Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Sunday, 9 September 2012

Kerajaan Pedir di Daerah Rendah Luas dan Subur

Sejarawan Aceh, M. Junus Jamil di dalam bukunya yang berjudul “Silsilah Tawarick Radja-Radja Kerajaan Aceh”, berisi tentang sejarah Negeri Pidie / Sjahir Poli. Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur. Batas-batas kerajaan ini meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan, serta dengan selat Malaka di sebelah utara.

Sementara dalam kisah pelayaran bangsa Portugal, Mereka menyebut Pidie sebagai Pedir, Sedangkan dalam kisah pelayaran bangsa Tiongkok disebut sebagai Poli. Asumsinya, orang Tiongkok tidak dapat menyebut kata “Pidie” seperti yang kita ucapkan. Dalam catatan pelayat Tiongkok itu disebutkan, bahwa Kerajaan Pedir luasnya sekitar seratus kali dua ratus mil, atau sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalanan dari utara ke selatan.

Menurut M. Junus Jamil, Suku yang mendiami kerajaan ini berasal dari Mon Khmer yang datang dari Asia Tenggara yakni dari Negeri Campa. Suku Mon Khmer itu datang ke Poli beberapa abad sebelum masehi. Rombongan ini dipimpin oleh Sjahir Pauling yang kemudian dikenal sebagai Sjahir Poli. Mereka kemudian berbaur dengan masyarakat sekitar yang telah lebih dahulu mendiami kawasan tersebut.

Setelah berlabuh dan menetap di kawasan itu (Pidie-red), Sjahir Poli mendirikan sebuah kerajaan yang dinamai Kerajaan Sama Indra. Waktu itu mereka masih menganut agama Budha Mahayana atau Himayana. Oleh M Junus Djamil diyakini dari agama ini kemudian masuk pengaruh Hindu.

Lama kelamaan Kerajaan Sama Indra pecah mejadi beberapa kerajaan kecil. Seperti pecahnya Kerajaan Indra Purwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di Lhokseudu.

Kala itu Kerajaan Sama Indra menjadi saingan Kerajaan Indrapurba (Lamuri) di sebelah barat dan kerajaan Plak Plieng (Kerajaan Panca Warna) di sebelah timur. Kerajaan Sama Indramengalami goncangan dan perubahan yang berat kala itu,

Menurut M Junus Djamil, pada pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan SamaIndra beralih dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M). Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu dan budha di daerah tersebut.

Setelah kerajaan Sama Indra takluk pada Kerajaan Aceh Darussalam, makan sultan Acehselanjutnya, Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra yang otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal sekarang.

Meski sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, peranan raja negeri Pidie tetap dipererhitungkan. Malah, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat KerajaanAceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing.

Sementara Prof. D. G. E Hall dari Inggris, dalam bukunya "A History of South East Asia", mengambarkan Pidie sebagai sebuah negeri yang maju pada akhir abad ke 15. Hal itu berdasarklan catatan seorang pelawat Portugal, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad 15.

Dalam catatan Varthema, sebagaimana dikutip Muhammad Said (Pengarang Buku Aceh Sepanjang Abad) dalam “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah” pada abad tersebut Pedir, yang masih disebut sebagai negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina.

Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat.

Bahkan vartheme menggambarkan, disebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing. “So extensive was its trade, and so great the number of merchants resorting there, that one of its street contain about 500 honderd moneychanger,” kata Varhtema.

Varthema oleh Muhammad Said disebutkan sama seperti Snouck Horgronje, yang Islam untuk sebuah tujuan penelitian tentan dunia muslim. Sebelum ke Pedir, ia juga telah mempelajari Islam di Mekkah. Sesuatu yang kemudian juga dilakukan Snouck Hourgronje dari Belanda, tapi Snouck lebih terkenal ketimbang Varthema, karena berhasil menulis sejumlah buku tentang Aceh.

Dalam catatannya Varthema mengatakan takjub terhadap negeri Pedir yang saat itu sudah menggunakan uang emas, perak, dan tembaga sebagai alat jual beli, serta aturan hukum yang sudah berjalan dengan baik, yang disebutnya “Strict Administration of Justice,”.

Selain itu Varthema juga menulis tentang kapal-kapal besar milik nelayan yang disebut tongkang, yang menggunakan dua buah kemudi. Ia juga mengupas secara terperinci tentang keahlian rakyat Pedir tentang perindustrian kala itu, yang sudah mampu membuat alat-alat peletup atau senjata api.

Dalam sebuah riwayat Tiongkok (Cina) disebutkan, pada tahun 413 Masehi, seorang musafir Tiongkok, Fa Hian melawat ke Yeep Po Ti dan singgah Poli (Pidie-red). Fa Hian menyebutkan Poli sebagai sebuah negeri yang makmur, yang rajanya berkenderaan gajah, berpakaian sutra dan bermahkota emas.

Untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Cina, Raja Poli pada tahun 518 Masehi mengirim utusannya ke Tiongkok. Hubungan itu terus berlanjut. Pada tahun 671 Masehi, I Tsing dari Tiongkok melawat ke Poli. Ia disebut tinggal selama lima tahun singgah dan tingagl di enam kerajaan di pesisir Sumatera, mulai dari Kerajaan Lamuri (Aceh Besar), Poli (Pidie), Samudra dan Pasai (Aceh Utara), Pereulak (Aceh Timur) dan kerjaan Dangroian (?).

Poli sebagai Pidie yang dikenal sekarang, menurut H. M Zainuddin dalam bukunya “Tarikh Aceh dan Nusantara” disebutkan oleh ahli sejarawan kuno, Winster, sebagai sebuah negeri yang makmur dan jaya. Menurutnya, setelah Sriwijaya dan Pasai, Poli lah Bandar pelabuhan yang terkenal. Pelabuhan Poli disebut-sebut berbentu genting, yang oleh H M Zainuddin kemudian diduga sebagai sebuah muara yang kini dikenal sebagai Kuala Batee.

Menurut Varthema sumber Portugis mengatakan bahwa Sultan Ma’ruf Syah Raja Pidie (Pedir, Sjir, Duli) itu pernah menaklukkan Aceh Besar dalam tahun 1479. Masa itu diangkat dua orang wakil di Aceh, seorang di Aceh sendiri dan seorang di Daya. Mula-mula Pidie dikalahkan oleh Raja Aceh Besar dan di dudukkan oleh Wali Negara (Gubernur) di Pidie, yaitu Raja Ali dan adiknya, Ibrahim.

Kemudian Raja Ibrahim yang menjadi Wali Negara Raja Aceh di Pidie atas Perintah abangnya menyerbu Benteng Portugis yang baru didirikan di Kuala Gigieng. Cerita lain menyebutkan bahwa, Kuta Asan, Pidie, merupakan bekas kota yang didirikan Portugis.

Selanjutnya dengan sejata yang dirampas dari Portugis, Raja Pidie menyerang Raja Aceh Besar pada tahun 1514 dan Sultan Salahuddin Ibnu Muzaffar Syah diturunkan dari tahkta. Raja Ali naik menjadi raja dengan Gelar Sultan Ali Mughayat Syah, sedang adiknya Raja Ibrahim menjadi Laksamana.

Adapun Silsilah Raja-Raja / Pemimpin Pemerintahan Pidier saat itu adalah Sebagai berikut :

1.Maharaja Sulaiman Noer: Anak Sultan Husein Syah.
2.Maharaha Sjamsu Syah: Kemudian menjadi Sultan Aceh.
3.Maharaja Malik Ma’roef Syah: Putra dari Maharaja Sulaiman Noer. Mangkat pada tahun 1511 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya.
4.Maharaja Ahmad Sjah: Putra Maharaja Ma’roef Syah. Pernah berperang melawan Sulthan Ali Mughayat Syah, tapi kalah. Mangkat pada tahun 1520 M, dikuburkan di Klibeut di sisi kuburan ayahnya.
5.Maharaja Husain Syah: Putra Sultan Riayat Syah II (Meureuhom Khaa), kemuian menggantikan ayahnya menjadi Sulthan Aceh.
6.Maharaja Saidil Mukamil: Putra dari Maharaja Firman Syah, kemudian menjadi Sulthan Aceh dari 1589 sampai 1604 M. Ayah dari ibu Sulthan Iskandar Muda.
7.Maharaja Husain Syah: Putra dari Sulthan Saidil Mukamil
8.Maharaja Meurah Poli: Meurah Poli Negri Keumangan dikenal sebagai Laksamana Panglima Pidie yang terkenal dalam perang Malaka (Pran Raja Siujud).
9.Maharaja Po Meurah: Syahir Poli, Bentara IX Mukim Keumangan yang bergelar Pang Ulee Peunaroe. Pengatur negeri Pidie.
10.Meurah Po Itam : Bentara Kumangan bergelar Pang Ulee Peunaroe.
11.Meurah Po Puan : Bentara keumangan bergelar Pang Ulee peunaroe
12.Meurah Po Thahir : Bentara Keumangan yang terkenal dalam perang Pocut Muhammad dengan Potue Djemaloiy (Sulthan Djamalul Alam Badrul Munir) pada tahun 1740 M. Ia mempunyai dua orang saudara: Meurah Po Doom dan Meurah Po Djoho.
13.Meurah Po Seuman: Pang Ulee Peunaroe dengan nama asli Usman.
14.Meurah Po Lateh: Pang Ule peunaroe dengan nama asli Abdul Latif, terkenal dengan sebutan Keumangan Teungeut.
15.Teuku Keumangan Yusuf: Sudah masuk masa perang Aceh dengan Belanda.
16.Teuku Keumangan Umar: Uleebalang IX Mukim, Pidie.

Referensi :
•http://iskandarnorman.blogspot.com
•http://harian-aceh.com
•http://aweaceh.blogspot.com
•http://www.lintasberita.us

Sumber : http://www.atjehcyber.tk
Baca Selengkapnya

Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai terletak di pesisir timur laut aceh, saat ini menjadi kabupaten Lhokseumawe atau Aceh Utara. Kerajaan ini merupakan kerajaan islam kedua di Indonesia setelah Perlak. Untuk waktu yang lama, Pasai dianggap oleh kerajaan islam lain di Nusantara sebagai pusat Islam.

Lahirnya samudra pasai sebagai kerajaan islam diperkirakan dimulai dari awal atau pertengahan abad ke 13, sebagai hasil proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi ulama-ulama muslim sejak abad ke 7. fakta tentang berdirinya Kerajaan islam Samudra Pasai pada abad ke 13 ini didukung oleh data-data sejarah yang nyata. Yang terpenting di antaranya adalah batu nisan yang memuat nama sultan Malik Al-saleh, rajanya yang pertama, berangka tahun 696 H atau 1297 M. Di jawa, pada saat itu sedang berdiri Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh (1293 – 1478 M).

Data ini dikuatkan oleh kitab Hikayat raja-raja pasai. Hikayat ini menyebutkan bahwa raja pertama dan sultan pendiri kerajaan Samudra Pasai adalah malik Al-Shaleh. Adapun namanya sebelum menjadi raja adalah Marah Sile atau Marah Selu. Ia masuk islam atas bimbingan Syekh Ismail, seorang ulama utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Shaleh.

Marah Selu adalah putra Marah Gajah. Nama marah adalah gelar bangsawan yang lazim di Sumatra utara, setingkat dengan raden di jawa. Kata Selu berasal dari sungkala yang artinya berasal dari bahasa sansekerta. Kepemimpinan marah selu yang menonjol telah menempatkan dirinya menjadi raja, setelah sebelumnya selalu ditolak dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain.

Sultan Malik Al-shaleh adalah raja pertama dan pendiri kerajaan Samudra Pasai. Fakta ini dapat diketahui melalui Hikayat Melayu. Dalam hikayat itu disebutkan juga bahwa Marah Selu mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan penolakan dari daerah-daerah yang bersangkutan, akan tetapi kemudian ia menjadi raja di suatu daerah.
Hikayat itu menyebutkan,
“Suatu hari Marah Selu Pergi berburu. Maka ada seekor anjing dibawanya, bernama pasai. Maka dilepaskannya anjing it. Maka dilihatnya ada seekor semut besarnya seperti kucing , maka ditangkapnya oleh Marah Selu itu lalu dimakannya. Maka orang yang menyertainya berburu itu disuruh untuk membersihkan tanah tinggi untuk dibuat istana.

“setelah selesai maka marah selu pun dudukalh di sana dengan segala hulu-balangnya dan segala rakyatnya. Tempat itu dinamai oleh Marah Selu Negeri Samudera, artinya semut yang amat besar”
Tentang Nama pasai, Hikayat melayu menyebutkan,
“setelah sudah jadi negeri itu, maka anjing perburuan yang bernama si Pasai itu pun matilah pada tempat itu. Maka disuruh tanamkan dia di sana juga. Maka dinamai baginda dengan nama anjing itu”. Nama Samudera lama kelamaan disebut sebagai Sumatra, dan menjai nama pulau itu.
Hikayat itu juga menceritakan,

“Suatu ketika Marah Selu bermimpi seseorang memegang dagunya dengan kuat dan matanya ditutup dengan empat jarinya, lalu berkata. ‘hai Marah Selu, katakana olehmu dua kalimat syahadat’. Maka sahut Marah Selu, ‘Tiada hamba tahu mengucap akan hal itu.’ Maka ujarnya, ‘bukakan mulutmu.’ Maka dibukakan mulut Marah Selu, maka diludahinya mulut Marah Selu itu, rasanya lemak manis. Maka ujarnya akan Marah Selu, ‘hai Marah Selu, engkaulah sultan Malik al-Shaleh namamu sekarang. Islamlah engkau dengan mengucapkan dua kalimat itu…”

Sejak itulah, Marah Selu menjadi sultan sebuah kerajaan islam yang bernama Samudera Pasai, dengan gelar sultan malik Al Shaleh. Apa yang terdapat dalam hikayat raja-raja pasai dan Hikayat melayu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje, Moquccte, Moens, Hushoff Poll, Rouffacr dan Cowan, yang menyebutkan bahwa kerajaan islam Samudera pasai berdiri pada pertengahan abad ke 13, dan pendirinya adalah sultan Malik al-Shaleh. Tempat yang pertama menjadi pusat kerajaan Samudra Pasai adalah muara sungai pasangan. Sungai pasangan adalah sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar sepanjang rute pantai, yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman.

Ada dua kota besar yang berada bersebarangan di muara sungai pasangan itu, yakni kota Pasai dan Samudra. Kota samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak agak lebih ke muara sungai. Sultan Malik al-Shaleh memimpin dan menyatukan kedua wilayah itu.
Kerajaan samudra pasai adalah sebuah kerajaan maritime. Sumber-sumber cina menyatakan bahwa pada awal tahun 1290, kerajaan itu telah mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim, yaknik Husein dan Sulaiman. Dalam kehidupan perekonomiannya, samudra pasai pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia tidak mempunyai basis agrarian, melainkan perniagaan dan pelayaran.
Pengawasan terhadap perniagaan dan pelayaran merupakan sendi-sendi kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan yang besar dari pajak. Hal itu dibenarkan oleh Tome Pires, wartawan portugis. Ia melaporkan, di pasai pada tahun 1513, setiap kapal yang membawa barang-barang dari barat dikenakan pajak. Ia juga menceritakan bahwa pasai memiliki mata uang drama atau dirham yang berukuran kecil. Adanya mata uang tersebut membuktikan bahwa pada saat itu Samudra Pasai merupakan kerajaan yang makmur.
Ditinjau dari segi geografi dan social ekonomi, Samudra Pasai memang merupakan suatu daerah yang penting, sebagai penghubung antara pusat-pusat perniagaan yang terdapat di kepulauan nusantara, Malaya, India, Cina dan Arab. Posisi yang strategis tersebut menjadikan kerajaan ini pusat perniagaan yang sangat penting.
Mata uang dirham dari Samudera Pasai itu menjadi bukti yang menunjukkan sejarah raja-raja pasai. Sebab, mata uang tersebut menerangkan nama-nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik al-Zahir, Sultan Abu Zaid, dan Sultan Abdullah. Pada tahun 1973, ditemukan lagi sebelas mata uang dirham, di antaranya ada yang memuat nama Sultan Muhammad Malik al-Zahir, Sultan Ahmad, dan Sultan Abdullah. Semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke 14 dan ke 15. Atas dasar mata uang emas yang pernah ditemukan itu, dapat diketahui nama-nama raja SAmudera Pasai. Berikut nam-nama mereka :
- Sultan Malik al-Saleh (1292 – 1297)
- Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297 – 1326)
- Sultan Mahmud Malik al-Zahir (1326 – 1345)
- Sultan Manshur Malik al-Zahir (1345 – 1346)
- Sultan Ahmad Malik al-Zahir (1346 – 1383)
- Sultan Zainal Abidin Malik al-Zahir (1383 – 1405)
- Sultanah Nahrasiyah (1405 – 1420)
- Sultan Abu Zaid Malik al-Zahir (1420 – 1455)
- Sultan Mahmud Malik al-Zahir (1455 – 1477)
- Sultan Zain al-Abidin (1477 – 1500)
- Sultan Abudullah Malik al-Zahir (1501 – 1513)
- Sultan Zain al-Abidin (1513 – 1524)
Pada tahun 746 H atau 1345 Masehi, Ibnu Batuttah, pengembara asal Maroko, mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ia menggambarkan bahwa penduduk kota di sana berjumlah sekitar 20 ribu jiwa. Di kesultanan tersebut terdapat istana yang ramai, dengan ratusan ilmuwan dan ulama yang menghidupkan aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa itu, sultan yang berkuasa adalah Ahmad Malik al-Zahir (1326 – 1371). Ia mewarisi kekuasaan dari Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297 – 1326)
Berdasarkan berita Ubnu batuttah, juga diketahui bahwa kerajaan samudra pasai ketika itu merupakan pusat studi agama islam dan juga tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri islam. Para ulama tersebut berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus. Ibnu Batuttah menyatakan bahwa islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan di sana, sedangkan kaum muslim di sana mengikuti Mazhab Syafi’i.

Namun demikian, ada sumber lain berisi berita yang cenderung berbeda. Ada dua buah naskah lokal yang ditemukan di Aceh, yaitu idah Haqq fi Mantakat Peureula karya Abu Ishaq Makarani dan Tawarikh Raja-raja pasai. Menurut sumber-sumber ini, kerajaan Samudra Pasai sudah berdiri pada tahun 433 H atau 1042 Masehi. Kerajaan yang dikuasi oleh Dinasti Marah Khair ini terus berjaya hingga tahun 607 H atau 1210 masehi. Pada tahun tersebut baginda raja meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu, negeri Samudra pasai menjadi rebutan antara pembesar-pembesar istana.

Keadaan politik yang tidak stabil itu berlangsung kurang lebih 50 tahun. Kondisi itu membaik setelah naiknya Marah Selu, yang kemudian bergelar Malik al-Shaleh. Berbeda dengan Hikayat Raja-raja pasai yang mengatakan bahwa pada mulanya Mara Selu beragama Hindu kemudian baru masuk islam atas bimbingan syekh Ismail, sumber ini menyebutkan bahwa Marah Selu berasal dari keturunan Raja Islam Perlak. Marah Selu juga dikatakan sebagai anak Makhdum Malik Abdullah Marah Seulangan anak Makhdum Malik Ibrahim Marah Silo anak Makhdum malik Mesir Marah Mersa anak Makhdum Malik Ishak marah Ishak anak Sultan Makhdum Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat, Sultan Kerajaan Perlak yang memerintah pada tahun 365 – 402 H atau 976 – 1012 M. Pendukung pendapat ini berpendapat bahwa kerajaan islam pertama nusantara bukanlah Samudera Pasai, melainkan kerajaan Perlak.

Nasib kesultanan Samudera Pasai akhirnya hanya berlangsung hingga tahun 1524. pada tahun 1521, kerajaan tersebut ditaklukkan oleh bangsa Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun. Setelah itu, pada tahun 1524 dan seterusnya, kesulitanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Mughayat Syah merebut kerajaan ini dan mengusir orang-orang portugis. Samudera pasai kemudian berada di bawah pengaruh kesultanan Islam Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam

sumber : Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.
Baca Selengkapnya

Situs Sejarah dan Objek Wisata Perlu Dilestarikan

Untuk pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bireuen, Pemda Bireuen perlu melakukan pendataan berbagai lokasi yang akan dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah nilai-nilai sejarah di Aceh.
Dalam kaitan itu seluruh elemen masyarakat mendukungnya dan menyadari akan pentingnya nilai sejarah, dan memang harus dikembangkan dan masyarakat di Bireuen tidak ada kekeliruan dalam menafsirkan tentang tempat objek wisata itu sendiri.
Masyarakat tidak perlu keliru dalam memahami menyangkut masalah wisata yang akan dikembangkan, sebab seluruh lokasi pariwisata yang akan ditata Pemkab Bireuen, seluruhnya diusahakan bernuansa Islami karena sesuai dengan daerah yang sangat kental memperlakukan syariat Islam, terlebih wilayah Kabupaten Bireuen.
Dalam catatan andalas, salah seorang peneliti dan Pengembangan Wilayah, Aceh Landscape Development Center (Aldec) Ir A Farhan Abus, ketika berkunjung ke Bireuen beberapa waktu lalu kepada andalas menyebutkan, terkait pemahanam masyarakat Bireuen tentang objek wisata yang sering memvonis negative thinking.
“Selama saya melakukan pengkajian dan penilitian di Bireuen, sebagian masyarakat mengartikan tempat wisata itu identik dengan tempat maksiat. Padahal objek wisata itu tidak demikian kenyataannya,” kata Farhan seraya menyebutkan, pemerintah melalui dinas terkait perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada warga di sekitar lokasi objek wisata yang ingin dikembangkan.
Dijelaskan Ir A Farhan Abus, sesuai dengan kultur dan norma-norma agama, objek wisata di Bireuen dapat dikembangkan melalui objek wisata yang bernuansa islami. Di mana pengelola objek wisata dapat melibatkan masyarakat setempat dengan membuat aturan, serta melibatkan unsur terkait dari pemerintahan untuk pengunjung ke lokasi tempat wisata.
Kabupaten Bireuen kata Farhan, selain memiliki kekayaan alamnya, juga mempunyai objek wisata pantai yang indah serta memiliki beragam objek wisata sejarah dan budaya di sejumlah kecamatan yang belum dikembangkan secara optimal.
“Banyak objek wisata yang seharusnya dapat dikembangkan kembali, seperti Pantai Ujong Blang, Kuala Raja, Pantai Kuala Jangka, Krueng Simpo, Cot Panglima, Situs sejarah Awe Getah, Situs Raja Jeumpa, air terjun di pedalaman Simpang Mamplam dan beberapa objek wisata lainnya,” terang Farhan.
Diakuinya, dengan adanya sarana objek wisata, hal itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar lokasi, dan dengan adanya wisatawan ke sana berarti akan menambah putaran perekonomian warga di sana.
Farhan Abus yang merupakan sarjana jebolan teknik Pertamanan IPB Bogor itu menambahkan, pemerintah Bireuen tetap komit mngupayakan meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, akibat keterbatasan penyuluhan apa yang akan dilakukan memupunyai kendala dari masyarakat itu sendiri.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda Olahraga Drs Jamaluddin SE MPd menyebutkan,  sebelumnya semasa Kepala Disdikbudpora masih dijabat Drs Asnawi MPd pihak Disdikbudpora sudah melakukan survey terhadap Barang Cagar Budaya (BCB), situs sejarah dan potensi objek wisata yang akan dikembangkan.
Menurutnya, ke depan pihaknya berupaya terus menggali potensi situs sejarah yang saat ini barangkali nyaris punah dan tidak diketahui oleh generasi penerus bangsa dan pada bulan Oktober 2012 mendatang Bireuen sebagai tuan rumah Festifal Seudati yang menunjukan khas heroisme Aceh.
Disebutkan, pihaknya prihatin dan ke depan terus berupaya mendata seluruh situs sejarah baik ulama kharismatik maupun pahlawan–pahlawan yang berjasa baik daerah maupun nasional seperti Kuburan Raja Jeumpa, Kuburan Tgk Dilapan, Tgk Chiek Peusangan dan berbagai situs sejarah lainnya yang harus diketahui oleh generasi penerus bangsa terutama yang ada di wilayah Kabupaten Bireuen.

sumber : seputaraceh.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Disbudpar Pamerkan 30 Karya Fotografer

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banda Aceh, sejak kemarin, memamerkan 30 foto karya 19 fotografer dari seluruh Indonesia, di Taman Putroe Phang Banda Aceh. Kadisbudpar Banda Aceh, Reza Fahlevi mengatakan, ke 30 foto itu adalah nominasi pada Lomba Foto Wisata 2012 dengan tema “Charming Banda Aceh”.

Pameran foto selama dua hari itu dibuka Wakil Wali Kota Banda Aceh yang diwakili Asisten Keistimewaan, Ekonomi dan Pembangunan, Drs Ramli Rasyid MSi. Sementara lomba foto tersebut merupakan agenda tahuan yang dilaksanakan Pemko Banda Aceh dalam tiga tahun terakhir.

Lomba foto tahun ini terlaksana atas kerja sama Pemko Banda Aceh melalui Disbudpar, 5Productions, dan Bomsky Organizer. Kegiatan tersebut juga salah satu upaya mempromosikan wisata Banda Aceh menuju visi Banda Aceh sebagai kota Bandar Wisata Islami dan kota Madani.

“Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh menjadi barometer terhadap kemajuan wisata di daerah ini. Lomba foto ini salah satu upaya memperkenalkan wisata Aceh melalui fotografi,” kata Reza.

Ketua panitia lomba, Iranda Novandi mengatakan, foto yang dipamerkan itu merupakan hasil seleksi 160 karya yang dikirim 69 fotografer pada Lomba Foto Wisata 2012. Karya foto peserta lomba itu diseleksi oleh tiga fotografer profesional, yakni Tarmizi Harva (fotogarfer Reuters), Bedu Saini (Serambi Indonesia) dan Yo Fauzan (freelance).

Menurutnya, Lomba Foto Wisata Kota Banda Aceh 2012 diikuti para fotografer dari berbaga daerah di seluruh Indonesia seperti Pekan Baru, Jakarta, Malang, Bandung, Bogor dan Medan. “Peserta yang mengikuti lomba foto wisata tahun ini lebih banyak dari tahun lalu, ini berarti event ini telah menjadi perhatian fotografer di luar Aceh,” katanya.


sumber ; aceh.tribunnews.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 6 September 2012

Mahasiswa Unsyiah Asal Gayo Diundang ke Hawai Menari Saman

Tiga Mahasiswa asal Gayo Lues dalam waktu dekat ini direncanakan berangkat ke Hawaii, Amerika Serikat. Mereka diundang untuk menari Saman. Ketiga mahasiswa dari Unsyiah tersebut adalah Sabarudin dari Fakultas FISIP, Saniman R dari Fakultas Teknik, dan Azwier dari Fakultas Pertanian.

Selain mahasiswa, ketiganya tercatat sebagai penari Saman di Sanggar masyarakat Gayo Lues, Sanggar Budaya Seribu Bukit (SBSB). Sanggar tersebut selama ini aktif mengisi sejumlah acara di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Selain mereka bertiga, juga akan diikuti sejumlah mahasiswa lainnya dari berbagai jurusan di Universitas Syah Kuala (Unsyiah) dan akan diikuti 13 Dosen dari perguruan tinggi Jantong Hate Rakyat Aceh itu. Di antara dosen yang ikut tercatat Dr. Rajab Bahry, M.Pd., tokoh Masyarakat Gayo Lues yang saat ini menjabat Ketua Prodi MPBSI pada Pascasarjana Unsyiah.

Sabarudin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Jakarta, yang memlih 13 mahasiswa dan 13 dosen Unsyiah untuk mewakili Indonesia dalam rangka promosi wisata. Kegiatan itu sekaligus menjalin kerja sama Unsyiah dengan Universitas di Hawaii.

Lelaki akrab disapa Sabar ini menambahkan, Kamis hari ini, pukul 05.00 WIB, mereka akan berangkat ke Jakarta selama tiga hari untuk mengurus VISA ke Kedubes Amerika Serikat. “Ke Hawaii berangkat sekitar tanggal 20 Oktober nanti,” katanya.

Selain tarian Saman, di Hawaii mereka juga akan menampilkan Tari Melayu dan Jawa. “Besok kita akan berangkat secara serentak ke Jakarta bersama rombongan dari Pusat Kajian dan Pengembangan Seni Unsyiah,” kata Sabar. |  

sumber:lintasgayo (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Cerita Dahlan Iskan berkunjung ke Serambi Mekkah

Akhir pekan lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI, Dahlan Iskan melakukan kunjungan kerja ke wilayah paling barat Indonesia. Dahlan menyambangi Provinsi Aceh atau yang dikenal dengan Serambi Mekkah.
Sepulang dari Aceh, Dahlan sedikit berbagi cerita mengenai perjalanannya. Dahlan merasa terharu atas sambutan masyarakat Aceh. Terlebih sosok Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang sudahdi usia senja, namun masih kuat menempuh perjalanan darat menggunakan mobil sejauh lebih kurang 4 jam untuk menemani Dahlan melakukan kunjungan kedinasan.
“Saya terharu gubernur yang sudah cukup usia jalan darat dari Aceh ke Lhoksumawe, kemudian jalan-jalan lagi. Kok bersedia jalan darat 4 jam mengatasi masalah BUMN-BUMN di Lhoksumawe,” ungkap Dahlan di Jakarta, Selasa (4/09).
Dahlan juga mengaku mendapatkan buah tangan dan kenang-kenangan dari Gubernur Aceh berupa rencong. Dia mengaku senang dapat berkunjung ke daerah ujung barat yang juga salah satu daerah istimewa di Indonesia.
“Sampai pulangnya saya dikash hadiah rencong, beliau sangat senang dengan solusi solusi yang kita berikan selama di Lhoksumawe,” singkatnya

sumber ; seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Cut Rita: Wisata Aceh Punya Potensi Besar

Bulan Juli lalu, bisa jadi momen yang berharga bagi Rita. Mahasiswi Teknik Sipil Unsyiah yang bernama lengkap Cut Rita Kemala ini, tepatnya Minggu (8/07) di Taman Budaya, Banda Aceh secara resmi dinobatkan menjadi Putri Pariwisata Aceh 2012. 

Kini, tugasnya untuk memajukan dan mempromosikan pariwisata Serambi Mekkah tidak hanya di Aceh saja, melainkan sampai ke berbagai pelosok tanah air bahkan mancanegara.

Saat ini, Rita juga mewakili Aceh untuk ikut dalam ajang pemilihan Putri Pariwisata Indonesia (PPI) 2012 yang acaranya puncaknya akan digelar 28 September mendatang di Jakarta.

“Sekarang panitia PPI juga sedang menyelenggarakan pemilihan Putri Favorit Indonesia 2012 lewat SMS, jangan lupa dukung Rita sebagai perwakilan dari Aceh ya,” ujarnya kepada SeputarAceh.com beberapa waktu lalu.

Ditanya tentang semangat apa yang akan dilakukan Rita untuk memajukan pariwisata Aceh, ternyata dara yang baru saja berulang tahun 3 September lalu ini punya keyakinan kuat untuk mempromosikan Aceh, khususnya lewat wisata Islami.

“Saya yakin dan percaya Aceh mempunyai potensi yang besar, selain panorama alamnya yang indah, kultur dan kebudayaan di Aceh bisa menjadi minat wisata dari jejak-jejak history yang pernah ada dan pastinya lewat Syariat Islam yang saat ini diterapkan,” pungkas si pemilik akun @cute_rite ini.

Rita juga menambahkan, wisata Islami yang sedang digarap oleh pemerintah dan dinas terkait saat ini bukanlah penghalang dalam memajukan wisata Aceh itu sendiri. “Wisata Islami bukan sebagai momok atau penghalang yang banyak digembor-gemborkan, melainkan menjadi tantangan sebagai nilai jual lain dari pariwisata Aceh tersendiri,” tambahnya.

Terkait infrastruktur, Rita tetap percaya di bawah kepemimpinan Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah yang ada saat ini ke depan banyak hal yang bisa dilakukan, apalagi bisa mengangkat wisata bertemakan lingkungan dan pariwisata kreatif.

“Banyak hal yang perlu dilakukan agar pariwisata kita semakin maju, mengingat Kementerian Pariwisata saja yang dulunya ada kini berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Artinya saya akan banyak lebih mengangkat green tourism and creative tourism di Aceh”.

Lebih lanjut, Rita juga menekankan bahwa sumber daya alam yang ada saat ini harus bisa ‘klop’ dengan sumber daya manusia yang tersedia, maka dari itu butuh pembenahan demi memajukan potensi wisata yang lebih baik kedepannya.

Dukung Rita di PPI 2012

Tidak lupa bagi Anda yang ingin mendukung wakil Aceh, Cut Rita Kemala menjadi Putri Pariwisata Indonesia 2012 bisa lewat SMS dengan cara mengetik PPI(spasi)ACEH kirim ke 9981.

Voting lewat SMS ini akan ditutup 28 September mendatang yang acaranya puncaknya bertempat di Merlynn Park Hotel, Jakarta yang akan disiarkan langsung di ANTV pukul 21.00 WIB.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Teungku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee


Sering terdengar bahwa tasawuf dan politik adalah dua dunia yang berseberangan. Asumsi ini semakin diperkuat dengan banyaknya pengikut tasawuf / tarekat yang kadang lebih memilih hidup uzlah (mengasingkan diri) dari problem-problem social disekelilingnya.

Pada dasarnya, kenyataan ini tidak berangkat dari pemahaman tasawuf yang benar menurut Islam. Rasulullah saw sebagai panutan utama dalam beragama ternyata juga seorang seorang negarawan. Rasulullah tidak hanya mengurus agama, tapi juga mengatur Negara.
 

Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee agaknya adalah seorang tokoh ulama yang mampu mensuri-tauladani sirah Rasul tersebut dengan baik. Selain dikenal sebagai ulama sufi perkembangan Tarekat al-Haddadiyah di Aceh, ia juga diakui berperan aktif dalam sejumlah peristiwa politik ulama ini di Aceh sepanjang hidupnya.

Tulisan singkat berikut ini akan mengulas karyanya dalam bidang tasawwuf sekaligus kiprah di dunia politik.
Biografi SingkatUlama yang kerap dipanggil dengan sebutan Abu Krueng Kalee ini, lahir pada tanggal 13 Rajjab 1303 H, bertepatan dengan 18 April 1886 H. di desa Meunasah Letembu, Langgoe< Kabupaten Pidie. Ketika itu ayahnya yang bernama Tgk. Muhammad Hanafiyah yang merupakan pimpinan dayah Krueng Kalee sedang dalam pengungsian di daerah tersebut akibat perang dengan Belanda yang berkecamuk di kawaasan Aceh Besar.

Setelah situasi perang relatif mereda, Muhammad Hasan kecil dibawa kembali oleh orang tuanya ke kampong halaman mereka di krueng Kalee. Disanalah perjalanan keilmuannya dimulai di bawah asuhan ayahanda Tgk. Muhammad Hanafiyah yang dikenal dengan panggilan Teungku Haji Muda. Selain itu ia juga belajar agama di Dayah Tgk. Chik di Keubok pada Tgk. Musannif yang menjadi guru pertama setelah ayahnya sendiri.

Ketika umurnya beranjak dewasa, ia melanjutkan pendidikan ke negeri Yan Keudah, Malaysia, di Pesantren Tgk. Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu. Yang terakhir ini merupakan ulama Aceh turut mengungsi ke negeri Jiran akibat situasi perang.

Dari Yan, Tgk. M. Hasan bersama adik kandungnya yang bernama Tgk. Abdul Wahab berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan pendidikan di Mesjid al-Haram, namun tidak lama setiba mereka di sana, adiknya tersebut meninggal dunia karena sakit. Hal ini tidak membuat Tgk. Hasan patah asemangat, ia tetap sabar dan teguh melanjutkan pendidikannya dari para ulama besar Mesjid al-Haram hingga lebih kurang 7 tahun.
Selain belajar ilmu agama, ia juga belajar ilmu falak dari seorang pensiunan jenderal kejaaan Turki Ustmani yang menetap di Mekkah. Hal mana kemudian membuatnya alaim dalam ilmu Falak dan digelar dengan sebutan “Tgk. Muhammad Hasan Al-Asyie Al-Falaky.”

Sekembalinya dari Mekkah Abu Krueng Kalee tidak langsung pulang ke Aceh tapi terlebih dahulu singgah di Pesantren gurunya Tgk. M. Irsyad Ie Leubeu di Yan Kedah. Di pesantren ini Abu Krueng Kaleesempat mengajar beberpa tahun dan kemudian dijodhkan oleh gurunya dengan seorang gadis yatim keturunan Aceh bernama Nyak Safiah binti Husein.

Atas panggilan pamannya Tgk. Muhamad Sa’id- Pimpinan Dayah Meunasah Baro- Tgk. M. Hasan pulang untuk mengabdidan mengajar di Dayah tersebut. Tidak lama berselang, Abu Krueng Kalee membuka lembaga pendidikannya sendiri di Meunasah Blang yang hari ini terletak di Desa Siem bersebelahan dengan desa Krueng Kalee, Kec. Darussalam, Aceh Besar.

Ditempat terakhir ini Abu Krueng Kalee mulai menbgabdikan seluruh ilmunya dan berhasil mencetak kader ulama-ulama baru berpengaruh dan berpencar di seluruh Aceh semisal Tgk. H. Mahmud Blang Bladeh, Tgk. H. Abdul rasyid Samlako Alue Ie Puteh, Tgk. H. Sulaiman Lhok Sukon, Tgk. H. Yusuf Kruet Lintang, Tgk. Haji Adnan Bakongan, Tgk. H. Sayid Sulaiman (mantan Imam Mesjid Raya Baiturrahman), Tgk. H. Idris Lamreng (ayahanda Alm. Prof. Dr. Safwan Idris, Matan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh), dan lain-lainnya. Sebagaian dari mereka kemudian membuka lembaga-lembaga pendiidkan agama/ dayah baru di daerah masing-masing.

Sutau hal yang patut disayangkan dari para ulama tradisional aceh dahulu adalah minimnya karya tulis keilmuan. Padahal mereka sangat “kaya” dalam khazanah ilmu agama dan pengalaman rohani. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sisitem pembelajaran di aklanagan Dayah ketika itu yang sangat terfokus pada metode “Sima’I” dan “Talaqqiy” yaitu metode belajar dengan mendengar memahami dan menghafal. Metode yang sama juga digunakan ketika mngajarkan ilmu pengetahuan kepada generasi berikutnya. Sementara penyampaiannya kembali ilmu dalam bentuk narasi atau tulisan ilmiah meskipun dapat kita temukan, namun tidak sebanding dengan khazanah keilmuan yang mereka miliki.

Fenomena ini juga terjadi pada kisah tgk. H. Hasan Krueng Kalee. Kemahiran Abu Krueng Kalee dalam Ilmu Falak (Astronomi) sangat disayangkan tidak membuahkan sebuah karya ilmiah yang dapat dijadikan rujukan hari ini. Padahal ilu yang dimilikinya tergolong ilmu yang langka di Aceh dan Nusantara ketika itu. Walaupun demikian semasa hidupnya Abu Krueng Kalee selalu menerbitkan hasil Hisab tentang awal bulan –bulan Arab, Khususnya Ramadhan, Syawal dan Haji yang sangat bermanfaat bagi masyarakat ketika itu.
Hal senada juga diutaerakan oleh putranya, Tgk. H. Syech Marhaban Hasan Krueng Kalee, ia sangat menyayangkan minimnya karya tulis dari ayahandanya tersebut. Padahal ide, pemikiran, fatwa-fatwa dan hasil penelitian Abu Krueng Kalee dalam Hisab dan Falak sangat banyak, dan tentu akan sangat berguna jika dibukukan ketika itu.

Peran Tgk. H. M. Hasan Krueng Kalee secara khusus sangat besar artinya bagi perekembanagn dan kemajuan pendidikan agama di Aceh pada masa berikutnya. Demikian pula kiprahnya dalam bidang politik telah memberi arti vital, dukungan dan semangat bagi kelangsungan Republik Indonesia yang ketika itu baru seumur jagung.
Pada tanggal 19 Januari 1973, tepatnya malam jum’at sekitar pukul tiga dini hari, Abu Krueng Kalee menghembuskan nafasnya yang terakhir. Meninggalkan tiga orang istri; Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem; Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee; dan Tgk. Hj. Nyak awan di Lamseunong. Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putrid. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban sempat menjabat Mentri muda pertanian pada masa pemerintahan presiden Soekarno.

Karyanya dalam Bidang Tasawuf
Selain aliran adlama berbagai disiplin ilmu agama Islam, Abu Krueng Kalee juga terkenal dengan Tasawuf dan kesufiannya. Abu Krueng Kalee adalah orang yang pertama memperkenalkan dan mengembangkan Tarekat Al-Hadadiyah di Seraambi Mekkah, sebagaimana dijelaskan dalam snad Tarekat.
Dalam upaya menyebarkan tarekat tersebut, Tgk. H. Hasan Krueng Kalee menulis sebuah buku panduan dalam tarekat Al-Haddadiyah yang diberi nama: “Risalah Latifah fdi Adab Adz-Zikr wa al-Tahlil wa kaifiyatu Tilawah al-Samadhiyah ‘ala Tharekat Quthb al-Irsyad al Habib Abdullah al-Haddad.”

Kitab “Risalah” setebal 32 halaman tersebut ditulis dalam dua bahasa; Arab; dan Melayu Jawi. Kitab ini terbagi dalam empat bagian. Bagain pertama menerangkan adab berzikir dan bertahlil. Bagian kedua menerangkan cara membaca shamadiyah menurut tarekat al-Haddadiyah. Bagian ketiga tentang silsilah sanad tarekat. Dan bagian ke empat menernagkan adab dan metode membaca kitab dalail khairat sebagaimana yang diijazahkan oleh kedua gurunya, Syech Abdullah Islail dan Syech Hasan Zamzami.
Pada bagian pertama buku ini, Abu Krueng Kalee menjelaskan bagaimana prosedur yang seharusnya dipelihara dlam berzikir. Dimulai dengan memelihara adab berzikir; berupa taubat dari segala dosa besar dan kecil; duduk bersila menghadap kiblat sambil mengapitkan ibu kaki kanan ke dalam lipatan paha kiri tepat pada urat besar di bawah lutut kiri yang bernama urat kaimas; meletakkan dua tangan di atas kedua paha seraya menundukkan kepala sekedarnya dan menetapkan seluruh anggota tubuhnya. Selanjutnya membaca istighfar tiga kali dan shalawat atas Nabi sepuluh kali dengan bacaan tertentu.

Selanjutnya mulai berzikir dengan ucapan khusus, seraya memejamkan mata agar terbuka mata hatinya. Dan dibayangkan wajah/rupa guru (orang yang memeberinya ijazah tarekat) di hadapannya. Karena dengan berkat/ ‘afwah gurunya-lah ia mendapatkan kebajikan zikir tersebut. Hal inilah yang disitilahkan dengan “Rabithah” dikalangan ahlus sufi.

Buku yang selesai ditulis tanggal 5 dzulhijjah 1345 H ini, sangat menekankan pentingnya arti “Rabithah’ dalam bertarekat. Rabithah diartikan pertambatan hati antara guru dan muridnya. Menurut Abu Krueng Kalee, guru adalah ganti dari Rasulullah dalam hal memberi ijazah, Talqin dan Bai’at. Rabitah disini juga dimaknai dengan ikatan hati antara murid dengan gurunya lalu ikatan hati guru tersebut dengah gurunya yang lain hingga sampai kepada hati Rasululah Saw., selalu berharap kepada Allah ‘Azza wajalla dengan berzikir.
Tgk. H. Hasan Krueng Kalee dalam buku ini juga menjelaskan bagaimana metode berzikir menurut tarekat al-Haddadiyah. Terlebih dahulu mengingat dalam hati kalimat “Allah, Allah” hingga hilang segala hal keduniaan (aghyar) pada hatinya. Bila telah sampai kepada kondisi itu, barulah dimulai zikir dengan mengucapkan “ “. Dalam mengucapkan kalimat “Ia” nafas di ambil dari pusar lalu dinaikkan ke otaknya, pada saat itu kepala dicondongkan sedikit ke kanan sambil mengucapkan kalimat dan pada saat mengucapkan kalimat “ seolah-olah kalimat itu dihujjamkan dalam hati yang terletak pada lambung kiri kadar dua ibu jari bawah susu. Hentakan tersebut dilakukan dengan mesra dan dimaksudkan untuk memberi bekas kepada hati, sebab ia adalah tempat bernaungnya syaitan yang bernama “Khannas”. Metode dzikir semacam ini juga dijumpai dalam berbagai tarekat sufi lain dalam pengucapan kalimat tahlil “ “.

Pada kesudahan buku ini juga memeperingatkan orang agar berzikir dengan tulus ikhlas semata-mata karena Allah, serta memelihara bacaan dzikir agar tidak terjadi kesalahan pengucapan yang berdampak kepada kufur. Dzikir tidak hanya dilakukan dalam keadaan duduk, tapi boleh dalam keadaan berjalan, maupun berbaring. Baik dengan lisan atau dengan hati.

Abu Krueng Kalee juga menjaelaskan sebaiknya seseorang terlebih dulu membaca samadhiah sepuluh ribu kali yang diniatkan bagi dirinya sendiri, lalau sepuluh ribu kali bagi orang tuanya, dan sepuluh ribu kali bagi syaikh/ gurunya. Akan tetapi yang paling afdhal untuk diri sendiri dibaca seratus ribu kali.
Menurut Abu Krueng Kalee, keistimewaan membaca shamadiah (surat Ikhlas) di dasari atas hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwa “ barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sepuluh ribu kali, niscaya Allah akan membebaskan dari apai neraka.” Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain Rasulullah Saw, bersabda; “ Barangsiapa membaca “ “ sepuluh ribu kali bagi mayit, niscaya Allah akan membebaskannnya dari api neraka.”

Tarekat Al-Haddadiyah memiliki cirri khas berupa kesederhanaan, khususnya dari segi bacaan dan praktek dzikir yang terfokus kepada kalimat Tauhid dan tahlil “ selain selawat dan doa-doa lainnya. Ini di dasari pada beberapa hadist Rasulullah yang menekankan pentingnya arti kalimat Tauhid tersebut.
Kiprahnya Dalam Dunia Politik

Satu hal yang menarik dikaji pada tokoh Abu Krueng Kalee adalah kiprahnya di dunia politik. Meski Abu Krueng Kalee seorang ulama salafi dan sufi terkemuka di Aceh yang dikenal sangat fanatic, namun hal tersebut tidak lantas membuatnya jauh dari dunia politik yang seolah dianggap tabu dan berseberangan dengan ajaran agama.

Bagi pemerhati sirah Rasulullah Saw yang mulia, hal seperti ini pada dasarnya tidaklah mengherankan. Sebab Rasul Saw yang notabene adalah waliyul aAuliya wa Asyfiya pemimpin para wali dan sufi) juga merupakan pemimpin pemerintah Islam. Mengurus agama dan juga mengatur Negara. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dan saling melengkapi satu sama lain. Akhirat adalah tujuan, sementara dunia adalah jalan (wasilah) untuk menuju kesana.

pemahaman yang benar terhadap sirah Rasul ini membuat abu krueng kalee dapat mengkombinasikan kedua hal tadi dalam kehidupannya. karena tasawuf adan tarikat tidak selalu identik dengan uzlah (pengasingan diri) dari kehidupan social. Pemahaman ini pula yang kemudian membuat kiprah tgk. H. Hasan Krueng Kalee selalu hadir mengiuringi setiap peristiwa yang muncul disekelilingnya.

Dalam upaya mengusir penjajahan colonial Belanda mislanya, sikap Abu Krueng Kalee jelas terlihat dari usahanya membentuk lascar mujahidin yang terdiri dari para santri dan masyarakat guna mengusir penjajahan dari Bumi Serambi Mekkah. Hal ini terus berlanjut hingga perang Revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Puncak dari dukungan tgk. H. Hasan Krueng Kalee terhadap republic Indonesia yang baru lahir ketika itu adalah diterbitkannya “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” tanggal 15 oktober 1945. maklumat ini berisikan tentang fatwa bahwa perjuangan memeprtahankan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil (Jihad fi sabilillah), dan merupakan sambungan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Alm. Tgk. Chik Di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya. Maklumat penting ini diprakarsai dan ditandatangani oleh empat Ulama besar yaitu; Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Tgk. M. Daud Bereu’eh, Tgk. H. Djakfar Sidik Lamjabat, dan Tgk. Ahmad Hasballah Indarapuri, serta diketahui oleh Teuku Nyak Arief selaku residen Aceh dan disetujui oleh Tuanku Mahmud selaku ketua Komite Nasional.

Selain maklumat bersama, beliau juga mengeluarkan maklumat sendiri yang tidak jauh berbeda dengan maklumat itu. Maklumat tersebut kemudian dicetak oleh Markas Daerah PRI (pemuda republic Indonesia) dengan surat pengantar yang ditandatangani ketua umumnya Ali Hasjimi tertanggal 8 November 1945 dan dikirim kepada para tokoh dan ulama seluruh aceh. Dampak dari seruan ini, berdirilah barisan Mujahidin diseluruh Aceh yang kemudian menjadi Mujahiddin Divisi Tgk Chik di Tiro.

Keluarnya Maklumat Ulama seluruh Aceh tadi sangat memberi dampak positif bagi pemeritah baru RI saat itu dan munculnya semangat dukungan fisik dan materil rakyat Aceh bagi membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan RI.”

Kiprah politik Abu Krueng Kalee juga terlihat dalam kasus perang Cumbok antara pasukan hulubalang Aceh pimpinan Teuku Daud Cumbok dengan pasukan pejuang Aceh yang mendukung kemerdekaan RI.
Pad dasarnya tidak semua ulama setuju dengan perang ini. Abu Krueng Kalee salah seorang diantaranya. Abu Krueng Kalee lah yang di utus pihak pejuang Aceh di Kuta Raja untuk menemui Teungku Daud Cumbok agar mau berdamai. Namun ajakan itu ditolak. Atas sikapnya yang netral itu beliau diangkat oleh Komite Nasional Daerah Aceh menjadi salah seorang anggota tim penyelidikan asal-usul tragedi besar “perang saudara” yang telah merenggut sekitar 1500 nyawa rakyat Aceh dipenghujung tahun 1945 tersebut.
Ketika peristiwa DI/TII meletus di Aceh tahun 1953, seorang utusan Daud Beureueh dating menjumpainya untuk mengajak bergabung dalam barisan DI/TII. Namun beliau menolak dengan sebuah ungkpan yang masyhur; “Ta Peu’ek geulayang Watei na Angen.” (terbangkanlah laying-layang ketika angina kencang). Ungkapan ini bermakna bahwa keputusan Abu Beureu’eh dan kawan-kawan ketika itu tidak di dukung oleh situasi dan kondisi yang tepat, tidak akan mebuahkan hasil dan justru akan menyengsarakan rakyat.
Menjelang tahun lima puluhan, bersama beberapa tokoh lain Abu Krueng Kalee memprakarsai lahirnya Perdatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di Aceh sekaligus memimpin organisasi tersebut aktif hingga tahun 1968.

Kiprah politikj beliau terus berlanjut hingga pernah diangkat menjadi Dewan Konstituante pasca pemilu 1955 mewakili PERTI. Hingga akhir hayatnya beliau terus memberikan ilmu-ilmunya kepada masyarakat melaui konsultasi dan pengajian-pengajian.
Penutup

Tgk. H. Hasan Krueng Kalee memang telah tiada, namun degungan suara tahlil dan shamadiyah menurut tarekat Al-Haddadiyah masih menggema dan terus terdengar di berbagai desa dan kota di serambi Mekkah. Seiring dengan itu fatwa syahid yang beliau keluarkan masih terus relevan dan memberi motivasi sendiri bagi masyarakat Aceh dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan. Wallahu’alam
Bahan ini merupakan ringkasan dari buku Ensikoledi Pemikiran ulama Aceh, karena sulitnya mencari biografi beliau.

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Wednesday, 5 September 2012

Abu Kruet Lintang, Ulama Karismatik Aceh Timur

Abu Kruet Lintang lahir pada tanggal 21 Agustus 1917 di desa Kruet Lintang, Kemukiman Rambong Payong, Peureulak Aceh Timur. Ketika berusia 10 tahun, orang tuanya meninggal  dunia dan selanjutnya Abu Kruet Lintang  diasuh oleh pamannya yaitu Teungku Usman bin Mahmud. Saudara Abu Kruet Lintang yang lain adalah Abdul Manaf, Aisyah, dan Sakinah. Ibunda Abu Kruet Lintang bernama Ummi Hamidah binti Teungku Mahmud atau lebih dikenal dengan sebutan Teungku  Chik Mud Julok bin Abdul Muin. Teungku  Chik Mud juga seorang ulama terkenal dan tokoh masyarakat di daerahnya yang mempunyai andil besar dalam perjuangan melawan penjajah serta dalam bidang dakwah Islam.

Abu Kruet Lintang nikah dengan seorang perempuan yang bernama Ummi Aminah binti Teungku Chik Ahmad Simpang ulim. Dari perkawinan itu, Abu Kruet Lintang dikarunia delapan orang anak, yaitu teungku Abdurrahman, Teungku Abdurrani, Hamdan, Ramlah, Muhammad, Syafur, Maryam, serta Abdullah.
Pendidikan
Sebagaimana lazimnya anak –anak di Aceh bahwa pendidikan pertama ia peroleh dari orang tuanya dirumah, apalagi jika orang tuanya juga seorang yang alim. Setelah orang tuanya meninggal, ia kemudian belajar pada pamannya seperti belajar membaca Alquran dan kitab – kitab agama dalam bahasa Jawi. Sedangkan pada pagi hari ia belajar pada Sekolah Rakyat (SR). Alue Nireh. Disekolah ini beliau hanya belajar hingga kelas tiga, selanjutnya beliau lebih banmyak belajar di lembaga pendidikan Dayah.
Pendidikan di Dayah yang dilaluinya tidak hanya pada satu dayah saja tetapi dari satu Dayah ke Dayah yang lain. Hal itu karena ia memiliki kecendrungan menuntut ilmu dalam berbagai bidang. Di antara Dayah tempat ia belajar adalah Dayah Cot Plieng, Bayu, selama delapan bulan dibawah asuhan  Teungku Cut Ahmad. Ketika pimpinan Dayah itu meninggal,  Abu Kruet Lintang  pindah ke Dayah Krueng Kalee, Aceh Besar pada tahun 1939 yang dipimpin oleh Teungku Hasan Krueng Kalee. Setelah itu  Abu Kruet Lintang belajar pula pada Dayah Blang Batee Peureulak pada tahun 1942, di bawah asuhan Teungku Muhammad Ali. Pada Dayah Blang Batee ini Abu Kruet Lintang memperdalam ilmu Tauhid, Tafsir, ilmu Kalam dan lain – lain selama satu tahun.
Aktivitas Sosial dan Keagamaan
Dengan kecerdasan  dan pengetahuannya tentang agama Islam yang ia miliki, Teungku Muhammad Ali (pimpinan Dayah Blang Batee) meminta Abu Kruet Lintang untuk kembali ke Dayah Mutaallimin di Aceh Timur untuk memimpin Dayah itu sebagai pengganti pamannya yang sudah meninggal. Pada tahun 1943 Abu Kruet Lintang mulai memimpin Dayah itu dan sekaligus melakukan berbagai pembenahan menyangkut sistem pendidikan. Sebagai seorang ulama motivasinya beraktivitas dalam melaksanakan pendidikan umat semata-mata karena mengharap ridha Allah. Ilmu yang telah ia kuasai selanjutnya diajarkan kepada masyrakat daan santri – santri  di Dayah Darul Mutaallimin
                Dengan ketinggian ilmu agama yang dimiliki oleh Abu Kruet Lintang, selanjutnya beliau mendapat pengakuan masyarakat sebagai ulama. Apalagi dilihat dari latar belakang keluarga dan pendidikan, Abu Kruet Lintang memang terkenal  dari keluarga ulama. Dengan demikian tidak heran apabila ia menghabiskan usianya demi pendidikan dakwah Islam.
                Kepedulian Abu Kruet Lintang terhadap problem – problem masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan sangat tinggi. Akibatnya masyarakat mudah sekali  terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang dari tuntunan Islam yang sebenarnya. Misalnya  masyarakat banyak yang terjerumus dalam kesyirikan, bidah, khurafat dan sebagainya karena tidak memiki pengetahuan. Problem itu mendorong Abu Kruet Lintang mencoba menumbuhkan sikap keagamaan masyarakat berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu masalah pertama yang dilakukan dalam memulai dakwahnya adalah dengan pembenahan keyakinan karena akidah atau keyakinan itu merupakanprinsip dasar yang harus dipahami dengan benar oleh setiap muslim. Apabila keyakinan seorang muslim rusak maka sia – sialah ia melaksanakan amalan lain dalam Islam. Langkah selanjutnya yang ditempuh adalah pembersihan setiap amalan dari unsur bidah dan khurafat yang tidak ada contohnya dalam Islam.
                Selain mengajar ilmu agama di Dayah, Abu Kruet Lintang juga member pengajian diberbagai tempat di Aceh Timur. Dalam pengajian itu beliau membahas berbagai permasalahan agama, terutama menyangkut amalan praktis seperti shalat, puasa, zakat, haji, thaharah dan sebagainya. Abu Kruet Lintang mempunyai peranan yang penting sebagai ulama dan pimpinan masyarakat dalam menegakkan ajaran Islam yang benar dan mempersatukan umat dari perselisihan. Beliau telah membina dan mendidik masyarakat dari kerusakan akidah kepada yang benar sebagaimana Alquran dan Hadits.
                Pada tahun 1963 Teungku Hasan Krueng Kalee mengirim surat kepada Abu Kruet Lintang yang isinya menyebut agar Abu Kruet Lintang mendirikan organisasi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islam) di Aceh Timur. Abu Kruet Lintang lalu bermusyawarah dan bermufakat dengan berbagai pimpinan dayah di Aceh Timur dalam rangka pendirian organisasi PERTI tersebut. Dalam musyawarah itu terpilih pula Abu Kruet Lintang sebagai ketu umum PERTI di Aceh Timur dengan sekretarisnya Teungku Mukhtar Juned Amin. Organisasi itu kemudian beliau kembangkan dan sosialisasikan ke masyarakat terutama melalui dayah. Langkah pertama yang dilakukan oleh Abu Kruet Lintang adalah mengintruksikan kepada setiap dayah yang tergabung dakla morganisasi PERTI wajib mencetak kader dakwah dan calon ulama yang terampil.
                Dalam pembinaan kader dakwah cara yang ditempuh oleh Abu Kruet Lintang adalah dengan cara membuka latihan – latihan dan kursus – kursus kepada masyarakat terutama melalui pendidikan did ayah. Selanjutnya usaha Abu Kruet Lintang dalam bidang pendidikan adalah dengan menganjurkan kepada setiap pimpinan PERTi di daerah untuk mempersiapkan anak – anak muslim yang terpelajar. Untuk itu dibukalah Madrasah Ibtidaiyah dan pengajian Alquran disetiap daerah sehingga mulai saat itu bermunculan Madrasah Ibtidayah di Peureulak.
Akhir hayat
                Manusia boleh berencana tetapi ketentuan hanya di tangan Tuhan. Begitulah yang terjadi  pada diri Abu Kruet Lintang. Ketika beliau masih aktif berdakwah dan ingin mengembangkan terus sistem pendidikan kea rah yang lebih baik tetapi Tuhan menghendaki lain, sehingga beliau berpulang kerahmatullah pada tahun 1985. Kepergiannya tidak sia –sia karena ia telah berbuat banyak terhadap umat dan menjadi tugas generasi sesudahnya untuk melanjutkanperjuangan beliau. Semoga amalnya diterima disisi Allah.

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Tuesday, 4 September 2012

Yuk Kita Intip Bandara Cut Nyak Dhien

cut_nyak_dhien



A. FASILITAS LANDASAN
Koordinat : 04o246 N; 0961502 E

Elevasi : 3 m

Runway Number : 15 – 33

Runway Length : 1.800 x 30

Konstruksi : Hotmix

Taxiway : 95 x 18

Apron : 90 x 40

Turning Area : Ada ; Runway 15 L = (50+100)/2×20 = 150 m2
Shoulder Kanan : 30 x 1800

Shoulder Kiri : 30 x 1800

Overrun : 2 x 30 x 30

Resa : 2 x 90 x 60

Open Drainage : Ada

Close Drainage : -

Pagar Bandara : Ada

Kapasitas : PCN 19 FCYT

Marking : Ada

Kelas Bandara : III

Pengelola : UPT Ditjen. Hubud

Status Kontrol : AFIS






B. FASILITAS NAVIGASI

Jenis Peralatan : NDB DME DVOR
Merk / Type : LWX. 100 Inter Scan Inter Scan
Negara Asal : Amerika Australia Australia
Frequensi : 235 MHz 1108 MHz 113,7 MHz
Ident : BE MLH MLH
Power / Coverage : 100 s/d 125 W 1 KW 100 W
Tahun Operasi : - 2008 2008
Jumlah (Set) : 1 Set 2 Set 2 Set





C. FASILITAS TELEKOMUNIKASI

Jenis Peralatan : SSB VHF Tower Set
Merk / Type : Vortex Standar / Sistem 600 Dittel Park Air
Negara Asal : Jepang Jerman Inggris
Frequensi : 6589 KHz 129,3 MHz 129,3 MHz
Power / Coverage : 100 W 50 W 50 W
Tahun Operasi : 2005 2005 2009
Jumlah (Set) : 2 Set 1 Set 1 Set





D. FASILITAS PKP-PK



Mobil Pemadam/Foam Tender : Matras/III 250 Ltr Air

Rescue Car : Mitsubishi L 200 / IV 250 Kg DP

Ambulance : Mitsubishi L 300

Baju Tahan Api : Gujoodue, 4 Buah

Foam Portable : Yamato 9 Ltr 15 Unit






E. FASILITAS BANGUNAN

Gedung Terminal : Lama 300 m2 ; Baru 1200 m2

Gedung Kantor : Kabandara 120 m2 ; Operasional 210 m2
Gedung PKP-PK : 160 m2

Gedung Operasi : 48 m2 + Atas 24 m2

Gedung Genset : 48 m2 ; 2 Buah

Gedung A 2 B : 96 m2 peralihan gedung PK lama
Gedung Tower : Lama 24 m2 ; Baru 7 x 28 m2

Gedung VOR / DME : 48 m2

Musholla : 64 m2


Bandara Aceh Lainnya :
Baca Selengkapnya

Saturday, 1 September 2012

Tarian Rapai Geleng

Rapa’i adalah salah satu alat tabuh seni dari Aceh. Alat tabuh ini dikenal dengan nama Rebana. Rapa’i (Rebana) terbagi kepada beberapa jenis permainan, Rapa’i Geleng salah satunya. Permainan Rapa’i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair (lagu-lagu) yang dinyanyikan. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Rapa’i Geleng pertama kali dikembangkan pada tahun 1965 di Pesisir Pantai Selatan. Nama Rapa’i diadopsi dari nama Syeik Ripa’i yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini. Syair yang dibawakan tergantung pada Syahi. Hingga sekarang syair-syair itu banyak yang dibuat baru namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah. Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada mayarakat tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama serta solidaritas yang dijunjung tinggi.

Tarian Rapai Geleng ada 3 babak yaitu: 1. Saleum (Salam) 2. Kisah (baik kisah rasul, nabi, raja, dan ajaran agama) 3. Lani (penutup).
Baca Selengkapnya

Hotel Bunda Aceh


Dirancang untuk wisata plesir dan bisnis, Hotel Bunda Aceh terletak strategis di Takengon; salah satu daerah lokal terkenal. Dari sini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang hidup. Dengan lokasinya yang strategis, hotel ini menawarkan akses mudah ke destinasi yang wajib dilihat di kota ini.

Hotel Bunda Aceh menawarkan pelayanan cemerlang dan segala perlengkapan penting untuk menyenangkan para pelancong. Para tamu hotel ini dapat menikmati fasilitas setempat seperti layanan kamar 24 jam, wi-fi di tempat-tempat umum, coffee shop, layanan laundry/dry cleaning, ruang merokok .

Semua akomodasi tamu dilengkapi dengan fasilitas yang telah dirancang dengan baik demi menjaga kenyamanan. Fasilitas rekreasi hotel ini seperti pijat dirancang untuk berelaksasi. Apapun alasan Anda untuk mengunjungi Aceh, Hotel Bunda Aceh adalah tempat yang sempurna untuk liburan yang menyenangkan.

sumber : baca selengkapnya di http://www.agoda.web.id
Baca Selengkapnya

Friday, 31 August 2012

3 Tips Dalam Menentukan Tempat Tujuan Liburan


Liburan adalah waktu dimana sesorang melepaskan segela bentuk kepenatan yang ada setelak runtinitas bekerja. Berlibur juga bisa memberikan ide-ide kreatif dan inspiratif yang bisa dipakai untuk keperluan pekerjaan.
Namun dalam menentukan destinasi liburan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya mendapatkan liburan yang menyenangkan, simak beberapa tips di bawah ini :
1. Pilih waktu yang tepat
Dengan memilih waktu liburan yang tepat bisa membuat liburan Anda semakin lancar dengan jadwal/acara yang telah Anda persiapkan. Karena jika salah dalam memilih waktu liburan, bisa mengacaukan liburan Anda misalnya tempat wisata yang penuh, kamar hotel pilihan yang penuh dan lainnya.
2. Atur biaya liburan
Setelah memilih waktu liburan yang tepat, langkah selanjutnya adalah mengatur biaya liburan. Yang termasuk biaya liburan antara lain biaya untuk menyewa kamar hotel, makan, belanja, bensin/tiket pesawat, dan lain-lain.
3. Cari info tentang tempat tujuan liburan
Media internet bisa dilakukan untuk melakukan hal ini. Sekarang banyak bermunculan situs-situs yang memberikan informasi tentang tempat liburan. Jika kurang yakin, sebaiknya Anda meminta pendapat teman yang pernah mengunjungi tujuan wisata yang akan ada kunjungi.
Baca Selengkapnya

Pangdam IM: Aceh Tengah Miliki Potensi Besar untuk Berkembang

Takengon — Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Zahari Siregar menyatakan, Kabupaten Aceh Tengah harus dibangun dengan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Daerah penghasil kopi itu memiliki potensi yang besar untuk berkembang di masa depan jika dikelola dengan profesional.
Kunjungan kerja pertama ke daerah dataran tinggi Gayo itu memberi kesan tersendiri bagi Pangdam. Melihat sumber daya alam (SDA), budaya dan potensi besar yang dimiliki daerah itu, ia berkeyakinan Aceh Tengah bakal menjadi salah satu daerah yang sangat maju di Aceh.
“Panorama alamnya sangat indah dan memiliki beragam budaya. Takengon sudah memiliki modal besar untuk maju dan berkembang”, ujar mantan Kepala Staf Kostrad itu saat bertatap muka dengan masyarakat setempat, Selasa lalu.
Dikatakan, untuk mengelola SDA yang sudah ada tentunya diperlukan SDM yang handal. Menurutnya, faktor manusia yang handal dapat menjadi motor yang kuat dalam menggerakan sektor perekonomian terutama pariwisata.
Sektor pariwisata dapat menjadi lokomotif utama untuk meningkatkan perekonomian daerah dan bila ekonomi masyarakat meningkat akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan dan kestabilan politik serta keamanan daerah di masa depan. “Bila masyarakat sejahtera maka kondisi geopolitik akan menjadi stabil,” tegasnya.
Sebelumnya, Pj Bupati Aceh Tengah, Ir Mohd Tanwier MM mengakui bahwa sumberdaya wisata dan budaya daerahnya belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga perlu terus mendapat perhatian berkelanjutan.
Berbagai upaya pengembangan pariwisata harus dilakukan termasuk di antaranya kerjasama dengan jajaran Kodam IM terutama dalam pembinaan teritorial, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Dari kerjasama yang baik ujar Tanwier, banyak capaian yang diperoleh daerah dingin itu di antaranya secara berkala diselenggarakan TNI Manunggal Membangun Desa, menyiapkan 5 paket jembatan rangka baja dan bailey di beberapa kawasan di daerah tersebut.
Silaturahim Pangdam dengan tokoh masyarakat berlangsung di Gedung Ummi Pendopo, dihadiri unsur pimpinan daerah, jajaran dinas badan dan kantor serta organisasi massa.

sumber ; seputaraceh.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Ini Dia Duta Wisata Aceh Tengah 2012

TAKENGON – Rahmat Akbar dan Rizki Hawalaina terpilih menjadi Duta Wisata Aceh Tengah dan Abang Aka Takengon 2012. Mereka terpilih setelah unggul dari finalis lainnya dalam  acara grand final di Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, Selasa 17 Juli 2012 malam.
Rahmat Akbar adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU Sumatera Utara. Sedangkan Rizki Hawalaina merupakan siswi SMAN 4 Takengon. Keduanya berhak mewakili Kabupaten Aceh Tengah untuk mengikuti pemilihan Agam Inong Aceh, di Banda Aceh September 2012 mendatang.
Panitia pelaksana Khalis, Rabu 18 Juli 2012 berpesan agar keduanya terus belajar supaya menjadi yang terbaik di tingkat provinsi. “Kepada peserta yang tidak menjadi Duta Wisata jangan patah semangat dan terus belajar,” ujarnya.
Sementara itu, berada diperingkat kedua, yakni pasangan Lapizan Ramadhan dan Sine Kin Nice dan peringkat ketiga pasangan Khairul Insan dan Rey Sari Putri Aini.
Adapun tim juri, Zulfikar Ahmad (IT), Tgk Khaikal Sadeq (Syari’at Islam dan budaya Gayo), Hanisa Fitri (Catwalk dan cara berbusana), Harmala (Psikologi) dan Elyulizar (kemampuan berhasa Inggris).

sumber ; atjehpost.com (visit this website now)
Baca Selengkapnya

Festival Seudati Bireuen Dimundurkan 8-10 Oktober Mendatang

Bireuen — Setelah diresmikan secara simbolis di Balairung Soesilo Soedarman lingkungan kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu (11/08) lalu. Festival Tari Seudati Bireuen Aceh 2012 yang sebelumnya akan digelarkan 7-9 September mendatang akhirnya dimundurkan menjadi 8-10 Oktober yang nantinya akan bertepatan dengan HUT Kabupaten Bireuen.

Penundaan acara festival ini dibenarkan oleh Panitia dan Ketua Dewan Kesenian Aceh Kabupaten Bireuen, Dewa Abdullah yang disampaikan dalam rilisnya kepada SeputarAceh.com, Jum’at (31/08).
Dewa Abdullah mengatakan, bahwa penundaan tersebut adalah hasil dari musyarakat pihak panitia dan Pemda Kabupaten Bireuen yang dilakukan Rabu (29/08) lalu. Mengingat akan adanya Peringatan Ulang Tahun Kabupaten Bireuen yang jatuhnya di bulan Oktober 2012, sehingga pelaksanaan festival akan diadakan bersamaan dengan HUT Bireuen tahun ini.

“Penundaan acara tersebut bukan berarti pihak panitia tidak siap dalam melaksakan event tersebut sebagaimana dengan jadwal semula, melainkan untuk sama-sama memeriahkan event ini sehingga bisa mempromosi seni Tari Seudati dan HUT Bireuen yang lebih meriah,” ujar Dewa yang juga Ketua Yayasan Kesenian Sinar Jeumpa.

Sementara itu, pihak Kemenparekraf mengharapkan kegiatan Festival Seudati tersebut dapat dimaksimalkan dengan baik, terlebih bersamaan dengan momen HUT Bireuen. Sehingga promosi dan publikasinya dapat dioptimalkan secara meluas ke khalayak ramai, dan gaung dari event tersebut dapat lebih meluas serta diketahui oleh masyarakat luas, mengingat masih adanya waktu dan kesempatan yang cukup memadai sebelum pelaksanaan acaranya nanti.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 28 August 2012

Pemerintah Terus Motivasi Industri Kreatif untuk Potensi Wisata


Pemerintah Aceh terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif, guna mendukung industri pariwisata di provinsi itu.

“Kami terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif untuk mendukung industri pariwisata di Provinsi Aceh,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Jasman Ma’aruf di Banda Aceh, Senin (13/08).

Menurut dia, ekonomi kreatif tidak bisa dipisahkan dengan industri pariwisata. Kedua aktivitas ini harus saling mendukung satu sama lainnya.

Industri pariwisata, kata dia, tidak akan bisa maju tanpa didukung pelaku-pelaku ekonomi kreatif yang handal. Karena itu, Aceh terus berupaya mengembangkan ekonomi kreatif tersebut.

Salah satu upayanya, kata dia, dengan meningkatkan kapasitas para pelaku ekonomi kreatif agar mereka mampu berkreasi dalam menghasilkan produk.

“Daya kreasi para pelaku ekonomi kreatif ini sangat dibutuhkan guna mendukung pembangunan industri pariwisata Aceh. Apalagi Aceh akan mencanangkan program tahun kunjungan wisata pada 2013,” kata Jasman Ma’aruf.

Ia menyebutkan, ada di 14 subsektor ekonomi kreatif yakni periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, busana, video, film dan fotografi.

Selain itu, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan industri dan peranti lunak; industri dan radio; serta riset dan pengembangan.

Oleh karena itu, kata dia, dengan berkembangnya ekonomi kreatif di Aceh akan melahirkan karya maupun produk berkualitas dari Bumi “Serambi Mekkah”.

“Kami terus mendorong agar para pelaku ekonomi kreatif ini mampu berkreativitas menghasilkan karya bermutu, sehingga diminati wisatawan, bagi dalam maupun luar negeri,” kata Jasman Ma’aruf.
Baca Selengkapnya

Ayo, Dukung Icut di World Muslimah Beauty 2012

Ajang pemilihan duta muslimah internasional, World Muslimah Beauty (WMB) 2012 akhirnya masuk pada babak polling (vote) untuk peserta.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sebelum memasuki ke tahap pemilihan 20 besar finalis WMB, dewan juri serta pihak panitia menyediakan voting resmi lewat situs www.worldmuslimah.com yang sudah dibuka sejak 17 Agustus lalu hingga 15 September mendatang untuk menentukan finalis favorit WMB 2012.

Cut Radhiah Swadia salah satunya, peserta WMB dari Aceh ini juga menanti dukungan Anda. Icut, begitulah panggilan dara asal Kota Langsa ini tetap semangat untuk mencari dukungan menjadi salah satu peserta yang bisa masuk dalam “The Most Favorite Contestant”.

“Saat ini Icut baru minta dukung teman-teman di Twitter saja, semoga saja nanti banyak yang dukung Icut di polling online,” ujar si pemilik akun @cutdhiah kepada SeputarAceh.com, Minggu (19/08).

Setelah melengkapi video profil dan bacaan surat Al Hujurat ayat 13-14, ada 110 peserta dari WMB yang akan disaring terlebih dahulu lewat online. Ini menjadi bagian dari ajang pemilihan duta muslimah sebelum masuk dalam tahap penjurian yang melibatkan dewan juri.

Nah, bagi Anda yang ingin memilih Icut jadi salah satu peserta favorit WMB 2012. Bisa vote di laman http://worldmuslimah.com, dengan cara login/mendaftar terlebih dahulu sebagai salah satu syarat untuk memilih.

“Plis vote Icut ya, dukungan teman-teman sangat berarti dan sebelumnya selamat Idul Fitri untuk semua”, pinta Icut.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Sabang International Regatta Digelar September Ini


Banda Aceh — Sebuah event wisata bahari akan digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kota Sabang, dan Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia.

Sabang Internasional Regatta untuk kedua kalinya akan digelar pada 12 sampai 24 September 2012. Rutenya pelayarannya dimulai dari Phuket (Thailand) ke Langkawi (Malaysia) yang menjadi titik awal hingga finishnya di Sabang, Aceh.

Sabang International Regatta 2012 merupakan program promosi pariwisata yang akan dimeriahkan peserta dari berbagai negara, yaitu Thailand, Malaysia, Australia, Inggris, Jerman, Singapura, Hong Kong, serta peserta dari berbagai provinsi lainnya di Indonesia. Peserta Sabang Internasional Regatta diperkirakan sekitar 50 yacht (kapal layar).

Pelayaran berskala internasional ini menggunakan kapal layar (yacht) dan kapal layar bermesin (motor yacht rally). Pelayaran dimulai dari Phuket (Thailand) ke Langkawi (Malaysia) sejauh 243 kilometer selama satu hari. Berikutnya akan dilanjutkan dari Langkawi ke Sabang dengan jarak sekitar 558 kilometer selama 2 setengah hari.

Dikutip dari Indonesia Travel, event Sabang International Regatta bertujuan untuk menempatkan Aceh dalam peta destinasi pariwisata dunia melalui melalui olah raga layar berskala internasional.Sabang International Regatta 2012 diharapkan dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Sabang.

Selain itu juga merupakan momen tepat untuk mempromosikan keindahan Sabang dan mengembalikan citra Sabang sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman. Media luar negeri akan dikenalkan dengan Pulau Weh, kota Sabang, dan potensi destinasi wisata bahari lainnya. Termasuk juga keberadaan Kilometer Nol NKRI.

Secara khusus event ini juga akan menjadikan Sabang sebagai pusat wisata bahari di Indonesia bagian barat dan mendorong investasi di Sabang dan Aceh. Acara ini juga diupayakan untuk menjadi salah satu kalender tetap event internasional.

Kota Sabang yang terletak di Pulau Weh merupakan kota pelabuhan di ujung paling utara dan barat Indonesia. Pulau ini memiliki potensi wisata bahari dengan daya tarik alam serta kekayaan kehidupan bawah lautnya yang luar biasa indah.

sumber : seputaraceh.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya