Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Friday, 31 August 2012

3 Tips Dalam Menentukan Tempat Tujuan Liburan


Liburan adalah waktu dimana sesorang melepaskan segela bentuk kepenatan yang ada setelak runtinitas bekerja. Berlibur juga bisa memberikan ide-ide kreatif dan inspiratif yang bisa dipakai untuk keperluan pekerjaan.
Namun dalam menentukan destinasi liburan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya mendapatkan liburan yang menyenangkan, simak beberapa tips di bawah ini :
1. Pilih waktu yang tepat
Dengan memilih waktu liburan yang tepat bisa membuat liburan Anda semakin lancar dengan jadwal/acara yang telah Anda persiapkan. Karena jika salah dalam memilih waktu liburan, bisa mengacaukan liburan Anda misalnya tempat wisata yang penuh, kamar hotel pilihan yang penuh dan lainnya.
2. Atur biaya liburan
Setelah memilih waktu liburan yang tepat, langkah selanjutnya adalah mengatur biaya liburan. Yang termasuk biaya liburan antara lain biaya untuk menyewa kamar hotel, makan, belanja, bensin/tiket pesawat, dan lain-lain.
3. Cari info tentang tempat tujuan liburan
Media internet bisa dilakukan untuk melakukan hal ini. Sekarang banyak bermunculan situs-situs yang memberikan informasi tentang tempat liburan. Jika kurang yakin, sebaiknya Anda meminta pendapat teman yang pernah mengunjungi tujuan wisata yang akan ada kunjungi.
Baca Selengkapnya

Pangdam IM: Aceh Tengah Miliki Potensi Besar untuk Berkembang

Takengon — Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Zahari Siregar menyatakan, Kabupaten Aceh Tengah harus dibangun dengan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Daerah penghasil kopi itu memiliki potensi yang besar untuk berkembang di masa depan jika dikelola dengan profesional.
Kunjungan kerja pertama ke daerah dataran tinggi Gayo itu memberi kesan tersendiri bagi Pangdam. Melihat sumber daya alam (SDA), budaya dan potensi besar yang dimiliki daerah itu, ia berkeyakinan Aceh Tengah bakal menjadi salah satu daerah yang sangat maju di Aceh.
“Panorama alamnya sangat indah dan memiliki beragam budaya. Takengon sudah memiliki modal besar untuk maju dan berkembang”, ujar mantan Kepala Staf Kostrad itu saat bertatap muka dengan masyarakat setempat, Selasa lalu.
Dikatakan, untuk mengelola SDA yang sudah ada tentunya diperlukan SDM yang handal. Menurutnya, faktor manusia yang handal dapat menjadi motor yang kuat dalam menggerakan sektor perekonomian terutama pariwisata.
Sektor pariwisata dapat menjadi lokomotif utama untuk meningkatkan perekonomian daerah dan bila ekonomi masyarakat meningkat akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan dan kestabilan politik serta keamanan daerah di masa depan. “Bila masyarakat sejahtera maka kondisi geopolitik akan menjadi stabil,” tegasnya.
Sebelumnya, Pj Bupati Aceh Tengah, Ir Mohd Tanwier MM mengakui bahwa sumberdaya wisata dan budaya daerahnya belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga perlu terus mendapat perhatian berkelanjutan.
Berbagai upaya pengembangan pariwisata harus dilakukan termasuk di antaranya kerjasama dengan jajaran Kodam IM terutama dalam pembinaan teritorial, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Dari kerjasama yang baik ujar Tanwier, banyak capaian yang diperoleh daerah dingin itu di antaranya secara berkala diselenggarakan TNI Manunggal Membangun Desa, menyiapkan 5 paket jembatan rangka baja dan bailey di beberapa kawasan di daerah tersebut.
Silaturahim Pangdam dengan tokoh masyarakat berlangsung di Gedung Ummi Pendopo, dihadiri unsur pimpinan daerah, jajaran dinas badan dan kantor serta organisasi massa.

sumber ; seputaraceh.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Ini Dia Duta Wisata Aceh Tengah 2012

TAKENGON – Rahmat Akbar dan Rizki Hawalaina terpilih menjadi Duta Wisata Aceh Tengah dan Abang Aka Takengon 2012. Mereka terpilih setelah unggul dari finalis lainnya dalam  acara grand final di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Selasa 17 Juli 2012 malam.
Rahmat Akbar adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU Sumatera Utara. Sedangkan Rizki Hawalaina merupakan siswi SMAN 4 Takengon. Keduanya berhak mewakili Kabupaten Aceh Tengah untuk mengikuti pemilihan Agam Inong Aceh, di Banda Aceh September 2012 mendatang.
Panitia pelaksana Khalis, Rabu 18 Juli 2012 berpesan agar keduanya terus belajar supaya menjadi yang terbaik di tingkat provinsi. “Kepada peserta yang tidak menjadi Duta Wisata jangan patah semangat dan terus belajar,” ujarnya.
Sementara itu, berada diperingkat kedua, yakni pasangan Lapizan Ramadhan dan Sine Kin Nice dan peringkat ketiga pasangan Khairul Insan dan Rey Sari Putri Aini.
Adapun tim juri, Zulfikar Ahmad (IT), Tgk Khaikal Sadeq (Syari’at Islam dan budaya Gayo), Hanisa Fitri (Catwalk dan cara berbusana), Harmala (Psikologi) dan Elyulizar (kemampuan berhasa Inggris).

sumber ; atjehpost.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Festival Seudati Bireuen Dimundurkan 8-10 Oktober Mendatang

Bireuen — Setelah diresmikan secara simbolis di Balairung Soesilo Soedarman lingkungan kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu (11/08) lalu. Festival Tari Seudati Bireuen Aceh 2012 yang sebelumnya akan digelarkan 7-9 September mendatang akhirnya dimundurkan menjadi 8-10 Oktober yang nantinya akan bertepatan dengan HUT Kabupaten Bireuen.

Penundaan acara festival ini dibenarkan oleh Panitia dan Ketua Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Bireuen, Dewa Abdullah yang disampaikan dalam rilisnya kepada SeputarAceh.com, Jum’at (31/08).
Dewa Abdullah mengatakan, bahwa penundaan tersebut adalah hasil dari musyarakat pihak panitia dan Pemda Kabupaten Bireuen yang dilakukan Rabu (29/08) lalu. Mengingat akan adanya Peringatan Ulang Tahun Kabupaten Bireuen yang jatuhnya di bulan Oktober 2012, sehingga pelaksanaan festival akan diadakan bersamaan dengan HUT Bireuen tahun ini.

“Penundaan acara tersebut bukan berarti pihak panitia tidak siap dalam melaksakan event tersebut sebagaimana dengan jadwal semula, melainkan untuk sama-sama memeriahkan event ini sehingga bisa mempromosi seni Tari Seudati dan HUT Bireuen yang lebih meriah,” ujar Dewa yang juga Ketua Yayasan Kesenian Sinar Jeumpa.

Sementara itu, pihak Kemenparekraf mengharapkan kegiatan Festival Seudati tersebut dapat dimaksimalkan dengan baik, terlebih bersamaan dengan momen HUT Bireuen. Sehingga promosi dan publikasinya dapat dioptimalkan secara meluas ke khalayak ramai, dan gaung dari event tersebut dapat lebih meluas serta diketahui oleh masyarakat luas, mengingat masih adanya waktu dan kesempatan yang cukup memadai sebelum pelaksanaan acaranya nanti.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 28 August 2012

Pemerintah Terus Motivasi Industri Kreatif untuk Potensi Wisata


Pemerintah Aceh terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif, guna mendukung industri pariwisata di provinsi itu.

“Kami terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif untuk mendukung industri pariwisata di Provinsi Aceh,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Jasman Ma’aruf di Banda Aceh, Senin (13/08).

Menurut dia, ekonomi kreatif tidak bisa dipisahkan dengan industri pariwisata. Kedua aktivitas ini harus saling mendukung satu sama lainnya.

Industri pariwisata, kata dia, tidak akan bisa maju tanpa didukung pelaku-pelaku ekonomi kreatif yang handal. Karena itu, Aceh terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif tersebut.

Salah satu upayanya, kata dia, dengan meningkatkan kapasitas para pelaku ekonomi kreatif agar mereka mampu berkreasi dalam menghasilkan produk.

“Daya kreasi para pelaku ekonomi kreatif ini sangat dibutuhkan guna mendukung pembangunan industri pariwisata Aceh. Apalagi Aceh akan mencanangkan program tahun kunjungan wisata pada 2013,” kata Jasman Ma’aruf.

Ia menyebutkan, ada di 14 subsektor ekonomi kreatif yakni periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, busana, video, film dan fotografi.

Selain itu, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan industri dan peranti lunak; industri dan radio; serta riset dan pengembangan.

Oleh karena itu, kata dia, dengan berkembangnya ekonomi kreatif di Aceh akan melahirkan karya maupun produk berkualitas dari Bumi “Serambi Mekkah”.

“Kami terus mendorong agar para pelaku ekonomi kreatif ini mampu berkreativitas menghasilkan karya bermutu, sehingga diminati wisatawan, bagi dalam maupun luar negeri,” kata Jasman Ma’aruf.
Baca Selengkapnya

Ayo, Dukung Icut di World Muslimah Beauty 2012

Ajang pemilihan duta muslimah internasional, World Muslimah Beauty (WMB) 2012 akhirnya masuk pada babak polling (vote) untuk peserta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sebelum memasuki ke tahap pemilihan 20 besar finalis WMB, dewan juri serta pihak panitia menyediakan voting resmi lewat situs www.worldmuslimah.com yang sudah dibuka sejak 17 Agustus lalu hingga 15 September mendatang untuk menentukan finalis favorit WMB 2012.

Cut Radhiah Swadia salah satunya, peserta WMB dari Aceh ini juga menanti dukungan Anda. Icut, begitulah panggilan dara asal Kota Langsa ini tetap semangat untuk mencari dukungan menjadi salah satu peserta yang bisa masuk dalam “The Most Favorite Contestant”.

“Saat ini Icut baru minta dukung teman-teman di Twitter saja, semoga saja nanti banyak yang dukung Icut di polling online,” ujar si pemilik akun @cutdhiah kepada SeputarAceh.com, Minggu (19/08).

Setelah melengkapi video profil dan bacaan surat Al Hujurat ayat 13-14, ada 110 peserta dari WMB yang akan disaring terlebih dahulu lewat online. Ini menjadi bagian dari ajang pemilihan duta muslimah sebelum masuk dalam tahap penjurian yang melibatkan dewan juri.

Nah, bagi Anda yang ingin memilih Icut jadi salah satu peserta favorit WMB 2012. Bisa vote di laman http://worldmuslimah.com, dengan cara login/mendaftar terlebih dahulu sebagai salah satu syarat untuk memilih.

“Plis vote Icut ya, dukungan teman-teman sangat berarti dan sebelumnya selamat Idul Fitri untuk semua”, pinta Icut.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Sabang International Regatta Digelar September Ini


Banda Aceh — Sebuah event wisata bahari akan digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kota Sabang, dan Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia.

Sabang Internasional Regatta untuk kedua kalinya akan digelar pada 12 sampai 24 September 2012. Rutenya pelayarannya dimulai dari Phuket (Thailand) ke Langkawi (Malaysia) yang menjadi titik awal hingga finishnya di Sabang, Aceh.

Sabang International Regatta 2012 merupakan program promosi pariwisata yang akan dimeriahkan peserta dari berbagai negara, yaitu Thailand, Malaysia, Australia, Inggris, Jerman, Singapura, Hong Kong, serta peserta dari berbagai provinsi lainnya di Indonesia. Peserta Sabang Internasional Regatta diperkirakan sekitar 50 yacht (kapal layar).

Pelayaran berskala internasional ini menggunakan kapal layar (yacht) dan kapal layar bermesin (motor yacht rally). Pelayaran dimulai dari Phuket (Thailand) ke Langkawi (Malaysia) sejauh 243 kilometer selama satu hari. Berikutnya akan dilanjutkan dari Langkawi ke Sabang dengan jarak sekitar 558 kilometer selama 2 setengah hari.

Dikutip dari Indonesia Travel, event Sabang International Regatta bertujuan untuk menempatkan Aceh dalam peta destinasi pariwisata dunia melalui melalui olah raga layar berskala internasional.Sabang International Regatta 2012 diharapkan dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Sabang.

Selain itu juga merupakan momen tepat untuk mempromosikan keindahan Sabang dan mengembalikan citra Sabang sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman. Media luar negeri akan dikenalkan dengan Pulau Weh, kota Sabang, dan potensi destinasi wisata bahari lainnya. Termasuk juga keberadaan Kilometer Nol NKRI.

Secara khusus event ini juga akan menjadikan Sabang sebagai pusat wisata bahari di Indonesia bagian barat dan mendorong investasi di Sabang dan Aceh. Acara ini juga diupayakan untuk menjadi salah satu kalender tetap event internasional.

Kota Sabang yang terletak di Pulau Weh merupakan kota pelabuhan di ujung paling utara dan barat Indonesia. Pulau ini memiliki potensi wisata bahari dengan daya tarik alam serta kekayaan kehidupan bawah lautnya yang luar biasa indah.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Situs Purbakala Kerajaan Samudra


Bireuen — Tim ekspedisi dari Komunitas Blogger Aceh akhirnya berhasil menemukan batu-batu nisan kuno dibeberapa titik wilayah Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Minggu (26/08) kemarin.

Ekspedisi gabungan dari beberapa blogger Aceh regional Bireuen dan Lhokseumawe tersebut membuahkan hasil, diantara beberapa jejak peninggalan situs atau makam para raja ditemukan disekitar pesisir Peusangan dan Gandapura.

“Pesisir pantai dan paloh-paloh (rawa-rawa) di daerah Peusangan dan Gandapura menyimpan banyak nilai sejarah, di daerah ini kita bisa melihat banyaknya batu-batu nisan peninggalan ratusan tahun lalu, tidak hanya para raja juga masyarakat yang hidup waktu itu,” jelas pengiat dan pemerhati sejarah, T. Kamal kepada SeputarAceh.com yang sekaligus menjadi pemandu tim ekspedisi dari blogger Aceh.


Kamal juga menjelaskan beberapa titik situs sejarah yang ditemukannya bersama masyarakat sekitar, diduga kuat merupakan peninggalan pada masa Kerajaan Samudra sebelum bersatu dengan Pasai.

“Dulu Samudra itu merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, setelah bergabung menjadi Samudra Pasai, kerajaan Samudra bersifat administratif. Disini juga terlihat beberapa jejak seperti pelabuhan yang kini sudah berganti dengan tambak warga menguatkan bahwa di pesisir pantai wilayah Peusangan dan Gandapura pernah menjadi daerah yang begitu masyhur dalam hal jual beli perdagangan,” sebutnya.

Temuan pertama seperti di Gampong Samuti Makmur, Kecamatan Gandapura juga ditemukan beberapa titik daerah pelabuhan, tidak jauh dari situ juga terdapat batu nisan, mulai dari jenis bate krueng (batu sungai) hinggai nisan dengan ukiran berbahasa Arab yang mirip dengan nisan kerajaan Pasai.

Tidak hanya itu, masih di sekitar Gampong Samuti Makmur yang juga bersebelahan dengan Samuti Rayeuk di kecamatan yang sama juga terdapat makam Banta Ahmad dengan 4 batu nisan yang berbeda-beda disampingnya. Sedangkan hanya beberapa meter dari sana juga terdapat nisan kuno yang berjejer tiga.

Sementara itu dari amatan SeputarAceh.com, penemuan makam dan nisan-nisan ratusan tahun lalu ini juga ditemukan di Gampong Raya, Kecamatan Peusangan. Menurut Kamal, di Gampong Raya dulunya merupakan daerah sungai-sungai yang begitu aktif, namun kini jejak itu sudah tidak ada lagi karena tertimbun dan sudah ditumbuhi pohon-pohon besar.

“Daerah sungai ini dulu menjadi moda transportasi masyarakat, beberapa buktinya terlihat saat ini seperti rawa yang ditumbuhi batang bambu dan semak belukar,” terangnya.

Temuan yang paling menarik di Gampong Raya tersebut adalah makam Raja Derma, menurut salah satu keterangan warga setempat, makam ini sudah ada beberapa ratus tahun lalu. Walaupun begitu banyak warga yang tidak mengetahui siapa raja tersebut dan kapan masa kekuasaannya karena minimnya informasi.

Nisan besar dari makam Raja Derma yang berada di area kebun warga setempat kini masih tetap dijaga, namun dari postur bentuknya beberapa sisi telah hilang akibat termakan usia.

sumber : seputaraceh.com (Visi This Website Now)
Baca Selengkapnya

Warga Serbu Lut Tawar Takengon


Liburan panjang hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah telah berakhir, sejumlah tempat wisata di Aceh akhir pekan (Sabtu-Minggu) kemarin juga ramai dikunjungi. Seperti yang terlihat di tempat wisata Danau Lut Tawar (DLT), Takengon Kabupaten Aceh Tengah.

Dari sisi jalan lingkar DLT terlihat penuh dan ramai oleh wisatawan lokal dan luar, tidak hanya itu sejumlah petani pun juga tidak lepas dari aktifitasnya bercocok tanam.

Beberapa kendaraan roda dua juga parkir dari atas jalan lingkar DLT, banyak juga warga yang ingin menikmati keindahan danau dari atas sembari menikmati cemilan ala kadar.

Sejumlah tenda-tenda kecil juga mewarnai bibir danau, beberapa warga juga ikut menikmati dinginnya air lut Tawar bersama keluarga.

Yang tidak ketinggalan, jasa keliling DLT juga ditawarkan oleh pemilik boat motor. Harganya pun cukup terjangkau untuk pengunjung hanya Rp5.000 rupiah kita bisa menikmati dan keliling ke tengah danau.

Tertarik untuk berkunjung ke Gayo High Land? jangan lupa singgah ke Danau Lut Tawar. DLT termasuk salah satu dari sepuluh danau tersebesar di Indonesia, yang mempunyai luas 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,2 km.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Warga Pidie Padati Wisata Water Park

SIGLI - Puncak akhir masa liburan lebaran, Minggu (26/8) petang ribuan warga memadati lokasi objek wisata Water Park Kelapa Satu, Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, untuk mandi di kolam permandian dan sejumlah permainan di arena air.

“Setiap hari rata-rata warga yang berkunjung mencapai 500 hingga 1.000 orang secara silih berganti,”sebut manajer Water Park Kelapa Satu Blang Paseh, Yuliana Abdurrahman kepada Serambi, Senin (27/8).

Sebagai objek wisata permandian satu-satunya di Pidie, kata Yuliana, pihaknya tetap menyediakan sejumlah fasilitas wahana permainan berupa dua kolam renang untuk kalangan anak-anak dan remaja dan dua bagi kalangan orang dewasa.

Selain itu, juga disediakan mushalla, toilet, kafe, panggung hiburan lengkap fasilitas keybord, rumah pohon, serta kamar ganti. “Untuk tiket masuk sejak diresmikan tahun lalu, 2011 masih bertahan Rp 15.000 bagi setiap pengunjung,”ujarnya. Secara khusus bagi keluarga yang memboyong anggota keluarga, pihak pengelola objek wisata tersebut juga turut menyediakan tempat lesehan dalam komplek seluas 1 hektare lebih itu dengan berhadapan langsung panorama laut.

sumber: aceh.tribunnews.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Monday, 27 August 2012

Tgk. H. Abdul Aziz Bin Shaleh (Abon Samalanga)

Abon Mesjid Raya Samalanga adalah salah seorang ulama kharismatik Aceh. Nama asli beliau Tgk. H. Abdul `Aziz bin M. Shaleh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Abon `Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di Desa Kandang Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kabupaten Bireuen sekarang ini) pada bulan Ramadhan tahun 1351 H / 1930 M. Abon diasuh dan dibesarkan di Jeunieb bersama kedua orang tuanya, ayahandanya pernah menjabat Kepala Kantor Agama (KUA) Jeunieb dan juga merupakan salah seorang pendiri Dayah Darul `Atiq Jeunieb sehingga Abon dari masa kecilnya sudah mulai belajar ilmu pendidikan agama di Dayah tersebut dan Abon pada waktu itu tinggal di Jeunieb. Ketika usia Abon telah matang, Abon menikahi seorang gadis di Desa Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri yang merupakan pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga pada waktu itu. Sehingga Abon dikaruniai 4 orang anak, yaitu Alm. Hj. Suwaibah, Hj Shalihah, Tgk H. Athaillah, dan Hj. Masyitah.

Abon memulai belajar pada pendidikan formal pada tahun 1937, Abon memasuki Sekolah Rakyat (SR) dan menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Dari tahun 1944 beliau belajar pada orang tuanya selama 2 tahun, kemudian pada tahun 1946 beliau pindah belajar ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk Haji Hanafiah (Teungku Abi) lebih kurang selama 2 tahun. Pada tahun 1948 Abon melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin oleh teungku Ben (teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini Abon belajar pada Teungku Idris Tanjongan sampai dengan tahun 1949, dan pada tahun tersebut beliau kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.

Setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikannya ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan yang dipimpin oleh Alm. Teungku Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi yang lebih dikenal dengan panggilan Abuya Mudawali. Abon belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun, dan pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan Dayah tersebut.

Abon `Aziz Samalanga memulai karirnya sebagai pimpinan dayah dari tahun 1958 sampai dengan tahun 1989. semenjak dayah LPI MUDI Mesjid Raya berada dibawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi didalamnya, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul, bayan, ma`ani dan lain-lain. Akan tetapi kurikulum pendidikan pada masa kepemimpinannya lebih fokus belajar pada ilmu-ilmu alat tersebut, terlebih lagi keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan Al-Manthiqi.
 

Abon sangat disiplin dan punya semangat yang luar biasa dalam mengajar, sehingga kadang-kadang dalam keadaan beliau sakit merasa sehat untuk mengajar, dan selalu meamanahkan kepada murid-muridnya untuk belajar-mengajar (beut-seumubeut). Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham wahabiyah sehingga beliau tidak pernah bosan dalam mengurai kesesatan faham tersebut, bahkan hampir setiap hari Abon menyinggung tentang kesesatan faham tersebut. Kemajuan dayah pada masa kepemimpinan Abon meningkat pesat, jumlah santri dari jumlah ratusan menjadi ribuan, bangunan fisik dayah pun juga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju. Selain dari aktifitas Abon di dayah, Abon juga membuka pengajian mingguan di Jeunieb (lebih dikenal dengan Balee Hameh) setiap seminggu sekali.
 

Disamping aktifitas dakwah melalui majelis pengajian, Abon juga ikut dalam pembangunan fisik, seperti membangun jalan ke kebun di Desa Gle Mendong Samalanga dan menggarap sawah yang telah terlantar bertahun-tahun bersama-sama dengan murid-muridnya serta dibantu oleh masyarakat sekitar, yang kesemuanya beliau lakukan untuk hidupnya perekonomian masyarakat. Abon juga pernah memberi dukungan kepada partai politik, seperti partai PERTI, Abon memilih partai tersebut karena dilatar belakangi atas faham ahlussunnah waljama`ah.

Ada satu pesan yang sangat sering diamanahkan kepada murid-muridnya, yaitu belajar-mengajar (beut-seumubeut) dimana pun berada dan dalam kondisi bagaimana pun ketika telah pulang dari dayah nantinya, walaupun dengan sebuah balai di depan rumah. Pesan tersebut telah menjiwai dalam pemikiran murid-murid beliau, sehingga sekarang ini dapat terlihat dengan banyaknya dayah dan balai pengajian yang dipimpin oleh alumni Dayah LPI MUDI Mesjid Raya. Dan akhirnya Abon dipanggil kembali kehadharat-Nya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1409 / 17 Januari 1989 dengan tutup usia 58 tahun di Samalanga, dan dikebumikan di komplek putra dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabuapten Bireuen. Semoga Allah memberi pengampunan kepada beliau, menempatkan beliau dalam satu kebun daripada kebun syurga sesuai dengan amal baik yang telah beliau lakukan. Amiin.!


sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Saturday, 25 August 2012

Banda Aceh Gelar Wisata Motor Trail

BANDA ACEH - Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh akan menggelar wisata petualangan motor trail bertajuk “Aceh Dirt Bike Adventure 2012”, pada 15 dan 16 September mendatang. Hingga Jumat (24/8) kemarin, sudah 150-an  peserta yang mendaftar dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi MSi kepada Serambi, mengatakan even itu digelar sebagai upaya mempromosikan potensi wisata Aceh, dan Kota Banda Aceh khususnya. Dia menyebutkan, Aceh Dirt Bike Adventure 2012 mengambil lokasi di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Menurut Reza, perkembangan olahraga adventure motor trail saat ini sangat berkembang dan digandrungi berbagai kalangan. Tak hanya didominasi kalangan muda, tapi juga diminati orang tua.

Komunitas ini, katanya, juga berkembang di Aceh. Karena itu pihaknya bekerja sama dengan komunitas trail “Aceh Cahroad” menggelar even tersebut.

“Aceh Dirt Bike Adventure 2012 ini bukan even perlombaan ataupun uji ketangkasan bermotor. Tapi, kegiatan wisata yaitu menjelajahi alam dengan motor trail,” kata Reza.(saf/ant)

Menjelajahi Pesona Wisata Aceh

ACEH Dirt Bike Adventure 2012 pada hari pertama Sabtu (15/9) akan menempuh rute Banda Aceh-Siem-Cot Keueng-Babah Rimba-Seulimum-Jantho. Kemudian hari kedua Minggu (16/9), menempuh perjalanan Jantho-Cumcum-Siron-Indrapuri-Samahani-Banda Aceh.

Para peserta akan menikmati keindahan alam pegunungan, hutan, dan sungai di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Selain itu, para peserta juga diajak mengunjungi berbagai objek wisata lainnya, sekaligus mencicipi kuliner khas Aceh. Kami sangat mengharapkan dukungan masyarakat untuk kesuksesan even itu.
* Jack Karmidi
, Ketua Panitia Aceh DirtBike Adventure 2012.

sumber : serambinews.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Mesjid Teungku di Anjong


Masjid ini terletak di Gampong Peulanggahan Kecamatan Kuta Raja Kota Banda Aceh. Masjid Teungku Di Anjong yang aslinya berkonstruksi kayu telah hancur dilumat gelombang tsunami. Kini telah dibangun masjid baru dengan konstruksi beton, tapi tetap mengikuti arsitektur tradisional Aceh, sebagaimana bentuk Masjid Teungku Di Anjong sebelumnya.
Baca Selengkapnya

Friday, 24 August 2012

Tradisi "Ranup Peumulia Jamee" (Sirih Untuk Memuliakan Tamu)


MEMULIAKAN tamu dengan menyuguhkan sirih. Memuliakan sahabat lewat tutur kata yang manis. Dua bait sair Aceh itu menggambarkan tentang makna sirih (ranub) dalam adat istiadat Aceh. Hingga Ranup dikreasikan dalam satu tarian khas Aceh, Ranub lampuan. Tari itu sebagai sumbol pemuliaan terhadap tamu. Ranup sigapu juga sering kita baca dalam banyak buku yang bermakna sebagai permulaan. Artinya, Ranup menjadi simbol prosesi atau mengawali sebuah kegiatan.


Esensi Ranup dalam adat Aceh sebagai sikap menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan hidup yang dilengkapi dalam satu wadah disebut Puan. Dalam manuskrip adat Aceh, perangkat ranub selalu dipergunakan dalam upacara-upacara kebesaran Sultan. “Perkataan hari (raya); pemeriahan arak-arakan raja dari istana sampai Mesjid Baitur-Rahman. Pedang raja diarak di hadapan Sultan, begitu pula pinggan ranub (puan) dan kantong ranub (bungkus kain). Setelah bersembahyang di belakang tirai (kelambu) di tempat yang dinamakan rajapaksi, Sultan pulang naik gajah upacara.”

Ranup kemudian menjadi perangka adat Aceh. Mulai acara resmi seperti pra dan pasca melahirkan, prosesi peminangan, pernikahan, hajatan sunat, hingga acara penguburan mayat dan lainnya. Ranub menjadi salah menu wajib adat untuk dihidangkan. Ranub juga menjadi media dalam upacara mengantar anak mengaji untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, Ranub telah menjadi lambang formalitas yang memadukan adat dan budaya dalam interaksi masyarakat Aceh.


Ranup atau disebut piper betle, sejenis tanaman rambat (terna). Daun, batang dan buahnya menjadi obat tradisional ataupun menjadi tumbuhan penyegar. Maka munculnya tradisi makan sirih (ranub). Sebagaimana ditulis Ibnu Batutah dan Vasco da Gama, masyarakat Timur sejak dulu telah memiliki kebiasaan memakan ranub. Maka dalam setiap suguhan Ranup dalam puan juga diisi pinang, gambir, kapur ranub, cengkeh, tembakau dan disertai pula rampago sebagai alat sebagai pemotongnya. Maka ranub yang awalnya bersifat sederhana menjadi lebih kompleks.

Ranub dalam ranah adat dan budaya Aceh memiliki berbagai makna simbol yaitu; simbol kemuliaan (pemulia jamee), penenang dalam menyatukan pendapat dalam suatu musyawarah (sapeu kheun ngon buet), dan penyambung silaturrahmi sesamanya (meu-uroh). Ranub melambangkan sifat rendah hati dan cinta kasih, Pinang melambangkan baik budi pekertinya dan jujur serta memiliki derajat yang tinggi; Gambir melambangkan keteguhan hati, Kapur melambangkan ketulusan hati, Cengkeh melambangkan keteguhan memegang prinsip, dan Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal.

Simbol

Berkaitan dengan adat menyuguhkan ranup tersebut, ranup dapat diartikan sebagai simbol kerendahan hati dan sengaja memuliakan tamu atau orang lain walaupun dia sendiri adalah seorang yang pemberani dan peramah.
Sebentuk daun sirih (sebagai aspek ikonik) dalam kaitan ini dapat dirujuk pada aspek indeksikalnya adalah sifat rasa yang pedar dan pedas. Simbolik yang terkandung di dalamnya adalah sifat rendah hati dan pemberani.

Ranup juga dianggap memiliki makna sebagai sumber perdamaian dan kehangatan sosial. Hal ini tergambar ketika berlangsung musyawarah untuk menyelesaikan persengketaan, upacara perdamaian, upacara peusijuek, meu-uroh, dan upacara lainnya ranup hadir ditengah-tengahnya.

Semua bentuk upacara itu selalu diawali dengan menyuguhkan ranup sebelum upacara tersebut dimulai. Dalam etika sosial masyarakat Aceh, tamu (jamee) harus selalu dilayani dan dihormati secara istimewa.

Hal ini terjadi karena seluruh segi kehidupan masyarakat Aceh telah dipengaruhi oleh ajaran Islam yang dibakukan dalam adat dan istiadat.

Sementara Bate ranup (Puan) yang menjadi wadahnya melambangkan keindahan budi pekerti dan akhlak yang luhur. Wadah tersebut sebagai satu kesatuan yang melambangkan sifat keadatan. Maka ke depan modifikasi kemasan ranub ini perlu diperhatikan, bagaimana anak-anak Aceh tidak asing dengan budayanya sendiri.

sumber : http://love-bandaaceh.blogspot.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Peunayong sediakan "Peunajoh" Khas Aceh


Liputan6.com, Banda Aceh: Kalau jalan-jalan ke Nanggroe Aceh Darussalam, jangan lupa mampir ke kawasan Peunayoung, Kota Banda Aceh. Di tempat ini tersaji berbagai aneka peunajoh (makanan) kuliner khas Bumi Serambi Mekah.

Makanan yang dijajakan antara lain mi khas Aceh, nasi goreng, kari kambing, dan juga aneka sate. Tersedia pula makanan yang bukan dari Aceh seperti sate padang, bebek goreng, dan sate jawa.

Untuk harga jangan takut kemahalan. Harga hampir sama dengan warung-warung kaki lima. Selain harga yang murah, pengunjung bisa santai nongkrong di tempat yang warga setempat menyebutnya rex ini.

Tak hanya makanan yang dijual di rex. Sejumlah toko suvenir juga berjejer. Jadi pendatang bisa sekalian membawa oleh-oleh sambil menikmati kuliner Tanah Rencong.

Yang tidak boleh dilewatkan saat berada di rex adalah menyeruput kopi aceh. Rasa dan aroma kopi aceh berbeda dengan kopi lainnya. Sekali minum, badan langsung terasa segar. Dan orang Aceh pun bilang, belum afdol ke Tanah Rencong jika belum menikmati kopi aceh.
Baca Selengkapnya

Hotel di Banda Aceh


Hermes Palace Hotel
Jln. Teuku Panglima Nyak Makam Banda Aceh
Phone: +62 651 755 5888
Fax: +62 651 755 6999
Homepage: http://www.hermespalacehotel.com
e-mail: info@hermespalacehotel.com

The Pade Hotel
Jln. Soekarno Hatta No. 1 Desa Daroy Kameu
Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar 23352
Phone: +62 651 49 999, 46 999, 43 490, 43 397, 43 391, 43 396
Fax: +62 651 47 999
Direct And SMS Line: +62 811 68 3842
E-mail: info@thepade.com
booking@thepade.com
Maps & Directions

Sultan Hotel
Jln. Hotel Sultan No. 1 Banda Aceh 23122
Phone: +62651-22469
Phone: +62651-21501
Fax: +62651- 31770

Grand Nanggroe Hotel
Jln. Tgk Imum Lueng Bata Banda Aceh
Phone: +62 651 35779
Faximile: +62 651 35778
E-mail: reservation@grandnanggroehotel.com
Sales & Marketing: marketing@grandnanggroehotel.com
Facebook: nanggroehotel@yahoo.com
SMS Gateaway: +628566000648 (type : INFO)

Oasis Hotel
Jln. Teuku Imum Leung Bata No. 115 Banda Aceh 23247
Banda Aceh
Phone: +62 651 636999
www.oasisatjehhotel.com

Hotel Paviliun Seulawah
Jln. Prof. A. Madjid Ibrahim II No. 3 Banda Aceh
Telp: (0651) 22788 – 22872

Hotel Rasa Mala Indah
Jln. Teuku Umar No. 257 Seutui Banda Aceh

Hotel 61
Jln. Teuku Panglima Polem Banda Aceh

Hotel MEDAN
Jln. Ahmad Yani No. 17 Banda Aceh
Telp: (0651) 21501

Hotel Cakradonya
Jln. Khairil Anwar Peunayong, Banda Aceh
Telp: (0651) 33623, 33203, 23735

Hotel Prapat
Jln. Jenderal Ahmad Yani No. 19 Peunayong Banda Aceh
Telp: (0651) 22156

Hotel Wisata
Jln. Jenderal Ahmad Yani No. 19-21 Peunayong Banda Aceh
Telp: (0651) 21834

Hotel Kartika (Wisma Iskandar Muda)
Jln. Nyak Adam Kamil IV/I Neusu Banda Aceh

CV. Siwah Hotel
Jln. Twk. Mohd. Daudsyah No. 18-20 Peunayong Banda Aceh

Kuala Radja Hotel
Jln. Tgk. H. M. Daud Beureueh No. 187 Kelurahan Bandar Baru Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh

Hotel Madinah
Jln. Tgk H. M. Daud Beureueh No. — Banda Aceh

Hotel Jeumpa
Jln. Stadion H. Dimurthala No. 5 Banda Aceh

Hotel Rajawali
Jln. Sisingamangaraja No. 213 Lampulo Banda Aceh
Telp: (0651) 23039, 32618, 7428482

Hotel Lading
Jln. Cut Mutia No. 9 Banda Aceh
Telp: (0651) 7424222

Hotel Aceh Barat
Jln. Khairil Anwar Peunayong Banda Aceh
Telp: (0651) 23250

Hotel UKM
Jln. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 71 Peunayong Banda Aceh
Telp: (0651) 28284
Fax: (0651) 28279


info lebih silahkan cek di :
1.http://www.agoda.web.id
2.http://www.aceh-hotels.com
3.http://www.sumatraecotourism.com
Baca Selengkapnya

Tradisi "Khanduri Blang" (Kenduri Sawah)


Khanduri Tron U Blang dilakukan dalam tiga tahapan yaitu menjelang turun ke sawah, ketika padi berbuah dan sesudah masa menuai. Dalam tiap tahapan, upacara tradisional digelar dengan maksud dan tujuan berbeda yang saat ini dapat kita tinjau dalam konteks kekiniannya. Menjelang Turun ke Sawah

Sebelum masa penanaman benih dimulai, dikenal satu tradisi yang disebut Khanduri ulee Lhueng atau Babah Lhueng yang dilaksanakan pada saat air dimasukkan ke dalam alur pengairan dipimpin oleh seorang Kuejren Blang dengan melibatkan para petani yang memiliki areal persawahan di daerah tersebut. Upacara ini biasanya diselenggarakan secara masal.

Dalam upacara ini dilaksanakan ritual berupa penyembelihan hewan seperti kerbau dan kambing pada babah Lhueng atau mulut parit pengairan menuju lahan, sehingga darah yang mengalir ke parit mengalir bersama air ke lahan-lahan persawahan milik petani tadi.

Menurut para petani, berkah dan doa yang diucapkan agar benih padi yang mereka tanam nantinya akan tumbuh subur akan mengalir melalui media darah ke setiap petak sawah yang ada.

Seperti yang kita temui saat ini, pupuk-pupuk tanaman yang dianjurkan oleh penyuluh pertanian pada umumnya, seperti penggunaan pupuk urea dan pupuk berbahan kimia lainnya, semuanya diberikan pada masa pertumbuhan hingga masa panen dengan hitungan waktu masing-masing.

Sedangkan pada awal, sebelum masa tanam tidak ada pupuk tertentu yang diberikan untuk pengolahan media tanah. Saat itulah darah hewan tadi bekerja memperkaya unsur-unsur hara di dalam tanah.
Namun bila dipandang dari sisi lain, darah kerbau atau kambing juga memiliki fungsi lain pada tahap sebelum penanaman. Darah hewan sebenarnya dapat juga menyuburkan sawah. Dapat diperhatikan, saat ini kaum ibu yag suka menanam bunga di halaman rumah sering menyiram bunganya dengan air basuhan ikan yang mengandung darah, air tersebut dipercaya dapat menyuburkan tanaman sehingga tanaman mereka akan lebih hijau dan cepat berbunga.

Demikian pula dengan darah kerbau yang mengalir ke lahan persawahan tentu dapat membantu menyuburkan tanah yang sebentar lagi akan ditanami padi.
Para petani sering dikarakteristikkan sebagai masyarakat gotong royong. Mereka bergotong royong sejak sebelum padi ditanam. Sebagaimana tergambar dalam Upacara Tron U Blang ini, mereka bekerja bersama-sama menyelenggarakan upacara untuk sawah mereka.

Bersama-sama menyediakan hewan penyembelihan, memasak dan menyediakan lauk pauk lainnya untuk melengkapi Khanduri di lokasi upacara. Untuk itu dibutuhkan tempat yang lebih luas seperti lapangan di dekat areal persawahan atau lahan persawahan itu sendiri yang berada di tengah sebelum penanaman.

Biasanya di daerah-daerah tertentu memang ada satu lahan yang dibiarkan untuk tempat penyelenggaraan Khanduri setiap tahunnya. Di lahan itu di tanam pepohonan yang rindang yang kemudian dapat dijadikan tempat berteduh dan beristirahat bagi petani.

Tidak itu saja, lahan itu juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengumpulkan padi yang telah dipanen (Phui Pade) sebelum digirik. Kemudian disitu pula kaum ibu dapat membantu mengangin-anginkan, membersihkan dan menyiangi padi, setelah itu baru dibawa pulang.

Selesainya upacara Tron U Blang tersebut merupakan pertanda bahwa lahan atau tanah telah siap menerima benih baru, masa tanam dapat segera dilaksanakan. Makna lebih dalam dari hal ini adalah agar para petani dapat dengan serentak menggarap lahan persawahannya, sehingga nanti dapat pula saling menjaga dan mengawasi padinya bersama-sama atau paling tidak setiap proses, mulai masa tanam hingga masa panen dapat terus dilaksanakan bersama-sama, mengeluarkan zakat bahkan hingga menikmati hasilnya. Nilai kekeluargaan yang tumbuh menjadi begitu kental terasa di sawah dan terbawa pula sampai ke lingkungan rumah dan sosial masyarakat.
Masa Padi Berbuah

Pada tahap berikutnya, setelah masa tanam tepatnya saat padi telah setengah umur yaitu ketika batang padi membulat, biji padi mulai berisi atau biasanya disebut masa bunting/dara ada lagi ritual yang harus dijalankan.

Namun pada umumnya tidak lagi diselenggarakan bersama-sama. Khanduri hanya dilakukan oleh keluarga petani yang memiliki kemudahan / rezeki untuk melaksanakannya. Tapi biasanya Khanduri tetap dilakukan walaupun secara sederhana. Bagi mereka yang ekonominya lemah dapat melaksanakannya dengan memberi makan seorang yatim untuk sekali waktu.

Upacara tahap kedua ini dikenal dengan istilah Geuba Geuco dimana dalam ritual pelaksanaan upacaranya dilaksanakan di kuburan yang dianggap keuramat. Hal itu dimaksudkan agar padi terhindar dari hama dan penyakit sehingga dapat panen dengan hasil yang baik.

Namun ritual yang satu ini juga telah mengalami pergeseran. Kepercayaan dinamisme seperti yang dilakukan dalam upacara Geuba Geuco ini sudah sangat jarang ditemui. Sekarang para petani cenderung melakukan hajatan atau syukuran atas kesuburan padi.
Upacara dapat dilakukan dirumah, tetapi ritual itu sendiri tetap dilakukan di sawah, pada beberapa petak saja yang dipeusijuek secara simbolik. Sementara doa disampaikan untuk seluruh lahan si empunya hajatan.

Tidak ada ketentuan seberapa besar Khanduri dilaksanakan, yang jelas tidak boleh sampai memberatkan si petani. Karena yang terpenting adalah niat yang tulus. Sebagaimana pendapat para ulama, bahwa Khanduri boleh dilakukan sejauh tidak berlebihan, memberi kebaikan dan bermanfaat.

Bila dianalisa lebih dalam Khanduri ini memiliki nilai keagamaan. Bukankah Tuhan menjanjikan rezeki yang berlipat ganda atas sebuah keikhlasan? Jadi jika hari ini petani dengan ikhlas membagikan rezekinya, di hari lainnya Tuhan akan membalasnya dengan menggandakan keikhlasannya dan bisa saja imabalan itu diberikan melalui padi yang ditanamnya.
Sesudah Masa Menuai

Tahap kedua usai maka tahap ketiga menanti. Upacara terakhir adalah Khanduri Pade Baro. Upacara ini dilaksanakan sesudah panen atau setelah kegiatan menuai selesai. Saat itu para petani telah sedikit berleha-leha karena tugas di sawah baru selesai.

Upacara tersebut dilaksanakan oleh masing-masing petani di rumah mereka dengan tujuan untuk memperoleh berkah. Artinya setelah imbalan atas keikhlasan diperoleh maka selanjutnya ia harus mengadakan Khanduri lagi agar apa yang ia dpat dalm masa panen kali ini diberkati oleh Allah SWT, bila hasilnya dijual dan diuangkan maka dapat pula digunakan dengan benar an membawa kebaikan lagi bagi si petani dan keluarganya.

Dalam upacara ini digelar kegiatan doa bersama di rumah, mengundang kerabat dekat, anak yatim dan orang yang kurang mampu untuk turut mencicipi padi yang baru dipanen itu sebagai suatu wujud kesyukuran atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT kali ini.

Berbagi, kata ini mengandung arti penting dan sangat dalam bagi masyarakat petani. Lihat saja, betapa senangnya mereka ketika banyak orang dapat mencicipi hasil panennya, padi yang dengan keringatnya selama berbulan-bulan dijaga dan diperhatikannya kini dapat dicicipi. Peluhnya seakan terbayar dengan ucapan syukur dari penikmatnya, karena setelah tamu yang datang merasa kenyang maka kata Alhamdulillah mewakili doa paling makbul akan kesyukuran. Dari setiap kata itu mengalir pula harapan semoga panen di musim tanam yang akan datang hasilnya akan lebih baik lagi.

Tradisi ini memang tidak dilaksanakan secara serentak, bila ada beberapa orang hendak mengadakan Khanduri itu maka waktu pelaksanaannya tidak boleh bersamaan. Oleh karena itu, petani harus memusyawarahkan terlebih dahulu dengan Keujren Blang, Imum Meunasah dan Keuchik untuk menentukan waktunya.

Sebenarnya meskipun setiap petani memulai masa tanam secara bersamaan, masa panen dapat saja berbeda, karena tingkat kesuburan tanah, bibit yang ditanam dan pupuk yang digunakan berdeda. Tapi perbedaan itu tentu saja tidak begitu mencolok.
Baiknya, dengan begitu, saudara, tetangga dan kerabat yang tinggal di desa yang sama yang datang tidak bingung kemana harus menghadiri undangan. Khanduri si A atau si B. Satu waktu makan di satu tempat tentunya lebih berkah daripada satu waktu makan di banyak tempat.

Hal lain yang tak kalah pentingnya dalam upacara tahap ketiga ini adalah menuanaikan zakat. Bagi hasil panen yang telah sampai hisabnya diwajibkan membayar zakat, sehingga tamu penting yang seharusnya diundang dalam upacara ini adalah pengurus zakat di desa yang bertugas menerima zakat.
Selesainya penyerahan zakat maka berakhir pula tugas petani untuk satu kali masa panen. Dan rentetan upacara ini akan terus diselenggarakan setiap kali petani menggarap sawahnya mulai masa tanam sampai masa panen, begitu seterunsnya.

Namun bila setelah ritual dilaksanakan hasil panen memburuk, apakah itu karena ritual yang tidak benar? Belum tentu, upacara mengandung nilai-nilai yang abstrak. Sedangkan kenyataannya, sangat bergantung pada ketelatenan petani dalam mengelola lahan persawahannya.

Tawakal bukan berarti menanti tanpa usaha. Panen yang melimpah tidak didapat hanya melalui ritual tapi juga jerih payah si petani yang terus berusaha menyuburkan sawah-sawhnya dengan cara-cara yang logis, sementara upacara hanya media yang membantu mewujudkan impian petani menjadi nyata, yaitu memperoleh hasil panen yang melimpah.

sumber : acehpedia.org (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 22 August 2012

Wisatawan Lokal Serbu Pemandian Alue Lase


Jeumpa, (Analisa). Tempat pemandian alam Alue Lase Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) ramai dikunjungi warga, Rabu (22/8).
Objek wisata alam tersebut bukan hanya ramai dikunjungi warga dalam kabupaten setempat, kabupaten tetangga seperti Aceh Selatan, Nagan Raya dan Aceh Barat juga ikut meramaikan tempat wisata itu.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kawasan wisata alam ini paling diincar para wisatawan lokal. Pasalnya, selain lokasi yang mudah dijangkau, suasana di kawasan objek wisata tersebut tampak asri.

"Saya merasa lokasi ini cocok untuk mengisi hari libur, hampir setiap hari libur kami memanfaatkan lokasi ini untuk berlibur. Sebab, selain suasananya yang asri, jarak lokasi masih mudah dijangkau," kata Hongki, warga asal Nagan Raya yang berlibur ke lokasi itu.

Mereka mengaku nyaman berwisata ke lokasi tersebut, selain masyarakatnya yang ramah, suasana di lokasi itu juga mampu membebaskan pengunjung dari masalah yang sedang dihadapi. Baik itu urusan kantor, keluarga maupun urusan bisnis.

"Sebab suasana di sini sejuk dan tenteram, sehingga membuat kita semua merasa nyaman kalau sudah sampai di sini," ungkapnya.

Sarwadi, salah seorang pedagang di kawasan itu kepada Analisa mengakui bahwa setiap hari libur kawasan tersebut ramai dikunjungi para wisatawan, baik yang berasal dari daerah maupun dari kabupaten lain.

"Pengunjung mulai ramai berdatangan ke tempat pemandian ini umumnya pada waktu menjelang siang hingga sore hari," ujar Sarwadi.

Dia menambahkan, pada hari-hari tertentu, omset penjualan di lokasi itu bisa meningkat tajam, namun kondisi itu menurutnya terjadi pada hari libur saja.

Pihaknya berharap lokasi wisata alam tersebut bisa ditata dengan baik, sehingga besar kemungkinan lokasi itu bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari pendapatan daerah setempat.

"Tinggal lagi penataan dan pemanfaatan secara baik dan benar, sebab jika lokasi ini benar-benar ditata dan dikelola dengan baik, masyarakat di sini juga bisa menopang hidup dengan cara berjualan," ungkapnya.

Dikatakan, kendala yang dihadapi saat ini adalah belum sepenuhnya akses jalan menuju lokasi pemandian diaspal.

"Jika jalan ini sudah diaspal, maka lokasi objek wisata alam ini akan tampak lebih baik," ka tanya.

Pantauan Analisa dalam beberapa pekan terakhir ini, para wisatawan yang berdatangan ke Abdya lebih memilih kawasan wisata pegunungan dari pada kawasan pantai. Hal tersebut dikarenakan, wisata alam pegunungan menyajikan kesejukan dan panorama alam yang masih asri.
Baca Selengkapnya

Pengunjung "Hinggapi" Obyek Wisata Religi Aceh


Banda Aceh, (Analisa). Masjid Raya Baiturrahman, sebagai salah satu objek wisata religi di Banda Aceh dipadati pengunjung dari berbagai daerah pada H+4 Idulfitri 1433 H. Para pengunjung ini dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Pengunjung umumnya selain beribadah menunaikan salat juga hanya sekadar bermain sambil melihat-lihat ikan hias di kolam yang terbentang besar di depan masjid serta menikmati kemegahan Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya yang merupakan salah satu masjid terindah di Asia Tenggara ini memang selama ini menjadi ikon Aceh, khususnya Banda Aceh sekaligus dijadikan objek wisata religi dan banyak dikunjungi warga dari berbagai daerah baik dalam maupun luar negeri.

Ramainya warga yang mengunjungi masjid raya ini juga tak terlepas banyaknya penjual jajanan di taman kota yang terletak di samping masjid raya tersebut. Keberadaan pedagang kuliner dadakan ini membuat warga betah berlama-lama di seputan masjid raya.

Pedangan kuliner dadakan ini, selama Lebaran Idulfitri memang mendapat izin untuk berjualan. Namun, pada hari-hari biasa, lokasi berdagang ini dijadikan lahan parkir bagi jemaah masjid atau warga yang ingin berkunjung ke Pasar Aceh yang letaknya sangat berdekatan.

Seorang warga Langsa, Ismaniar, mengungkapkan, ia bersama keluarga sengaja datang mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman guna salat Ashar sekaligus menikmati kemegahan masjid yang menjadi kebanggan masyarakat Aceh ini.

"Saya sengaja membawa anak-anak kemari sebelum pulang ke Langsa," ujarnya singkat saat dijumpai Rabu (22/8) sore.

Selain Masjid Raya Baiturrahman, salah satu masjid yang kerap dikunjungi warga yakni Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu Banda Aceh. Masjid yang terletak di bibir pantai ini menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004.

Tak mengherankan, banyak kalangan dari luar Aceh menganggap masjid Baiturrahim ini "keramat", karena selamat dari hempasan tsunami yang memporak-porandakan kawasan Ulee lheue hingga rata dengan tanah.

Dalam hal wisata tsunami di Banda Aceh, selain dua objek religi ini, sasaran yang banyak dikunjungi warga yakni Museum Tsunami yang terletak di kawasan Blang Padang Banda Aceh. Banyak warga yang berkunjung ke museum ini untuk berfoto-foto.
Baca Selengkapnya

"Pam Pum" Beudee Karbet



APA PERBEDAAN beudee trieng dengan beudee karbet? Jawabanya beda tipis. Baik beudee trieng (meriam bambu) dan beudee karbet sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak pasti kenal kedua mainan ini, apalagi dalam bulan ramadhan atau jelang hari raya atau selama lebaran, suara dentuman beudee karbet biasa dijumpai hampir di segala pojok gampong-gampong di Aceh, khususnya di beberapa gampong di Pidie.

Secara fisik baik beudee trieng maunpun beudee karbet sama-sama memakai uram trieng (pangkal bambu) sebagai media utamanya. Hanya saja beude karbet (meriam karbit) mengunakan karbit atau kalsium karbida (senyawa kimia, CaC2) sebagai pemicu untuk menghasilkan suara dentuman. Beude karbet kerap dimainkan oleh orang-orang dewasa di gampong (kampung). Namun dalam perkembanganya, dibeberapa tempat, sebagian pemuda tidak lagi memakai uram trieng sebagai wadah meledakkan karbit, melainkan sudah diganti dengan pipa besi atau drum aspal yang dimodifikasi. Tujuanya adalah untuk mendapatkan efek suara yang lebih dahsyah. Mereka menanam wadah-wadah tersebut didalam tanah dan ketika karbit diledakkan, maka efeknya seperti sedang terjadi gempa 3-4 SR. Efek suara yang ditimbulkan bisa bermil-mil jauhnya, dan getaranya bisa membuat kaca jendela pecah.

Mungkin karena efek yang ditimbulkan dari karbit inilah yang membuat warga merasa terganggu. Namun dasar para pemuda badung, mereka mengakalinya dengan mencari tempat yang jauh dari pemukiman untuk meledakkan meriam karbit.

Sedangkan beude trieng (meriam bambu) adalah mainan meriam yang terbuat dari bambu namun pengoperasianya mengunakan minyak tanah. Beude trieng biasa dimainkan oleh anak-anak karena caranya sedikit gampang daripada beude karbet yang tingkat berbahayanya lebih tinggi. Suara yang ditimbulkanya beude trieng juga tidak terlalu memekakkan telinga, sedangkan suara dentuman beude karbet bisa terdengar hampir kesegala gampong atau mukim.

Belum ada kepastian darimana permainan ini muncul pertama kali, sebab hampir semua masyarakat di Indonesia sudah mengenal mainan meriam ini selama berabad-abad.

Permainan beude karbet sebetulnya harus mengeluarkan banyak modal. Ini dikarenakan karbit (pemicu suara) harus dibeli perkiloan dengan harga tidak murah. Namun karena mainan ini hanya dioperasikan sekali dalam setahun, yaitu selama/paska bulan ramadhan, harga karbit yang mahal bukanlah soal bagi pemuda gampong. Untuk menyiasatinya, pemuda gampong biasanya meurepee (kongsi) uang sehingga harga mahal tadi pun tidak terlalu terasa berat. Dengan demikian agenda menghidupkan beude karbet siap dilakukan. Pekerjaan selanjutnya lebih gampang, cukup mencari 2 meter uram trieng atau drum aspal yang dimodifikasi.

Bagi yang memakai uram trieng, mula-mula batang bambu di sodok ruas-ruas dalamnya agar bolong. Cukup menyisakan ruas paling bawah agar tidak tembus keluar. Selanjutnya diatas pangkal ruas paling bawah tadi dibuatkan bolong untuk memasukkan pecahan karbit. Biasanya para pemuda mengikat bambu meriam ini dengan kawat agar bambu tidak retak menahan dentuman sauara yang dihasilkan. Ada juga yang menanam meriamnya kedalam tanah supaya bambunya tidak mencelat atau berantakan kearah orang-orang ramai. Setelah itu hanya diperlukan sumbu api dan sedikit air sebagai pemicu beude karbit. Kalau semuanya sudah matang, maka masyarakat biasanya akan dikejutkan dentuman meriam ini yang dipicu terus menerus seakan sedang ada perang besar.

Bagi yang maniak karbit kelas berat, mereka akan mencari rongsokan drum aspal (peulaken) atau pipa-pipa besi tertentu untuk dijadikan wadah karbit. Cara ini sedikit sulit karena harus mengelasnya di bengkel untuk menghasilkan sebuah meriam yang sempurna, namun efek suaranya lebih dahsyat ketimbang memakai bambu.

Suara yang dihasilkan meriam karbit ini memang terbilang raksasa. Layaknya mirip suara yang dihasilkan meriam benaran, maka tidaklah heran suasana selama ramadhan atau saat takbiran lebaran, suasana di gampong-gampong seperti ajang perang saja. Apalagi pemuda-pemuda gampong tetangga juga ikut-ikutan melakukan tradisi ini. Maka ‘perang’ meriam pun tidak terhindarkan dan menjadi ajang saling ‘serang menyerang’ hingga pagi hari.

Perang karbit ini sebetulnya telah menjadi kontroversial dalam beberapa tahun terakhir, karena aktivitas meledakkan bom mainan ini kerap mengganggu ketenangan warga. Namun entah bagaimana, bom karbit tetap diledakkan meski secara sporadis. Namun tensi ledakan meningkat ketika menjelang lebaran. Ada yang menganggap ledakan karbit selama ramadhan adalah untuk membangunkan warga untuk sahuran, dan karbit yang diledakkan jelang lebaran dianggap sebagai sebuah 'hiburan' buat menyemarakkan hari raya. Akibatnya, antara suara takbir dengan dentuman karbit saling bersaing satu sama lain.

Namun ada sebagian warga yang menderita penyakit jantung atau suka latah paling benci dengan ulah suara meriam karbit ini. Barangkali selama sebulan mereka harus berhadapan dengan ‘neraka’ disaat syafaat surga terbuka lebar di hari ramadhan. Namun bagi sebagian ada yang senang melihat aktifnya para pemuda gampong, membuat warga ikut terhibur. Apalagi saat menjelang sahur, biasanya dentuman beude karbit menjadi tanda bahwa waktu sahur sudah tiba.

Pada masa konflik yang mendera Aceh, baik beude trieng maupun karbet adalah barang langka yang sulit dioperasikan. Ketakutan dan trauma menjadi alasan utama kedua beude ini enyah dari gampong. Bagi yang nekat, maka akibatnya mudah ditebak; dipermak dan selanjutnya digelandang ke pos-pos aparat terdekat dan dikenai pasal mengganggu stabilitas temperatur keamanan. Makanya selama konflik kedua beude ini seperti hilang ditelan bumi, dan para pemuda -- boro-boro membunyikan meriam ini-- malah lebih memilih hengkang keluar daerah untuk mencari selamat. Barangkali aparat kemanan juga paling benci dengan suara dentuman yang dihasilkan dari meriam bambu ini dan mengira sedang ada serangan mendadak dari bazooka gerilyawan.

Nah, ketika masa damai terajut di Aceh (setelah 30 tahun lebih dalam suasana konflik), beude ini kembali meledak membahana, meski ada kontroversial , beude masih saja menyalak. Terlepas pro-kontra bunyi yang dihasilkan, namun faktanya beude ini sudah sepatutnya dilestarikan sebagai sebuah tradisi yang unik dan khas untuk merajut keakraban pemuda gampong. Namun, dalam pengoperasianya mungkin perlu persetujuan dari para pihak dengan melihat sisi-sisi tempat yang layak untuk diledakkan.

Dibeberapa tempat seperti di Kalimantan, malah ada festival khusus meledakkan meriam ini, sebagai tradisi atau budaya yang diwariskan nenek moyang yang pintar meracik senjata ini untuk menakut-nakuti para penjajah di era kolonial.

Namun, ada baiknya juga apabila dimasa bulan ramadhan atau dimalam takbiran, para pemuda gampong menggantikan aktivitas meledakkan meriam ini ke kegiatan yang lebih bersifat peningkatan ibadah seperti melaksanakan lomba meulikee, tadarus, membuat pentas di masjid dan kegiatan syiar Islam lainya yang lebih fositif, seperti yang ditunjukkan oleh pemuda dari tiga kemukiman di Pidie seperti Mila, Indrajaya atau Delima.

sumber : serambinews.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tempat Wisata Padat Pengunjung


SERAMBINEWS.COM, SINABANG - Libur panjang lebaran di Kabupaten Simeulue, banyak dimanfaatkan warga untuk berekreasi bersama keluarga di tempat-tempat wisata .

Pantauan Serambinews.com, sejumlah tempat wisata alam seperti danau laut tawar di Kecamatan Teluk Dalam. ujung ganting, pantai Busung di Simeulue Timur, sejak dua hari lebaran padat pengunjung, Warga dengan membawa keluarga untuk mengisi hari libur lebaran 1433 H.

Suasana ramai juga dimanfaatkan para pedagang musiman untuk meraup duit.
"Alhamdulillah ya, jualan banyak laku diserbu pengunjung wisata yang kebanyakan tidak membawa makanan dari rumah dan memesan di sini," ujar Julkifli, penjajah makanan, Rabu (22/8).

Warga juga memadati tempat wisata spiritual di kawasan Makam Teungku Di Ujung, Kecamatan Simeulue Tengah. Di lokasi ini, selain berziarah di makam Teungku Di Ujung, warga juga menikmati panorama pantai dan mandi laut bersama keluarga.
Baca Selengkapnya

SBY Sebut Aceh Sebagai Model


JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan Aceh patut dipandang serbagai model perdamaian, diplomasi, dan demokrasi, serta terus mengkonsolidasikan. Pembangunan di Serambi Mekkah.

Hal itu diutarakan Presiden pada pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan RI di depan Sidang Bersama DPR dan DPD RI, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8) lalu. “Aceh menjadi potret sejarah yang menggambarkan dengan jelas, bahwa konflik dapat diselesaikan melalui mekanisme diplomasi dan demokrasi,” kata Presiden SBY.

Disebutkan, Pemerintah memang memberlakukan desentralisasi asimetris di empat daerah, yaitu Yogyakarta, Aceh, Papua, dan Papua Barat. Presiden mengatakan, desentralisasi yang tengah berjalan tidak mengalami perubahan prinsip. “Yang dilakukan oleh pemerintah hanyalah pengaturan ulang agar lebih baik dan efektif bagi peningkatan kesejateraan rakyat,” demikian Kepala Negara.

Di Banda Aceh, peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-67, Jumat (17/8), diperingati secara khidmat di Lapangan Blang Padang. Upacara bendera yang berlangsung dalam suasana bulan Ramadhan 1433 H ini, dipimpin oleh Gubernur Aceh dr H Zaini Abdullah, yang juga bekas menteri luar negeri.

Mantan panglima GAM yang kini menjabat Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga hadir, bersama Kepala Kodam Iskandar Muda Mayjen Zahari Siregar, Kapolda Irjen Iskandar Hasan, Ketua DPRA Hasbi Abdullah, dan unsur muspida lainnya.

Peringatan HUT RI ke-67 ini merupakan upacara pertama yang diikuti oleh Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf yang terpilih dalam pemilihan kepala daerah 2012 lalu. Pada peringatan HUT RI ke-67 ini, Gubernur Zaini dan Wakil Gubernur Muzakir mengenakan seragam kebesaran upacara serba putih. Zaini memimpin upacara dengan lancar.

Upacara peringatan hari jadi negara Indonesia ini dimulai dengan pembacaan salawat badar. Selanjutnya, hening cipta, penggerekan bendera Merah Putih oleh pasukan Paskibra Jeumpa Puteh.(fik/nal)

Jangan Hanya Sebatas Slogan
TIGA wakil rakyat Aceh di Senayan, Ahmad Farhan Hamid, Marzuki Daud, dan Said Mustafa Usab, menanggapi baik pidato Presiden SBY tersebut. Anggota Komisi I DPR Said Mustafa Usab mengaharapkan apa yang diucapkan Presiden jangan hanya sebatas slogan, melainkan musti dibuktikan.

“Jika ingin rakyat Aceh percaya kepada Pemerintah di Jakarta, harus ada bukti nyata,” ujar Said Mustafa, mantan petinggi GAM yang sekarang tergabung dalam Fraksi PAN.

Sementara Farhan Hamid, anggota DPD asal Aceh mengatakan, ungkapan Presiden itu menandakan kondisi Aceh kini yang terus membaik tidak ditelantarkan oleh Pemerintahan SBY. Menurutnya, sinyal Presiden itu pertanda baik untuk Pemerintah Aceh bergerak cepat minimal dalam dua hal, yaitu mendorong dan ikut serta dalam penyelesaian PP turunan UUPA, dan menyelesaikan rencana pembangunan hingga 15 tahun ke depan yang mengintengrasikan rencana pembangunan tingkat kabupaten kota, provinsi, dan nasional.

“Pemerintah Aceh juga harus membangun komunikasi intensif dengan DPR RI dan DPD RI untuk mendapat dukungan terhadap program pembangunan di Aceh,” kata Farhan Hamid.

Marzuki Daud, Wakil Ketua Tim Pemantau Pemerintahan Aceh dan Papua DPR RI agar para menteri terkait menindaklanjuti pernytaan Presiden SBY secara konkret. “Aceh sepantasnya tetap menjadi perhatian, dan terus mengkonsolidasikan pembangunan, untuk mencapai kesejateraan,” kata Marzuki, politisi Partai Golkar.

Disebutkan, salah satu pembangunan Aceh saat ini adalah bidang infrastruktur, seperti irigasi, jalan dan sebagainya. “Soal ini sudah disampaikan dalam pertemuan anatar Gubernur Aceh dengan Menteri PU,” kata Marzuki yang ikut hadir dalam pertemuan itu.

sumber : serambinews.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Pengunjung Padati Objek Wisata Aceh Selatan


TAPAKTUAN – Pada hari ketiga perayaan Hari Raya Idul Fitri 1433 H, sejumlah objek wisata di Kabupaten Aceh Selatan disesaki pengunjung. Mereka tidak hanya datang dari daerah setempat, namun juga dari Abdya, Nagan Raya dan sejumlah kabupaten/kota lain di pantai barat-selatan Aceh.

Kawasan yang menjadi incaran wisatawan lokal ini di antaranya, Pemandian Tingkat Tujuh, Pemandian Panju Pian, Pemandian Air Dingi, Kolam Aroya Lhok Bengkuang, dan sejumlah objek wisata lain.

“Setiap hari raya dan tahun baru kami bersama keluarga sering berjunjung kesini, karena suasana alamnya cukup bersahabat dan mampu membawa ketenangan,” ungkap Nuraini (45) warga asal Nagan Raya.

Ketua Satuan Tugas Search And Rescue (Satgas SAR) Aceh Selatan, May Fendri mengatakan, pihaknya menurunkan puluhan personel SAR ke lokasi untuk memantau dan menjaga kondisi kemananan di sekitar lokasi wisata. “Pemantauan ini dilakukan di tempat–tempat yang tergolong rawan, dengan tujuan untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” kata May Fendri.

sumber : serambinews.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 21 August 2012

Galery Foto Tempat Wisata Pilihan

Pantai Pusong Sangkalan di Aceh Barat Daya
Pantai Lhok Bubon di Aceh Barat

Pantai Lhoknga Aceh Besar
Air Terjun Tarujak Aceh Timur
Pantai Batu Berlayar di Aceh Selatn
Pinto Khop di Kota Banda Aceh
Gambar di atas merupakan beberapa tempat wisata yang ada di Aceh, masih banyak tempat wisata lainnya yang sangat indah dan menarik untuk anda kunjungi.
Baca Selengkapnya

Pisang Sale si "Eskrim Coklat Buah" dari Aceh


Sale pisang adalah makanan hasil olahan dari buah pisang yang disisir tipis kemudian dijemur. Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang sehingga pisang sale lebih tahan lama. Pisang sale ini bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu. selain itu, saat ini sale pisang mempunyai berbagai macam rasa seperti rasa keju. Saat ini, produksi pisang sale sudah menembus pasar internasional. Sale pisang merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas.

Sifat-sifat penting yang sangat menentukan mutu sale pisang adalah warna, rasa, bau, kekenyalan, dan ketahanan simpannya. Sifat tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pengolahan, pengepakan, serta penyimpanan produknya. Sale yang dibuat selama ini sering kali mutunya kurang baik terutama bila dibuat pada waktu musim hujan. Bila dibuat pada musim hujan perlu dikeringkan dengan pengeringan buatan (dengan sistem tungju).

Ada 3 (tiga) cara pembuatan sale pisang, yaitu :
1. Cara tradisional dengan menggunakan asap kayu
2. Cara pengasapan dengan menggunakan asap belerang
3. Cara basah dengan menggunakan natrium bisulfit.

Proses pengasapan dengan menggunakan belerang berguna untuk :
* Memucatkan pisang supaya diperoleh warna yang dikehendaki
* Mematikan mikroba (jamur, bakteri)
* Mencegah perubahan warna


Resep Pisang Sale Goreng
10 buah pisang ambon
100 gr tepung beras
50 gr tepung sagu
1/2 sendok teh air kapur sirih
1/4 sendok teh vanili
2 sendok makan gula pasir
200 ml air

Cara Membuat
Kupas pisang lalu belah empat, jemur hingga kering.
Setelah kering, goreng pisang hingga matang dan kering. Angkat dan tiriskan.
Campur tepung beras, tepung sagu, air kapur sirih, vanili, gula pasir, dan air, aduk hingga adonan tercampur rata.
Celupkan pisang sale ke dalam adonan tepung, goreng dalam minyak panas hingga matang dan kering. Angkat dan tiriskan.

sumber : www.anjond.com (visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Warga Meriahkan Malam Lebaran dengan "Meriam Bambu"


Tradisi perang rakyat dengan menggunakan meriam bambu dan karbet dilaksanakan pada malam kedua Hari Raya Idul Fitri di sejumlah desa di Kecamatan Delima dan kecamatan Indra Jaya, Pidie, Minggu (19/8). Pesta semalam suntuk itu dilaksanakan untuk memeriahkan suasana lebaran.

Pantauan acehkita.com di Gampong Aree, Kecamatan Delima, sejumlah meriam bambu dipersiapkan untuk melakukan peperangan antardua desa. Selain yang terbuat dari bambu, sejumlah drum minyak juga disulap menjadi meria. Semuanya diarahkan ke arah desa lawan. “Musuh” mereka adalah Desa Garot, Kecamatan Indrajaya, yang jaraknya hanya dibatasi sungai.

Arus lalu lintas dari dan menuju ke lokasi “peperangan” macet total. Sejumlah warga terlihat berusaha untuk mengatur lalu lintas agar kemacetan parah dapat diatasi.

Aksi “peperangan” dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Meriam bambu dibakar oleh sejumlah anak-anak kecil di atas tempat setinggi tiga meter yang telah dipersiapkan. Sementara meriam karbit, dinyalakan oleh sejumlah orang dewasa.

Uniknya, di Gampong Aree warga menyalakan meriam bambu dengan menggunakan tangan. “Di desa lain, bakar karbit dengan menggunakan kayu, sementara di sini (Gampong Aree –red.) dengan menggunakan jari tangan,” kata Aswan, salah seorang warga Garot.

Menyalakan meriam menggunakan tangan, katanya, mempunyai tantangan tersendiri bagi para warga yang ingin ikut menyalakan meriam karbit. “Kalau bakar pakai kayu, anak kecil pun bisa,” jelasnya.

Untuk meriam bambu, terlihat sejumlah anak kecil membakar dengan penuh semangat. Meriam bambu disusun rapi di atas tempat yang telah dipersiapkan, di pinggir sungai. Dengan sangat antusias, meriam itu dinyalakan.

“Perang” meriam bambu –belakangan sering digunakan karbit, sudah menjadi tradisi warga di sejumlah desa di Kecamatan Delima dan Indrajaya. Ini merupakan cara mereka memeriahkan malam Idul Fitri, bak pesta kembang api di malam pergantian tahun Masehi. Makanya, di sebuah sudut pertokoan Garot, mereka memasang spanduk bertuliskan: “Welcome to teut bude trieng”.

sumber : acehkita.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Nikmatnya Kerang Dara Rebus


Lhokseumawe — Acara “nongkrong” ala orang Aceh identik dengan warung kopi dan kopi pancung. Namun, ada alternatif lain yaitu malam-malam “nyemil” kerang rebus.

Di Lhokseumawe, Aceh, tepatnya di Jalan Perdagangan, terdapat beberapa pedagang pinggir jalan yang menjual kerang rebus. Warung-warung dadakan ini hanya buka di malam hari.

Di belakang gerobak pedagang kerang rebus sudah tersedia meja-meja panjang dan kursi-kursi plastik. Seperti pada umumnya kursi plastik di Aceh, kursi itu pendek dan memiliki senderan menjorok ke belakang. Seakan memaksa tamu untuk duduk dengan santai sepenuhnya.

Penjual hanya menjual satu menu yaitu kerang rebus. Kerang yang digunakan adalah jenis kerang dara. Kerangnya begitu segar, tanpa ada bau amis berlebihan. Dimasaknya pun sederhana saja. Setelah kerang dara dibersihkan, kerang kemudian direbus.

Nah, letak keunikannya adalah sambal yang menyertai kerang rebus. Biasanya sambal untuk cocolan kerang rebus adalah sambal terasi ataupun sambal kacang.

Di sini yang dipakai adalah sambal nanas. Ada banyak penjual kerang rebus di berbagai daerah di Aceh dan biasanya yang disajikan adalah sambal nanas.

Kacang tanah yang dihaluskan dicampur dengan merica dan garam serta nanas yang telah dihaluskan. Rasanya pun menjadi khas, antara manis dan segarnya nanas lengkap dengan air nanas, berkolaborasi dengan gurih dan garing kacang tanah.

Mari coba kerang dara yang dicocol ke sambal nanas. Kerang direbus dengan sedikit garam. Hasilnya tekstur daging kerang yang lembut dan cenderung polos memiliki selilntasan rasa asin yang halus.

Setelah dicocol di sambal nanas, rasa daging kerang yang khas menjadi semakin keluar. Rasa manis, segar, dan aroma laut, berpadu dengan gurih dan kenyalnya daging kerang.

Jika Anda bukan penggemar kopi, malam-malam mengobrol seru di Lhokseumawe sambil menikmati kerang rebus, patut Anda coba. Hanya saja harga seporsi kerang rebus di Jalan Perdagangan, Lhokseumawe, lumayan mahal, yaitu Rp 20.000.

sumber : kompas.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Timphan si "Kueh Leukit", Hidangan Lebaran Khas Aceh


Timphan adalah hidangan khas Aceh disaat Lebaran, baik itu hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung ke rumah saat Lebaran.

Timphan biasanya dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminggu. Timphan adalah salah satu makanan tradisional rakyat Aceh yang dibuat dari buah pisang.

Biasanya pisang diremas-remas dengan tangan dalam tepung ketan hingga menjadi adonan lalu di masukkan bahan pengisi yang manis-manis, seperti selai serikaya, kelapa, nangka, dan sebagainya, sebelum dibungkus kembali dengan daun pisang lalu di kukus hingga matang.

Bagi orang Aceh baik yang berada di Aceh sampai seluruh dunia tidak ada yang tidak mengenal dengan kue yang satu ini. Karena memang sudah menjadi tradisi turun temurun dan rahasia umum di Aceh bahwa Thimpan makanan wajib saat Lebaran.

Penasaran ingin coba sendiri, ini dia resepnya:

Bahan:
- 200 gr tepung ketan
- 2 sdm santan kental
- 1 sdm air kapur sirih
- 1/4 sdt garam
- 250 gr pisang raja dihaluskan
- Daun pisang muda

Isi :
- 2 butir telur ayam
- 50 ml santan kental
- 100 gr gula pasir
- 25 gr nangka masak cincang kecil
- 1/2 sdt tepung terigu
- 1 lembar daun pandan
- 50 gr kelapa muda parut halus
- 1/4 sdt vanili

Cara membuat :
1. Aduk tepung ketan dan pisang yang sudah dihaluskan serta santan, air kapur, dan garam hingga tercampur rata. Adonan ini digunakan untuk kulit.

2. Ambil daun pisang olesi dengan minyak lalu tipiskan adonan kulit, beri adonan isi kemudian digulung, dibungkus seperti lontong kecil, kukus hingga matang selama + 10 menit.

3. Buat adonan isi: Kocok telur dan gula hingga kental dengan mixer, masukkan tepung terigu dan santan, aduk rata, tambahkan nangka dan kelapa muda, beri daun pandan, masak sampai kental, angkat, beri vanili, aduk rata. Setelah matang dinginkan dan gunakan sebagai isi timphan.


sumber : gayahidup.plasa.msn.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

“Meurujak Uroe Raya” Tradisi Gampong Tsunami


Banda Aceh — Pisau tajam di tangan Zulkifli (43), pemuda Gampong Lampoh Daya, Jaya Baru Kota Banda Aceh, terus mengiris buah pepaya mengkal sampai halus. Zulkifli menatap beberapa pemuda lainnya yang sedang mengupas aneka buah-buahan.

“Suasana sekarang beda dengan lima tahun lalu, sebelum tsunami melenyapkan hampir seluruh yang bernyawa di gampong (desa) ini,” katanya.

“Meurujak uroe raya selalu digelar pada setiap hari kedua Lebaran di kampung kami, Tradisi ini ingin kami pertahankan,” kata pemuda yang kehilangan anak dan isterinya dalam peristiwa tsunami 26 Desember 2004.

Gampoh Lampoh Daya, di pinggiran Kota Banda Aceh adalah salah satu desa yang saat tsunami kehilangan hampir 60 persen dari total penduduknya sekitar 800 jiwa.

Meurujak uroe raya yang berarti membuat rujak pada Lebaran hari ke-2 mengandung banyak makna, kata Geusik (kepala) Gampong Lampoh Daya, Munizar.

“Tidak semua gampong baik di Aceh Besar maupun Kota Banda Aceh yang masih menggelar tradisi meurujak,” katanya.

Menurut dia, tradisi “meurujak uroe raya” itu memiliki makna kebersamaan terutama antar pemuda, dan pengikat silaturahmi sesama penduduk gampong pada setiap lebaran puasa.

Para pemuda mengumpulkan dana untuk membeli buah-buahan dan bumbu untuk membuat rujak. Rujak dibuat dengan melibatkan para pemuda gampong secara bergotong royong di meunasah (mushala).

Karenanya, Munizar menjelaskan tidak heran jika warga banyak yang berkumpul di meunasah pada setiap hari kedua lebaran Idul Fitri.

“Kalau sebelum tsunami, kami membuat rujak Aceh asli atau disebut rujak parut karena semua buah-buahan itu diparut. Rujak parut rasanya khas dan pedas,” kata dia menjelaskan.

Buah-buahan yang telah dipotong-potong kecil itu kemudian dimasukkan dalam kuali atau tungku berukuran besar, dan diaduk dengan bumbu yang telah disiapkan dan kacang tanah yang telah ditumbuk halus.

Abdullah, warga lainnya menyebutkan suasana sebelum tsunami cukup semarak karena ratusan pemuda, remaja, orang tua dan anak-anak berkumpul di meunasah pada setiap hari kedua lebaran.

Suasana lebaran saat ini tentunya berbeda dengan lima tahun silam, namun katanya tidak mengurangi semangat masyarakat untuk mempertahankan tradisi “meurajak uroe raya” pada Idul Fitri 1431 Hijriyah.

“Orang tua dan saudara-saudara kami boleh tidak ada (meninggal) namun tradisi harus tetap dipertahankan. Kami memiliki semangat untuk terus mempertahankan apa yang telah menjadi warisan, karena ini juga positif untuk kehidupan,” katanya menambahkan.

Setelah rujak diracik, warga termasuk perempuan datang dan berkumpul di meunasah. Mereka ada yang membawa rantang, kantong plastik untuk mengambil rujak, kemudian dibawa pulang.

Pascatsunami, Abdullah menceritakan suasana lebaran saat ini berbeda karena jumlah penduduk yang telah berkurang. Selain itu, sebagian besar laki-laki dewasa kampung telah mudik ke kabupaten lain di Aceh.

“Artinya, mereka yang beristeri luar Kota Banda Aceh berhari raya di luar dan akan kembali ke kampung lima hari setelah lebaran. Karenanya, suasana lebaran tetap sepi di kampung kami setelah tsunami,” kata Thaibathun Islamiyah, warga Gampong Lampoh Daya.

Selain itu, pascatsunami rumah-rumah banyak ditempati para penyewa dan umumnya mereka berhari raya di kampung mereka masing-masing, karenanya lebaran menjadi sepi disini, kata dia.

Pada hari kedua Idul Fitri, meunasah menjadi “bursa” tempat bersilaturahmi sesama warga meski diantara mereka telah saling mengunjungi sebelumnya. “Meurujak uroe raya” membuat orang bersilaturrahmi pada hari kedua Lebaran Idul Fitri.

sumber : seputaraceh.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Obyek Wisata Aceh Dipadati Pengunjung


Ribuan warga pada hari kedua (H+2) Idul Fitri 1433 Hijriyah memadati sejumlah objek wisata di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Berdasarkan pemantauan di lokasi wisata, Senin (20/8), obyek wisata yang ramai dikunjungi pengunjung yakni Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami dan Taman Sari Banda Aceh.

Lokasi wisata religi Masjid Raya Baiturrahman yang berada di pusat kota Banda Aceh merupakan tempat yang paling ramai dikunjungi pengujung yang didominasi remaja dan anak-anak.

"Sejak sore hari raya pertama sudah banyak remaja dan anak-anak yang berkumpul di halaman masjid raya, mereka juga berbelanja mainan di kawasan ini," kata Muhammad Farid (38) seorang pedagang makanan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Selain pengunjung di kawasan masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu juga dipadati puluhan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman serta mainan anak-anak.

Fajri (26) pedagang mainan mengaku sejak hari pertama sudah menjajakan berbagai jenis mainan jenis senjata api dan mobil-mobilan.

"Sejak kemarin yang paling laku mainan senjata api, umumnya yang membeli anak-anak berusia tujuh hingga 10 tahun," katanya.

Selain itu Masjid Raya Baiturrahman, Taman Sari juga ramai dikunjungi warga.

Ditaman yang berada di depan balai kota itu juga tersedia berbagai jenis permaianan seperti mobil-mobilan dan arena memancing untuk anak-anak.

Sejumlah objek wisata lainnya seperti pantai seperti pantai Lampuuk, Lhoknga, Ujung Batee dan Ujung Karang juga ramai dikunjungi para remaja.

sumber : atjehpost.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Kue Tradisional Aceh Menggempur Lidah di Hari Fitri


Setiap daerah memiliki ragam tradisi masing-masing untuk menyambut hari raya Idulfitri, tak terkecuali di Aceh. Sebagai wilayah yang hampir 100 persen penduduknya mayoritas pemeluk Islam, suasana hari raya di Aceh sangatlah meriah dan semarak.

Kemeriahan ini mulai terasa jauh-jauh hari sebelum Lebaran tiba. Menjelang pertengahan Puasa, masyarakat Aceh umumnya mulai menyambut kedatangan hari raya dengan membersihkan pekarangan rumah, mengganti cat rumah, dan mengganti barang-barang perabotan rumah tangga yang dianggap perlu. Tak terkecuali, persiapan baju khusus untuk dipakai di hari paling istimewa tersebut.

Dari serangkaian persiapan di atas, yang tak kalah menarik adalah persiapan membuat aneka kue yang akan dihidangkan di hari raya. Kue-kue tersebut menjadi sajian utama bagi para keluarga, sahabat, dan tetangga yang berkunjung untuk bersilaturahmi.

Di setiap daerah di Aceh, kue-kue yang disajikan memiliki ciri khas, baik dari model, cara membuat, maupun filosofi dari makanan itu sendiri, tergantung pada letak wilayah dan komunitas masyarakatnya sendiri.

Untuk membuat kue-kue tersebut, umumnya kaum perempuan Aceh sudah mulai melakukannya sejak awal Puasa, yang dimulai dengan tradisi top teupông. Dulu orang Aceh menumbuk sendiri tepung-tepung dengan alat tradisional yang disebut “Jeungki”. Tradisi top teupông muncul sebelum bahan baku tepung untuk membuat kue mudah dibeli di pasaran seperti sekarang.

Prosesi menumbuk tepung ini biasanya dilakukan secara berkelompok, minimal dua atau tiga orang. Begitu juga saat membuat aneka penganan tersebut biasanya mereka sering melakukannya secara bersama-sama. Tradisi ini juga menggambarkan kekompakan dan kebersamaan yang tinggi di kalangan masyarakat Aceh.

Kue-kue tradisional Aceh yang umumnya sering ditemui saat hari raya adalah dodoi atau dodol. Kue berbahan dasar tepung ketan, gula, dan santan ini memiliki tekstur yang lunak dan kenyal. Untuk mendapatkan warna yang lebih cerah, dalam bahan baku kue ini biasanya ditambah gula aren atau gula merah sehingga warnanya menjadi coklat. Rasanya pun menjadi lebih legit dan harum.

Selain dodoi, kue-kue lainnya yang menjadi sajian istimewa saat lebaran adalah meuseukat, bhôi, dan keukarah. Ada juga kue bohusen, seupét, dan yang tak boleh ketinggalan adalah kue timphan. Keukarah, misalnya, selain menjadi hidangan untuk para tamu, di beberapa daerah di wilayah pantai barat Aceh, seperti Nagan Raya, dianggap sangat spesial karena menjadi kue hantaran dari pasangan pengantin baru kepada mertuanya.

“Ini khusus dibawa oleh mempelai wanita kepada mertuanya,” ujar Erismawati, warga Desa Ujong Patihah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya kepada The Atjeh Times. Kue-kue tersebut, kata Eris, berukuran sebesar piring kecil. Jumlah yang dibawa pun beragam, tergantung pada kemampuan finansial pihak mempelai perempuan. “Jumlahnya bisa 15, 20, atau 30 kue,” tambah Eris.

Sebagai pelengkap hantaran, biasanya juga disertakan kue bungong kayèe. Kue-kue tersebut diletakkan dalam wadah berupa talam atau tempat khusus. Saat mengantar, pengantin perempuan didampingi oleh beberapa keluarga inti. “Hantaran ini bisa dilakukan pada hari pertama lebaran atau hari kedua, tergantung punya waktunya kapan,” ujar Eris.

Kue-kue sajian lebaran umumnya adalah kue kering dan tahan lama, tetapi tidak demikian di dataran tinggi Alas. Di Gayo Lues, kue khas lebarannya justru kue basah yang disebut “lepat dangutel”. Lepat dangutel nyaris hanya ada setahun sekali dan dapat dinikmati saat hari raya.

Kedua makanan ini merupakan sajian istimewa dan khas bagi masyarakat Gayo Alas di Gayo Lues. Kue ini biasanya baru dibuat dua hari menjelang hari raya, biasanya disajikan bersama kopi khas Gayo. Lepat dangutel hampir mirip, sama-sama terbuat dari tepung beras dan dibungkus dengan daun pisang. Hanya saja jika lepat berisikan inti kelapa parut, gutel berisikan pisang rebus.

Selain kue-kue tradisional seperti di atas, saat lebaran masyarakat Aceh juga menyajikan aneka hidangan kontemporer lainnya. Mulai dari yang kering, seperti kue-kue berbahan dasar tepung gandum dan mentega hingga makanan seperti lontong dan cake. Bahkan, semarak kue-kue kontemporer ini lebih mendominasi karena variasinya yang bermacam-macam. Apa pun hidangannya, yang pasti Lebaran di Aceh takkan pernah terlupakan kemeriahannya.

sumber : atjehpost.com (Visit This website now)
Baca Selengkapnya