Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next
Showing posts with label Makam Ulama Aceh. Show all posts
Showing posts with label Makam Ulama Aceh. Show all posts

Thursday, 16 August 2012

Wisata Religi di Aceh Menyimpan Potensi Besar


Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekreaf M Faried mengatakan, Aceh masih menyimpan potensi sebagai destinasi wisata religi yang cukup besar.

"Ada banyak hal yang bisa digali dari Aceh, dan daya tariknya terutama dari sisi religi," kata Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekraf M Faried di Jakarta, hari ini.

Dicontohkan M Faried, beberapa lokasi favorit turis adalah Masjid Agung di Banda Aceh yang bersejarah, Makam ulama besar dunia Syah Kuala, hingga monumen kenangan Museum Tsunami.

Banda Aceh kini menjadi tujuan utama wisatawan yang datang ke Aceh karena sistem akomodasi, tata kota, dan fasilitas pendukung di wilayah itu terus membaik.

"Banda Aceh pascatsunami tata kotanya [semakin] bagus, dan kalau diperhatikan, pengunjung Museum Tsunami hampir dua per tiga-nya wisatawan asing," katanya.

Datangnya turis mancanegara itu juga diperkuat oleh Kepala Dinas Pariwisata Aceh Muhammad Jasman yang mengatakan, pada 2011 jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke daerahnya mencapai 29.500 orang, dan sebanyak 67 persennya berasal dari Malaysia.

"Sebagian besar turis itu melakukan wisata religi di Aceh, sedangkan wisatawan lokal ke Aceh pada 2011 sebanyak 959 ribu pergerakan," katanya.

Ditambahkan Jasman, banyaknya kedatangan turis asing dari Malaysia ke Aceh adalah karena makin meningkatnya jumlah penerbangan langsung ke Banda Aceh serta destinasi wisata religi yang ada.

Jasman berjanji akan terus mengembangkan wisata religi di sana, di antaranya dengan wisata kurban serta pesantren untuk memperluas pilihan wisata religi di Aceh.

Selain wisata religi, Aceh juga memiliki potensial dengan wisata minat khusus lain, seperti Sabang dengan diving, Siemeulue dengan selancar, dan Kuta Cane di Aceh Tenggara dengan wisata sungai.

sumber : http://www.beritasatu.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Mengenal Ulama Sufi Aceh Tgk Mns Kumbang


Nama Tgk Meunasah (Mns) Kumbang, begitu populer di Aceh. Namun, generasi saat ini jarang yang tahu, di mana bermukimnya ulama sufi berkharismatik dan cerdik tersebut. Sesuai sejarah, beliau tidak hanya alim dan menguasai ilmu agama dengan baik. Tapi, juga gudang akal, sehingga kalau ada sengketa hukum di masyarakat, demikian mudah ia menyelesaikannya, tentu dengan bantuan ilmu dan akal (logika) yang kombinasikan beliau.

Tgk Mns Kumbang, atau Abu Mns Kumbang nama aslinya Tgk H Hasballah bin Tgk H Muhammad Saleh, hidup dari tahun 1834 – 1939 (tutup usia 105 tahun). Ia sangat menguasai hukum adat Aceh, qanun (peraturan daerah) dan reusam (kebiasaan dalam suatu komonitas penduduk Aceh).

Pada usia beliau 39 tahun, perang Aceh dengan kolonial Belanda, pecah (tahun 1873). Berarti selama 64 tahun beliau hidup dalam suasana peperangan antara Aceh – Belanda. Karena beliau cerdik cendekiawan, dalam sejarah Pemerintah Belanda tidak membenci beliau, kendati dalam batin Abu Mns Kumbang, tetap membenci penjajah Belanda.

Belanda sangat segan, sekaligus mencintai dan menghormati Abu Mns Kumbang. Buktinya, pada hari beliau mangkat (berpulang ke rahmatullah) di Gampong (Desa) Mns Kumbang, Kec Syamtalira Aron, Aceh Utara, para pembesar Belanda, ikut melayat dan memerintahkan seluruh perangkat Pemerintahan kolonial itu untuk ikut melayatnya.

Tidak terhitung berapa banyak perkara pelik yang diselesaikan Abu Mns Kumbang dengan cara bijaksana, adil dan puas bagi pihak yang bersengketa. Sebagai contoh kecil,…Syahdan: SUATU ketika, sepasang suami isteri di Aceh Utara, terlibat proses perceraian. Persoalan berikutnya, berlanjut kepada proses pembagian harta (peura’e harta).

Sang perempuan (isteri) yang kurang faham terhadap hukum agama Islam, tidak bersedia bagian harta itu lebih banyak untuk laki-laki (suami). Tapi, ia menuntut bagi sama (fifti-fifti), dengan alasan sama capeknya dalam berusaha mencari rezki. Alih-alih persoalanpun sampai kepada majlis adat, yaitu geuchil/kepala desa (Kades), Imam Meunasah dan perangkat desa lainnya.

Ketika sidang berlangsung di Meunasah (Surau), sang perempuan tetap bersitegang, seluruh harta wajib dibagi dua. Saat proses penyelesaian perkara secara adat menjelang buntu, salah seorang dari pengetua adat, meminta bantuan Abu Mns Kumbang.

Sebaik Abu Mns Kumbang tiba, beliau tidak berbicara apa-apa. Cuma memerintahkan Imam Meunasah, untuk meminjam beras zakat fitrah yang belum terbagi kepada yang berhak, agar dimasukkan di dalam karung seberat 100 kg. setelah karung berisi beras itu siap, Abu Mns Kumbang menyuruh si laki-laki untuk mengangkat, seraya membawa beberapa puluh meter dan kembali lagi ke Meunasah.

Si lelaki melaksanakan tugas itu dengan baik, namun ketika giliran si perempuan, ternyata ia gagal. Berdasarkan fenomena tersebut, Abu Mns Kumbang, menyampaikan nasehat. Bahwa, pembagian harta itu takarannya lebih banyak kepada lelaki, bukanlah kemauan manusia. Tapi, hukum Allah yang tidak boleh dilanggar.

“Bagaimanapun kuatnya postur tubuh perempuan, dalam kontek hukum Allah adalah makhluk lemah. Sebaliknya, bagaimanapun lemahnya postur tubuh seorang laki-laki, dalam kontek hukum Allah, ia adalah makhluk yang kuat. Maka dari situ, ada tanggungjawab lelaki untuk memimpin, menjaga dan melindungi perempuan,” demikian nasehat Abu Mns Kumbang. Akhirnya pasangan suami isteri yang bercerai itu, ikhlas menerima bagiannya masing-masing.

