Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next
Showing posts with label Sejarah Aceh. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Aceh. Show all posts

Wednesday, 31 October 2012

Mengenang Bireuen (ACEH) Sebagai Ibukota RI

"Walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta dan Bukittinggi jatuh ke tangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak pernah tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI. Sebuah benang merah sejarah yang terputus..." 
 
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendopo Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa nyana, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah,di sana pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno.

Kedatangan presiden pertama RI itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen,yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar itu, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.

Kedatangan rombongan presidendi sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.

Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu mukadan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasaikembali Sumatera Timur(Sumatera Utara) sekarang.


1. Bireuen Sebagai Kota Juang

Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang). Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.


2. Tugu Batee Kureng

Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. Di zaman Revolusi 1945, kemiliteran Aceh dipusatkan di Bireuen.Di bawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen. Pendopo Bupati Bireuen sekarang adalah sebagai kantor DivisiX dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef. Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.

Kemiliteran Aceh yang sebelumnya di Kutaradja, kemudian dipusatkan di Juli Keude Dua (Sekitar tiga kilometer jaraknya sebelah selatan Bireuen-red) di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel HusseinJoesoef, yang membawahi Komandemen Sumatera, Langkat danTanah Karo. Dipilihnya Bireuen sebagaipusat kemiliteran Aceh, lantaran letaknya yang sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur.

Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. Sekarang dia sudah Purnawirawan dan bertempat tinggal di Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Menurut Yusuf Tank, waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank. Peralatan perang itu merupakan hasil rampasantank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua.

Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama di zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh di pusatkan di Juli Keude Dua. 
 
Kendati usianya sudah uzur, Yusuf Tank masih dapat mengingat berbagai semua peristiwa sukaduka perjuangannya masa silam. Salah satu diantaranya tentang peranan Radio Rimba Raya milik DivisiX Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, belanda dan bahasa Arab. Dikatakan, "Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia 20 Desember 1948 untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda di Batavia yang yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda.

Dengan mengudaranya Radio Rimba Raya ke seluruh dunia, masyarakat dunia sudah mengetahui secara jelas bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulanJuni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbangCot Gapu, Soekarno mengatakan,Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia. Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja. Di Kutaradja Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh. Dia menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Ace hmenyumbang dua pesawat terbang untuk Republik.

3. Bukti Prasasti Radio Rimba Raya

Presiden Soekarno sempat mogok makan   siang alias Ngambek  sebelum Abu Beureu’eh memberi jawaban, menyetujui permintaannya itu agar Aceh menyumbang dua pesawat terbang. Kesepakatan para saudagarAceh dengan Abu Daud Beureu’eh, mereka bersedia menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik. Dengan sumber dana obligasi rakyat Aceh, yakni Pesawat Seulawah I dan Seulawah II. Kedua pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh itu adalah sebagai cikal bakal pesawat Garuda Indonesia Airways saat ini. Sedangkan Radio Rimba Raya adalah sebagai cikal bakal Radio RRI sekarang. 

 sumber : http://amryksr.blogspot.com
Baca Selengkapnya

Friday, 21 September 2012

Cut Nyak Dien dan Perlawanannya Terhadap Imperialisme

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. (QS. Yusuf (12) : 111)

Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.
Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini. (Kekaguman Buya Hamka atas keteguhan Cut Nyak Dien).
***
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya oleh karena itu belajarlah dari sejarah
Sejarah perempuan Indonesia bukah hanya membincangkan peran perempuan yang menuntut pendidikan dan kesetaraan di segala bidang, melainkan juga mengenai sejarah para perempuan yang pernah menjadi pemimpin sebuah kerajaan, negarawan maupun pemimpin militer. Di Aceh, misalnya sebut saja Laksamana Malahayati atau Ratu Nihrasiyah Chadiyn. Tetapi, jika kita maju hingga akhir abad ke-19 di masa Aceh berperang melawan penjajahan Belanda, maka kita akan bertemu dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Teuku Fakinah. Sayang, sejarah perjuangan mereka nyaris dilupakan bangsa.

Tentu kita bertanya, mengapa Aceh memiliki begitu banyak tokoh perempuan dalam melawan kaum imperialis? Menurut Teuku H. Ainal Mardhiah Aiy dalam artikelnya yang berjudul “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau sampai Masa Kini”, dijelaskan mengenai kedudukan perempuan di Aceh pada masa lampau. Perempuan Aceh diberi kesempatan dan penghargaan yang luar biasa untuk ikut serta dalam lembaga-lembaga negara serta kancah pertahanan karena Pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam mengambil Islam sebagai dasar negaranya dan Kanun serta Hadits sebagai sumber hukumnya. Oleh karena itu, perempuan setara dengan laki-laki dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Maka adalah hal yang wajar jika banyak tokoh perempuan yang bermunculan dan berperan sama pentingnya dengan laki-laki di Aceh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu pahlawan perempuan Aceh yang telah disebutkan di atas, yaitu Cut Nyak Dien. Siapa yang tidak kenal beliau dalam perjuangannya mengusir penjajah? Insya Allah masyarakat dalam negeri ini mengenalnya. Akan tetapi, adakah yang mengetahui mengapa beliau sangat gigih melawan penjajah? Hal inilah yang kurang atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang.
Cut Nyak Dien adalah keturunan dari bangsawan puteri Nanta Seutia Raja Ulebalang VI Mukim. Berwajah cantik, baik budi pekertinya, tangkas tingkah lakunya, dan mempunyai watak yang luar biasa menjadi kata yang pas disematkan pada Cut Nyak Dien.[1] Nanta Seutia mengharapkan putrinya menikah dengan seorang yang mencintai negaranya. Maka, Cut Nyak Dien akhirnya menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku merupakan seorang pahlawan yang memimpin peperangan melawan kolonial Belanda. Keduanya merupakan pasangan serasi dalam kepribadian, yaitu tegas dan tangkas dalam menyikapi “Kaphe (kafir) Belanda” yang merupakan musuh agama dan negara.

Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Ketika peperangan semakin memanas, Cut Nyak Dien terus menggembleng semangat para pejuang perempuan untuk turut serta membantu peperangan. Pun, ketika Teuku Ibrahim Lamnga gugur (29 Juni 1878), Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa, melainkan sebaiknya beliau merasa bangga atas kemuliaan suaminya yang syahid.

Seiring dengan berjalannya waktu, Cut Nyak Dien akhirnya melepaskan status jandanya. Kali ini pria yang dinikahinya adalah Teuku Umar yang setelah pernikahan diangkat menjadi panglima perang. Ketika banyak daerah yang telah dikuasai oleh Belanda dan Belanda menyatakan damai, banyak Hulubalang yang menyerah damai. Namun, Cut Nyak Dien tetap tegas menyatakan pantang tunduk. Atas kegigihannya mengobarkan semangat jihad, banyak para pahlawan kian bersemangat dalam berjuang mengusir Belanda untuk secara teratur munudr dari Jawa pada tahun 1873.


Rumah Cut Nyak Dhien di Desa Lampisang, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar

Setelah peperangan tersebut, Cut Nyak Dien pulang ke kampungnya, Lampisang. Sampai di Lampisang, ia menggantikan kedudukan ayahnya yang sudah lanjut usia sebagai Hulubalang VI Mukim. Selain memegang tampuk pemerintahan, Cut Nyak Dien juga mengatur siasat untuk menentang Belanda dari dalam rumahnya yang dijadikan “Markas Besar”. Cut Nyak Dien pun terus berusaha mengubah paham suaminya agar tidak berdamai dengan Belanda. Hal ini akan terlihat jelas saat Teuku Umar menyebrang ke pihak Belanda.
Teuku Umar mengajukan penyerahan diri dan menyatakan siap membantu Belanda mengamankan Aceh Besar yang diikuti sikap Jenderal C. Deijkerhoff untuk meneliti kesungguhan suami Cut Nyak Dien tersebut. Pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar dengan menggunakan kebijaksanaannya berhasil mengamankan Mukim XXV untuk membuktikan kesungguhannya. Deijkerhoff pun merasa puas atas sikap Teuku Umar dengan menerima penyerahan dirinya. Pada tanggal 30 Sempetember 1893, Teuku Umar bersama 15 orang panglimanya menyatakan sumpah setia di hadapan Deijkerhoff dalam sebuah upacara.[2] Gelar Johan Pahlawan Panglima Besar Hindia Belanda didapatkan pada upacara ini. Teuku Umar juga diberi sebuah rumah besar, diangkat sebagai pejabat pemerintah, dan mendapatkan gaji. Selama 3 tahun Teuku Umar berada di pihak Belanda, dan selama itu pula Cut Nyak Dien tetap tegas melawan Belanda dan berusaha mempengaruhi suaminya untuk tidak terus melanjutkan taktiknya.

Adalah Teuku Fakinah, seorang pejuang wanita yang selalu gigih melawan Belanda. Teuku Fakinah memiliki hubungan yang erat dengan Cut Nyak Dien karena keduanya saling membantu ketika peperangan. Saat Teuku Fakinah mendengar berita mengenai Teuku Umar, ia memikirkan bagaimana caranya supaya Cut Nyak Dien dapat mempengaruhi suaminya untuk kembali ke jalan yang benar. Maka Teuku Fakinah mengirim Cut Nyak Dien surat berisi permintaan agar suaminya menyerang benteng-benteng Inong Bale. Tujuannya agar dia tahu keberanian wanita Aceh yang terdiri dari janda-janda. Melihat kondisi tersebut, Cut Nyak Dien tersadar dan mengirim surat balasan pada Teuku Fakinah yang berisi harapan agar Allah mengembalikan langkah Cut Nyak Dien dan Teuku Umar ke jalan semula.

Teuku Umar mendapati bahwa walaupun berada di pihak Belanda, ia mengalami kesulitan untuk mengubah langkah Belanda agar menguntungkan pihak Aceh. Menyadari hal tersebut, maka Teuku Umar berencana untuk kembali berbalik melawan Belanda setelah mendapatkan senjata tambahan, yaitu 380 pucuk senapan achterlaad, 25.000 peluru Beamont, 120.000 slaghoedjes, 5.000 kg loods, dan uang $18.000. Setelah kembali ke pihak Aceh, Teuku Umar bersama Cut Nyak Dien melancarkan perang gerilya. Saat perang inilah, Teuku Umar meregang nyawa. Ia syahid dalam sebuah pertempuran. Berita syahidnya Teuku Umar sampat membuat Cut Nyak Dien terpaku. Namun tak lama berselang, kebanggaan tersirat dalam dirinya karena sejatinya Teuku Umar meninggal dalam kondisi syahid.

Pasca syahid suami keduanya inilah Cut Nyak Dien bersumpah: “Demi Allah, selama Pahlawan Aceh masih hidup, peperangan tetap kuteruskan guna kepentingan agama, kemerdekaan bangsa, dan negara.”[3] Cut Nyak Dien pun meneruskan perjuangan suaminya dan bergerilya selama enam belas tahun di tengah hutan.
Pada tanggal 6 November 1905, Belanda menyerbu ke hutan, tempat di mana Cut Nyak Dien bersembunyi. Dalam serbuan itu situasi menakdirkan Cut Nyak Dien tertangkap. Dalam kondisi yang lanjut usia dan tidak kuasa lagi melawan Belanda, perempuan pemberani itu mencabut rencong di pinggang pendukungnya lalu dihadapkan ke dadanya. Sebelum rencong tersebut menikam dadanya, Letnan Van Vuuren secepat kilat merampas rencong dari tangannya. Akibat perbuatannya, Van Vuuren membuat marah Cut Nyak Dien yang berkata, “Jangan kau menyinggung (menyentuh) kulitku, kafir!”[4] Versi lain menebutkan bukan Van Vuuren yang menangkap lengan Cut Nyak Dien, melainkan Panglima Laot, pengikut Cut Nyak Dien yang selalu menasehati pahlawan perempuan tersebut untuk menyerah pada Belanda.

Panglima Laot-lah yang melapor kepada Belanda mengenai posisi Cut Nyak Dien. Panglima Laot melapor akibat ia tidak tahan lagi melihat kondisi Cut Nyak Dien yang begitu menyedihkan. Ketika Panglima Laot menangkap tangan Cut Nyak Dien agar melepaskan rencong, Cut Nyak Dien marah dan menjeritkan hinaan: “Cis, kau pengkhianat!” Cut Nyak Dien juga berkata kepada Kapten Veltman: “Kau kafir jahanam, tembak saja aku! Di Meulaboh pun kau nanti akan membuangku ke laut.”[5] Dari perkataan Cut Nyak Dien ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun dalam keadaan terdesak, beliau tidak begitu saja takut dan menyerah. Beliau terus melawan, walau kemungkinan untuk menang sangat kecil. Sikap beliau terhadap Belanda sama sekali tidak berubah, tetap tegas menghadapi mereka.

Alhasil, Cut Nyak Dien dibawa ke Meulaboh. Dari sana, beliau diberangkatkan ke Kutaraja. Awalnya, Cut Nyak Dien tidak akan diasingkan. Tetapi, Pemerintah Belanda khawatir jika tidak diisolir Cut Nyak Dien dapat kembali mengobarkan semangat perjuangan. Akhirnya keputusan mengasingkan Cut Nyak Dien itu dipilih belanda. Perempuan gagah berani itu dibawa ke Batavia hingga kemudian diasingkan ke Sumedang. Namun dalam pengasingannya, Cut Nyak Dien mendapatkan perlakuan istimewa meski ia tetap tidak diizinkan melihat tanah Aceh. Hingga pada tanggal 6 November 1908, mujahidah tersebut meninggal dalam pengasingan.

Ketahuilah, Cut Nyak Dien memiliki pengaruh besar di masyarakatnya dan cukup ditakuti oleh Pemerintah Belanda. Beliau disegani kawan maupun lawan. Hal ini terbukti dari kebijakan Belanda untuk mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, jauh dari tanah dan rakyatnya. Padahal Cut Nyak Dien pada saat itu telah berusia lanjut dan lemah.

Pengaruh Cut Nyak Dien, seperti yang diuraikan dari karangan Pol bahwa di Meulaboh kejuruan/uleebalang, datuk-datuk, penghulu-penghulu, dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya betul-betul menjadi momok menakutkan bagi Belanda.[6]. Walaupun tidak dapat berjuang dengan tangan dan kaki, tapi pikirannya mampu mengobarkan semangat para pahlawan Aceh untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Selain itu, beliau juga dapat bertahan di hutan-hutan dengan makanan seadanya, bahkan berminggu-minggu tanpa sesuap nasi. Padalah pada saat itu, usia Cut Nyak Dien telah udzur. Hal inilah yang menyebabkan para pengikutnya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi Cut Nyak Dien dan ingin menyelamatkannya.

Cut Nyak Dien bukan hanya pejuang yang gigih, tegas, dan tangkas, tapi beliau juga seorang istri yang selalu menyayangi dan menghormati suaminya. Cut Nyak Dien memang tidak menyukai taktik yang dijalankan oleh Teuku Umar, tapi beliau terus mendukung dan mengingatkannya dengan berbagai cara. Beliau juga tidak terlena dengan perlakuan istimewa Pemerintah Belanda ketika Teuku Umar berada di pihak Belanda. Saat Teuku Umar kembali melawan Belanda, Cut Nyak Dien mendukung suaminya dan berusaha agar para pejuang Aceh dapat menerima suaminya.

Cut Nyak Dien berjuang bukan hanya dengan tenaga dan kekuatannya, tapi juga dengan pemikiran dan keteguhannya membela agama. Seperti yang dikatakan Snouck Hurgronje, kekuatan perjuangan pasukan Aceh bukan dari tenaga mereka tapi dari agama mereka. Begitu pula dengan semangat perjuangan Cut Nyak Dien. Wallahu’alam bi ash shawwab. (islampos.com)
*Penulis adalah Guru Pesantren Husnayain, Sukabumi

sumber : seputaraceh.com (Visit Now)
Baca Selengkapnya

Saturday, 4 August 2012

Sejarah Tari Seudati (Salah Satu Tarian Aceh)



Kata seudati berasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain , yang berarti kesaksian atau pengakuan. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie dan Aceh Timur. Tarian ini dibawakan dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama. Pada mulanya tarian seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan, diperagakan untuk mengawali permainan sabung ayam, atau diperagakan untuk bersuka ria ketika musim panen tiba pada malam bulan purnama.

Dalam ratoh, dapat diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Ulama yang mengembangkan agama Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab. Diantaranya istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan Syair yang berarti nyayian.

Tari Seudati sekarang sudah berkembang ke seluruh daerah Aceh dan digemari oleh masyarakat. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, Seudati juga menjadi pertunjukan hiburan untuk rakyat.

ASAL USUL TARI SEUDATI

Tari Seudati pada mulanya tumbuh di desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Tari Seudati berasal dari kabupaten Pidie. Seudati termasuk salah satu tari tradisional Aceh yang dilestarikan dan kini menjadi kesenian pembinaan hingga ke tingkat Sekolah Dasar.

Seudati ditarikan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeikh , satu orang pembantu syeikh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak , dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Jenis tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.

Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam. Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.

Pada umumnya, tarian ini diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi beberapa babak, antara lain: Babak pertama, diawali dengan saleum (salam) perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi saja, yaitu:

Assalamualaikum Lon tamong lam seung,

Lon jak bri saleum keu bang syekh teuku….

Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi seluruh rangkaian tari. Salam pertama ini dibalas oleh Syeikh dengan langgam (nada) yang berbeda:

Kru seumangat lon tamong lam seung,

lon jak bri saleum ke jamee teuku….

Syair di atas diulangi oleh kedua apeetwie dan apeet bak. Pada babak perkenalan ini, delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, tepuk dada serta jentikan delapan jari yang mengikuti gerak irama lagu. Gerakan rancak baru terlihat ketika memasuki babak selanjutnya. Bila pementasan bersifat perntandingan, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda pula.

Biasanya, kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak saman , yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan. Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu muepakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala keputusan. Muepakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian ini, adalah bermusyawarah untuk menentukan saman atau likok yang akan dimainkan.

Di dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi . Lantunan likok tersebut diawali dengan:

Iiiiii la lah alah ya ilalah…. (secara lambat dan cepat)

Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuk syahi tersebut. Fase lain adalah fase saman . Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari. Ketika syeikh melontarkan ucapan:

walahuet seuneut apet ee kataheee, hai syam,

maka anek syahi akan menimpali dengan jawaban:

lom ka dicong bak iboih, anuek puyeh ngon cicem subang.

Untuk menghilangkan rasa jenuh para penonton, setiap babak ditutup dengan formasi lanie, yaitu memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.

Artikel ini dikutip dari berbagai sumber yang terkait. Termasuk wawancara langung dengan salah seorang penari seudati terkemuka di Aceh, Syeh La Geunta.

sumber : http://galeriabiee.wordpress.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Asal Mula Nama Aceh



Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka.

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos , sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.
Dan walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kegoblokan Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno.

Banyak sekali tentang mitos tentang nama Aceh, Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh :

1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk. Sepeti dikutip oleh H.M. Said (Pengarang Buku Aceh Sepanjang Abad) catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.

2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah. Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho danTangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri. Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.

4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu),Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum. ”Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).

9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamaipohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.

10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.

13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Acehadalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.


sumber :
foto : http://www.desainstudio.com
isi : http://galeriabiee.wordpress.com (Visit this Website Now)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 1 August 2012

Mengapa Aceh Digelar Serambi Mekkah?

Pertama, Aceh merupakan daerah perdana masuk Islam di Nusantara, tepatnya di kawasan pantai Timur, Peureulak, dan Pasai. Dari Aceh Islam berkembang sangat cepat ke seluruh nusantara sampai ke Philipina. Mubaligh-mubaligh Aceh meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan agama Allah kepada manusia. Empat orang diantara Wali Songo yang membawa Islam ke Jawa berasal dari Aceh, yakni Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Syarif Hidayatullah, dan Syeikh Siti Jenar.
Kedua, daerah Aceh pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Nusantara dengan hadirnya Jami’ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman) lengkap dengan berbagai fakultas. Para mahasiswa yang menuntut ilmu di Aceh datang dari berbagai penjuru dunia, dari Turki, Palestina, India, Bangladesh, Pattani, Mindanau, Malaya, Brunei Darussalam, dan Makassar.
Ketiga, Kerajaan Aceh Darussalam pernah mendapat pengakuan dari Syarif Makkah atas nama Khalifah Islam di Turki bahwa Kerajaan Aceh adalah “pelindung” kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Karena itu seluruh sultan-sultan nusantara mengakui Sulatan Aceh sebagai “payung” mereka dalam menjalankan tugas kerajaan.
Keempat, daerah Aceh pernah menjadi pangkalan/pelabuhan Haji untuk seluruh nusantara. Orang-orang muslim nusantara yang naik haji ke Makkah dengan kapal laut, sebelum mengarungi Samudra Hindia menghabiskan waktu sampai enam bulan di Bandar Aceh Darussalam. Kampung-kampung sekitar Pelanggahan sekarang menjadi tempat persinggahan jamaah haji dulunya.
Kelima, banyak persamaan antara Aceh (saat itu) dengan Makkah, sama-sama Islam, bermazhab Syafi’i, berbudaya Islam, berpakaian Islam, berhiburan Islam, dan berhukum dengan hukum Islam. Seluruh penduduk Makkah beragama Islam dan seluruh penduduk Aceh juga Islam. Orang Aceh masuk dalam agama Islam secara kaffah (totalitas), tidak ada campur aduk antara adat kebiasaan dengan ajaran Islam, tetapi kalau sekarang sudah mulai memudar. (Koran Serambi Indonesia, sekitar tahun 1990-an)
sumber : www.lensameulaboh.blogspot.com (Viit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 26 July 2012

Perempuan-perempuan Aceh yang Tempo Dulu Perkasa



Perempuan millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknya – yang terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan Aceh telah menikmati hak-haknya sebagai manusia yang setara tanpa perdebatan.

Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh,Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang nisannya bertuliskan bahasa Arab dan Jawa Kuno. Di nisan itu, tertoreh nama Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga terdapat dalam kitab Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca dan buku Hikayat Raja-Raja Pasai. Tidak banyak keterangan yang didapat oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.

Perempuan Aceh memang luar biasa.Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria. Bahkan, dalam peperangan pun, yang biasanya dilakukan kaum pria, diterjuni pula.Mereka menjadi komandan, memimpin ribuan laskar di hutan dan digunung-gunung. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya – bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. Kaum pria Acehpun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan menjadi anak buahnya. Diantara mereka menjadi amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nayk Dien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya.
Beberapa preode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan. Selain Ratu Ilah Nur,ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah. Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Ada pula yang menjadi ullebalang (penguasa lokal).

Ratu Nahrasiyah
Dr.C. Snouck Hurgronje terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di AcehUtara. Makam yang terbuat dari pualam itu, adalah makam Nahrasiyah,seorang Ratu, putri dari Sultan Zain al-Abidin. Ia memerintah lebih dari 20 tahun. Nama Sultan Zain al-Abidin dalam berita –berita Tiongkokdikenal dengan Tsai-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643)menyebutkan, Ratu ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani olehsida-sida China Yin Ching kepada mahararaja China, Ch’engtsu(1403-1424). Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasiyah.

Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675)
Bersyukur bahwa catatan tentang Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai tentang kiprahnya memimpin.Syafiatuddin Syah lahir tahun 1612 dan anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri Syafiatuddin gadis yang rupawan, cerdas dan berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan dengan Iskandar Thani,putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Sultanah Safiatuddin Syah memerintah selama 35 tahun(1641 – 1675), pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Potugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab. Ia meninggal 23 Oktober 1675.
Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah
Sultanah Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Hal penting dan fundamental yang dilakukan oleh Naqiatuddin pada masa pemerintahannya adalah melakukan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Acehdan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Maksud dari pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan menyerahkan urusan pemerintahan dalam negari-negari yang terbagi Tiga Sagi itu. Untuk situasi sekarang, sistem pemerintahan Kerajaan Aceh dulu sama dengan otonomi daerah. Masa pemerintahannya singkat(1675-1678).

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah
Naqiatuddin Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang. Inggris yang hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan dagangnya ditolak Ratu dengan mengatakan,Inggris boleh berdagang, tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Tamu lainnya adalah kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E. Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Ratu meninggal 3 Oktober 1688, lalu ia digantikan oleh Kamalat Zainatuddin Syah.
Ratu Kamalat Zainatuddin Syah
Silsilah ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya.Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga. Pada masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua pendirian. Orang kaya bersatu dengan golongan agama menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap menginginkan wanita menjadi raja, adalah Panglima Sagi. Ia turun tahta pada bulan Oktober1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapatkan kunjungan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang Inggris, East IndianCompany.
Cut Nyak Dien
Nama Cuk Nyak Dien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan : hidup atau mati di hutan belantara dari pada menyerah kepada Belanda. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia berminggu-minggu tidak menjumpai sesuap nasipun. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ia lahir tahun 1848. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang. Ibunya juga keturunan bangsawan. Cut Nyak Dien aktif di garis depan. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan suami dan anaknya. Persembunyian Cut Nyak Dien ditemukan oleh Belanda. Dalam keadaan buta dan lemah, ia ditangkap.Dengan tandu, Cut Nyak Dien dibawa oleh pasukan Belanda. Tanggal 11Desember 1906, Pemerintah Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien dan kemanakannya ke Sumedang, Jawa Barat. Pada 9 November 1908 ia meninggal.
Cut Meutia
Memegang pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, rambut terurai, tanpa ada keraguan sedikit pun, Cut Meutia menyongsong pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mosselman. Satu peluru di kepala dan dua di tubuhnya merubuhkan wanita yang digambarkan berparas cantik, kulit kuning berambut panjang. Ia tewas tangal 25 Oktober 1910 di hulu Sungai Peutoesetelah pengejaran yang melelahkan oleh pasukan elit Belanda. Cut Muetia lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut Jah. Pesonanya sesuai dengan namanya Muetia yang diartikan mutiara. Ia menikah dengan Teuku Syamsarif seorang uleebalang tahun1890 dalam sebuah pernikahan yang agung sebagai anak uleebalang.Bercerai dari suaminya, gelora jiwanya terlepas bebas sudah. Ia punikut bergerilya bersama ayah dan saudara-saudaranya. Kemudian iadinikahkan dengan Teuku Cut Muhammad (Chik Tunong) dan barulah ia benar-benar ikut angkat senjata.

Pocut Baren
Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita,sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun1910. Ia memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut NyakDien ketika masih aktif dalam perjuangan. Suatu penyerangan besar-besaran dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluh lantahkankan benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan ia dibawa ke Meulaboh. Sebagai penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu untuknya yang didatangkan khusus dariBelanda. Ia wafat tahun 1933.
Pocut Meurah Intan
Pocut Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh.Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Ia menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh,yang gigih menantang kehadiran Belanda. Belanda mencatat, bahwa PocutMeurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling anti Belanda.Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905, sampai tahun1904 satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti Belanda adalah Pocut Meurah Intan.
Intensitas patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun sebelum tertangkap, ia masih melakukan perlawanan yang mengagumkan pihak lawan. Ia mencabut rencongya menyerbu brigade tempur Belanda. Terbaring di tanah digenangi darah dan lumpur, Veltman mengira ia tewas lalu meninggalkannya. KataValtman, biar dia meninggal ditangan bangsanya sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan. Valtman, pemimpin pasukanBelanda yang berpengalaman dan baik hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani). Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6 Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937 Pocut Meurah Intan meninggal. (Wanita Utama Aceh / Rizal Bustami)  (http://kabarinews.com/)
Baca Selengkapnya

Mengenal Aceh Lewat Batik dan Rencong

Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, setiap budaya memiliki berbagai macam ciri khas seperti halnya Aceh yang memiliki senjata khas yaitu rencong serta jenis batik yang beragam motif seperti bunga jeumpa, rencong, awan meucanek, gayo, pucok reubong, hingga pintu aceh, menjadi motif batik paling khas.
Tak salah rasanya bila UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia, karena dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia kaya dengan kerajinan khas tersebut.
Bila tanah Jawa lebih dikenal sebagai produsen batik, Aceh pun demikian. Di bumi Serambi Mekkah ini, juga memiliki kerajinan batik dengan beragam motif khas Aceh. Pengaruh Islam yang kuat pun tercermin melalui motif-motif batik tersebut. Selain itu, motif bunga jeumpa, rencong, awan meucanek, gayo, pucok reubong, hingga pintu aceh, menjadi motif batik paling khas.
Makna turut tersirat dari motif-motif itu. Sebutlah, pintu Aceh. Penggambaran pintu yang berukuran rendah namun memiliki ruang lapang itu, melambangkan kepribadian rakyat Aceh.
Ciri tersebut mengandung arti bahwa rakyat Aceh memiliki sifat yang tidak mudah terbuka dengan orang asing, tetapi akan menjadi sangat baik bahkan bagaikan saudara kandung bila sudah saling mengenal. Pemakaian warna pun terbilang cukup berani dengan warna-warna menyala, contohnya merah, hijau, kuning sampai merah muda. Unsur alam dan budaya pun terukir dalam kain batik.
Batik-batik ini tidak hanya dijadikan pakaian, melainkan juga dibuat produk lainnya, seperti mukena, topi, tas, dompet, maupun aksesoris. Soal harga, jangan khawatir karena batik-batik itu dibandrol dengan harga sesuai kantong alias murah.

Senjata Khas Aceh

Rencong merupakan senjata tradisional Aceh, rencong salah satu senjata tajam yang menyerupai belati namun berbeda dengan pisau atau pedang, jika di Pulau Sumatra bentuknya menyerupai huruf L.
Biasanya dalam penggunaanya rencong memiliki tingkatan, untuk raja atau sultan pada sarung rencong terbuat dari gading dan mata pisaunya dari emas, dan memiliki ukiran ayat suci Al-Quran. Sedangkan rencong lainya biasanya terbuat dari tanduk kerbau atau kayu sebagai sarungnya, dan biasanya untuk belatinya menggunakan kuningan atau besi putih.
Masyarakat Aceh mempercayai bahwa bentuk rencong dapat mewakili simbol dari basmalah. Begitu populernya senjata khas Aceh yang satu ini, sehinga Aceh juga dikenal dengan sebutan Tanah Rencong. (aktual.co)

sumber : www.seputaraceh.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Kerajaan IndraPurwa dan Makam Tgk Cot Diujong Ujong Pancu, Peninggalan Sejarah Aceh


Tidak banyak masyarakat sekitar Banda Aceh mengetahui kedudukan desa Ujong Pancu, salah satu desa dalam kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh. Hanya pemancing atau nelayan yang kerap mengetahui dimana letak Desa Ujong Pancu tersebut. Bagi saya, Ujong Pancu merupakan desa yang menyimpan banyak rahasia tentang sejarah Aceh dan peninggalannya. Oleh karena itu, saya dan Riadi bertekad menelusuri jejak peninggalan sejarah Aceh yang tersimpan di sekitar Desa Ujong Pancu.
Darussalam, Akhir tahun 2009 tepatnya pukul 7 pagi, Masyarakat Aceh mulai sibuk dengan urusannya masing masing. Sambil memanasi kendaraan, saya melihat para mahasiswa mulai berdatangan ke kampus, sementara warung kopi dengan sajian nasi gurinya sudah siap melayani siapa saja yang singgah. Dengan bekal semangat, kami pun menerjang angin pagi yang dingin menuju Ujong Pancu dan berharap sampai ke desa tersebut sebelum air laut pasang, karena tujuan pertama kami adalah menuju ke sebuah tapak perkuburan lama yang terletak satu kilometer ke arah laut. 20 menit kemudian, kami sampai ke Ujong Pancu dan bergegas untuk menuju ke tapak makam tersebut.
Dipesisir pantai Ujong Pancu, terdapat sebuah tapak makam yang terletak sekitar satu kilometer kearah laut. jika air laut pasang, makam tersebut akan tenggelam dan harus memakai perahu untuk mengunjunginya. Akan tetapi, jika air laut sedang surut, pengunjung bisa berjalan kaki menuju ke makam tersebut, tetapi hanya untuk beberapa jam saja. Karena kami tidak mempunyai biaya untuk menyewa perahu, kami mengambil kesempatan ketika air laut surut, dan berjalan kaki menuju makam tersebut.
Menurut penduduk sekitar Ujong pancu, sebelum Tsunami tahun 2004 makam tersebut dikelilingi oleh perkampungan. Ketika tsunami terjadi, perkampungan tersebut terkena impak yang sangat parah, sehingga terjadi pengikisan yang begitu luas dan yang tertinggal hanyalah makam tersebut. Penduduk setempat juga mengatakan bahwa disekitar makam tersebut, terdapat beberapa tapak peninggalan sejarah, seperti pondasi Mesjid Indrapurwa yang awalnya merupakan sebuah pura Kerajaan Hindu, dan diubah menjadi mesjid ketika masuknya Islam.

Ketika kami sampai dipesisir Ujong pancu, jam telah menunjukan pukul 7.30 pagi. Harapan kami untuk menuju ke makam tersebut begitu tipis, karena beberapa nelayan yang kami jumpai mengatakan tidak lama lagi air akan pasang. Alhasil, setelah mencoba berjalan sekitar 500 meter, air laut mulai pasang dan penelusuran pertama kami pun gagal. Walaupun begitu, semangat kami tidak patah begitu saja. Di lain waktu, kami akan kembali dan menjejaki tapak makam tersebut.







Kami singgah di bawah gedung SD Lampageue untuk menikmati nasi guri yang kami beli di Darussalam. SD Lampageue, yang dibangun dengan biaya 8 milyar tersebut terlihat mewah dan canggih, tetapi kami kecewa ketika mendengar bahwa jumlah semua murid SD tersebut tidak lebih dari 15 orang. Begitu minimnya minat masyarakat tersebut terhadap pendidikan dan kurangnya dukungan terhadap anak untuk mengecap pendidikan demi masa depan mereka. Masyarakat setempat lebih mengutamakan ekonomi daripada pendidikan, sehingga tidaklah heran jika anak-anak tersebut sudah mulai bekerja. Setelah mengisi tenaga secukupnya, kami kemudian menuju ke sebuah tapak peninggalan sejarah penting yang mulai dilupakan masyarakat Aceh.
Kerajaan IndraPurwaSitus kerajaan IndraPurwa merupakan salah satu peninggalan sejarah Aceh yang penting yang tersimpan di desa Ujong Pancu. Indra Purwa didirikan pada masa kerajaan Hindu dan termasuk salah satu dari 3 Indra dalam trail Aceh lhee sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe merupakan wilayah yang menghubungkan tiga Indra peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh, yang terdiri dari Indra Patra, Indra puri dan Indra Purwa. Tidak banyak orang Aceh mengetahui dimana letak situs Kerajaan tersebut.
Awalnya, kami juga tidak mengetahui dimana letak kerajaan tersebut. Berkat sebuah plakat yang disediakan oleh “yayasan Bustanussalatin”, kami akhirnya mengetahui daerah dimana letak situs kerajaan tersebut. Yayasan Bustanussalatin merupakan salah satu lembaga yang memerhatikan situs peninggalan sejarah Aceh. Lembaga tersebut telah menyediakan penunjuk atau plakat pada setiap situs peninggalan sejarah sehingga para pengunjung mengetahui letak dan latar belakang situs tersebut. Terimakasih untuk Yayasan Bustanussalatin.
Situs kerajaan Indra Purwa terletak di sekitar mesjid Indrapurwa yang dibangun setelah Tsunami. Ketika berada di halaman mesjid, kami tidak melihat bangunan lama yang umumnya berbentuk benteng, kami kemudian menuju ke arah selatan mesjid, hasilnya juga sama.
Setelah 30 menit mengelilingi dan memerhatikan sekitar halaman mesjid, kami istirahat di atas sebuah pondasi tepat di samping mesjid arah selatan. ketika asyik beristirahat, saya memerhatikan pondasi tersebut dan terkejut ketika mengetahui bahwa pondasi tempat kami istirahat adalah tempat dimana Kerajaan IndraPurwa didirikan.
Jika pengunjung tidak memerhatikankan dengan seksama, maka pondasi tersebut tidak terlihat seperti bangunan lama, karena sebagian pondasinya telah di lapisi semen, sehingga bentuk aslinya tidak bisa dilihat dengan jelas. Selain itu, hanya sebagian pondasi bangunan yang masih utuh. Keadaan sekitar tapak kerajaan IndraPurwa begitu memprihatinkan, karena tidak ada perawatan sama sekali. Sungguh disayangkan bila situs sejarah yang begitu penting diabaikan begitu saja, tanpa perawatan dan perhatian dari Masyarakat dan Pemerintah Aceh. Saya berharap pemerintah Aceh memberikan perhatian terhadap kelestarian Tapak Kerajaan IndraPurwa, karena keberadaan situs tersebut dapat membuktikan identitas Kerajaan Aceh baik sebelum atau sesudah masuk Islam.
Setelah menemukan tapak kerajaan Indra Purwa di Mesjid IndraPurwa, kami kemudian menuju kearah selatan, kira-kira 200 meter dari Mesjid. Menurut informasi yang kami dapat dari seorang penduduk, daerah yang akan kami tuju terdapat beberapa batu nisan peninggalan abad 15 dan 16 bahkan jauh sebelumnya. Kawasan tersebut telah ditutupi pohon yang lebat dan rumput yang panjang, sehingga sulit bagi kami untuk menemukan batu nisan. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya kami berhasil menemukan beberapa batu nisan, namun sebagian dari batu nisan tersebut telah dimakan usia sehingga bentuknya tidak begitu sempurna.
Selain itu, kami juga menemukan batu nisan yang sudah tertimbun tanah, dan hampir tidak kelihatan bentuknya. Setelah memasuki kawasan tersebut sedalam 100 meter, kami baru menemukan batu nisan yang masih sempurna bentuknya, namun batu nisan tersebut telah tercabut dari tanah. Karena terik matahari yang menyengat kulit, kami kemudian berteduh di bawah pohon tidak jauh dari kawasan perkuburan. Saat kami sampai dibawah pohon yang rindang tersebut, kami tidak menyangka jika kami juga menemukan beberapa batu nisan Aceh yang mempunyai ukiran kalimah Allah. Akan tetapi batu nisan tersebut juga tercabut dari tanah, sehingga kami tidak mengetahui dimana letak yang sebenarnya. Besar kemungkinannya, jika batu nisan tersebut telah tercabut akibat Ombak Tsunami tahun 2004 silam.

Makam Tungku Cot di UjongPukul 12 siang, kami melanjutkan perjalanan menuju arah barat Ujong Pancu, tepatnya ke Makam Tungku Cot di Ujong. Tungku Cot di Ujong kata penduduk setempat, merupakan seorang Ulama terkenal dan makam beliau dipercayai keramat. Ketika kami tanya dimana letak makam Tungku Cot di Ujong, mereka menanyakan apa tujuan kami mengunjungi makam tersebut dan kami pun menjelaskannya panjang lebar. Penduduk setempat mengingatkan agar kami hati hati ketika menuju ke makam Tungku, karena menurut mereka, jika niatnya tidak baik, maka pengunjung akan berjumpa dengan binatang-binatang yang berbahaya, seperti ular, harimau dan bahkan makhluk halus atau tersesat. Dan jika niat mengunjungi makam baik, maka makam Tungku akan mudah di temukan. Awalnya, kami juga merasa takut dan keberatan untuk mengunjungi makam tersebut, tetapi karena mempunyai niat yang baik, akhirnya kami bertekad untuk mengunjungi makam Tungku Cot di Ujong.
Dengan mengendarai sepeda motor, kami meninggalkan mesjid Indra Purwa dan menuju Makam tungku cot di ujong. Melewati jalan aspal yang kecil di tengah perkampungan dan menikmati keindahan laut ujong pancu, membuat perjalanan kami semakin menarik. Setelah 10 menit mengendarai sepeda motor, kami sampai di kaki bukit dan berhenti sejenak untuk melepaskan pandangan kearah pantai. Sungguh indah pemandangan pantai Ujong pancu jika di lihat dari kaki bukit tersebut. Hamparan luas pantai dikelilingi oleh perkampungan Ujong Pancu yang dilindungi oleh gunung. Sementara dari arah timur pantai, kami dapat melihat keindahan gunung Seulawah yang menjulang tinggi, seolah-olah menyentuh angkasa. Dipinggiran kaki bukit, kami lihat beberapa orang sibuk memancing ikan. Pantai Ujong Pancu adalah salah satu tempat utama bagi sebagian masyarakat Aceh besar yang mempunyai hobi memancing.
Setelah melepaskan dahaga, kami langsung melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, kami menemukan jalan buntu dimana banyak sepeda motor milik pemancing parkir berjejeran disamping jalan. Untuk seketika, rasa takut dan was was kami hilang karena tempat tersebut banyak dikunjungi orang.


Tidak jauh dari tempat parkir sepeda motor tersebut, kami menemukan sebuah jalan setapak yang dibuat dari semen. Untuk memastikan jalan setapak tersebut menuju ke makam tersebut, kami bertanya pada orang yang sedang berkebun tidak jauh dari jalan tersebut. Setelah memastikan, akhirnya kami meneruskan perjalanan.
Kami mengikuti jalan setapak tersebut sambil mendengar suara ombak yang menghantam karang. Ternyata, perjalanan menuju ke makam tersebut agak menyeramkan. Penelusuran kami disaksikan oleh dua objek yang bisa membuat bulu kuduk kami berdiri. Dari sisi kiri, hutan yang lumayan lebat membuat kami was-was terhadap binatang buas seperti harimau atau ular. Sementara disisi kanan, kami di intai oleh jurang yang curam. Kami harus extra hati-hati berjalan, karena jalan setapak tersebut agak licin. Akan tetapi, kicauan burung-burung yang berusaha menyapa membuat rasa was-was kami menghilang. Dalam perjalanan tersebut, saya bertanya pada diri sendiri, kira-kira siapa nama ulama yang ada dimakam tersebut dan mengapa beliau di makamkan di tempat yang begitu terpencil?. Rasa ingin tahu saya semakin kuat dan membangkitkan semangat untuk menelusurinya.
Setelah berjalan selama kira-kira 10 menit, akhirnya kami melihat sebuat atap dibalik celah pohon-pohon. Kami langsung mendekati tempat tersebut dan saya begitu terkejut dan terpana ketika melihat sebuah papan yang tertulis “Maqam Syeh Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi”. Perasaan gembira, penasaran, dan bingung menjadi satu. Seorang ulama yang begitu terkenal di Asia, seorang ulama sufi yang bukunya telah dibedah oleh banyak ilmuan, seorang ulama yang besar namanya, seorang ulama yang pernah hidup dimasa kegemilangan kerajaan Aceh pada abad ke 17. Banyak buku biografi beliau telah saya baca, dan saya baru tahu ternyata beliau beristirahat di tempat yang sunyi nan jauh. Saya begitu senang karena akhirnya saya mengetahui tempat beliau dimakamkan.
Dengan membaca salam kepada ahli kubur, kami langsung masuk ke dalam pekarangan makam. Luas pekarangan makam kira-kira 10X10 meter, lantainya telah disemen dan pekarangan tersebut dipagar dengan kawat. Didalam pekarangan itulah Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan. Disekeliling makam beliau telah dipasang kelambu berwarna putih, dan ditutupi atap dari genteng. Dengan perasaan was-was, kami menyelinap kedalam kelambu tersebut dan subhanallah, kami melihat sebuah makam yang begitu panjang dan juga diselimuti dengan kain hijau tua. Kami kemudian duduk di samping makam danmenghadiahkan do’a untuk beliau. Setelah berdo’a, saya sendiri berdiam diri sambil mengingat kembali masa kejayaan Aceh pada abad ke 17, masa hidup Syeh Hamzah al-Fansuri. Syeh Hamzah al-Fansuri adalah seorang ulama sufi yang begitu terpengaruh di Aceh pada saat itu. Beliau berasal dari Fansur, (Aceh Singkil sekarang). Beliau menguasai ilmu Islam di negeri para nabi dan menyiarkannya di Aceh. Selain menguasai ilmu dibidang sastra, beliau juga menguasai ilmu tauhid dan mengikuti aliran Ibnu ‘Arabi, yaitu aliran Wahdatul Wujud. Menurut beberapa sumber, aliran wahdatul wujud dianggap sesat pada Abad 17 dimasa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, dan mendapat tantangan hebat dari seorang Ulama Aceh yang dikenal dengan nama Syeh Nuruddin ar-raniry, beliau berasal dari Ranir,India. Karena dianggap sesat, banyak kitab-kitab karangan Syeh Hamzah al-Fansuri dibakar (menurut sebuah kisah, kitab-kiab beliau dibakar didepan Mesjid Raya Baiturrahman). Sehingga banyak sumber-sumber ilmu yang beliau syiar hilang dari permukaan bumi Aceh. Hanya beberapa kitab yang selamat dan kini tersimpan di museum diluar negeri, seperti Belanda dan Inggris. Sumber yang lain juga mengatakan bahwa bukan hanya kitab-kitab beliau yang dibakar, tetapi beliau juga dikenakan hukuman mati karena menyebarkan aliran sesat.
Hukuman yang dijatuhkan kepada Syeh Hamzah al-Fansuri, pembakaran kitab dan tentang aliran sesat, adalah sebuah peristiwa yang penuh controversial pada abad ke 17, dan menjadi hal yang penuh tanda hanya pada masa sekarang ini. Begitu banyak ilmuan yang melakukan penelitian tentang kitab sastra karangan beliau serta biografinya. Kitab beliau dipenuhi dengan syair-syair mistik serta Hikayat yang kaya dengan makna, syair-syair sufi yang begitu rumit dipahami. Sehingga tidaklah heran jika beliau dinobatkan sebagai pujangga melayu klasik pertama didunia. Tetapi alangkah sayangnya, banyak masyarakat Aceh, pemuda-pemudi dan pelajar yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang kontribusi beliau untuk Aceh. Bahkan tidak mau tahu dimana beliau dimakamkan. Kepedulian rakyat Aceh kepada hasil karya seorang Aceh telah ditelan bumi. Tidak ketinggalan juga, pemerintah Aceh yang notabenenya peduli kepada sejarah Aceh, belum sepenuhnya membangun dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah Aceh, termasuk Makam-makam ulama yang pernah mengharumkan nama Aceh dimasa dahulu. Peninggalan-peninggalan sejarah Aceh tersebut adalah bukti bukti kejayaan Aceh dimasa dahulu, dan untuk dijadikan contoh bagi generasi muda sebagai penerus dimasa depan.
Setelah beberapa lama saya duduk disamping makam syeh Hamzah al-Fansuri, saya mulai melihat kesekeliling makam yang diselimuti kelambu tersebut. Terdapat 2 makam tidak jauh dari makam syeh Hamzah al-Fansuri, makam tersebut tidak terlalu panjang. Dimakam terlihat batu Aceh, batu nisan yang dipenuhi ukiran ayat Al-Qur’an dan ukiran bunga. Mungkin makam tersebut adalah makam murid atau keluarga beliau. ke 2 makam itu juga diselimuti kain hijau. Melihat kawan saya Riadi asik dengan pemandangan disekeliling pekarangan makam, saya pun beranjak keluar dari kelambu dan mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Pekarangan makam terletak di pinggir jurang yang curam. Pekarangan terlihat kurang bersih dan dipenuhi dengan daun daun yang gugur. Sementara diarah hutan, terdapat sebuah balai yang lumayan besar ukurannya. Balai tersebut digunakan sebagai fasilitas beribadah dan beristirahat. Walaupun jalan setapak dan sarana ibadah sudah disediakan, tetapi masih terdapat kekurangan pada pelestariannya.saya mengusulkan pada pemerintah agar memasang papan petunjuk arah menuju makan tersebut. Sehingga pengunjung mudah menelusuri lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri.
Jika diperhatikan, lokasi Makam Syeh Hamzah al-Fansuri dan makam Syiah Kuala ada keunikan tersendiri. Kepastian lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri hampir sama dengan makam Syiah Kuala. Makam Syiah Kuala terdapat di dua lokasi, yaitu dikecamatan Kuta Alam dan dikabupaten Singkil. Makam yang terdapat di Aceh Singkil dikenal dengan nama makam Syeh Abdulrauf al-Singkili, dan tidak dijuluki dengan nama Syiah Kuala, sedangkan yang di Kecamatan Kuta Alam dikenal dengan julukan makam Syiah Kuala atau Syeh Abdul Rauf al-Singkili. Sementara itu, Makam Syeh Hamzah al-Fansuri juga terdapat didua lokasi, yaitu di Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, dan dikabupaten Singkil. Sedangkan nama kedua makam tersebut adalah sama. Kepastian lokasi makam ulama besar tersebut masih penuh tanda tanya. Menurut pendapat saya, Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan di Ujung Pancu, karena beliau menghadapi hukuman di Banda Aceh pada Abad ke 17 dan jenazah beliau tidak di bawa pulang ke Fansur, tetapi dimakamkan di Ujong Pancu. Selebihnya kita serahkan pada Allah yang Maha Tahu.
Setelah dua jam, kami meninggalkan lokasi makam syeh Hamzah al-Fansuri dan kembali menghadapi perjalanan setapak. Sewaktu pulang, perjalanan kami terasa lebih cepat dibandingkan ketika pergi. Mungkin karena kami sudah mengetahui arah jalan tersebut dan hilang perasaan was-was membuat kami berjalan cepat.
Panas matahari menyengat kulit ketika kami keluar dari hutan, kepala terasa pening disertai dahaga. Dengan sisa tenaga yang ada, kami meninggalkan Ujong Pancu menuju Darussalam, kami meninggalkan sebuah daerah yang penuh dengan sejarah serta peninggalannya.
Ketika sampai ke Darussalam, kami berhenti disebuah warung dan meluangkan waktu untuk melepaskan dahaga. Sambil menikmati segarnya air kelapa muda, kami merencanakan penelusuran selanjutnya. Penelusuran yang akan mengambil waktu yang lumayan lama dan jauh. Perjalanan kami selanjutnya adalah menelusuri peninggalan sejarah Aceh di Lamno” Sejarah Meuruhom Daya” dan “Mencari jejak Simata Biru” yang berbasis di Lamno, Aceh Jaya.






















Baca Selengkapnya

Berziarah ke Makam Syuhada Aceh di Malaka


Jumat, 20 April 2012 09:53 WIB
Laporan Farid Wajdi Ibrahim Rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

PUKUL tujuh pagi, saya mengunjungi makam Syeich Syamsuddin al-Sumatrani (Ulama Sufi asal Aceh) di kampung Ketek, pinggiran Bandar Malaka, Malaysia. Lebih kurang dua jam perjalanan dari Selangor atau sekitar lebih kurang 140 km dari Kuala Lumpur arah Selatan.

Lokasi tersebut berada di tengah perkampungan Cina dengan kondisi lorong yang sempit dan tidak dapat dilalui mobil. Menurut keterangan dari penjaga makam, kuburan Syeich Syamsuddin Al-Sumatrani pada awalnya tidak ada yang mengurus, bahkan tidak satupun mengetahui itu merupakan makam ulama terkemuka di nusantara dalam sejarah Melayu asal Aceh. Sehingga pada saat diketahui sekitar 2 tahun yang lalu itu kuburan Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, Pemerintah Malaysia melalui Sultan Malaka langsung memerintahkan dipugar dan dibangun kembali dengan baik.

Kuburan ulama sufi itu tergolong sangat panjang (lebih kurang 8 meter), lokasi tersebut sekarang sudah menjadi tempat wisata kebudayaan yang banyak dikunjungi umat beragama di dunia. Uniknya, selain umat Islam yang berziarah, umat Budha, Hindu, Konghucu, Kristen dan lain sebagainya juga mengunjungi makam tersebut dengan hajatan sebagai tempat persemedian, bahkan dipenuhi dengan alat-alat persembahan. Namun, karena begitu maraknya dengan praktik syirik tersebut, pihak kerajaan sudah menertibkannya melalui penjagaan yang ketat terhadap orang-orang yang berkunjung ke makam itu.

Syeich Syamsuddin al-Sumatrani merupakan seorang ulama, sastrawan dan pahlawan yang terkenal di negeri Aceh di zaman Sulthan Iskandar Muda. Pada saat Malaka dikuasai Portugis tahun 1511. Aceh sering melawan portugis di Malaka. Tujuan peperangan tersebut untuk mempertahankan dan mengembalikan Malaka pada asal yaitu kerajaan Aceh yang bebas dari jajahan Barat dan bahkan untuk menegakkan syari’at Islam.

Salah satu serangan yang dilakukan angkatan tentara Aceh terhadap Portugis di Malaka langsung dipimpin oleh Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, yang diikuti oleh panglima-panglima perang lainnya termasuk di antaranya adalah panglima Pidie. Syamsuddin al-Sumatrani dan panglima Pidie syahid di Malaka. Jasad panglima Pidie disemayamkan di puncak gedung-bukit China. Sementara, Syeich Syamsuddin al-Sumatrani dimakamkan di Kampung Ketek, Malaka.

Dalam perspektif sejarah Syeich Syamsuddin al-Sumatrani datang ke Malaka sekitar abad ke 17, tepatnya pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda berkuasa, di mana beliau juga dikenal sebagai Mufti Kerajaan Aceh pada saat itu. Namun pada substansinya, beliau datang ke sana atas perintah dari Sultan Aceh dengan tujuan untuk mempertahankan pasukan Aceh dalam peperangan melawan Portugis, yang mana Malaka merupakan wilayah kekuasaan Aceh waktu itu.

Setelah ziarah makam Syeich Symasuddin al-Sumatrani, saya mengunjungi Pulau besar. Di sana, terdapat makam Sultan al-Arifin. Ia adalah seorang Sultan yang sangat gagah berani juga sebagai ulama terkemuka di Malaka. Di samping makam Sultan al-Arifin juga terdapat makam Syeich Yusuf, guru dari Sultan al-Arifin. Makam Syeich Yusuf panjangnya mencapai 20 meter, dan merupakan makam terpanjang di Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, masih ada dua lagi makam orang Aceh di Pulau Besar, Malaka yaitu makam Tok Janggut. Ia berasal dari Aceh yang diyakini datang dengan Panglima Lidah Hitam (ulama dan pahlawan yang sangat terkenal dalam dunia persilatan) dan satu lagi adalah makam Tok Putih yang juga asal Aceh dengan ukuran panjang kubur lebih kurang 14 meter.

Kita berharap Pemerintah Aceh mau bekerjasama dengan pemerintah Malaka untuk melestarikan para syuhada tersebut dan menjadikannya sebagai pusat kebudayaan.

Sumber : aceh.tribunnews.com (Visit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 25 July 2012

Tari Saman (Salah Satu Tarian Aceh)




Satu ciri menarik dari tari Aceh adalah bahwa ia dilakukan secara berkelompok. Seudati yang heroik dilakukan oleh delapan orang. Saman, sebagian menyebutnya “tari tangan seribu” alias “a thousand hand dance” yang rampak dan dinamis biasanya dilakukan oleh sepuluh orang laki-laki atau sepuluh orang perempuan. Likok Pulok juga demikian, walaupun bisa juga ditarikan delapan atau dua belas orang. Tari Ranub Lampuan yang indah untuk memuliakan tamu biasanya dilakukan oleh enam atau delapan dara Aceh. Tak ada tari Aceh yang dilakukan sendiri alias secara solo.

Apakah karena orang Aceh tidak berani menari sendiri? Rasanya bukan. Karena konon orang Aceh punya keberanian individu yang hebat. Tak kurang Sang Pramoedya mengakuinya. ”Orang Madura beraninya carok, orang Jawa kalau berantam suka tawuran, tapi orang Aceh punya keberanian individual yang luar biasa” begitu kira-kira kata Pram dalam salah satu wawancara menjelang akhir hayatnya.

Saat Perang Aceh, ketika perlawanan pasukan Aceh mulai lemah, pasukan kolonial Belanda sering diamuk pejuang Aceh secara individu sehingga dikenal "Atjehnese murder" (Atjeh-moord). Fenomena yang sama pernah muncul dimasa DOM dan aneka operasi militer serdadu Indonesia di Aceh 1980-an ke atas.

Ciri khas lainnya aneka tarian Aceh adalah adanya syekh (pemimpin) dan kadang-kadang juga aneuk syech, semacam wakil atau asisten dari syech. Ini bisa jadi ada hubungannya dengan kosep imam dan amir dalam Islam yang mempunyai wajah unik tersendiri di Aceh. Bahwa setiap kelompok lebih dari satu orang, harus memilih satu orang pemimpin. Jika dua orang melakukan perjalanan, maka salah satunya dipilih jadi amir perjalanan.

Konsep pemimpin dalam Islam juga mewujud dengan jelas dalam shalat berjamaah yang sangat demokratis dan egaliter, yang konon menjadi sumber inspirasi pencipta Likok Pulok. Siapa saja boleh menghadap Tuhan-nya di barisan terdepan di belakang imam atau bahkan menjadi imamnya. Siapa pun bisa jadi imam asal memenuhi syarat yang dapat dipenuhi siapa saja yang mau belajar dan mengamalkannya. Makmum, pengikut imam, harus ikut gerakan imam. Tapi makmum bisa mengingatkan jika imam lupa. Bila imam, maaf, kentut, siapapun di belakang imam boleh menggantikannya dan imam dengan kesadaran snediri harus mundur. Imam perlu jamaah. Sebaliknya, jamaah tidak jalan tanpa imam. Karena itu, tarian Aceh adalah tarian berjemaah!

Dalam beberapa gerakannya, seperti dalam tari Seudati dan Ranub Lampuan, ”konsep ruang berupa titik-sentral-di-tengah-lingkaran” seringkali muncul. Margaret Kartomi, profesor seni tradisional Nusantara dari Australia menuliskan:

“…the central point-in-a-circle concept of space is believed to have its parallels in Perso-Arabic thinking and points to Aceh's links with Persian, Moghul, Turkish, and Arabic cultures over the past millennium. It governs mosque-centred town planning, some visual art designs and some formations of dancers and musicians who circle around their leader at the centre point.” (Kartomi 2004)

Tak salah rasanya jika kita katakan bahwa tari Aceh adalah salah satu wujud peradaban Aceh. Bagaimana Aceh memandang dirinya di tengah peradaban Persia, Moghul, Turki, dan Arab terlihat dalam konsep ruang tari Aceh. Mewujud juga dalam perencanaan gampong dan kota dimana mesjid adalah titik pusatnya, baik secara fisik maupun mental.

Syeikh, amir, atau imam menentukan gerakan dinamis dan serempak tarian jamaahnya. Maju bersama, mundur, duduk, bersila seperti dalam Saman; berjingkrak, bahkan berlari dengan bersemangat seperti dalam Seudati. Lemah gemulai dan lembut seperti dalam Ranub Lampuan. Dibantu aneuk syeikh, seorang syeikh menentukan irama, emosi, dan gerak para penarinya.

Kerjasama dan saling percaya antara syeikh dengan para penarinya adalah keniscayaan. Tak ada tari Aceh tanpa kerjasama dan saling percaya. Tari kehilangan keindahan dan pesonanya. Coba bayangkan tangan, tubuh, kepala yang saling berbenturan di tengah kegesitan gerakan serempak Tari Saman! Taripun buyar. Taripun kehilangan eksistensinya!

Seperti tarian Aceh, orang Aceh bisa maju dan mempesona jika dia berjamaah. Kelemahannya, setiap jamaah sangat rentan terhadap ”bisikan syeitan”. Jika satu penari khianat karena kepentingan pribadi atau kena rayuan dari luar tarian—dan ini sangat mudah dalam dunia yang makin hedonistik ini, maka rusaklah seluruh tarian. Penari bisa terpengaruh atau dibeli. Kalau satu terbeli, shaf jamaah bolong. Kalau shaf jarang setan bisa lewat!

Seperti tarian Aceh, orang Aceh bisa maju dan bahagia jika syeikh-nya adalah imam yang berilmu, tegas, tapi juga demokratis dan terbuka. Banyak orang Aceh masih menderita sampai sekarang karena Aceh sudah lama kehilagan pemimpin yang bisa memimpin gerak maju rakyatnya. Seperti Tari Saman atau Likok Pulok tanpa syeikh.

Selama ini, pemimpin Aceh juga banyak yang pelupa. Adalah kewajiban rakyat yang tahu untuk mengingatkannya, seperti kewajiban makmum mengingatkan imam yang lupa dalam shalat jamaahnya. Supaya jamaah tidak perlu bubar; supaya tarian tetap rampak mempesona.

Semoga Aceh tidak (lagi) mendapat imam yang suka kentut ketika sedang berjamaah; dan tidak ada (lagi) syeikh yang kehilangan suara di tengah puncak semangat para penarinya. Jika ada, semoga sang imam tahu diri untuk mundur dan ada yang mau maju menggantikannya! (Penulis Saiful Mahdi)

Sumber : www.cangklak.blogspot.com (Visit This Blog)
Baca Selengkapnya