Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Monday, 3 December 2012

Wisatawan Dari Negri "Upin & Ipin" Masih Dominasi Kunjungan ke Aceh


Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh mencatat jumlah tamu asing yang berkunjung ke daerah ini pada Oktober 2012 mencapai 870 orang atau turun dari September yang tercatat 952 orang.

Kepala BPS Provinsi Aceh Syech Suhaimi di Banda Aceh, Senin (3/12), mengatakan penurunan jumlah kedatangan tamu asing yang melancong ke provinsi itu sekitar 8,61 persen dibanding bulan sebelumnya. “Meski terjadi penurunan pada Oktober, namun jika dihitung secara kumulatif Januari-Oktober 2012 meningkat 9,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” katanya.

Disebutkannya, tamu asing asal Malaysia masih mendominasi jumlah kedatangan warga negara asing ke provinsi ujung paling barat Indonesai itu yakni mencapai 535 orang. Selanjutnya, disusul tamu asing asal RRC sebanyak 50 orang, Singapura 37 orang, Amerika Serikat 31 orang, Prancis 29 orang, Australia 24 orang, Inggris 20 orang, Jerman 17 orang, Belanda 13 orang, Thailand 5 orang dan selebihnya dari negara lainnya.

Ia mengatakan jumlah tamu asing yang telah berkunjung ke provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa itu hingga Oktober 2012 mencapai sebanyak 10.361 orang.

Berdasarkan wilayah wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh, pelancong dari Asean mendududki posisi pertama sebanyak 588 orang, posisi kedua Eropa sebanyak 124 orang, Asia (tanpa Asean) 79 orang, Amerika 46 orang, Oseania 32 orang dan Timur Tengah satu orang. Suhaimi menyarankan agar Pemerintah Aceh untuk meningkatkan promosi dalam upaya meningkatkan jumlah kedatangan tamu asing dalam upaya pendukung program Aceh Visit Year 2013. 

sumber :www.seputaraceh.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Sunday, 2 December 2012

Dua Wartawan Finlandia Kunjungi Aceh Timur

Dua wartawan dari Finlandia, yakni Ossi Ahola dan  Jutta Mattsson, mengunjungi Aceh Timur untuk melihat langsung perkembangan daerah tersebut setelah tujuh tahun perdamaian. Kedua wartawan itu bekerja pada media Aamulehti yang bermarkas di Kota Tampere. Kota ini berada berjarak sekitar 160 km dari ibukota Finlandia, Helsinki, tempat nota perdamaian Aceh ditandatangani pada, 15 Agustus 2005 lalu.

Pada Jumat (30/11) kemarin, kedua wartawan yang ditemani penerjemahnya, H Razali, melakukan pertemuan dengan Bupati Aceh Timur, Hasballah M Thaib. Dalam pertemuan itu, Bupati Hasballah M Thaib, memaparkan kondisi dan kehidupan masyarakat Aceh Timur yang semakin berkembang pasca-damai.

Bupati berharap kedatangan wartawan tersebut bisa semakin mempromosikan potensi yang dimiliki Kabupaten Aceh Timur kepada masyarakat dunia. Selain menerima kunjungan dua jurnalis ini, kata Hasballah, pihaknya juga sudah menjadwalkan pertemuan dengan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, minggu depan.

Menurut Hasballah, saat ini kabupaten Aceh Timur terus berbenah dan memacu pembangunan di segala bidang, sehingga akan menjadi lebih baik dari kabupaten/kota lain di Aceh. Untuk itu ia mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak, seperti media, unsur masyarakat, pengusaha, maupun elemen masyarakat lainnya.

“Untuk membangun Aceh Timur, dukungan dari seluruh elemen itu penting tak terkecuali media. Jadi kedatangan dua jurnalis asing itu sangat tepat untuk memperkenalkan Aceh Timur secara lebih luas,” ujarnya.

Kedua wartawan dari Finlandia itu, melalui penterjemahnya H Razali, mengatakan, berbagai kemajuan dan perkembangan yang dicapai di Aceh Timur pasca-MoU akan dituangkan dalam laporan khusus pada media mereka.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Warga Beramai-ramai Nonton "Live" Balapan Kuda di Gayo Lues

Stadion lapangan bola yang dimanfaatkan untuk ajang lomba pacuan kuda tradisional di Buntul Nege Blangsere, Kabupaten Gayo Lues (Galus) diserbu warga, Sabtu (1/12). Penonton yang datang belakangan, termasuk bersama keluarga terpaksa mencari tempat lain setelah 15 ribu kursi di dalam stadion terisi penuh.

Warga yang datang dari berbagai pelosok Kabupaten Gayo Lues ingin menyaksikan langsung ajang tahunan itu yang diikuti tiga kabupaten tetangga, Aceh Tengah, Bener Meriah dan tuan rumah Gayo Lues. Pada Jumat (30/11), lomba pacuan kuda ditiadakan, sehingga warga memanfaatkan akhir pekan ini untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding. 
Ribuan warga, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, termasuk para pelajar memadati arena pertandingan. Sehingga, tempat duduk di stadion sudah penuh terisi, yang membuat para penonton lainnya harus  menyaksikan lomba pacuan kuda dengan berdiri di tengah-tengah terpaan terik matahari, tetapi tidak ada laporan hasil pertandingan dari Blangkejeren.

Fenomena itu dimanfaatkan oleh para pedagang yang menjajakan barang dagangannya di sekitar stadion. Pada hari sebelumnya, sejumlah lapak jualan tampak kosong, tetapi kemarin, seluruhnya sudah terisi penuh. Para pedagang ini, sebelumnya berjualan di arena pameran produks unggulan daerah di Pajak Terpadu Blangkejeren.

“Pada hari ke empat lomba pacuan kuda ini, warga mulai memenuhi stadion, termasuk puluhan pedagang yang berjualan makanan, pakaian dan mainan di seputar stadion,” kata Hafifah didampingi puluhan penonton kuda pacu kepada Serambi, Sabtu (1/12).

Dia mengungkapkan, warga Blangkejeren dan sekitarnya haus hiburan, sehingga memanfaatkan ajang ini sebagai sarana hiburan bersama keluarga atau juga teman-teman, apalagi pada hari akhir pekan. Hafifah menduga, pada hari ini, Minggu (2/12), penonton akan lebih banyak karena hari libur, termasuk para pelajar.

“Tentunya, pada hari ini yang bertepatan dengan hari libur, para penonton akan semakin bertambah banyak, apalagi sudah memasuki final,” tambah Sri Wahyuni penonton lainnya asal Blangkejeren. Dia mengungkapkan, ratusan penonton datang bersama anggota keluarganya, termasuk membawa perbekalan makanan siang.

Sri menambahkan, warga harus datang pagi hari atau sekitar pukul 10.00 WIB, jika ingin mendapatkan tempat duduk di dalam stadion. “Kalau ingin dapat tempat duduk, para penonton harus datang lebih awal atau sekitar pukul 10.00 WIB,” demikian Sri Wahyuni dibenarkan rekan-rekannya.

Seperti dilansir sebelumnya, sebanyak 162 ekor kuda dari tiga kabupaten bertetangga di dataran tinggi Aceh bertarung untuk menjadi yang terbaik di Kabupaten Gayo Lues (Galus). Perhelatan ini digelar dari 28 Nopember sampai 4 Desember 2012 dengan total hadiah Rp 112 juta yang diikuti 54 ekor kuda dari Aceh Tengah, 48 kuda dari Bener Meriah dan 60 kuda dari tuan rumah.

www.http://aceh.tribunnews.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Saturday, 1 December 2012

Aceh-Jepang Jalin Kerja Sama di Bidang Pariwisata


Pemerintah Jepang dan Pemerintah Aceh sepakat menjadikan Forum Ekonomi Aceh-Jepang sebagai forum yang berkelanjutan dan dilaksanakan secara reguler. Hal ini bertujuan mendorong terwujudnya kerja sama ekonomi dan pariwisata.

“Kedua pihak sepakat bekerja sama dalam batasan tertentu bidang ekonomi, pariwisata, dan perikanan, khususnya Sabang melalui Pelabuhan Bebas Sabang. Nanti pelaku bisnis di Aceh dan Jepang akan berhubungan langsung,” kata Kabid Promosi Disbudpar Sabang M Ali Taufik MM.

Didampingi Humas BPKS, Fauzi Umar, Ali Taufik mengatakan, poin-poin kesepakatan antara lain memperluas akses informasi pariwisata Sabang dan Aceh bagi wisatawan manca negara, terutama Jepang. Kedua pihak juga sepakat mempromosikan potensi wisata dan peluang investasi di Aceh, kepada pengusaha Jepang baik yang ada di Indonesia maupun di Jepang.

“Nanti juga akan ada program kota kembar (sister city) antara Sabang dan kota lain di Aceh dengan kota-kota di Jepang. Tujuannya saling sharing informasi wisata dan bisnis. Tekniknya akan dibahas kemudian,” kata Taufik.

Kesepakatan yang dihasilkan pada seminar Forum Ekonomi Aceh-Jepang ditandatangani Asisten II Setdaprov Aceh Ir Said Mustafa, Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia HE Makita Shimokawa, Wali Kota Sabang Zulkifli Adam, Ketua Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada) Aceh Dr Farid Maulana, Purek Unsyiah Bidang Kerjasama Prof Dr Ir Darusman, dan Kepala Badan Pengusahaan Ekonomi Sabang, Ramadhani.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Kadis Budpar Silaturrahmi Dengan Pelaku Wisata


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Drs Adami Umar MPd melakukan pertemuan dengan pengurus ASPPI Aceh yang dipimpin Anas Zulham Almansour, Jumat (30/11). Pertemuan itu dihadiri pelaku wisata di Banda Aceh dan pejabat Disbudpar Aceh.

Pada kesempatan itu, Adami mengapresiasi para pelaku wisata yang telah berbuat banyak untuk kemajuan sektor pariwisata, termasuk mendukung Visit Aceh 2013. “Saya sangat berterima kasih atas dukungan dan keinginan semua pihak untuk suksesnya Visit Aceh 2013,” kata Adami.

Dalam pertemuan itu para pelaku wisata menyampaikan berbagai hal menyangkut pengembangan wisata Aceh ke depan. Untuk kenyamanan para tamu, Disbudpar Aceh diharapkan berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama dengan pengurus Masjid Raya Baiturrahman.

“Hendaknya tamu yang nonmuslim ada perlakuan khusus ketika masuk ke kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Sebab, selama ini ada keluhan tentang turis non muslim yang dilarang aral masuk masjid,” kata kata Pipit, pengusaha biro perjalanan wisata di Banda Aceh.

Sementara Alex, Ketua Organda Aceh yang juga Ketua IOF (Indonesia Offroad Federation) mengatakan, selain potensi taman laut, pulau-pulauterluar dan seni budayanya, wisata offroad juga cocokuntuk dipasarkan dalam rangka Visit Aceh Year 2013. Jika ada tamu, Alex mengaku siap menyediakan mobil untuk keperluan tamu tersebut.(sir)

sumber : http://aceh.tribunnews.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Nia Zulkarnaen: Budaya Aceh Layak Difilmkan

Artis nasional Nia Zulkarnaen mengatakan Aceh kaya dengan nilai budaya, pendidikan, perjuangan dan sejarah sehingga layak untuk diangkat dalam film layar lebar.

“Banyak budaya Aceh yang layak difilmkan. Ada Gayo dengan Saman-nya, si Mata Biru di Lamno dan lain-lain. Kita terus melakukan riset, suatu saat Aceh pun kita angkat seperti halnya daerah lain,” kata Nia Zulkarnain dalam diskusi dengan seratusan siswa usai pemutaran film “Serdadu Kumbang” di  ruang Aceh Community Center, Sultan Selim II, Banda Aceh,  Rabu (28/11).

Nia Zulkarnain dan suaminya Ari Sihasale  hadir di Banda Aceh atas undangan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Banda Aceh. Lembaga tersebut  setiap tahun memiliki program “Penanaman Budi Pekerti”, yang salah satunya tujuannya menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Film garapan Nia dan suaminya itu  diputar selama 90 menit. Sebanyak 150 siswa dari berbagai SMA/MA se-Kota Banda Aceh  ikut menonton film keluaran Alenia Pictures  yang  mengangkat cerita anak-anak itu. Pejabat dari Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, guru kelas, dan Kepala BPSNT Banda Aceh Djuniat S Sos  ikut duduk di jajaran depan bersama sang sutradara, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Sesekali suara gelak tawa siswa  menggema menyaksikan adegan-adegan lucu.

Seperti juga beberapa film karya mereka sebelumnya, Serdadu Kembang  yang dirilis pertengahan tahun 2011 lalu menyuguhkan  potret lain, jauh dari ingar-bingar Kota Jakarta.

Film ini mengisahkan tentang anak-anak Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Semua syuting berlangsung di negeri penghasil susu kuda liar itu. Film ini mengangkat tema pendidikan dan budaya. Salah satu pemerannya adalah Amek. Dia merupakan anak bibir sumbing  dan bercita-cita menjadi reporter televisi.

Di balik kekurangannya, Amek  pintar menunggang kuda dan  punya semangat luar biasa.   “Melalui film ini,  kita ingin  mengatakan bahwa pendidikan itu penting sekali. Kita ingin menularkan semangat Amek, supaya menjadi inspirasi bagi anak-anak yang lain. Kalau Amek saja bisa, yang lain pasti lebih bisa,” kata Ari Sihasale.  “Dan di dunia nyata, Amek memang juara kelas setiap tahun,” timpalnya lagi.

sumber : www. aceh.tribunnews.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Cita Rasa Masakan Bebek Gampong Turam

Bicara tentang kuliner kalau ke Aceh itu pasti tak habisnya. Apalagi untuk menikmati makanan khas masing-masing daerah di Aceh pasti punya kesan tersendiri.

Kari sie itek (bebek) Gampong Turam, Peukan Biluy, Kabupaten Aceh Besar mungkin bisa jadi salah pilihan untuk menikmati kuliner ala Aceh Rayeuk tersebut.

Pasalnya, masakan bebek dari gampong Turam ini memang tidak ada nama resmi, malah bagi sebagian pelancong yang ingin menikmati sie itek ini sering menyebut dengan “bebek kuntilanak”. Bukan tanpa alasan, karena untuk menemukan kuliner yang satu ini hanya ada pada malam hari di desa setempat.

“Ayah”, itulah sebutan juru kunci pemilik kuliner sie itek yang hanya buka di malam hari tersebut dari pukul 19.00 WIB sampai menjelang larut malam sekitar pukul 3.00 WIB pagi dan itu pun jika masih tersisa, kadang bisa lebih awal tutupnya.

Maka tidak heran kuliner dengan aroma u teulheu/u neulheu (kelapa gonseng gilingan) ini bisa mendapat julukan bebek kuntilanak. Pasalnya cuma ada di malam hari dan lorong masuk ke rumah si Ayah terkenal cukup seram alias gelap, jadi ada baiknya Anda pergi tidak sendirian, bisa-bisa disambet kunti benaran kesasar.

Gampong Turam, mukim Darul Kamal merupakan salah satu daerah bersejarah para raja-raja ini tidak begitu jauh dari kota Banda Aceh. Anda bisa menempuhnya sekitar 10-15 menit menuju ke lokasi sekitar tempat kuliner Peukan Biluy.

Harga satu piring plus nasi terbilang murah dan meriah. Tapi tunggu dulu, Anda jangan membayangkan tempat ini seperti sebuah warung makan apalagi resto atau cafe, melainkan hanya sebuah rumah warga biasa dengan suasana asli kampung.

Disini kita akan dijamu layaknya bertamu ke rumah seseorang, hitung-hitung Anda bersilaturahmi begitulah suasana untuk menikmati saboh ceupe sie itek (satu piring bebek) dengan beralaskan tikar ala kadar.
Menariknya kuliner ke kampung-kampung seperti ini juga bisa jadi ajang saling berkomunikasi dan berinteraksi bersama masyarakat setempat. Apalagi jika pada jam-jam makan malam, rasanya seperti dinner bersama saudara sekampung.

Menikmati kuliner bebek memang tidak sembarangan, padanan rasa dan aroma memang selalu menjadi daya tarik tersendiri.

Jadi, jika Anda sempat ke Banda Aceh jangan lupa untuk mampir ke Gampong Turam ya dan menikmati sensasi sie itek alias bebek kuntilanak ini. Selamat berjelajah di gampong para raja, Aceh besar
 
sumber : www.seputaraceh.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Friday, 30 November 2012

Aziz: Ingin Sekali Manggung di Aceh

Dengan kaca mata hitam, setelan kemeja serba gelap ditemani oleh sejumlah panitia Piasan Seni, gitaris Jamrud  Aziz Mangasi Siagian atau lebih akrab disapa Aziz Jamrud duduk memesan kopi di warung kopi Solong, Ulee Kareng, Jum’at (30/11) sore.

Tak menunggu lama, minuman kopi pesanannya bersama Robby Freakenstein yang baru tiba di Banda Aceh dari Jakarta langsung diseruput. ”Kopinya menyentuh perasaan,” kata Aziz singkat.

Disela-sela menikmati kopi sore tadi, Aziz pun mengungkapkan keinginannya untuk manggung di Aceh. “Ini momen pertama kalinya saya ke Aceh dan ingin manggung disini, karena ingin lihat bagaimana sambutan penontonnya kalau dipisah,” ungkapnya sembari tersenyum.

Tak hanya itu, Aziz yang juga personel setia dari band rock Jamrud tersebut saat tiba di Aceh merasa senang walaupun belum sempat keliling kota Banda Aceh.

“Kalau di Jakarta penat, tapi begitu tiba disini (Aceh, -red) gak terlalu padat, senang walaupun cuaca sedikit panas tetap merasa damai,” sebutnya lebih lanjut.

Aziz bersama Robby dijadwalkan Sabtu (1/12) besok akan mengisi salah satu agenda acara di Piasan Seni Banda Aceh yang berlangsung di Taman Sari.
 
sumber : www.seputaraceh.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 28 November 2012

Ke Piasan Seni Banda Aceh, Singgah Sebentar di Stasiun Teater Aceh

Berbagai pertunjukan seni bakal digelar di Piasan Seni Banda Aceh 2012 di Taman Sari, Kota Banda Aceh, Rabu 28 November 2012. Pengunjung akan disuguhi dengan beragam penampilan, mulai dari seni lukis hingga seni tari.

Salah satunya, pertunjukan teater di Stasiun Teater Aceh (STA). Di stand seluas sekitar 10 x 6 meter itu terdapat satu panggung mini. Di sanalah nantinya teater dimainkan.

Koordinator Stand STA Mirja Irwansyah kepada ATJEHPOSTcom, mengatakan mereka siap menampilkan seni teater untuk menghibur masyarakat yang berkunjung ke Piasan Seni.

Meski teater belum begitu dikenal masyarakat, kata Mirja, STA akan berusaha membuka pengetahuan masyarakat lewat penampilan mereka nantinya.

"Iya, kita ingin membuka pola pikir masyarakat, bahwa seni itu luas, seni yang dikenal sekarang hanya tari-tarian, padahal teater meruapakan ibu dari segala seni," katanya. STA sendiri merupakan tempat berhimpunnya komunitas teater seluruh Aceh. Berdiri pada 2009 dengan jumlah anggota ratusan lebih.

sumber : www.atjehpost.com (visit now)
Baca Selengkapnya

Cinta Segitiga Wisatawan Terhadap Kota Wisata Aceh


Setelah membaca judul di atas tentang "cinta segitiga" mungkin para pembaca banyak bertanya-tanya apa maksud dari judul tersebut?. Tapi jangan berprasangka negatif dulu, penulis tidak bermaksud untuk membuat pembaca penasaran dan berfikir yang tidak-tidak. Penulis hanya ingin pembaca betah mampir di blog ini, biar tidak lama-lama penasarannya, langsung saja penulis menjelaskannya. Silahkan baca ini dulu
  1. Jawa Tengah merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik wisata budaya dan alam yang beraneka ragam, beberapa diantara daya tarik budaya yang banyak dikenal di Jawa Tengah adalah peninggalan situs-situs purbakala seperti Candi Borobudur, Prambanan dan lain-lain. Bahkan bisa dikatakan hampir seluruh candi-candi besar dan terkenal yang terdapat di Indonesia terletak di jawa Tengah. Selain itu Jawa Tengah juga terkenal dengan wisata peninggalan kejayaan kerajaan Islam dan Jawa berupa bangunan-bangunan Keraton, Mesjid serta Makam Raja-Raja.
  2. Sebagai daerah tujuan Wisata bali telah dikenal sejak lama dengan keindahan alam dan budayanya, dan tentunya Objek wisata bali yang sangat terkenal. para wisatawan yang tour ke bali sangat menikmati keberadaan Objek wisata bali tersebut yang memang ter tata rapi dan bersih. para wisatawan yang tour ke bali bisa menyesuaikan kebutuhan Liburan bali nya dengan memilih objek wisata yang mereka inginkan baik yang bersifat objek wisata alam seperti Jatiluwih, bedugul, objek wisata budaya seperti pura besakih, Tanah lot dan objek wisata modern seperti taman safari bali tentunya mereka tidak akan kehilangan moment saat Liburan di bali 
  3. Aceh memiliki sejuta pesona yang tak kalah menarik dari kota wisata lainnya. Sebagai salah satu serpihan tanah surga Aceh ditaburi oleh banyaknya tempat-tempat wisata yang sangat indah yang seolah-olah menyambut baik para wisatawan dari dalam negri maupun luar negri. Selain itu Aceh dihiasi dengan budaya yang elok dan menarik dan di"sedapi" dengan aneka kuliner yang super lezat. Aceh kini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan untuk berkunjung. Rasa nyaman dan nyaman menjadi alasan utama para wisatawan mengunjungi Aceh.
Maksud penulis ialah Aceh sekarang menjadi daerah/kota wisata yang sangat dicintai para wisatawan. Penulis menilai bahwa wisata Aceh sekarang berdiri sejajar dengan wisata Bali dan Jawa Tengah. Sehingga para wisatawan akan cinta terhadap ke tiga kota wisata yang sangat luar biasa tersebut. Kita juga harus mensyukuri atas anugrah yang diberikan oleh Tuhan YME, dalam hati penulis sangat berharap bahwasanya Wisata Aceh-lah yang menjadi "cinta pertama" para wisatawan.
Baca Selengkapnya

Tuesday, 27 November 2012

Wali Band "Cari Jodoh" di Aceh

Group band asal Ciputat Wali, dijadwalkan akan tampil di Lhokseumawe dan Aceh Utara hari ini, Rabu, 28 November 2012.

Informasi yang diterima dari pihak event organizer Numero Sanido Adie Marwan, mengatakan jika Wali telah sampai di Kota Petro Dollar sejak kemaren pagi. Sebelum tampil Wali yang digawangi Faank (vokalis), Apoy (Gitaris), Tomi (Drum), Ovie (Keyboardist) dan  Nunu (bassis), akan mengunjungi salah satu pesantren yang ada di Kota Lhokseumawe.

“Sebelum nampil, Wali dijadwalkan memberi bantuan kepada sejumlah anak yatim yang ada d isalah satu pesantren di Lhokseumawe. Setelah salat Ashar baru mereka tampil,”kata Adi, Selasa, 27 November 2012

Konser band Wali, rencananya diadakan di Lapangan Jenderal Sudirman, Banda Sakti, Lhokseumawe dan akan berlangsung pada pukul 16.30 WIB.
 
sumber : www.atjehpost.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Edwin Super Bejo: Aceh Sangat Layak Untuk Dikunjungi

Sebagai putra daerah Aceh,  Edwin Super Bejo mengatakan bahwa Aceh  sangat layak untuk di kunjungi. Untuk membuktikan bahwa Aceh benar-benar aman dan layak dikunjungi terutama makanannya, dia mengajak temannya di kalangan artis pergi ke sana.

"Dulu pernah ngajak teman artis ke Aceh biar mereka tahu Aceh memang layak dikunjungi apalagi dalam segi makanannya, warung kopi aja ada wifinya. Pokoknya benar-benar aman. Sekarang ini Aceh sudah kayak Bali lah ada surfing, ombaknya bagus," ujarnya saat ditemui di Balairung Sapta Pesona, Kementrian Budaya dan Pariwisata, Jakarta Pusat,.Lebih lanjut Edwin mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah di Aceh baik dari pemberontakan ataupun konflik yang sebelumnya terjadi di sana.

"Sekarang sudah nggak ada pemberontakan, nggak ada lagi saling curiga, nggak ada lagi jam malam. Sekarang kan sudah aman deh. Buktinya Menteri Pariwisata aja sekarang lagi menggalakkan Aceh sebagai tempat pariwisata," terangnya.

Sebelum tragedi tsunami 2004 di Aceh, tengah bergejolak gerombolan pemberontak yang ingin memproklamirkan Aceh merdeka serta lepas dari Indonesia. selepas konflik tersebut banyak turis asing yang datang ke sana. Menurut artis yang lahir dan besar di Aceh, para turis asing bersedia ke sana karena adanya keyakinan dari pemerintah.

"Pokoknya tanpa ada trust bagaimana daerah bisa maju," pungkasnya. 
sumber : www.paketwisataaceh.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Teuku Wisnu: Suasana Aceh Sangat Indah dan Aman

Sebagai seorang artis Teuku Wisnu masih memiliki darah keturunan dari Aceh, Teuku Wisnu tentu bangga dengan keindahan alam yang ada di tanah leluhurnya tersebut. Selama ini fokus wisata yang di Indonesia masih di Bali, dengan adanya event ini tentu harapannya wisata tidak hanya berpusat di Bali. "Ini kan acara Visit Aceh 2013. Disini kita tau semua keindahan di Indonesia itu banyak sekali. Banyak tempat pariwisata yang bisa dikunjungi. Cuma di dunia lebih dikenal Bali. Bahkan orang Indonesia sendiri mengenalnya Bali itu adalah tempat yang harus dikunjungi," ujar Wisnu ketika ditemui di Balairung Sapta Pesona, Kementerian Budaya dan Pariwisata, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.

Wisnu berharap semua orang tahu bahwa Aceh adalah tempat yang indah. Banyak objek wisata yang indah dan bisa dikunjungi di Aceh.

"Tapi mudah-mudahan semua orang tau bahwa Aceh adalah tempat yang indah dan aman untuk dikunjungi karena saya juga pernah tinggal di Aceh, dari kelas 2 SD sampai 2 SMP. Mungkin banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi misalnya pantai Lhok Nga, pulau Sabang, pulau We, Masjid Baiturrahman," ucapnya.

"Dari acara ini mungkin semua sadar, semua tau bahwa di Aceh banyak sekali tempat wisata. Mungkin ada yang mau berkunjung ke sana, di sana aman, tenteram, sudah mulai maju. Dan di sana banyak tempat-tempat yang indah," pungkas Wisnu.

sumber : www.paketwisataaceh.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Sunday, 25 November 2012

Puluhan Warga Banda Aceh Meriahkan Seudati Massal di Car Free Day


Puluhan masyarakat Kota Banda Aceh mengikuti tari Seudati massal di acara car free day di kawasan Simpang Lima Banda Aceh, Minggu, 4 November 2012.

Tari Seudati massal ini dimulai sekitar pukul 07.30 wib pagi dan merupakan yang pertama digelar di Banda Aceh dan rencananya akan digelar setiap hari Minggu di acara yang sama.

“Sangat bagus dengan adanya kegiatan ini para pemuda dan masyarakat dapat mengenal budaya Aceh,” ujar Rizal, salah satu peserta.

Rizal merupakan pendatang asal Medan, Sumatera Utara yang sengaja datang ke acara itu untuk mengikuti Seudati massal tersebut. Menurut Rizal anak-anak muda Aceh sebenarnya sangat inspiratif, hanya saja inspirasi mereka masih belum tersalurkan secara optimal.

Tari Seudati massal ini sengaja digagas oleh beberapa seniman Aceh untuk mengantisipasi masuknya arus budaya luar yang dirasa semakin parah. Beberapa waktu lalu kepada The Atjeh Post, Morenk Boledro mengatakan bahwa budaya-budaya Aceh sebenarnya juga tak kalah dengan budaya lainnya, hanya saja sosialisasinya tak segencar budaya luar.

sumber : atjehpost.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 22 November 2012

d’Masiv dan Armada Gelar Tour di Aceh

Kedatangan grup band ternama asal Jakarta, d’Masiv dan Armada dalam agenda Tour ke Aceh mendapat sambutan hangat. Aksi tour ke Aceh kedua grup band ini melakukan konser perdananya secara langsung di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara.

“Kehadiran grup band d’Masiv dan Armada itu mendapat sambutan hangat dan antusiasme yang luar biasa dari segenap masyarakat Agara,” kata Ketua Panitia lokal Ramadhan ST MM, Rabu (21/11) seperti dilansir Berita Sore.

Selain konser di Aceh Tenggara, pada Rabu (21/11) malam nanti pukul 20.00 WIB yang bertempat di Stadion H Syahadat Kutacane, kedatangan grup band dari Jakarta itu juga sempat menarik perhatian banyak masyarakat di sekitar Desa Biak Muli Kecamatan Bambel Agara, saat grup band itu secara simbolis menyerahkan bantuan dan silaturrahmi ke Panti Asuhan Tunas Murni.

“Penyerahan bantuan kepantai asuhan Tunas Murni secara simbolis diserahkan grup band d’masiv serta didampingi grup band Armada,” jelas Ramadhan juga merupakan Sekretaris MPW Pemuda Pancasila Kabupaten Aceh Tenggara.

Ramadhan juga menjelaskan penyerahan bantuan yang dilakukan grup band d’Masiv dan Armada itu merupakan bantuan pribadi dari kedua band tersebut.

Acara Tour Aceh dan konser di Aceh Tenggara yang dilakukan d’Masiv dan Armada itu persiapanya dikoordinir dari seluruh tim manajemen kedua band tersebut dari Jakarta, Kota Medan dan tim lokal dari Kabupaten Aceh Tengggara.

Lebih lanjut Ramadhan juga berharap agar peran serta pemuda Aceh Tenggara dalam menjaga keamanan dan ketertiban saat berlangsungnya konser ini sangatlah penting. Kedepan diharapkan para organisasi kepemudaan di Agara juga dapat melaksanakan berbagai even hiburan yang memang dirasakan bermanfaat bagi segenap masyarakat Aceh Tenggara
 
sumber : http://atjehpost.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 21 November 2012

Ulee Lheue, Pesona Indah di Hempasan Tsunami

Pantai Ulee Lheue, Aceh, merupakan kawasan wisata yang terkena dampak parah saat tsunami 2004.  Meski sempat meluluhlantakkan hampir seluruh desa ini, Pantai Ulee Lheue tetap memancarkan pesona indah.

Pada 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada pukul 07.58 WIB. Pusat gempa terletak pada kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.

Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter ini disebut terdahsyat dalam kurun 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Gempa yang mengakibatkan ombak tsunami setinggi 9 meter ini menewaskan sekira 230.000 penduduk di delapan negara. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.

Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Di Indonesia, gempa menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra. Di Banda Aceh, sekitar 50 persen bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatra Utara.

Salah satu wilayah yang paling parah terkena bencana tsunami adalah Ulee Lheue, sebuah desa kecil di Kota Banda Aceh. Ulee Lheue terletak di tepi pantai, sehingga ketika tsunami menghempas, hampir seluruh desa ini ditelan ombak tingginya.

Ulee Lheue memiliki sebuah pelabuhan yang menjadi jalan bagi para wisatawan mencapai Pulau Weh di ujung Pulau Sumatra. Untuk mencapai Pulau Weh, wisatawan dapat menggunakan kapal motor cepat Pulo Rondo dengan tarif Rp50 ribu.

Sepanjang perjalanan menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Anda dapat melihat banyak rumah dan bangunan yang hancur akibat tsunami. Banyak pembangunan yang dibuat oleh lembaga bantuan asing, namun kawasan ini belum cukup ramai dengan penduduk. Mereka masih trauma dengan musibah tsunami.

Meski begitu, Pantai Ulee Lheue masih terlihat begitu cantik pascatsunami. Bila air surut, akan nampak karang-karang di perairannya, dan di kejauhan terlihat panorama bukit yang asri. Di kejauhan ada pula menara mercusuar setinggi 100 meter yang terlihat hancur, menyisakan tiangnya saja.

Pascatsunami, kawasan Ulee Lheue dibenahi oleh pihak Pemerintah Kota Banda Aceh dengan membangun tanggul pengaman dan jalan dua jalur yang menghubungkan Banda Aceh menuju pelabuhan penyeberangan. Bila malam hari lampu warna-warni menghiasi indahnya kawasan ini.

Pantai Ulee Lheue juga mempunyai wahana permainan air yang bisa membuat anak-anak bermain dengan ceria. Ulee Lheue sejak zaman dahulu telah menjadi situs penting bagi masyarakat Banda Aceh, baik sebagai tempat rekreasi maupun sebagai pelabuhan penting.

Panorama di pantai Cermin Ulee Lheue ini amat memikat. Siang hari bagaikan lukisan alam berupa teluk yang dihiasi barisan pegunungan di sebelah selatan serta pulau-pulau kecil di kejauhan, tak kalah cantik saat matahari terbenam.

Pengunjung Cermin Ulee Lheue selain dapat menimati keindahan suasana pantai yang berair tenang, bisa juga memancing ikan karang seperti ikan kerapu atau rambe. Atau bahkan bagi para fishing addict, Anda bisa koordinasi dengan nelayan setempat untuk meminjam atau menyewa perahu dan memancing ke laut. 

sumber : http://travel.okezone.com (visit now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 13 November 2012

“City Tour Free” Siap Awali Kemeriahan Visit Aceh 2013


Kemeriahan malam pembukaan Visit Aceh 2013 baru saja berlalu Senin (12/11) malam, penabuhan rapai secara simbolis menjadi tanda diresmikannya tahun kunjungan ke Aceh.Bertempat di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, sejumlah atraksi seni dan kuliner dari Aceh dipamerkan, selain itu pameran Visit Aceh masih berlangsung hingga 14 November nanti.

Ada sejumlah kegiatan menarik dari program Visit Aceh 2013, beberapa diantaranya akan digelar berbagai kegiatan (major event) untuk tahun depan, seperti wisata air (diving) yang mengambil lokasi di Sabang, Kompetisi Rafting International di Sungai Alas (Aceh Tenggara), dan Tour de Aceh Bicycle di Banda Aceh.
Tidak ketinggalan juga untuk Aceh wilayah pesisir barat dan selatan, acara surfing level internasional pun akan digelar di Pulau Simeulue. Sementara event tahunan dengan nuansa religi ada seminar Tauhid Tasawuf International yang nantinya bertempat di Bumi Tasawuf, Aceh Selatan.

Sementara di Kabupaten Aceh Tengah yang dikenal ‘Bumi Gayo’ juga akan mempersiapkan rangkaian multi event, seperti Festival Danau Lut Tawar, Pacuan Kuda Tradisional, Gebyar Seni Budaya Gayo, dan yang tidak ketinggalan minum kopi massal cita rasa dataran tinggi.

Untuk gebrakan awal tahun 2013, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga akan memberikan jemputan gratis bagi wisatawan yang datang tanggal 1 Januari 2013 dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda ke Kota Banda Aceh selama satu minggu.

Namun, yang menariknya bagi wisatawan baik dalam dan luar negeri yang tepat datang tanggal 1 Januari, pihak Disbudpar Aceh juga akan memberikan layanan “City Tour Free” untuk mengunjungi sejumlah tempat-tempat wisata yang ada di Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Menarik bukan? sudah siap Anda untuk berkunjung ke Aceh. Ya, ini dia “Aceh Fantastic Destination” untuk Anda datangi.
sumber : www.seputeraceh.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Ada 800 Destinasi Wisata Menarik di Aceh

Pemerintah Provinsi Aceh meluncurkan program Visit Aceh 2013 untuk mendorong pertumbuhan industri pariwisata di wilayah itu. Gubernur Provinsi Aceh Zaini Abdullah mengatakan daerahnya memiliki sekitar 800 destinasi wisata untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

“Kami menyiapkan banyak pilihan wisata, seperti alam, bahari, religi, dan budaya. Kami juga mengembangkan wisata peninggalan tsunami sebagai daya tarik,” katanya di Jakarta, Senin malam (12/11).
Pemerintah, lanjutnya, berupaya membangun infrastruktur dan sarana pariwisata sebagai nilai tambah. Zaini mengatakan pihaknya juga sedang menyusun agenda pariwisata sepanjang 2013 untuk memudahkan wisatawan.

“Aceh tidak anti orang luar dan tidak suka kekerasan. Oleh karenanya, kami berkomitmen mengembangkan pariwisata,’tegas Gubernur. 
 
sumber : www.seputaraceh.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Aceh Dihiasai Dengan Indahnya Keanekaragaman Biota Laut

Adanya program tahun kunjungan ke Aceh diharapkan mampu menyebarluaskan informasi pariwisata di Aceh kepada wisatawan dunia untuk mampu melihat potensi yang ada saat ini. Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam pembukaan Visit Aceh 2013, di Jakarta, Senin (12/11) juga menyebutkan potensi yang ada di Aceh saat ini mulai dari keanekaragaman laut sampai eksotisme hutan tropis.

“Keanekaragaman biota laut serta eksotisme hutan tropis Aceh saat ini salah satu aset sebagai paru-paru dunia,” ujarnya. Dsamping itu Zaini menyebutkan adanya Syariah Islam juga menjadikan Aceh sebagai salah satu destinasi religi terbesar di Asia Tenggara.

sumber : www.seputaraceh.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Monday, 12 November 2012

Grup Saman Rempelis Mude Meriahkan Launching Visit Aceh 2013

Kemeriahan Lauching "Visit Aceh 2013" yang dilaksanakan Senin, 12 November 2012, di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta disemarakkan oleh beberapa pertunjukan seni dari Aceh. Salah satunya adalah pertunjukan tari Saman dari Gayo Lues.

Grup Saman yang akan tampil dalam pementasan tersebut adalah Rempelis Mude, salah satu grup Saman binaan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues.

Alimuddin, salah satu anggota dari Rempelis Mude mengatakan mereka mementaskan tarian Saman di Gedung Hold Sapta Pesona Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta. Pementasan dilakukan pukul 19.00 wib, di depan Menteri Pariwisata dan para pejabat lainnya.

"Dalam tim, kami membawa 15 orang penari yang akan tampil dan 1 orang koordinator, Syafruddin," kata Alimuddin yang dihubungi melalui selularnya, Senin pagi 12 November 2012.

Pada saat dihubungi Alimuddin dan anggota penari lainnya dari Rempelis Mude sudah berada di Jakarta. Mereka berangkat Minggu, 11 November 2002, pukul 12.00 wib, melalui bandara Polonia Medan. Sebagai kelompok yang berada dari daerah asal Saman, Rempelis Mude termasuk salah satu grup Saman Gayo yang telah dikenal oleh nasional dan beberapa kali tampil dalam pentas internasional.
 
Peluncuran Visit Aceh 2013 juga dihadiri oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan seluruh bupati dan walikota dari seluruh kabupaten kota yang ada di Aceh.
 
sumber : www.atjehpost.com (visit website now)
Baca Selengkapnya

Saturday, 10 November 2012

Jal Debus Sangat Antusias dengan Piasan Seni

Salah satu seniman atraksi debus Aceh, Nazaruddin atau lebih akrab disapa Jal Debus memberikan apreasiasi dan dukungan dengan adanya Piasan Seni Banda Aceh 2012 yang tidak lama lagi akan digelar. “Saya sangat antusias terhadap acara seperti piasan seni ini” pungkasnya singkat di Banda Aceh, Jum’at (9/11).

Jal Debus menyebutkan, kegiatan piasan seni janganlah menjadi acara seremonial perdana saja, sebaiknya bisa menjadi agenda pergantian kalendar tahunan kedepannya.“Dengan adanya kegiatan seni semacam ini ada harapan ke depan akan tumbuh dan berkembangnya seniman-seniman muda di Aceh untuk lebih berani berkiprah dijalur kesenian yang digelutinya,” ujarnya.

Nazaruddin yang juga aktif sebagai anggota RAPI Aceh JZ 01 BZD tidak saja dikenal sebagai “Debus Man”, atraksi ekstrim debus Aceh ini telah membawa namanya dikenal sampai ke mancanegara, seperti Venezuela, dan Pulau Solomon.

Sampai saat ini Jal Debus juga tercatat sebagai satu-satunya putra asal Aceh yang tergabung dalam Pesuratan Polinesia, salah satu organisasi penulis rumpun Austronesia.
sumber : www.seputaraceh.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Disbudparpora Simeulue Gelar Pameran Pariwisata

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Simeulue, menggelar pameran potensi usaha dalam bidang pariwisata, kerajinan, seni budaya daerah dan festival nandong, di Gedung Seni Budaya (GBS) Simeulue sejak 9-13 Nopember 2012. Dalam kegiatan yang oleh Bupati Simeulue, Drs Riswan NS dan turut dihadiri para Muspida itu ditampilkan berbagai macam hasil kerajinan tangan masyarakat Simeulue.

Kadis Disbudparpora, Ir Sukoco Erwan, pada kesempatan itu mengatakan, tujuan dari kegiatan tersebut yakni dalam rangka promosi potensi usaha di bidang pariwisata, kegiatan kewirausahaan anak-anak remaja di bidang kerajinan tangan, sekaligus sosialisasi kepada masyarakat tentang peluang usaha ekonomi kerakyatan.

Menurut Sukoco, sebanyak 20 stand dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta ikut serta meramaikan kegiatan itu dan masing-masing stand memperkenalkan hasil karyanya tersendiri. Berdasarkan amatan Serambi di lapangan, pada pembukaan hari pertama kegiatan tersebut ratusan pengunjung memadati lokasi pameran yang dipusatkan di GSB Jalan Baru, Kota Sinabang.

sumber : http://aceh.tribunnews.com (Visit Website Now)
Baca Selengkapnya

Friday, 9 November 2012

LASQI Aceh Siap Ramaikan Piasan Seni 2012

Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Aceh yang merupakan salah satu lembaga seni di Aceh juga akan turut ramaikan kegiatan Piasan Seni Banda Aceh 2012.

Hal ini, terlihat dari persiapan grup LASQI Aceh yang sejak kemarin lusa (8/11) sudah mulai latihan di area Taman Budaya, Banda Aceh.

“Kemarin grup LASQI sempat tampak sedang melakukan sejumlah kegiatan dan latihan di Taman Budaya, mereka menyatakan telah siap meramaikan acara Piasan Seni Banda Aceh tahun ini kepada kami (panitia, -red),” jelas salah satu panitia Piasan Seni Mahrisal, Jum’at (9/11).

LASQI Aceh sendiri banyak menoreh prestasi dalam berbagai ajang seni, baik tingkat lokal sampai luar negeri dan salah satunya berhasil menyabet juara III di Festival Folkdance Festival, Turki.
 
sumber : www.seputaraceh.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Friday, 2 November 2012

Ini 54 Nama Permainan Tradisional di Aceh

Sebanyak 54 nama olahraga dan permainan tradisional yang ada di Provinsi Aceh dirangkum oleh Drs. Asli Kesuma, salah seorang narasumber pada seminar Permainan Rakyat yang digelar di Banda Aceh, 3-4 September 2012 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh.

Ke-54 nama-nama olahraga dan permainan rakyat yang tumbuh dari 7 suku bangsa di Aceh (Aceh pesisir, Gayo, Alas, Melayu Tamiang, Jamee, Simeulue, dan Kluet) tersebut antara lain :
  1. Meuen Galah
  2. Geulayang Teunang
  3. Silat Pelintau
  4. Gatok (Katok)
  5. Lomba Perahu Tradisional
  6. Geudeue-Geudeue
  7. Panca
  8. Gasing
  9. Sipak Raga
  10. Galumbang
  11. Geunteut (Engrang)
  12. Patok Lele
  13. Sepangkal
  14. King-kingan
  15. Tempi
  16. Auh-auh
  17. Bebilun
  18. Cebunih
  19. Gegeli
  20. Merimueng-rimueng
  21. Menduwo
  22. Meukrueng-krueng
  23. Somsom Batee
  24. Meuheneb
  25. Nebang Kayu
  26. Leteb
  27. Lehong
  28. Daboih
  29. Nandong
  30. Jejorosen
  31. Berenep Empan
  32. Berkekuren
  33. Pacu Kude
  34. Bebaningen
  35. Kededes
  36. Asak-asakan
  37. Lelumpeten
  38. Kude Mandi
  39. Pangkal
  40. Dukung
  41. Gedung Skupang
  42. Pak Kemiri
  43. Terompah Bambu dan batok
  44. Beciken
  45. Rangkam
  46. Pepilo
  47. Cek Meng
  48. Cengkerek
  49. Teng-teng Iyek
  50. Berkekucingen
  51. Itik-itiken
  52. Merah Mege
  53. Inen Maskerning
  54. Atu Belah
Asli Kesuma meyakini masih banyak olahraga dan permainan rakyat yang belum terinventaris dan kepada peserta dia berharap agar segera melakukan pendataan sebelum hilang tergerus zaman modern. Selain itu, dia juga menyatakan hanya sedikit dari olahraga dan permainan tersebut yang sudah mempunyai catatan tentang standar operasinal (SOP). “Mari kita data kembali nama-nama permainan rakyat tersebut dan melakukan pencatatan tentang cara atau aturan teknis permainannya,” himbau Asli Kesuma.
 
Menanggapi data tersebut, secara terpisah salah seorang peserta seminar yang menjabat sebagai Ketua Harian Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Aceh Tengah menyatakan sudah melakukan pendataan permainan rakyat Gayo namun kedepan akan lebih intensif lagi. “Kita sudah melakukan pendataan namun masih banyak yang belum terdata. Dalam waktu dekat ini kita akan data kembali permainan tradisional rakyat Gayo dan kita berharap mendapat dukungan dari semua pihak agar data tersebut dapat dibukukan dan dijadikan sebagai muatan lokal bagi siswa di Gayo,” ujar Khalisuddin.Pengakuannya, FORMI Aceh Tengah yang terbentuk setahun lalu bekerjasama Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan sejumlah pihak termasuk media Lintas Gayo sudah melakukan berbagai upaya melestarikan permainan rakyat Gayo seperti menggelar lomba Gasing di Pegasing Aceh Tengah, pertunjukkan Ketibong di sungai Peusangan dan tahun 2012 ini dalam menyongsong Festival Danau Lut Tawar 2013 direncanakan akan menggelar sejumlah lomba permainan tradisional

“Dalam pendataan dan acara perlombaan permainan rakyat nantinya, kami berharap dukungan masyarakat Gayo untuk berpartisifasi serta memberikan informasi sebanyak-banyak,” harap Khalisuddin.
 
 
 sumber : www.lintasgayo.com
Baca Selengkapnya

Festival Kopi Tampilkan Jeungki Penumbuk Kopi



Ada yang menarik di ajang Aceh Food and Coffee Festival (AFCF) 2012 kali ini. Festival yang diagendakan menjadi kegiatan tahunan di Kota Banda Aceh ini, kali ini tidak hanya menampilkan kopi utuh siap minum, melainkan juga kisah mengolah bebijian kopi hingga menjadi biji kopi siap minum.
Di arena festival di tampilkan juga alat penumbuk biji kopi tradisional, bernama Jeungki. Jeungki adalah sejenis lesung penumbuk kopi yang terbuat dari batang kayu. Tak ayal, banyak pengunjung yang tertarik melihat Jeungki bahkan berfoto sambil bergaya menumbuk kopi.

"Dahulu, hampir di semua rumah di Aceh memiliki Jeungki, karena alat ini diperlukan untuk menumbuk, apakah itu menumbuk kopi ataupun menumbuk beras, dan saat ini nyaris tidak kita temukan lagi," jelas Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, saat membuka Aceh Food and Coffee Festival (AFCF) 2012, Rabu malam (31/10/2012).

Disebutkan Mawardy Nurdin, duduk dan ngobrol di warung kopi memang menjadi kebiasaan masyarakat Aceh. Di warung kopi masyarakat bisa membicarakan suatu masalah seperti sosial, keagamaan dan politik, hingga berjam-jam, sehingga Aceh terkenal dengan kopinya.

"Mungkin ini kebiasaan kurang baik, yang menyebabkan warga menjadi tidak produktif karena kebanyakan ngobrol. Tapi kondisi ini menjadi berbeda sekarang, karena warung kopi kini lebih dimanfaatkan untuk berdiskusi, belajar hingga berbisnis. Apalagi semua warung kopi kini dilengkapi sarana internet nirkabel, sehingga pengunjung bisa browsing mulai dari bahan pelajaran bagi siswa dan mahasiswa hingga keputusan bisnis bagi pelaku usaha," jelas Mawardy.

Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo, Mustafa Ali mengatakan, budaya mengolah kopi secara tradisional kini mulai terkikis dengan kemajuan teknologi."Untuk itu, budaya menumbuk pakai Jeungki ini harus dilestarikan dan dipertahankan, karena hanya ini saja yang membuat kopi Aceh itu menjadi khas dan berbeda," katanya.

Festival kopi yang diisi oleh 37 stand itu berlangsung hingga tanggal 4 November 2012. Festival yang digelar untuk kedua kalinya itu juga menampilkan aneka makanan khas Aceh, termasuk demo masak makanan khas Aceh dan kuah beulangong alias gulai kari daging kambing.

sumber : http://regional.kompas.com
Baca Selengkapnya

Adu 'Balapan Kupi' di Festival Kopi Aceh


Wali Kota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin MEngSc, tadi malam, membuka Aceh Food and Coffee Festival (AFCF) 2012 yang digelar di Taman Sari Banda Aceh. Salah satu agenda dalam kegiatan yang berlangsung mulai 31 Oktober hingga 4 November itu, adalah “Balap Kupi” atau lomba minum kopi panas.

Informasi yang diperoleh Serambi dari panitia, AFCF 2012 diikuti 37 pengusaha kopi dari berbagai daerah di Aceh. Jika pada AFCF 2011, kopi dan kuliner khas Aceh hanya dijadikan pengisi stan pameran, tahun ini beberapa konten acara sengaja dibuat untuk mengangkat cita rasa kopi Aceh dan masakan tradisi.

Salah satunya adalah lomba minum kopi panas (Balap Kupi). Lomba ini akan diikuti oleh peserta dari perusahaan-perusahaan pengguna Jamsostek dan antarkomunitas ngopi di Aceh. Selain itu, juga ada demo masak kue khas aceh, pesta kue tradisional, khanduri kuah sie kameng (kenduri gulai kambing) dan workshop masakan tradisi lainnya.

Untuk lomba minum kopi panas ini, sesuai jadwal yang sudah ditentukan panitia, akan dilaksanakan pada Sabtu (3/11) pukul 11.00-12.00 WIB dan Minggu (4/11) pukul 16.00-18.00 WIB. 

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, saat membuka AFCF 2012 mengatakan, sebagai bentuk apreasi terhadap produsen dan pengusaha kopi di Aceh, ia melibatkan banyak pengusaha kopi yang terlibat langsung, baik sebagai pedagang, eksportir, pengusaha bubuk kopi hingga pengusaha warung kopi seluruh Aceh.

Di samping melibatkan pengusaha, katanya, sebagai bentuk edukasi tentang kopi juga menghadirkan cupping test (ahli citarasa kopi) yang sudah memperoleh sertifikat dari luar negeri, Barista Workshop (standarisasi rasa kopi), Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), Forum Kopi Aceh (FKA) dan 30 pengusaha dari Malaysia, Festival Kopi dan Kuliner Aceh itu digelar untuk menyambut Visit Aceh Year 2013.

Di sisi lain, Ketua MPKG, Drs Mustafa Ali mengatakan, pada acara lelang kopi di Kota Denpasar, Bali, beberapa tahun lalu, Kopi Arabika Gayo berhasil meraih nilai tertinggi yang memiliki citarasa prima melalui test cup (uji citarasa) yang diikuti oleh produsen kopi dunia dan seluruh produsen Kopi Spesialty di Indonesia.

“Kopi Gayo Spesialty berhasil meraih juara pada lelang kopi di Privinsi Bali dua tahun lalu,” ujar Mustafa Ali yang juga Ketua Forum Kopi Aceh.(min/sar/saf)

Dibuka dengan Jeungki
PADA pembukaan Aceh Coffee and Food Festival 2012, Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin membuka even itu dengan menginjak Jeungki atau Lesung sebagai alat penumbuk kopi pada masa lalu. Alat tumbuk kopi tradisional itu sudah disiapkan di depan panggung utama dengan bahan kayu mirip jeungki asli.

Jengki atau jingki adalah alat penumbuk kopi atau padi yang digunakan masyarakat Aceh pada masa lalu sebelum mengenal alat giling modern (mesin penggiling). Pada lokasi festival, puluhan outlet warung dengan berbagai merek menyediakan minuman kopi dengan berbagai pilihan rasa, seperti Kopi Latte, Americano, Black Coffee, Espresso dan berbagai nama dengan citarasa yang berbeda.(min)

Prospek Bisnis Menjanjikan
PENGAMAT Kopi di Banda Aceh, Muhammad Nur H ABD ABS, mengatakan prospek bisnis kopi di Aceh masih menjadi lahan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan profesional.

Menurutnya, tren penikmat kopi di Aceh sudah berubah seiring perkembangan. Dulu penikmat kopi hanya mengenal kopi racikan tradisonal berbahan baku Kopi Robusta. Sekarang sebagian penikmat kopi beralih ke Kopi Original (Pure Coffee), kopi yang diroasting (gongseng) tanpa campuran. Umumnya menggunakan bahan baku Kopi Arabika.

“Perkiraannya sekarang ada sekitar 40 persen penikmat kopi sudah beralih ke kopi original, walau juga tanpa meninggalkan kopi tradisional,” kata pengusaha Warung Kopi Rumoh Aceh ini.

Dia sebutkan pihaknya terus melakukan upaya edukasi kepada generasi muda tentang berbagai informasi kopi original sehingga dapat menarik minat investor atau pembeli melirik pangsa pasar kopi Aceh. M Nur juga menilai penyelanggaraan AFCF 2012 langkah strategis dalam upaya memperkenalkan cita rasa kopi dan kuliner tradisional khas Aceh kepada masyarakat luas.

sumber : http://aceh.tribunnews.com
Baca Selengkapnya

Banda Aceh Gelar Festival Kopi


Pemkot Banda Aceh menggelar festival kopi dan kuliner khas dengan tujuan meningkatkan citra positif daerah melalui promosi serta menumbuhkan rasa cinta terhadap produk lokal.

"Festival kopi dan kuliner khas Aceh telah menjadi agenda tahunan dan kami optimistis akan menyedot banyak kunjungan," kata Kepala Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh Reza Fahlevi di Banda Aceh, Rabu (31/10/2012).

Kegiatan wisata itu selama lima hari terhitung sejak 31 Otober 2012, dan dipusatkan di Taman Sari atau pusat kota berpenduduk hampir 300 ribu jiwa tersebut. Festival itu juga bertujuan meningkatkan semangat wirausaha para pengusaha lokal untuk terus mengembangkan usaha berbasis kopi dan kuliner khas Aceh.

Reza Fahlevi menambahkan, festival yang telah dilaksanakan dua kali itu mengusung tema "Sajian Kutaradja, Citarasa Dunia" dan kegiatan tersebut antara lain meliputi pameran kopi dan kuliner khas Aceh dengan sebanyak 38 peserta.

"Para peserta itu tidak hanya terbatas ditingkat lokal (Aceh) tapi juga luar Aceh yakni pengusaha warung kopi tradisional, coffee roaster, petani dan perajin kopi, cupper, pengusaha makanan, distributor dan pengusaha kopi," kata dia menambahkan.

Ia menjelaskan, masyarakat Aceh sangat lekat dengan budaya minum kopi (ngopi). Namun secara umum tidak banyak yang mampu mengenali cita rasa khas kopi Aceh. 

Oleh karena itu, melalui kegiatan tersebut maka diharapkan para pengunjung, terutama masyarakat Aceh dapat mengenali cita rasa khas sehingga semakin cinta terhadap produk kopi daerah ini. 

Festival itu juga dihadiri para ahli dengan sertifikasi internasional yang tujuannya meningkatkan pengetahuan pengunjung, khususnya masyarakat Aceh terkait dengan proses tanam, panen, pengolahan, sampai penyajian kopi yang baik. 

"Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keahlian para barista lokal maka  digelar sesi pembelajaran tentang cara menguji cita rasa khas kopi termasuk juga barista workshop bagi penyajian kopi yang lebih baik dan indah," kata Reza Pahlevi.

sumber : http://travel.kompas.com
Baca Selengkapnya

Wednesday, 31 October 2012

Mengenang Bireuen (ACEH) Sebagai Ibukota RI

"Walau hanya seminggu, Bireuen pernah menjadi ibukota RI yang ketiga setelah Yogyakarta dan Bukittinggi jatuh ke tangan penjajah dalam agresi kedua Belanda. Namun sayangnya fakta sejarah itu tidak pernah tercatat dalam sejarah Kemerdekaan RI. Sebuah benang merah sejarah yang terputus...
 
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendopo Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa nyana, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah,di sana pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno.

Kedatangan presiden pertama RI itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen,yang relatif aman. Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota. Pesawat udara khusus yang dipiloti Teuku Iskandar itu, mendarat dengan mulus di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.

Kedatangan rombongan presidendi sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu.

Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu mukadan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasaikembali Sumatera Timur(Sumatera Utara) sekarang.


1. Bireuen Sebagai Kota Juang

Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen aktivitas Republik dipusatkan di Bireuen. Dia menginap dan mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera, Langkat dan tanah Karo, di Kantor Divisi X (Pendopo Bupati Bireuen sekarang). Jelasnya, dalam keadaan darurat, Bireuen pernah menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta ke dalam kekuasaan Belanda. Sayangnya catatan sejarah ini tidak pernah tersurat dalam sejarah kemerdekaan RI.


2. Tugu Batee Kureng

Memang diakui atau tidak, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen pada khususnya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Perjalanan sejarah membuktikannya. Di zaman Revolusi 1945, kemiliteran Aceh dipusatkan di Bireuen.Di bawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef berkedudukan di Bireuen. Pendopo Bupati Bireuen sekarang adalah sebagai kantor DivisiX dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef. Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai “Kota Juang”.

Kemiliteran Aceh yang sebelumnya di Kutaradja, kemudian dipusatkan di Juli Keude Dua (Sekitar tiga kilometer jaraknya sebelah selatan Bireuen-red) di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel HusseinJoesoef, yang membawahi Komandemen Sumatera, Langkat danTanah Karo. Dipilihnya Bireuen sebagaipusat kemiliteran Aceh, lantaran letaknya yang sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur.

Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera yang bermarkas di Juli Keudee Dua, Bireuen, itu silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank dibawah pimpinan Letnan Yusuf Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Letnan Yusuf Tank. Sekarang dia sudah Purnawirawan dan bertempat tinggal di Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Menurut Yusuf Tank, waktu itu pasukan Divisi X mempunyai puluhan unit mobil tank. Peralatan perang itu merupakan hasil rampasantank tentara Jepang yang bermarkas di Juli Keude Dua.

Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area pada masa agresi Belanda pertama dan kedua tahun 1947-1948. Juli Keude Dua juga memiliki nilai historis kemiliteran penting dalam mempertahakan Republik. Terutama di zaman Revolusi 1945. Pendidikan Perwira Militer (Vandrecht), yakni untuk mendidik perwira-perwira yang tangguh di pusatkan di Juli Keude Dua. 
 
Kendati usianya sudah uzur, Yusuf Tank masih dapat mengingat berbagai semua peristiwa sukaduka perjuangannya masa silam. Salah satu diantaranya tentang peranan Radio Rimba Raya milik DivisiX Komandemen Sumatera yang mengudara ke seluruh dunia dalam enam bahasa, Indonesia, Inggris, Urdu, Cina, belanda dan bahasa Arab. Dikatakan, "Radio Rimba Raya mengudara ke seluruh dunia 20 Desember 1948 untuk memblokade siaran propaganda Radio Hervenzent Belanda di Batavia yang yang menyiarkan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Dalam siaran bohong Radio Belanda seluruh wilayah nusantara sudah habis dikuasai Belanda. Padahal, Aceh masih tetap utuh dan tak pernah berhasil dikuasai Belanda.

Dengan mengudaranya Radio Rimba Raya ke seluruh dunia, masyarakat dunia sudah mengetahui secara jelas bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Karena itu, saat kedatangan Presiden Soekarno ke Bireuen bulanJuni 1948, dalam pidatonya yang berapi-api di lapangan terbangCot Gapu, Soekarno mengatakan,Aceh yang tidak mampu dikuasai Belanda dijadikan sebagai Daerah Modal Republik Indonesia. Selama seminggu Presiden Soekarno berada di Bireuen, kemudian bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja. Di Kutaradja Gubernur Milter Aceh mengundang seluruh saudagar Aceh di hotel Aceh. Dia menyampaikan permintaan Presiden Soekarno agar rakyat Ace hmenyumbang dua pesawat terbang untuk Republik.

3. Bukti Prasasti Radio Rimba Raya

Presiden Soekarno sempat mogok makan   siang alias Ngambek  sebelum Abu Beureu’eh memberi jawaban, menyetujui permintaannya itu agar Aceh menyumbang dua pesawat terbang. Kesepakatan para saudagarAceh dengan Abu Daud Beureu’eh, mereka bersedia menyumbang dua pesawat terbang untuk Republik. Dengan sumber dana obligasi rakyat Aceh, yakni Pesawat Seulawah I dan Seulawah II. Kedua pesawat terbang sumbangan rakyat Aceh itu adalah sebagai cikal bakal pesawat Garuda Indonesia Airways saat ini. Sedangkan Radio Rimba Raya adalah sebagai cikal bakal Radio RRI sekarang. 

 sumber : http://amryksr.blogspot.com
Baca Selengkapnya

Desa Lubuk Sukon sebagai Kampung yang Mempertahankan Seni Arsitektur Tradisional di Aceh Besar

Ilustrasi : Para Wisatawan 

Gampong Lubuk Sukon merupakan bagian dari Mukim Lubuk, dengan luas 112 Ha, dan berbatasan dengan Gampong Dham Pulo di sebelah Utara, Gampong Lubuk Gapuy di sebelah Timur, Mukim Lambarieh di sebelah Selatan, dan Gampong Dham Ceukok di sebelah Barat untuk mencapai lokasi diperlukan waktu sekitar 1 sampai 2 jam dari Banda Aceh.


 Dinamika Sosial Masyarakat 

Sistem pemerintahan Adat di Gampong Lubuk Sukon berpedoman pada naskah Kanun Syara’ Kesultanan Aceh yang ditulis oleh Teungku di Mulek pada tahun 1270 Hijriah. Pranata politik di Gampong berfungsi untuk memenuhi keperluan mengatur dan mengelola keseimbangan kekuasaan dalam kehidupan komunitas tersebut. Struktur politiknya terdiri atas beberapa status dengan peran tertentu, yaitu Keuchik bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan Gampong, terhadap pelaksanaan dan keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan di Gampongnya. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang Keuchik dapat meminta bantuan pertimbangan dari Tuha peut dan Imeum Meunasah. Imeum Meunasah merupakan pimpinan dalam keagamaan dan Tuha peut adalah dewan orang tua yang berpengalaman dan paham mengenai adat dan agama. Untuk urusan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian, Keuchik menyerahkan wewenang sepenuhnya kepada Keujruen Blang (kelompok petani).

Selain kelembagaan pemerintahan, terdapat kelembagaan sosial kemasyarakatan yang diikuti oleh penduduk Gampong, yaitu kelompok pengajian, kelompok organisasi wanita, dan kelompok organisasi pemuda. Kedekatan hubungan lembaga-lembaga di Gampong Lubuk Sukon dengan masyarakat ataupun dengan lembaga lainnya

Sistem kemasyarakatan/kekerabatan Penduduk Gampong Lubuk Sukon, seperti halnya masyarakat di wilayah Aceh Besar, menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral, memperhitungkan hubungan kekerabatan baik pada pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Hubungan keluarga dalam masyarakat Aceh terdiri dari Wali, Karong dan Kaom. Namun, dalam sistem kekerabatan yang lebih mikro, wujud keluarga besar Aceh terdiri dari keluarga inti senior dan keluarga inti dari anak-anak perempuannya, sesuai dengan adat menetap nikah matrilokal (uxorilocal). Hal ini berarti sesudah menikah, suami menetap di lingkungan kerabat perempuan. Keluarga besar ini hidup dalam rumah yang berada dalam satu pekarangan dan satu kesatuan ekonomi yang diatur oleh kepala keluarga inti senior.

Hukum adat yang berlaku sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda tersebut mempengaruhi orientasi tempat tinggal keluarga batih baru dalam masyarakat Aceh, sehingga pasangan yang baru menikah biasanya bertempat tinggal di rumah mempelai wanita. Jumlah pendatang yang tinggal di Gampong Lubuk Sukon karena ikut istri, berkaitan dengan tradisi menetap menikah di rumah pihak perempuan dalam adat Aceh.

Pengelompokan sosial berdasarkan mata pencaharian di masa lalu tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan kepada masyarakat Aceh dalam hal memilih pekerjaan. Saat ini, mata pencaharian penduduk Gampong Lubuk Sukon cukup beragam. Sebagian besar warga Lubuk Sukon bermata pencaharian sebagai petani (37.61%) dan sebesar 8.84% bekerja sebagai buruh tani. Hal ini dikarenakan oleh topografi wilayah yang berupa dataran rendah dan faktor tanah yang sangat potensial untuk daerah persawahan. Meskipun begitu, pekerjaan sebagai petani mulai ditinggalkan penduduk, karena stagnansi dalam bidang pertanian dan pendapatan yang kurang mencukupi. Secara spesifik, berdasarkan hasil dari kuisioner, diketahui bahwa sebagian besar responden bermata pencaharian sebagai petani (31.82%) diikuti dengan profesi sebagai PNS sebanyak 27.27% dan wiraswasta sebanyak 16.67%.

Pergeseran jenis pekerjaan dari petani ke mata pencaharian lainnya, dipengaruhi oleh lokasi hunian. Kelompok hunian Darul Ulum dan Darusshalihin yang lebih dekat dengan jalan lokal primer, yaitu pada sebelah Selatan Gampong, lebih banyak yang bermata pencaharian sebagai PNS atau swasta/wiraswasta. Kelompok hunian yang lebih dekat dengan persawahan dan kebun/ladang seperti kelompok hunian Darussalam dan Darul Makmur masih didominasi pekerjaan sebagai petani maupun buruh tani.

 Identitas Kultur/Budaya 

Tata nilai dan kepercayaan yang berkembang pada masyarakat Gampong Lubuk Sukon adalah adat Aceh Besar dan Islam. Keseluruhan masyarakatnya merupakan pemeluk agama Islam, dan secara umum dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, bahkan terkesan fanatik. Masyarakat masih memegang adat Aceh yang tercantum dalam Hadih Maja hasil kesimpulan dari Musyawarah Besar Kerukunan Rakyat Aceh pada tahun 1098 H, sebagai pedoman dalam pergaulan masyarakat. Adat dan tradisi dilakukan melalui ritual-ritual yang berkaitan dengan daur hidup (kelahiran dan pernikahan), kegiatan keagamaan (Maulid Nabi, Nuzulul Quran, dan Isra’ Mi’raj), dan aktivitas pertanian yang berkaitan dengan mata pencaharian penduduk (Kanduri Blang).

Ritual-ritual yang dilakukan masyarakat Gampong Lubuk Sukon melalui tahapan-tahapan yang menggunakan ruang tertentu, sehingga mempengaruhi hirarki dan sifat dari ruang tersebut.
Pada masa dahulu sistem pelapisan masyarakat terdiri atas golongan bangsawan dan golongan rakyat biasa. Golongan bangsawan berasal dari kelompok uleebalang yaitu kelompok yang diberi kekuasaan oleh Sultan Aceh untuk mengepalai bagian-bagian tertentu yang setingkat dengan distrik. Karena daerah uleebalang bersifat otonom maka yang mengepalai daerah bersifat turun temurun dari kelompok uleebalang. Oleh karena itu kekuasaan yang diberikan oleh Sultan lebih absolut. Golongan inilah yang sekarang dikenal dengan panggilan teuku atau ampon untuk kaum prianya, dan pecut atau cut bagi kaum wanita. Pada masa Belanda, bangsawan ini lebih banyak memperoleh fasilitas dari Pemerintah terutama fasilitas pendidikan.

Upacara-upacara adat yang dilaksanakan diantaranya: (Rusdi Sufi, Adat istiadat Masyarakat Aceh, Banda Aceh: Dinas Kebudayaan Propinsi NAD, 2002)

1. Upacara kenduri; upacara kenduri berkaitan dengan kepercayaan terdapat

kenduri apam yang dilaksanakan pada bulan Rajab terutama 27 Rajab yang diperingati sebagai Isro’ Mi’Raj. Pada malam hari berkumpul di meunasah, masjid, atau rumah-rumah untuk mendengarkan riwayat yang dismapaikan dalam bentuk syair prosa. Setiap rumah membuat kue apam (serabi) dari baha tepung beras dan santan berbentuk bulat.

Kenduri blang (turun kesawah), merupakan upacara masyarakat petani di pedesaan. Upacara blang diselenggarakan secara massal saat menjelang petani akan mulai mengerjakan sawah.

Kenduri Tulak Bala. Sebagian besar upacara kenduri dilatarbelakangi oleh rasa syukur kepa Allah SWT. Untuk menghindari dari musibah maka sering diadakan kenduri tulak bala. Tempat upacara dilaksanakan di babah jurong (mulut lorong). Tempat ini dipilih mengingat ada anggapan bahwa bala itu datang melalui lorong sebagaimana biasanya mereka pulang.

2. Kenduri berkaitan dengan hari-hari perayaan agama yakni berupa kenduri maulod (memperingati kelahiran Nabi Muhammad), isra’ mi’raj, nisfu sya’ban (dilaksanakan tanggal 15 bulan Sya’ban di meunasah), siploh muharram (sepuluh Muharram sebagai upacara memperingati wafatnya cucu Nabi yakni Hasan Husen), peutamat daurih (pengkhataman Al Qur’an), kenduri 27 pusasa (dalam rangka menyambut malam 27 Ramadhan), kenduri boh kayee (kenduri buah-buahan dilaksanakan pada bulan Jumadill Akhir).

3. Kenduri berkaitan dengan lingkar kehidupan seperti Upacara kematian, ada empat hal  yang harus dilaksanakan yakni memandikan jenazah, membungkus dnegan kain kaffan, menyembahyangkan dan menguburkan. Secara tradisi terdapat upacara penangisan jenazah sering disebut pemoe bae (menangis secara meratap) pada saat jenazah diletakkan hendak dibawa ke kubur. Kemudian pada hari ketiga, kelima, ketujuh, dan kesepuluh diadakan kenduri sambil ada pembacaan doa. Setelah itu terdapat hari ke tigapuluh, keempatpuluh, keseratus dan tahun kematian juga diadakan kenduri.  

4. Peusijuk meulangga (tepung tawar), yakni upacara yang dilaksanakan apabila telah terjadi perselisihan antar penduduk, peusijuk pade bijeh dilakukan oleh petani terhadap benih padi yang akan ditanam agar subur dan berbuah banyak, peusijuk tempat tinggay (sebagai upacara untuk meninggali rumah, peusijuk peudong rumoh upacara untuk membangun rumah, biasanya yang diberi peusijuk adalah tiang raja dan tameh putroe serta tukang yang mengerjakan, peusijuk keurubeuen yakni upacara saat korban, peusijuk kendaraan yakni peusijuk yang dilakukan ketika baru memiliki kendaraan.

5. Upacara berkitan dengan daur hidup
-  Upacara kelahiran dimulai dari masa hamil berupa upacara ba bu (mengantar nasi). Upacara ini dilangsungkan setelah selesai upacara tungkai  atau masa kandungan 7 smapai 8 bulan, pantangan dimana seorang yang hamil harus menjalani pantangan antara lain dilarang duduk di ujung tangga, berada di luar saat senja, melangkahi kuburan dan lain-lain, meuramien yakni orang yang hamil bisanya dibawa ketempat rekreasi yaitu pantai

-  Upacara kelahiran bayi, pada hari ketujuh dilakukan upacara cukur rambut dan peucicap yang kadang bersamaan dengan pemberian nama

-  Upacara sebelum dewasa berupa upacara mengantar mengaji, upacara khitan

Upacara perkawinan dengan tahapan perkenalan, meminang (dalam meminang diadakan janji jumlah jiname (mahar/maskawin), pertunangan, peresmian perkawinan, intat dara baro (antar penganten perempuan)

Pola Pemukiman dan Artefak Arsitektural

Gampong Lubuk Sukon dilewati Sungai Krueng Aceh dengan lebar 30-50 meter, yang membatasi Gampong Lubuk Sukon dengan jalan utama dan Gampong-Gampong disekitarnya. Sungai ini berperan penting dalam pemilihan lokasi sebagai tempat bermukim. Pada tahun 1920, para ulama dan sufi sebagai penduduk awal Gampong, tidak membangun permukimannya dekat dengan sungai karena alasan keamanan, namun memilih wilayah pedalaman yang masih berupa hutan. Penduduk hanya membuka jalan setapak menuju sungai, karena ketergantungan terhadap air sangat tinggi. Keberadaan sungai juga mempengaruhi mata pencaharian penduduk di bidang pertanian. Sawah-sawah penduduk berada dekat dengan sungai.

Pada perkembangannya, Keuchik tidak mengizinkan pembangunan rumah untuk berkembang di kawasan sekitar sungai, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (1) volume air cukup tinggi yang menyebabkan terjadinya banjir tahunan. Pemerintah sempat membangun tanggul di wilayah studi untuk menghindari banjir; (2) kawasan perairan tetap dipertahankan sebagai sumber kehidupan yang harus dipelihara masyarakat. Sekitar awal 1970-an hingga akhir 1980-an, cabang aliran sungai yang berada di bagian Barat Gampong perlahan mengering karena penebangan hutan.

Pada tahun 1989, Sungai Krueng Aceh mulai mengering secara total, meskipun masih terdapat sebagaian genangan air. Pada periode ini, sistem irigasi mulai dikembangkan untuk kawasan pertanian di bagian Timur Gampong, mengikuti arah perkembangan permukiman.

Lahan hutan dibuka untuk mendirikan beberapa bangunan, yang kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan. Penduduk juga membuka dan memanfaatkan lahan hutan untuk ladang, sawah, dan kebun. Lahan untuk ladang dan kebun berada dekat kawasan permukiman, dan lahan untuk sawah berada di dekat sungai. Pada awalnya, Gampong Lubuk Sukon mempunyai seorang peutua uteuen yang mengatur pemanfaatan kawasan hutan, agar tetap terjaga kelestariannya. Pemanfaatan lahan yang terus berkembang pada tahun 1950-an, menggantikan posisi peutua uteuen menjadi peutua seuneubok (pemimpin kawasan ladang dan kebun). Saat ini, hampir tidak terdapat hutan di Gampong Lubuk Sukon.

Permukiman Tahap dibukanya Gampong Lubuk Sukon ditandai dengan dibangunnya beberapa rumah dan sebuah meunasah. Penempatan bangunan hunian yaitu pada lahan di sekitar meunasah. Para sufi dan ulama yang merupakan penduduk awal Gampong Lubuk Sukon mengikuti tradisi leluhur di daerah asal mereka, yaitu membangun rumah panggung (rumoh Aceh dan rumoh santeut) yang mengarah ke kiblat shalat.

Pada perkembangannya, rumah-rumah mulai dibangun di Dusun Darussalam, yaitu pada lahan di sekitar meunasah. Ketika penduduk semakin bertambah, penduduk mengambil lahan di bagian Timur Gampong, yaitu Dusun Darusshalihin dan Dusun Darul Alam. Penataan bangunan hunian dilakukan berdasarkan hubungan kekerabatan.

Pada awal tahun 1980an, mulai muncul rumah modern karena pengaruh pergeseran nilai-nilai kepercayaan, tingkat pendidikan, variasi mata pencaharian, dan perkembangan infrastruktur.

Lahan pertanian yang pertama (1920-1950), yaitu lahan dekat sungai di bagian Selatan Gampong. Pada periode ini, hampir semua penduduk bermatapencaharian sebagai petani.

Perkembangan lahan pertanian selanjutnya, yaitu di bagian Timur Gampong, di luar kawasan permukiman. Lahan untuk kebun dan ladang di Gampong Lubuk Sukon terletak dekat dengan kawasan permukiman penduduk, sedangkan sawah berada agak jauh dari permukiman. Hutan di sekitar permukiman dan lokasi persawahan (blang) menjadi batas Gampong, untuk melindungi Gampong secara fisik dan menghambat pihak luar yang akan masuk ke dalam.

Pada akhir tahun 1980-an, lahan pertanian tidak lagi berkembang dengan pesat dan mulai terjadi pergeseran mata pencaharian penduduk dari petani ke jenis pekerjaan lainnya.

Pada tahun 1920-an, hanya terdapat jalan setapak sebagai akses dari sungai Krueng Aceh menuju ke hutan, yang merupakan cikal bakal permukiman Gampong Lubuk Sukon. Jalan ini menjadi jalan utama dan terus menyambung dengan Gampong Dham Pulo serta ke wilayah lainnya di Mukim Lubuk. Sarana yang ada pada periode 1920-1950 adalah meunasah dan bale.

Pada tahun 1972, pemerintah membangun jembatan yang lebih layak untuk membuka akses dari jalan arteri primer (Jalan raya Banda Aceh-Medan) menuju Mukim Lubuk. Jembatan ini terus diperbaiki hingga menjadi jembatan beton yang kokoh di tahun 1989. Pada periode ini, jalan-jalan baru mulai terbentuk sesuai dengan aksesibilitas yang dibutuhkan masyarakat. Jalan menjadi batas antar halaman-halaman rumah penduduk. Infrastruktur jalan yang lebih baik berpengaruh pada perkembangan Gampong, yaitu mulai muncul fasilitas umum seperti klinik kesehatan, sekolah-sekolah, lapangan olahraga, makam, dan sarana perdagangan.

Penduduk memanfaatkan lahan kosong yang ada di Gampong Lubuk Sukon sebagai tempat hunian (permukiman). Namun, ada ketentuan dalam konsep tata ruang tradisional yang memberlakukan hariem krueng, yaitu tanah bebas, dan tidak boleh dimiliki siapapun. Hal ini berarti penduduk juga tidak boleh membangun rumah pada kawasan ini.

Transek Gampong yang meliputi kondisi topografi, guna lahan, dan status kepemilikan tanah dijelaskan sebagai berikut:

- Keadaan wilayah bagian Selatan berupa sungai, perkebunan, dan sawah. Sungai di Gampong Lubuk Sukon berada di bagian seunebok. Di sepanjang sisi sungai terdapat persawahan atau ladang, dan bale untuk tempat para petani berteduh. Sungai tidak dijadikan sebagai tempat bermukim karena masyarakat Aceh menganggap sungai sebagai kawasan yang harus dijaga kelestariannya, dan menempatkan berbagai tanaman penyangga di sepanjang sisi sungai (jalur boinah). Seunebok di Gampong Lubuk Sukon merupakan wilayah rimba yang beralih fungsi. Perkebunan mendominasi lahan di wilayah ini, dengan jenis vegetasi meliputi kelapa, pisang, dan jagung.

- Bagian Barat Gampong merupakan kawasan hutan yang masih dipertahankan oleh penduduk. Hutan ini merupakan bagian dari kawasan konservasi yang disebut boinah oleh masyarakat Gampong Lubuk Sukon, sehingga diperbolehkan untuk dikelola secara ekonomi namun tidak untuk pengembangan permukiman. Setelah areal hutan, terdapat pula seunebok.

- Di bagian tengah, terdapat permukiman penduduk. Rata-rata tiap penduduk memiliki pekarangan dan menanaminya dengan jenis tumbuh-tumbuhan produktif yang menghasilkan buah-buahan dan sayur-sayuran untuk kebutuhan dapur. Beberapa fasilitas umum milik Gampong, seperti meunasah, sekolah TK dan kantor keuchik juga terdapat di wilayah ini. Di Gampong Lubuk Sukon, tumpok menunjukkan bagian tengah Gampong yang di dalamnya terdapat tempat hunian atau rumoh. Arah dan orientasi bangunan rumah adalah menghadap kiblat atau arah timur-barat. Tumpok juga memperlihatkan bahwa pola permukiman di Gampong Lubuk Sukon adalah memusat, terlihat dari letak permukiman yang dibatasi oleh kawasan blang dan seunebok.

- Di bagian Utara Gampong Lubuk Sukon, merupakan wilayah perbatasan dengan Gampong Dham Pulo. Disini lebih banyak terdapat fasilitas umum dengan skala kecamatan, yaitu berupa lapangan dan bangunan untuk fasilitas olahraga, SMU 1 Ingin Jaya, Balai Pelatihan Pendidikan milik pemerintah daerah, mesjid Mukim Lubuk, makam. Topografi di wilayah ini adalah datar dan jalan yang ada sudah berupa aspal. Makam umum juga terdapat di ujong bagian Utara Gampong, yaitu di perbatasan antara kawasan perumahan dengan lahan pertanian (blang atau seunebok), berada tepat di depan mesjid Mukim Lubuk.

- Di bagian Timur Gampong, terdapat areal persawahan yang disebut blang. Blang sekaligus menjadi batas antara Gampong Lubuk Sukon dengan Gampong Lubuk Gapuy.

Pembagian ruang di Gampong Lubuk Sukon sesuai dengan tata peletakan elemen ruang permukiman tradisionalyaitu sebagai berikut:

a) Kawasan permukiman, terdiri dari rumah-rumah dan meunasah, berada di wilayah tumpok yang memusat di tengah-tengah Gampong Lubuk Sukon. Perkembangan kawasan permukiman, berupa rumah-rumah baru dan tambahan fasilitas umum, berada di wilayah ujong, yaitu kawasan yang terletak di antara tumpok dan ujong. Keberadaan kawasan ujong tidak terlepas dari bentuk asal dari Gampong Lubuk Sukon yang merupakan sebuah pemukiman yang tertutup. Gampong dikelilingi pagar tanaman dan semak belukar, untuk melindungsi kawasan tumpok. Pada area tumpok dan ujong, tiap individu mengenal secara personal elemen-elemen lingkungan dan komunitas yang ada di dalamnya. Dalam Al-Hadist yang juga tercantum dalam Hadih Maja Kesultanan Aceh Darussalam, wilayah tumpok dan ujong merupakan satuan lingkup lingkungan yang disebut haraat.

b) Lahan usaha, dalam hal ini peruntukan lahan pertanian, berada di luar wilayah permukiman, yaitu blang.
Pola tata ruang tempat tinggal

- Rumah dan pekarangan Kepadatan bangunan yang ada di Gampong Lubuk Sukon didominasi oleh rumoh Aceh, yaitu sebanyak 69 unit. Selain itu, terdapat 58 unit rumah santeut dan 64 unit rumah modern. Rumah dengan tipologi bahan konstruksi rumah kayu paling banyak terdapat pada kelompok hunian Darul Ulum dan dibangun pada tahun 1950-1980 (15.15%), sedangkan rumah dengan tipologi konstruksi rumah beton (rumah modern) merata terdapat pada kelompok hunian Darul Ulum, Darussalam, dan Darusshalihin. Rumah modern sebagian besar dibangun pada tahun 1981-1990 (13.64%) Lumbung merupakan elemen yang hilang pada pekarangan rumah di Gampong Lubuk Sukon. Hal ini disebabkan karena sebagian besar rumah tidak lagi menggantungkan hidupnya dalam bidang pertanian. Adapun elemen yang masih tetap dipertahankan oleh penduduk Gampong Lubuk Sukon adalah tanaman pada halaman rumah, yaitu sebanyak 100%.

- Struktur tata ruang tempat tinggal
Fungsi ruang tempat tinggal masyarakat Aceh menunjukkan bahwa secara tradisional rumoh Aceh diperuntukkan untuk perempuan atau disebut juga sebagai rumoh inong, yaitu sebagai berikut:
  • Seuramoe keue sebagai tempat menerima tamu laki-laki, tempat mengaji dan belajar anak laki-laki, sekaligus tempat tidur anak laki-laki, serta kepentingan umum lainnya.
  • Seuramoe teungoh (serambi tengah) atau tungai bersifat tertutup sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai kamar tidur. Kamar sebelah barat ditempati oleh kepala keluarga (ibu dan ayah), dan kamar sebelah timur (rumoh andjoeng) ditempati oleh anak perempuan. Jika sebuah keluarga mempunyai lebih dari satu anak perempuan, maka kepala keluarga membuat rumah terpisah atau terpaksa pindah ke belakang bagian barat. Serambi tengah disebut juga dengan rumoh inong (rumah perempuan) karena laki-laki yang bukan muhrim tidak diizinkan untuk memasuki zona tungai ini.
  • Serambi belakang (seuramoe likot) merupakan ruang tambahan yang sering disebut dengan ulee keude, dan berfungsi sebagai dapur. Pembagian ruang yang memperlihatkan adanya pembedaan antara zona laki-laki dan zona perempuan, dipengaruhi oleh aturan perkawinan dan adat peunulang yang berlaku. Rumah merupakan milik perempuan dan laki-laki dianggap sebagai tamu yang harus dihormati, sehingga tidak diperbolehkan untuk memasuki serambi tengah dan dapur. Peraturan adat ini berkaitan dengan ajaran agama Islam yang memisahkan ruang privat antar gender, sehingga rumoh Aceh di disain untuk melindungi perempuan agar tidak terlihat auratnya oleh laki-laki yang bukan muhrimnya, serta dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kriminalitas dan lain sebagainya.

Fungsi dan peruntukan ruang-ruang pada rumoh Aceh membentuk struktur ruang tempat tinggal, yaitu dari frekuensi dan tingkat kepentingan berdasarkan penggunaan ruang dalam kegiatan keluarga sehari-hari dan saat terjadi ritual. Seuramoe keue (serambi depan) merupakan ruang yang paling sering digunakan dalam aktivitas berskala rumah tangga (mikro). Ruang ini merupakan core area (area inti/pusat) dari rumoh Aceh, karena menjadi tempat berkumpul, baik antar anggota keluarga maupun dengan kerabat yang lebih jauh, ketika terjadi ritual budaya, tanpa adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya pada ruang lainnya yang menjadi pinggiran (periphery), yaitu seuramoe teungoh (tungai) dan dapur, hanya diperbolehkan untuk perempuan. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme, yaitu bagian pusat untuk laki-laki serta tempat untuk berbagai acara ritual, sementara bagian pinggiran untuk perempuan. Dualisme terjadi karena sistem sosial budaya yang dianut masyarakat Gampong Lubuk Sukon, yaitu dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal. Meskipun pada dasarnya rumah merupakanmilik perempuan dan dikuasai oleh perempuan, nilai-nilai patriarkal yang menghormati kaum laki-laki, tetap dipegang teguh oleh masyarakat Gampong Lubuk Sukon. Struktur dualisme ini disebut oleh Levi Strauss (1963:142) sebagai keseimbangan sosial. Struktur ruang pada rumoh Aceh di Gampong Lubuk Sukon

sumber : http://ikhsan_history-fib.web.unair.ac.id
Baca Selengkapnya