Usai memberi jalan keluar terhadap masalah masyarakat tersebut, Abu Mns Kumbang pamit meninggalkan majlis adat, seraya hadirin bangkit serentak dari duduk menyalami beliau. Sebagaimana biasa, beliau kembali menggamit tasbih di saku bajunya, seraya mulutnya komat-kamit berzikir, sambil mengayun langkah pulang ke rumah.

Setelah meninggal dunia, Tgk H Hasballah bin Tgk Muhammad Saleh (Abu Mns Kumbang) tersebut, dikebumikan di Desa Meunasah Kumbang, dia atas areal tanah seluas 800 meter persegi. Kemudian, komplek tersebut bertambah dengan makam-makam isteri dan anak-anaknya, serta kaum kerabat.

Foto: Ilustrasi
sumber : http://www.acehnationalpost.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 26 July 2012

Kerajaan IndraPurwa dan Makam Tgk Cot Diujong Ujong Pancu, Peninggalan Sejarah Aceh


Tidak banyak masyarakat sekitar Banda Aceh mengetahui kedudukan desa Ujong Pancu, salah satu desa dalam kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh. Hanya pemancing atau nelayan yang kerap mengetahui dimana letak Desa Ujong Pancu tersebut. Bagi saya, Ujong Pancu merupakan desa yang menyimpan banyak rahasia tentang sejarah Aceh dan peninggalannya. Oleh karena itu, saya dan Riadi bertekad menelusuri jejak peninggalan sejarah Aceh yang tersimpan di sekitar Desa Ujong Pancu.
Darussalam, Akhir tahun 2009 tepatnya pukul 7 pagi, Masyarakat Aceh mulai sibuk dengan urusannya masing masing. Sambil memanasi kendaraan, saya melihat para mahasiswa mulai berdatangan ke kampus, sementara warung kopi dengan sajian nasi gurinya sudah siap melayani siapa saja yang singgah. Dengan bekal semangat, kami pun menerjang angin pagi yang dingin menuju Ujong Pancu dan berharap sampai ke desa tersebut sebelum air laut pasang, karena tujuan pertama kami adalah menuju ke sebuah tapak perkuburan lama yang terletak satu kilometer ke arah laut. 20 menit kemudian, kami sampai ke Ujong Pancu dan bergegas untuk menuju ke tapak makam tersebut.
Dipesisir pantai Ujong Pancu, terdapat sebuah tapak makam yang terletak sekitar satu kilometer kearah laut. jika air laut pasang, makam tersebut akan tenggelam dan harus memakai perahu untuk mengunjunginya. Akan tetapi, jika air laut sedang surut, pengunjung bisa berjalan kaki menuju ke makam tersebut, tetapi hanya untuk beberapa jam saja. Karena kami tidak mempunyai biaya untuk menyewa perahu, kami mengambil kesempatan ketika air laut surut, dan berjalan kaki menuju makam tersebut.
Menurut penduduk sekitar Ujong pancu, sebelum Tsunami tahun 2004 makam tersebut dikelilingi oleh perkampungan. Ketika tsunami terjadi, perkampungan tersebut terkena impak yang sangat parah, sehingga terjadi pengikisan yang begitu luas dan yang tertinggal hanyalah makam tersebut. Penduduk setempat juga mengatakan bahwa disekitar makam tersebut, terdapat beberapa tapak peninggalan sejarah, seperti pondasi Mesjid Indrapurwa yang awalnya merupakan sebuah pura Kerajaan Hindu, dan diubah menjadi mesjid ketika masuknya Islam.

Ketika kami sampai dipesisir Ujong pancu, jam telah menunjukan pukul 7.30 pagi. Harapan kami untuk menuju ke makam tersebut begitu tipis, karena beberapa nelayan yang kami jumpai mengatakan tidak lama lagi air akan pasang. Alhasil, setelah mencoba berjalan sekitar 500 meter, air laut mulai pasang dan penelusuran pertama kami pun gagal. Walaupun begitu, semangat kami tidak patah begitu saja. Di lain waktu, kami akan kembali dan menjejaki tapak makam tersebut.







Kami singgah di bawah gedung SD Lampageue untuk menikmati nasi guri yang kami beli di Darussalam. SD Lampageue, yang dibangun dengan biaya 8 milyar tersebut terlihat mewah dan canggih, tetapi kami kecewa ketika mendengar bahwa jumlah semua murid SD tersebut tidak lebih dari 15 orang. Begitu minimnya minat masyarakat tersebut terhadap pendidikan dan kurangnya dukungan terhadap anak untuk mengecap pendidikan demi masa depan mereka. Masyarakat setempat lebih mengutamakan ekonomi daripada pendidikan, sehingga tidaklah heran jika anak-anak tersebut sudah mulai bekerja. Setelah mengisi tenaga secukupnya, kami kemudian menuju ke sebuah tapak peninggalan sejarah penting yang mulai dilupakan masyarakat Aceh.
Kerajaan IndraPurwaSitus kerajaan IndraPurwa merupakan salah satu peninggalan sejarah Aceh yang penting yang tersimpan di desa Ujong Pancu. Indra Purwa didirikan pada masa kerajaan Hindu dan termasuk salah satu dari 3 Indra dalam trail Aceh lhee sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe merupakan wilayah yang menghubungkan tiga Indra peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh, yang terdiri dari Indra Patra, Indra puri dan Indra Purwa. Tidak banyak orang Aceh mengetahui dimana letak situs Kerajaan tersebut.
Awalnya, kami juga tidak mengetahui dimana letak kerajaan tersebut. Berkat sebuah plakat yang disediakan oleh “yayasan Bustanussalatin”, kami akhirnya mengetahui daerah dimana letak situs kerajaan tersebut. Yayasan Bustanussalatin merupakan salah satu lembaga yang memerhatikan situs peninggalan sejarah Aceh. Lembaga tersebut telah menyediakan penunjuk atau plakat pada setiap situs peninggalan sejarah sehingga para pengunjung mengetahui letak dan latar belakang situs tersebut. Terimakasih untuk Yayasan Bustanussalatin.
Situs kerajaan Indra Purwa terletak di sekitar mesjid Indrapurwa yang dibangun setelah Tsunami. Ketika berada di halaman mesjid, kami tidak melihat bangunan lama yang umumnya berbentuk benteng, kami kemudian menuju ke arah selatan mesjid, hasilnya juga sama.
Setelah 30 menit mengelilingi dan memerhatikan sekitar halaman mesjid, kami istirahat di atas sebuah pondasi tepat di samping mesjid arah selatan. ketika asyik beristirahat, saya memerhatikan pondasi tersebut dan terkejut ketika mengetahui bahwa pondasi tempat kami istirahat adalah tempat dimana Kerajaan IndraPurwa didirikan.
Jika pengunjung tidak memerhatikankan dengan seksama, maka pondasi tersebut tidak terlihat seperti bangunan lama, karena sebagian pondasinya telah di lapisi semen, sehingga bentuk aslinya tidak bisa dilihat dengan jelas. Selain itu, hanya sebagian pondasi bangunan yang masih utuh. Keadaan sekitar tapak kerajaan IndraPurwa begitu memprihatinkan, karena tidak ada perawatan sama sekali. Sungguh disayangkan bila situs sejarah yang begitu penting diabaikan begitu saja, tanpa perawatan dan perhatian dari Masyarakat dan Pemerintah Aceh. Saya berharap pemerintah Aceh memberikan perhatian terhadap kelestarian Tapak Kerajaan IndraPurwa, karena keberadaan situs tersebut dapat membuktikan identitas Kerajaan Aceh baik sebelum atau sesudah masuk Islam.
Setelah menemukan tapak kerajaan Indra Purwa di Mesjid IndraPurwa, kami kemudian menuju kearah selatan, kira-kira 200 meter dari Mesjid. Menurut informasi yang kami dapat dari seorang penduduk, daerah yang akan kami tuju terdapat beberapa batu nisan peninggalan abad 15 dan 16 bahkan jauh sebelumnya. Kawasan tersebut telah ditutupi pohon yang lebat dan rumput yang panjang, sehingga sulit bagi kami untuk menemukan batu nisan. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya kami berhasil menemukan beberapa batu nisan, namun sebagian dari batu nisan tersebut telah dimakan usia sehingga bentuknya tidak begitu sempurna.
Selain itu, kami juga menemukan batu nisan yang sudah tertimbun tanah, dan hampir tidak kelihatan bentuknya. Setelah memasuki kawasan tersebut sedalam 100 meter, kami baru menemukan batu nisan yang masih sempurna bentuknya, namun batu nisan tersebut telah tercabut dari tanah. Karena terik matahari yang menyengat kulit, kami kemudian berteduh di bawah pohon tidak jauh dari kawasan perkuburan. Saat kami sampai dibawah pohon yang rindang tersebut, kami tidak menyangka jika kami juga menemukan beberapa batu nisan Aceh yang mempunyai ukiran kalimah Allah. Akan tetapi batu nisan tersebut juga tercabut dari tanah, sehingga kami tidak mengetahui dimana letak yang sebenarnya. Besar kemungkinannya, jika batu nisan tersebut telah tercabut akibat Ombak Tsunami tahun 2004 silam.

Makam Tungku Cot di UjongPukul 12 siang, kami melanjutkan perjalanan menuju arah barat Ujong Pancu, tepatnya ke Makam Tungku Cot di Ujong. Tungku Cot di Ujong kata penduduk setempat, merupakan seorang Ulama terkenal dan makam beliau dipercayai keramat. Ketika kami tanya dimana letak makam Tungku Cot di Ujong, mereka menanyakan apa tujuan kami mengunjungi makam tersebut dan kami pun menjelaskannya panjang lebar. Penduduk setempat mengingatkan agar kami hati hati ketika menuju ke makam Tungku, karena menurut mereka, jika niatnya tidak baik, maka pengunjung akan berjumpa dengan binatang-binatang yang berbahaya, seperti ular, harimau dan bahkan makhluk halus atau tersesat. Dan jika niat mengunjungi makam baik, maka makam Tungku akan mudah di temukan. Awalnya, kami juga merasa takut dan keberatan untuk mengunjungi makam tersebut, tetapi karena mempunyai niat yang baik, akhirnya kami bertekad untuk mengunjungi makam Tungku Cot di Ujong.
Dengan mengendarai sepeda motor, kami meninggalkan mesjid Indra Purwa dan menuju Makam tungku cot di ujong. Melewati jalan aspal yang kecil di tengah perkampungan dan menikmati keindahan laut ujong pancu, membuat perjalanan kami semakin menarik. Setelah 10 menit mengendarai sepeda motor, kami sampai di kaki bukit dan berhenti sejenak untuk melepaskan pandangan kearah pantai. Sungguh indah pemandangan pantai Ujong pancu jika di lihat dari kaki bukit tersebut. Hamparan luas pantai dikelilingi oleh perkampungan Ujong Pancu yang dilindungi oleh gunung. Sementara dari arah timur pantai, kami dapat melihat keindahan gunung Seulawah yang menjulang tinggi, seolah-olah menyentuh angkasa. Dipinggiran kaki bukit, kami lihat beberapa orang sibuk memancing ikan. Pantai Ujong Pancu adalah salah satu tempat utama bagi sebagian masyarakat Aceh besar yang mempunyai hobi memancing.
Setelah melepaskan dahaga, kami langsung melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, kami menemukan jalan buntu dimana banyak sepeda motor milik pemancing parkir berjejeran disamping jalan. Untuk seketika, rasa takut dan was was kami hilang karena tempat tersebut banyak dikunjungi orang.


Tidak jauh dari tempat parkir sepeda motor tersebut, kami menemukan sebuah jalan setapak yang dibuat dari semen. Untuk memastikan jalan setapak tersebut menuju ke makam tersebut, kami bertanya pada orang yang sedang berkebun tidak jauh dari jalan tersebut. Setelah memastikan, akhirnya kami meneruskan perjalanan.
Kami mengikuti jalan setapak tersebut sambil mendengar suara ombak yang menghantam karang. Ternyata, perjalanan menuju ke makam tersebut agak menyeramkan. Penelusuran kami disaksikan oleh dua objek yang bisa membuat bulu kuduk kami berdiri. Dari sisi kiri, hutan yang lumayan lebat membuat kami was-was terhadap binatang buas seperti harimau atau ular. Sementara disisi kanan, kami di intai oleh jurang yang curam. Kami harus extra hati-hati berjalan, karena jalan setapak tersebut agak licin. Akan tetapi, kicauan burung-burung yang berusaha menyapa membuat rasa was-was kami menghilang. Dalam perjalanan tersebut, saya bertanya pada diri sendiri, kira-kira siapa nama ulama yang ada dimakam tersebut dan mengapa beliau di makamkan di tempat yang begitu terpencil?. Rasa ingin tahu saya semakin kuat dan membangkitkan semangat untuk menelusurinya.
Setelah berjalan selama kira-kira 10 menit, akhirnya kami melihat sebuat atap dibalik celah pohon-pohon. Kami langsung mendekati tempat tersebut dan saya begitu terkejut dan terpana ketika melihat sebuah papan yang tertulis “Maqam Syeh Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi”. Perasaan gembira, penasaran, dan bingung menjadi satu. Seorang ulama yang begitu terkenal di Asia, seorang ulama sufi yang bukunya telah dibedah oleh banyak ilmuan, seorang ulama yang besar namanya, seorang ulama yang pernah hidup dimasa kegemilangan kerajaan Aceh pada abad ke 17. Banyak buku biografi beliau telah saya baca, dan saya baru tahu ternyata beliau beristirahat di tempat yang sunyi nan jauh. Saya begitu senang karena akhirnya saya mengetahui tempat beliau dimakamkan.
Dengan membaca salam kepada ahli kubur, kami langsung masuk ke dalam pekarangan makam. Luas pekarangan makam kira-kira 10X10 meter, lantainya telah disemen dan pekarangan tersebut dipagar dengan kawat. Didalam pekarangan itulah Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan. Disekeliling makam beliau telah dipasang kelambu berwarna putih, dan ditutupi atap dari genteng. Dengan perasaan was-was, kami menyelinap kedalam kelambu tersebut dan subhanallah, kami melihat sebuah makam yang begitu panjang dan juga diselimuti dengan kain hijau tua. Kami kemudian duduk di samping makam danmenghadiahkan do’a untuk beliau. Setelah berdo’a, saya sendiri berdiam diri sambil mengingat kembali masa kejayaan Aceh pada abad ke 17, masa hidup Syeh Hamzah al-Fansuri. Syeh Hamzah al-Fansuri adalah seorang ulama sufi yang begitu terpengaruh di Aceh pada saat itu. Beliau berasal dari Fansur, (Aceh Singkil sekarang). Beliau menguasai ilmu Islam di negeri para nabi dan menyiarkannya di Aceh. Selain menguasai ilmu dibidang sastra, beliau juga menguasai ilmu tauhid dan mengikuti aliran Ibnu ‘Arabi, yaitu aliran Wahdatul Wujud. Menurut beberapa sumber, aliran wahdatul wujud dianggap sesat pada Abad 17 dimasa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, dan mendapat tantangan hebat dari seorang Ulama Aceh yang dikenal dengan nama Syeh Nuruddin ar-raniry, beliau berasal dari Ranir,India. Karena dianggap sesat, banyak kitab-kitab karangan Syeh Hamzah al-Fansuri dibakar (menurut sebuah kisah, kitab-kiab beliau dibakar didepan Mesjid Raya Baiturrahman). Sehingga banyak sumber-sumber ilmu yang beliau syiar hilang dari permukaan bumi Aceh. Hanya beberapa kitab yang selamat dan kini tersimpan di museum diluar negeri, seperti Belanda dan Inggris. Sumber yang lain juga mengatakan bahwa bukan hanya kitab-kitab beliau yang dibakar, tetapi beliau juga dikenakan hukuman mati karena menyebarkan aliran sesat.
Hukuman yang dijatuhkan kepada Syeh Hamzah al-Fansuri, pembakaran kitab dan tentang aliran sesat, adalah sebuah peristiwa yang penuh controversial pada abad ke 17, dan menjadi hal yang penuh tanda hanya pada masa sekarang ini. Begitu banyak ilmuan yang melakukan penelitian tentang kitab sastra karangan beliau serta biografinya. Kitab beliau dipenuhi dengan syair-syair mistik serta Hikayat yang kaya dengan makna, syair-syair sufi yang begitu rumit dipahami. Sehingga tidaklah heran jika beliau dinobatkan sebagai pujangga melayu klasik pertama didunia. Tetapi alangkah sayangnya, banyak masyarakat Aceh, pemuda-pemudi dan pelajar yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang kontribusi beliau untuk Aceh. Bahkan tidak mau tahu dimana beliau dimakamkan. Kepedulian rakyat Aceh kepada hasil karya seorang Aceh telah ditelan bumi. Tidak ketinggalan juga, pemerintah Aceh yang notabenenya peduli kepada sejarah Aceh, belum sepenuhnya membangun dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah Aceh, termasuk Makam-makam ulama yang pernah mengharumkan nama Aceh dimasa dahulu. Peninggalan-peninggalan sejarah Aceh tersebut adalah bukti bukti kejayaan Aceh dimasa dahulu, dan untuk dijadikan contoh bagi generasi muda sebagai penerus dimasa depan.
Setelah beberapa lama saya duduk disamping makam syeh Hamzah al-Fansuri, saya mulai melihat kesekeliling makam yang diselimuti kelambu tersebut. Terdapat 2 makam tidak jauh dari makam syeh Hamzah al-Fansuri, makam tersebut tidak terlalu panjang. Dimakam terlihat batu Aceh, batu nisan yang dipenuhi ukiran ayat Al-Qur’an dan ukiran bunga. Mungkin makam tersebut adalah makam murid atau keluarga beliau. ke 2 makam itu juga diselimuti kain hijau. Melihat kawan saya Riadi asik dengan pemandangan disekeliling pekarangan makam, saya pun beranjak keluar dari kelambu dan mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Pekarangan makam terletak di pinggir jurang yang curam. Pekarangan terlihat kurang bersih dan dipenuhi dengan daun daun yang gugur. Sementara diarah hutan, terdapat sebuah balai yang lumayan besar ukurannya. Balai tersebut digunakan sebagai fasilitas beribadah dan beristirahat. Walaupun jalan setapak dan sarana ibadah sudah disediakan, tetapi masih terdapat kekurangan pada pelestariannya.saya mengusulkan pada pemerintah agar memasang papan petunjuk arah menuju makan tersebut. Sehingga pengunjung mudah menelusuri lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri.
Jika diperhatikan, lokasi Makam Syeh Hamzah al-Fansuri dan makam Syiah Kuala ada keunikan tersendiri. Kepastian lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri hampir sama dengan makam Syiah Kuala. Makam Syiah Kuala terdapat di dua lokasi, yaitu dikecamatan Kuta Alam dan dikabupaten Singkil. Makam yang terdapat di Aceh Singkil dikenal dengan nama makam Syeh Abdulrauf al-Singkili, dan tidak dijuluki dengan nama Syiah Kuala, sedangkan yang di Kecamatan Kuta Alam dikenal dengan julukan makam Syiah Kuala atau Syeh Abdul Rauf al-Singkili. Sementara itu, Makam Syeh Hamzah al-Fansuri juga terdapat didua lokasi, yaitu di Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, dan dikabupaten Singkil. Sedangkan nama kedua makam tersebut adalah sama. Kepastian lokasi makam ulama besar tersebut masih penuh tanda tanya. Menurut pendapat saya, Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan di Ujung Pancu, karena beliau menghadapi hukuman di Banda Aceh pada Abad ke 17 dan jenazah beliau tidak di bawa pulang ke Fansur, tetapi dimakamkan di Ujong Pancu. Selebihnya kita serahkan pada Allah yang Maha Tahu.
Setelah dua jam, kami meninggalkan lokasi makam syeh Hamzah al-Fansuri dan kembali menghadapi perjalanan setapak. Sewaktu pulang, perjalanan kami terasa lebih cepat dibandingkan ketika pergi. Mungkin karena kami sudah mengetahui arah jalan tersebut dan hilang perasaan was-was membuat kami berjalan cepat.
Panas matahari menyengat kulit ketika kami keluar dari hutan, kepala terasa pening disertai dahaga. Dengan sisa tenaga yang ada, kami meninggalkan Ujong Pancu menuju Darussalam, kami meninggalkan sebuah daerah yang penuh dengan sejarah serta peninggalannya.
Ketika sampai ke Darussalam, kami berhenti disebuah warung dan meluangkan waktu untuk melepaskan dahaga. Sambil menikmati segarnya air kelapa muda, kami merencanakan penelusuran selanjutnya. Penelusuran yang akan mengambil waktu yang lumayan lama dan jauh. Perjalanan kami selanjutnya adalah menelusuri peninggalan sejarah Aceh di Lamno” Sejarah Meuruhom Daya” dan “Mencari jejak Simata Biru” yang berbasis di Lamno, Aceh Jaya.






















Baca Selengkapnya

Berziarah ke Makam Syuhada Aceh di Malaka


Jumat, 20 April 2012 09:53 WIB
Laporan Farid Wajdi Ibrahim Rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

PUKUL tujuh pagi, saya mengunjungi makam Syeich Syamsuddin al-Sumatrani (Ulama Sufi asal Aceh) di kampung Ketek, pinggiran Bandar Malaka, Malaysia. Lebih kurang dua jam perjalanan dari Selangor atau sekitar lebih kurang 140 km dari Kuala Lumpur arah Selatan.

Lokasi tersebut berada di tengah perkampungan Cina dengan kondisi lorong yang sempit dan tidak dapat dilalui mobil. Menurut keterangan dari penjaga makam, kuburan Syeich Syamsuddin Al-Sumatrani pada awalnya tidak ada yang mengurus, bahkan tidak satupun mengetahui itu merupakan makam ulama terkemuka di nusantara dalam sejarah Melayu asal Aceh. Sehingga pada saat diketahui sekitar 2 tahun yang lalu itu kuburan Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, Pemerintah Malaysia melalui Sultan Malaka langsung memerintahkan dipugar dan dibangun kembali dengan baik.

Kuburan ulama sufi itu tergolong sangat panjang (lebih kurang 8 meter), lokasi tersebut sekarang sudah menjadi tempat wisata kebudayaan yang banyak dikunjungi umat beragama di dunia. Uniknya, selain umat Islam yang berziarah, umat Budha, Hindu, Konghucu, Kristen dan lain sebagainya juga mengunjungi makam tersebut dengan hajatan sebagai tempat persemedian, bahkan dipenuhi dengan alat-alat persembahan. Namun, karena begitu maraknya dengan praktik syirik tersebut, pihak kerajaan sudah menertibkannya melalui penjagaan yang ketat terhadap orang-orang yang berkunjung ke makam itu.

Syeich Syamsuddin al-Sumatrani merupakan seorang ulama, sastrawan dan pahlawan yang terkenal di negeri Aceh di zaman Sulthan Iskandar Muda. Pada saat Malaka dikuasai Portugis tahun 1511. Aceh sering melawan portugis di Malaka. Tujuan peperangan tersebut untuk mempertahankan dan mengembalikan Malaka pada asal yaitu kerajaan Aceh yang bebas dari jajahan Barat dan bahkan untuk menegakkan syari’at Islam.

Salah satu serangan yang dilakukan angkatan tentara Aceh terhadap Portugis di Malaka langsung dipimpin oleh Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, yang diikuti oleh panglima-panglima perang lainnya termasuk di antaranya adalah panglima Pidie. Syamsuddin al-Sumatrani dan panglima Pidie syahid di Malaka. Jasad panglima Pidie disemayamkan di puncak gedung-bukit China. Sementara, Syeich Syamsuddin al-Sumatrani dimakamkan di Kampung Ketek, Malaka.

Dalam perspektif sejarah Syeich Syamsuddin al-Sumatrani datang ke Malaka sekitar abad ke 17, tepatnya pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda berkuasa, di mana beliau juga dikenal sebagai Mufti Kerajaan Aceh pada saat itu. Namun pada substansinya, beliau datang ke sana atas perintah dari Sultan Aceh dengan tujuan untuk mempertahankan pasukan Aceh dalam peperangan melawan Portugis, yang mana Malaka merupakan wilayah kekuasaan Aceh waktu itu.

Setelah ziarah makam Syeich Symasuddin al-Sumatrani, saya mengunjungi Pulau besar. Di sana, terdapat makam Sultan al-Arifin. Ia adalah seorang Sultan yang sangat gagah berani juga sebagai ulama terkemuka di Malaka. Di samping makam Sultan al-Arifin juga terdapat makam Syeich Yusuf, guru dari Sultan al-Arifin. Makam Syeich Yusuf panjangnya mencapai 20 meter, dan merupakan makam terpanjang di Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, masih ada dua lagi makam orang Aceh di Pulau Besar, Malaka yaitu makam Tok Janggut. Ia berasal dari Aceh yang diyakini datang dengan Panglima Lidah Hitam (ulama dan pahlawan yang sangat terkenal dalam dunia persilatan) dan satu lagi adalah makam Tok Putih yang juga asal Aceh dengan ukuran panjang kubur lebih kurang 14 meter.

Kita berharap Pemerintah Aceh mau bekerjasama dengan pemerintah Malaka untuk melestarikan para syuhada tersebut dan menjadikannya sebagai pusat kebudayaan.

Sumber : aceh.tribunnews.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Masyarakat Sumbar Padati Makam Syiah Kuala



(Analisa/barlian erliadi). Sebagian dari ratusan peziarah dari Sumbar, sedang melaksanakan salat di kompleks pemakaman Syiah Kuala di Banda Aceh, Minggu (6/5).
Banda Aceh, (Analisa). Ratusan masyarakat MInang, Sumatera Barat (Sumbar), membanjiri makam Syekh Abdurrauf bin Ali Al-Fanshuri atau Tgk Syiah Kuala di Banda Aceh Minggu (6/5). Mereka yang berkunjung itu ialah santri dan wali santri Pesantren Nurul Yakin, Sumbar, pimpinan Syekh Ali Imran Hasan .
Menurut sejumlah santri, kedatangan mereka dalam rangka berwisata dakwah dan berziarah ke makam Syiah Kuala. Selain itu juga melaksanakan zikir dan mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Aceh.

"Berkunjung ke mari untuk melihat makam Syiah Kuala dalam rangka berziarah dan berzikir " kata seorang santri, Al-Ghazali.

Dikatakan, mereka yang berjumlah sekitar 400 orang itu berziarah selama tiga hari dan menginap di pondok sekitar kompleks makam sembari memanjatkan doa untuk Syiah Kuala.

Mereka juga membawa makanan yang dimasak langsung di komplek makam. Tampak di antara mereka sibuk mempersiapkan makanan, dan sebagian melaksanakan salat. Ada juga yang berfoto untuk mengabadikan panorama indah dengan latar pemandangan di seputaran komplek makam.

Seorang santri lain, Ali Duan, mengatakan, mereka sengaja datang ke makam Syiah Kuala karena ingin melihat langsung makam ulama tersohor dalam sejarah Kerajaan Aceh ini.

Dikatakannya, kebesaran ulama Aceh itu hanya diketahui melalui buku dan media lain, namun belum pernah melihat dari dekat bagaimana makam sang ulama. Keindahan alam di sekitar kompleks pemakaman juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Dia mengaku sangat terkesan dengan kunjungan itu.

Selain penasaran, kunjungan ini juga sebagai penghormatan terhadap Syiah Kuala yang telah mendidik ulama besar Sumbar pada masa lalu, Syekh Burhanuddin.

Diceritakan, Burhanuddin adalah ulama besar yang telah mengembangkan dan menyiarkan ajaran Islam di ranah Minang. Menurut sejarah, ulama ini merupakan murid kesayangan Syiah Kuala.

sumber : analisadaily.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Menziarahi Makam Syeikh Shamsuddin as-Sumatrani


SUDAH beberapa kali saya mengunjungi Malaka, Malaysia untuk menyusuri jejak ulama Aceh yang dikabarkan telah syahid di sana, namun belum saya temukan titik terang keberadaan makam ulama tersebut, baru pada perjalanan Minggu (11/12/) setelah berputar-putar beberapa kali Kota Malaka, saya dapat menemukan makam ulama besar Aceh itu yakni makam Syeikh Shamsuddin as-Sumatrani.

Waktu itu saya ditemani istri, Daryani, bang Min, Teuku Muttaqin Mansur dan Istri ikut serta menyusuri jejak ulama Aceh tersebut. Menemukan makam ulama besar Aceh ini tidaklah segampang yang dibayangkan. Sebab makam yang letaknya di kampung Ketek berada di antara rumah penduduk. Mencapai makam tersebut kita harus berjalan kaki menyusuri lorong kecil yang tidak bisa dilalui dengan mobil.

Orang-orang di kawasan itu tidak semua mengenal akan Syeikh ini, namun berkat petunjuk seorang pemuda masjid di Kampung Hulu, akhirnya kami menemukan kampung Ketek di maksud tetapi menurut pemuda itu penduduk setempat menyebutkan nama kampung Ketek dengan kampung Kekek.

Kalimat-kalimat istighfar terucap dari mulut kami begitu sampai di makam tersebut, Masya Allah, Subhanallah...berulang kali kami mengucap kalimat itu, ternyata makam Syeikh begitu panjang dan luas, malah sesekali tercium bau wangi-wangian yang kami tidak tahu berasal dari mana. Betul kata kawan saya di Aceh bahwa makam ulama itu makin hari semakin panjang dan kadang mengeluarkan bau wangi-wangian.

Menurut catatan sejarah, Syeikh Shamsuddin ketika itu menginginkan kematiannya sebagai seorang yang syahid, maka beliau pun ikut serta dalam balatentra Kerajaan Aceh Darussalam untuk menyerang Portugis di Malaka, yang masa itu Malaka dalam taklukan Portugis. Penyerangan tersebut terjadi pada masa Pemerintahan Mahkota Alam Sulthan Iskandar Muda Johan Berdaulat pada tahun 1629 M.

Syeikh Nuruddin ar-Raniry dalam Kitab Bustanul Salatin dengan jelas menyebutkan bahwa Syeikh Shamsuddin al-Sumatrani wafat pada malam Senin 12 Ra’jab Tahun 1039 H atau bertepatan dengan tahun 1630 M. Syeikh Shamsuddin meninggalkan kedudukannya sebagai Mufti Besar Kerajaan Aceh dan berjuang bersama tentara Aceh untuk mengusir Portugis yang menduduki negeri orang Islam, sehingga ia syahid dan disemayamkan di Malaka.

Dari tulisan pada monumen makam beliau terungkap pula bahwa ada seorang lagi pahlawan Aceh yang syahid di Malaka, yakni Panglima Pidie juga  makamnya tidak jauh dari makam Syeikh Shamsuddin Pasai, di Bukit Cina Malaka.

Shamsuddin Pasai atau lebih dikenali dengan nama Syeikh Shamsuddin al-Sumantrani adalah salah seorang ulama agung Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau menjadi Sheikhul Islam atau Mufti besar Kerajaan Aceh pada masa Pemerintahan Sulthan Alauddin Riayat Shah Sayyid al-Mukammil (1589-1604) dan pada masa Pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam Johan Berdaulat (1607-1636).

Riwayat dan kisah Syeikh Shamsuddin sangat sukar untuk diungkap disebabkan sebagian besar karyanya telah musnah, hanya beberapa saja yang tersisa, itupun bukan di tempat asalnya tapi ditemukan di tempat lain, seperti Jawhar al-Haqa’iq (30 halaman; berbahasa Arab), Mir’at al-Mu’minin (70 halaman; berbahasa Melayu), dan banyak yang lain-lain.

Penulis Oleh Hamdani, Dosen Fakultas Hukum Unimal, Mahasiswa P.hD Fakulti Undang-undang UKM, Melaporkan dari Malaysia.

sumber ; www.lagak.blogspot.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Berwisata ke Makam Ulama Sufi

Makam Tgk Chik Awe Geutah
Makam Tgk Chik Awe Geutah/Foto: Dok. Pribadi
CUACA hari itu sangat mendukung untuk melakukan ekspedisi, sang mentari pun begitu elok menemani perjalanan kami. Berawal dari titik poin Cipuga Cyber Computer (markas utama) Aceh Blogger Community (ABC) Reg. III Bireuen, kami membuat titik-titik mana yang akan dikunjungi untuk ekspedisi kali ini, mempersiapkan ala kadar apa yang perlu dibawa, karena ekspedisi kali ini memang terbilang tidak begitu ekstrim seperti yang sebelumnya ke tempat-tempat wisata alam yang belum begitu terekspos di wilayah Jeumpa, melainkan ekspedisi kali ini adah ke tempat-tempat berbau religius berhubungan suasana lebaran masih sangat terasa.
Tim ekspedisi kali ini (X-ABC III Bireuen) mempunyai dua tujuan tempat yang akan dikunjungi, yakni sebuah tempat pengajian/dayah terpadu disebuah desa terpencil Peusangan Siblah Krueng (PSK) yaitu Dayah Nurul Iman serta sebuah makam ulama sufi keturunan Arab, Tengku Chik Awe Geutah.
Mesjid Awe Geutah
Mesjid di Gampong Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen/Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan pagi menjelang siang di hari itu memang terbilang seru, tim X-ABC III Bireuen yang terdiri dari 7 orang mengitari pelosok kecamatan PSK dengan mengendarai sepeda motor. Memang semenjak menjadi sebuah kecamatan pemekaran dari Peusangan, PSK masih termasuk salah satu kecamatan yang berada dipelosok kota kecil Matangglumpangdua.
Ada dua cara menuju ke PSK ini, melalui Matangglumpangdua atau juga melalui jalan Kuta Blang ruas jalan Medan Banda Aceh.
Makam Tengku Chik Awe Geutah
Menelusuri jejak makam ulama di Peusangan memang terbilang tidak sulit, salah satu seperti makam Tengku Chik Awe Geutah ini. Awe Geutah merupakan salah satu gampong yang berada di kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Untuk mencapai ke gampong ini hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari kota Matangglumpangdua, baik menggunakan roda dua atau pun kendaraan roda empat.
Makam Tengku Chik Awe Geutah berada dalam komplek perumahaannya sendiri, disana kita masih bisa menemukan rumah adat Aceh atau lebih dikenal dengan rumoh Aceh yang masih terpelihara, terdapat sebanyak empat rumoh Aceh yang masih berdiri disana dengan ukiran khas yang masih utuh terjaga di komplek makam Tengku Chik. Salah satu rumoh Aceh tersebut adalah kediaman pribadi Tengku Chik yang sekarang sudah diwariskan kepada anak cucu beserta cicitnya.
Mengenal sosok Tengku Chik Awe Geutah sebenarnya terbilang klasik, seperti kebanyakan ulama yang datang ke bumi Serambi Mekkah memang bukan sembarang orang, seperti salah satu Tengku Chik ini. Tengku Chik mempunyai nama asli Syeikh Abdur Rahim Asyi bin Jamaluddin Bawaris, merupakan salah satu ulama yang berketurunan bangsa Arab (dalam literatur lain Bawaris berasal dari Yaman).
Tidak dapat dipastikan tahun berapa kedatangan Tengku Chik ke Aceh, jika dilihat dari rumah yang ditinggalnya sekarang sudah berumuh 500 tahun lebih atau menurut perhitungan awam kedatangan Tengku Chik ke Aceh sekitar tahun 931 H. Atau menurut masa kesultanan Aceh, kedatangan Tengku Chik berada pada masa pucuk kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah.
Dari silsilahnya dikediamaan Awe Geutah bisa kita lihat, bahwa Tengku Chik memiliki garis keturunan langsung dari Saidina Abbas r.a, melalui garis keturunan Nabi Muhammad SAW di atasnya. Dalam silsilah tersebut, dapat dicatat bahwa sebanyak sembilan keturunan langsung dari Tengku Chik dan sepuluh dari sang ayahnya, Jamaluddin Bawaris.
Jika kita melihat isi rumah Tengku Chik, akan banyak sekali kitab-kitab yang kita temukan dari peninggalannya dulu, baik tentang ilmu tauhid, pendidikan, fiqh dan sebagainya. Adapun kitab-kitab tersebut kini telah dijaga dan dirawat oleh pemerintah setempat sebagai bukti sejarah atas napak tilasnya di tanah Aceh ini.
Selain itu, di dalam rumah kayu yang terbuat dari pohon Merbo atau Merbau tersebut juga bisa kita temukan satu unit geulungku (pemarut kelapa) yang diperkirakan sudah berumur 125 tahun. Hal ini diperkuat dari adanya tahun yang tertera di geulungku tersebut 1306 H. Sesuatu yang unik memang, kalau sejak dulu orang-orang telah mampu merekam sejarah melalui cara menuliskan tahun pada alat-alat sederhana seperti geulungku tersebut.
Ada juga sepasang sandal yang terbuat dari kayu, walaupun terbilang antik tapi sayang sandal tersebut tidak tertera tanggalnya.
Wawancara dengan Tgk Muhsin
Bincang-bincangn dengan Tgk. Muhsin Hasan tentang keberadaan Ie Mon Khlaut/Foto: Dok. Pribadi
Setelah melihat-melihat isi dari sebagian rumah Tengku Chik, lalu kami juga beralih pada halaman depan rumahnya yang terbilang cukup luas, disana juga ada hal unik lainnya dengan berbagai cerita menarik yang patut kita ketahui. Salah satu adalah Ie Mon Khalut (air sumur khalut), konon ceritanya air sumur ini bisa menjadi obat bagi orang yang meyakini kesembuhan penyakitnya.
Menurut penafsiran Tgk. Muhsin Hasan (salah satu garis keturunan langsung dari Tengku Chik), sumur khalut ini dibuat setelah Tengku Chik pulang dari Mekkah, kepulangan dari Mekkah tersebut Tengku Chik juga ikut membawa pulang sebagian dari air zamzam, lalu setibanya di Aceh maka air zamzam tersebut dituangkan pada sumur yang ada pada halaman depan rumah.
Pada awalnya sumur khalut tidak memiliki dinding, lalu pada tanggal 10 Juni tahun 1956 M dibuatlah dinding (dalam bahasa Aceh dikenal dengan minjeng mon) sebagai penanda bahwa dihalaman depan rumah ada salah satu sumur yang telah dicampurkan air zamzam oleh Tengku Chik.
Sebutan khalut sendiri sebenarnya cukup erat hubungan dengan sebuah pondok atau lebih dikenal balee khalut di Aceh, tepat berada disamping sumur tersebut. Sehingga sumur itu dikenal dengan Mon Khalut. Kata khalut itu sendiri juga merupakan sebuah sebutan ritual agama, dimana orang-orang yang datang ke kediamaan Tengku Chik sering melakukan muhasabah diri untuk menjauhkan diri dengan kesibukan dunia, mereka yang melakukan khalut hanya berdiam diri tanpa berkomunikasi dengan orang sekitar. Selain itu orang yang melaksanakan khalut menyibukkan dirinya untuk mengingat sang Khalik dengan ratib, membaca ayat suci dan lainnya.
Ritual seperti ini sering dilakukan oleh orang-orang yang datang dari luar kampung Awe Geutah, biasanya mereka mendiami balee tersebut saat bulan Ramadhan datang, ada yang 45 hari, 30 hari bahkan 10 hari terakhir di bulan puasa.
Melihat arsitektur dari sumur-sumur yang ada di pekarangan rumah Tengku Chik, cukup terlihat jelas bahwa itu meruapakn hasil arsitektur orang-orang India, salah satunya sumur lain yang berada disebelah kanan rumoh Aceh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun.
Hal unika lainnya dari mon khalut ini, hanya memiliki kedalaman empat buah minjeng atau bisa disetarakan dengan lebih kurang 4 meter. Di lain sisi mon khalut ini juga terdapat makam Tengku Chik sendiri beserta kedua anaknya, makam yang sudah dipugar ini juga memang terbilang artistik, karena dibuat dari campuran telur dan pasir yang sampai sekarang masih berdiri kokoh.
Sebelum kami pamit dari kediaman Tengku Chik, kami juga sempat bertanya dengan keanehan pintu rumoh Aceh yang didiami oleh Tengku Chik, karena salah dari bagian dari pintu tersebut mempunyai warna yang berbeda dengan satunya. Ternyata hal ini dijawab oleh Tgk. Muhsin, bahwa bagian yang satu itu adalah replika karena pintu itu sempat dicuri oleh serdadu Belanda saat mau menjajah Aceh.
salah satu pintu rumah yang dicuri Belanda
Pintu rumah Tgk Chik yang sempat dibakar oleh penjajah Belanda, namun mereka gagal dan akhirnya mereka mencurinya salah satu bagian/Foto: Dok. Pribadi
Menurut penuturan Tgk. Muhsin, kedatangan Belanda pada masa penjajahan itu membuat mereka geram dengan pintu rumah tersebut. Entah kenapa, konon ceritanya saat Belanda memasuki kawasan Awe Geutah dan mendapatkan rumoh Aceh tersebut mereka ingin membakar pintu rumah dari Tengku Chik, namun usaha tersebut gagal mereka lakukan setelah mencoba berulang kali. Tanpa berpikir panjang karena tekanan dari rakyat setempat untuk mengusir penjajah. Akhirnya mereka hanya mampu membawa satu pintu tersebut kabur ke negerinya Belanda. Oleh Aulia

Sumber ; sejarah. kompasiana.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

600 pohon ditanam di komplek pemakaman ulama besar Syech Abdurrauf Al Fansyuri As-Singkili

 
BANDA ACEH - Sedikitnya 600 pohon ditanam di komplek pemakaman ulama besar Syech Abdurrauf Al Fansyuri As-Singkili atau Teungku Syiah Kuala di Gampong (Desa) Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Aksi para pecinta lingkungan ini sebagai wujud menghijaukan pantai. Mereka juga memungut sampah dan pengadaan tong sampah di lokasi yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai.

Direktur Yayasan Bumiku Hijau, Nurjanah Husen, mengatakan bahwa lokasi pemakaman ulama besar Syiah di Asia Tenggara itu dipilih karena sudah menjadi salah satu objek wisata religi yang sering dikunjungi wisatawan. "Kita cemas karena sampah berserakan tidak ada tempat sampah dan tandus tanpa pohon," katanya di sela aksi, Selasa (5/6/2012).

Teungku Syiah Kuala merupakan ulama Aceh yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Aceh dan Asia Tenggara sekira 1001 Hijriah atau 1591 Masehi.

Semasa hidup ia dipercaya menjadi qadhi malikul adil (hakim) kerajaan Aceh selama 23 tahun di bawah kepemimpinan Ratu Safiatuddin (1641-1675 M), sebelum wafat pada Senin, 23 Syawal 1106 Hijriah atau 1696 M dalam usia 105 tahun.

Makam ini sering dikunjungi turis dari Malaysia, Brunai Darussalam, Pakistan, Arab, bahkan Polandia. Warga Sumatera Barat juga rutin berziarah setiap tahun sekali ke makam ini.

Menurut Nurjanah, aksi penanaman pohon ini bagian dari memperingati hari lingkungan hidup dunia ini, sekaligus untuk mendukung program pemerintah "1 miliar pohon". Aksi melibatkan 150 relawan dari instansi pemerintah, komunitas pecinta alam, pramuka, mahasiswa hingga komunitas pecinta sepeda hingga warga sekitar.

Hujan disertai angin kencang yang melanda Banda Aceh dan sekitarnya menjelang siang tadi, sempat menghentikan aksi penanaman pohon, namun kembali dilanjutkan setelah hujan reda.



sumber : okezone News (Visit This Blog Now)

Baca Selengkapnya

Wednesday, 25 July 2012


di kawasan ini terdapat makam ulama ulama Aceh abad ke 16, dan dapat dilihat batu batu nisan Aceh yang unik nan indah. kini hanya bisa di kunjungi dengan menaiki boat atau sampan dan pada waktu air laut surut.

sumber : wikimapia.org (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya