleh salah seorang murid beliau yaitu Tgk Abdul Jalil Bayu dan penyerbuan Blang Bintang untuk melawan Jepang yang menjelang Indonesia merdeka, yang menjadi pimpinannya adalah beliau sendiri. Semua pergerakan yang terjadi baik pada masa penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang terutama pemberontakan yang dipimpin oleh murid-murid beliau adalah atas anjuran beliau sendiri.
Tgk H.Hasan Kruengkalee juga sangat kokoh dalam memegang prinsip yang diajarkan melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw untuk membina kader pendidikan, ulama dan pemimpin Islam yang bertugas melaksankan dakwah Islmiyah dengan hikmah( kebijaksaan), dan pelajaran yang baik serta berbantah dengan cara yang paling baik. Pada tahun 2007, senin 7 Mai, bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H, sebuah forum tingkat tinggi ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman; pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat ma’rifatullah. Keempat ulama itu, masing-masing Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Hamzah Fansuri, Tgk H. Muhammad Hasan Kruengkalee dan Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk H Muda Waly. Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya adalah: Tgk Jamaluddin Waly, Tgk Natsir Waly, Abu Panton(Abu Ibrahim Panton), Kadis Syari’at Islam Prof Al Yasa’ Abu Bakar dan seratusan ulama Aceh lainnya. Pada pertemuan ini, Prof Syahrizal Abbas dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bertindak sebagai pemandu acara.

Dengan beberapa catatan diatas, maka Tgk H.Hasan Kruengkalee dapat di katagorikan sebagai ulama besar di Aceh sepanjang masa, karena beliau sejak usia muda sudah merintis pendidikan Islam di Aceh dengan memimpin sebuah lembaga pendidikan islam terbesar dan termashur di Aceh hingga beliau berpulang ke rahmatullah. Disamping posisi beliau sebagai seorang ulama besar di Aceh, saat itu beliau juga dikenal sebagai ulama di Mekkah dengan gelar Syaikh Hasan Al-Falaqy(berdasarkan pengakuan murid-murid beliau yang masih hidup). Beliau tidak hanya menguasai ilmu agama, akan tetapi beliau juga terampil dengan khazanah keilmuan yang lain seperti ilmu falak, sejarah Islam dan sebagainya. Selama di Mekkah, beliau juga mempelajari ilmu tabib(kedokteran), ilmu handasah(arsitektur). Menurut Prof A. Hasjmy, Tgk.H.Hasan Kruengkalee sangat eksis mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah, pemberantas bid’ah dan khurafat dan sebagainya. Itulah sepintas sosok beliau yang pada tahun lalu Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh memberikan beliau gelar sebagai tokoh pendidikan Aceh.

 sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Saturday, 29 September 2012

Mengenang Hazratusy Syeikh Muda Waly Al-Khalidy

Ayahku dilahirkan di desa Blangporoh, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, pada tahun 1917. Tidak ada yang mengetahui dari famili beliau tentang hari, tanggal dan bulan, kapan beliau dilahirkan. Ini pada umumnya sering terjadi pada orang-orang tua kita zaman dahulu. Meskipun mereka itu ulama atau guru, tetapi soal mencatat hari dan tanggal kelahiran, lahirnya anak atau cucu, kurang begitu diperhatikan, selain hanya diingat, tahun kelahiran saja. Teramasuk diriku sendiri, untunglah aku mengetahui, bahwa hari dan tanggal kelahiranku tiba-tiba aku melihat catatan dari ayahku pada satu kitab, bahawasanya kelahiranku, adalah pada hari Rabu, atau Arba’a, 17 Disember 1936, pada pagi harinya (menurut kata ibukandungku).

Beliau adalah putera bungsu dari putera-puteri orang tua beliau yang bernama Syeikh Haji Muhammad Salim bin Malin Palito. Sebenarnya ada lagi adik beliau, tetapi meninggal dunia pada waktu beliau masih kecil.
Haji Muhammad Salim, orang tua ayahku berasal dari Batusangkar, Sumatera Barat. Kalau aku tidak salah ingat bahwa di Batusangkar itu ada sebuah desa, yang disebut dengan Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Aku telah datang ke desa itu pada waktu aku berusia lebih kurang 12 tahun, dibawa oleh ayahku pada waktu beliau melawat ke Sumatera Tengah, dan oleh karena aku dalam usia demikian sudah bisa pidato dan membaca kitab-kitab Tsanawiyah, maka aku diangkat oleh famili orang tuaku degan panggilan “Malim Kecik” yang ertinya “Alim Kecil.
 
Kakekku Haji Muhammad Salim bin Malin Palito datang ke Aceh Selatan adalah selaku da’i atau pendakwah dan juga sebagai guru agama. Di samping itu, pula paman beliau yang masyhur dipanggil oleh masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Peulumat, yang nama aslinya ialah Syeikh Abdul Karim, lama telah mendahului beliau, merantau ke Aceh Selatan dan mengambil tempat tinggal di Kecamatan Labuhan Haji, juga selaku da’i guru dan ulama, menyebarkan nilai-nilai agama Islam. Dorongan itulah yang paling kuat bagi kakekku Haji Muhammad Salim, meninggalkan Sumatera Barat menuju Aceh Selatan dengan kapal layar perahu pada zaman itu.
 
Tidak lama setelah beliau, yakni kakekku itu berada di Kecamatan Labuhan Haji, di bawah kepimpinan pamannya itu, maka kakekku ada jodohnya, dengan seorang wanita pilihan yang bernama Janadar, puteri seorang Kepala Desa yang bernama Keucik Nya’Ujud, yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Itulah Ibu Kandung ayahku. Orang tua beliau seorang ulama dan ibu kandung beliau keturunan pemimpin masyarakat yang juga dikenal di Kecamatan Labuhan Haji.
 
Pada waktu orang tuaku masih kecil adik kandung beliau meninggal dunia, bahkan ibu kandung beliau sendiri Siti Janadat berpulang ke rahmatullah. Kalau aku tidak salah, bahwa nenekku itu meninggal dunia karena melahirkan. Ada yang mengatakan begitu. Maka tinggallah ayahku selaku anak yatim, kehilangan ibu kandungnya. Nenekku Siti Janadat itu paling dicintai oleh kakekku Haji Muhammad Salim, meskipun ayahku mempunyai kakak-kakak kandungnya yang laki-laki bernama Abdullah Ghani dan adiknya ialah Ummi Kalsum dan Siti Maliyah.
 
Meskipun kakak-kakak ayahku sangat mencintai adiknya, yakni ayahku, tetapi bagi kakekku tidak melepaskan ayahku dalam segala hal kepada kakek-kakaknya itu. Ayahku selalu digendong oleh kakekku di atas bahunya kemana saja beliau pergi mengajar dan berdakwah meskipun setelah itu kakekku Haji Muhammad Salim berumah tangga lagi di suatu desa dalam Kecamatan Manggeng, tetapi tidak lama karana kecintaan kakekku kepada ayahku adalah melebihi dari segala- galanya, termasuk atas isteri kakek yang baru, bahkan atas puteri-puterinya yang lain. Tentu kita dapat menggambarkan, bahwa kecintaan seorang ayah yang juga ulama, yang menjadi ikutan umat, terhadap anaknya senantiasa dibarengi dengan doa yang tiak putus-putusnya. Baik setelah selesai mengerjakan ibadah, atau di waktu sang ayah di mana kalbunya terlintas pada anaknya.
 
Menghayati yang demikian itu, maka aku yakin apa yang telah diceritakan oleh Syeikh Haji Teungku Adnan Mahmud Bakongan, sahabat dan murid orang tuaku, pemimpin Pesantren Ashabul Yamin di Bakongan Aceh Selatan, bahwa kakekku Haji Muhammad Salim bermimpi, bahwa bulan purnama turun ke dalam pangkuan beliau dan pada waktu itu ayahku sedang dalam kandungan ibundanya, Siti Janadat. Meskipun mimpi tidak dapat dijadikan dalil pada hukum, tetapi dalam pemahaman isyarat, banyak benarnya. Dan ini telah diungkapkan oleh al-Quran, yang menggambarkan mimpinya Raja Mesir dan kemudian dita’wilkan oleh Nabi Yusuf AS, Maka kalau dita’wilkan mimpi kakekku itu, maka nyatalah kebenarannya, bahwa puteranya yang dicintainya itu suatu waktu akan menjadi ulama besar, suluh penerang bagi umat manusia pada zamannya. Aku dapat mengatakan ha keadaan ini berdasarkan sedikit serupa bagi apa yang telah terjadi dari mimpi Yusuf AS yang kemudian beliau ta’wilkan sendiri, dengan beliau ungkapkan pada orang tuanya Nabi Ya’qub AS.
 
Nama ayahku pada waktu kecil ialah Muhammad Waly. Setelah beliau berada di Sumatera Barat, dalam saf para ulama Besar, maka beliau dipanggil dengan gelaran Angku Mudo, atau Tuanku Mudo Waly, atau Angku Aceh. Setelah beliau kembali dari Sumatera Barat ke Aceh, di Kecamatan Labuhan Haji pada khususnya,, masyarakat memanggil beliau dengan Teungku Muda Waly. Sedangkan beliau sendiri menulis namanya dengan Muhammad Waly atau secara lengkap Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.
 
Sedangkan ibuku yang lain, Hajah Rabi’ah Jamil, ibu kandungnya adik-adikku Ahmad Waly dan Haji Mawardi Waly, pernah aku lihat pada sebuah buku kecil yang ditulisnya tentang rentetan nama orang tuaku: Syeikh Haji Muhammad Waly al Syafi’i Mazhaban wa al-Asy’ari Aqidatan wa al-Naqsyabandi Tariqatan. Tetapi ayahku tidak pernah menulis rentetan nama beliau dengan predikat yang demikian itu. Sebab ummiku Hajah Rabi’ah Jamil adalah puteri kandung Syekh Muhammad Jamil Jaho, seorang ulama besar di Sumatera Barat dan tidak ada puteri-puteri Syeikh Jamil yang agak alim, selain puteri beliau ummiku itu.
 
Pulang ke Aceh
Setelah ayahku berjuang menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan yang secara lahiriahnya seperti tidak teratur, tetapi pada hakikatnya bagi Allah SWT, perjalanan pendidikan beliau selama ini membawa beliau naik ke tingkat martabat ulama dan hamba Allah yang shalih. Maka dengan hasil perjalanan pendidikan ayahku serta pengalaman- pengalaman yang beliau dapati selama ini, rasanya bagi beliau sudah cukup dijadikan pokok utama untuk mengembangkan agama Allah ini dengan mendirikan pesantren di tempat beliau dilahirkan, di Blang Poroh Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Meskipun pada waktu itu kata Darussalam itu belum ada, dan adanya nama ini setelah beliau mendirikan pesantren di desa kelahiran beliau sendiri.
 
Lebih kurang pada akhir tahun 1939, beliau kembali ke Aceh Selatan melalui perahu layar dari Padang ke Aceh di Kecamatan Labuhan Haji. Ayahku disambut dengan meriah oleh ahli famili, para teman dan masyarakat, Labuhan Haji. Setelah beberapa hari beliau berada di desanya, maka beliau bertekad untuk membangun sebuah pesantren. Pembangunan sebuah pesantren kali pertama tentu seadanya saja. Maka ayahku hanya mendirikan kali pertama sebuah surau bertingkat dua. Pada tingkat dua di atas tempat tinggal ayahku beserta keluarga, sedangkan pada tingkat bawah dan yang masih tersisa di atas dipergunakan sebagai tempat ibadah.
 
Yang paling besar sekali hatinya dengan kepulangan ayahku ialah ayahanda beliau sendiri, yakni kakekku Haji Muhammad Salim. Meskipun ayahku memimpin upacara ibadah dalam arti yang luas, tetapi kakekku senantiasa berada di samping ayahku, turut membantu dalam memberikan penyampaian-penyampaian ajaran Islam secara lebih khusus terhadap para jamaah yang hadir.
 
Lahan tempat mendirikan musalla yang diberikan oleh famili ayahku adalah sangat terbatas, sedangkan jamaah umat Islam sudah mulai kelihatan berbondong-bondong datang ke surau ayahku. Ibu-ibu pada malam Selasa dan harinya, sedangkan bapak-bapak pada malam Rabu dan harinya pula. Oleh karena itu, maka ayahku ingin memperluas lahan untuk betul-betul mulai sebuah pesantren yang dapat menampung santri-santri dengan tempat tinggal sekalian, yang dalam istilah Aceh disebut dengan rangkang-rangkang. Maka beliau berusaha untuk membeli tanah sekitar surau yang ada. Beliau membeli tanah untuk pembangunan pesantren sedikit demi sedikit, hingga mencapai ukuran 400×250 m2. Di atas tanah itulah beliau menampung santri-santri yang berdatagan sedikit demi sedikit dari Kecamatan Labuhan Haji, dari Kecamatan-Kecamatan di Aceh Selatan, bahkan juga dari berbagai Kabupaten di daerah Istimewa Aceh. Berkembanglah pesantren itu, sehingga pelajar-pelajar dari luar daerahpun pada berdatangan, khususnya dari berbagai propinsi di Pulau Sumatera.
 
Pesantren itu beliau bagi-bagi atas berbagai nama, sebagai berikut:
Pertama: Daru Muttaqin, di bahagian ini terletak lokasi sekolah-sekolah, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi dan di sampingnya dibangun sebuah surau besar selaku tempat ibadah. Khususnya dalam pengembangan Tariqat Naqsyabandiyah dan dijadikan tempat khalwah atau suluk, 40 hari dalam Ramadhan dengan 10 hari sebelumnya, 10 hari dalam Ramadan dengan 10 hari sebelumnya, 10 hari pada awal Zulhijjah, ditutup degan Id al-Adha dan 10 hari pada bulan Maulud, ditutup dengan hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW.
 
Kedua: Darul- Arifin; di lokasi ini bertempat tinggal guru-guru yang pada umumnya sudah berumah tangga dan lokasi agak berdekatan ke pantai, laut samudera Hindia.
Ketiga: darul Muta’allimin; di lokasi ini bertempat tinggal para pelajar pilihan di antaranya guruku Syeikh Idrus bin Abdul Ghani al-Kamfari. Aku sendiri dan adik-adikku beserta para penuntut ilmu pengetahuan lainnya. Keempat: Darus Salikin; di lokasi ini banyak tempat tinggal dalam asramanya pelajar-pelajr yang disamping menuntutu ilmu pengetahuan juga berkhalwah, apalagi pada bulan-bulan khalwah seperti bulan Ramadhan, bulan Maulud dan bulan Haji, maka asrama-asrama dilokasi ini banyak ditempati oleh orang-orang yang berkhawah. Kelima: Darul Zahidin; Keenam: Darul Ma’la.
 
Semua lokasi diatas dinamakan oleh ayahku dengan nama-nama tersebut, dengan harapan sebagai tafaul kepada Allah SWT. semoga para penuntut ilmu pengetahuan agama yang tamatan dari pesantren Darussalam benar-benar menjadi hamba Allah yang senantiasa belajar seumur hidup (al Muta’allimin), menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa (al_Muttaqin), menajdi hamba-hamba Allah yang zahid, lebih mengutamakan akhirat dari dunia (al-Zahidin), dan menjadi hamba-hamba yang salih (al-Salikin) dan mendapat tempat yang terhomat, baik dalam pandangan masyarakat, apalagi dalam pandangan Allah SWT. (al-Ma’la). Oleh karena itu banyak cita-cita ayahku dalam pengembangan Islam di Aceh diperkenakan Allah. Karena itulah, hampir seluruh pesantren di Aceh adalah berpangkal dari pesantren ayahku Darussalam Labuhan Haji.
 
Oleh Prof Dr Muhibbuddin Waly
Sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya