Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Tuesday, 30 October 2012

Rempah-rempah Penyedap Kuliner Aceh

Di bawah ini merupakan beberapa macam rempah-rempah yang digunakan masyarakat Aceh untuk meracik dan menyajikan aneka kuliner/masakan yang sangat enak untuk dicoba. Tentu saja bahan-bahan alami ini sangat mudah untuk diperoleh dan didapatkan.

1. Daun Salam
2. Daun Pandan
3. Kayu Manis
4. Cengkeh
5. Lada
6. Asam Sunti
7. Jeruk Perut

8. Jeruk Nipis
9. Cabe Rawit
10. Bawang
11. Daun Sop
12. Daun Kari
13. Lengkuas

14. Kunyit
15. Serai
16. Pala

17. Kemiri
18. Kapulaga
19. Jintan
20. Kelapa
21. Adas Manis
22. Pekak
23. Jahe

24. Cabe Merah dan Hijau
25. Belimbing





Masih banyak lagi rempah-rempah lainnya. Untuk melihat deskripsi dan penjelasannya bisa dilihat di sumber berikut : http://infokuliner.pendidikanriau.com/2012/03/bumbu-masak-rempah-daun-bungadan-buah.html

Baca Selengkapnya

Nomor Penting di Aceh Yang Perlu Anda Ketahui

I. Kode telepon provinsi ACEH

  1. 0627 – Subussalam
  2. 0629 – Kutacane
  3. 0641 – Langsa
  4. 0642 – Blangkejeren
  5. 0643 – Takengon
  6. 0644 – Bireuen
  7. 0645 – Lhokseumawe
  8. 0646 – Idi
  9. 0650 – Sinabung (Simeulue)
  10. 0651 – Banda Aceh, Jantho, Lamno
  11. 0652 – Sabang
  12. 0653 – Sigli
  13. 0654 – Calang
  14. 0655 – Meulaboh
  15. 0656 – Tapaktuan
  16. 0657 – Bakongan
  17. 0658 – Singkil
  18. 0659 – Blangpidie
II. Travel dan Tour


A.  Mentari Tour




  1. Banda Aceh - 0651 29263


B. Seulawah Indah Tour



  1. Banda Aceh - 085277993691
  2. Bireun - 085262743549
C. Atra Baru Tour

Jl. Mohd. Jam No. 40Phone : (0651) 23651Fax : (0651) 23150
D. Citra Pesona Tour

Jl. Mesjid Raya No.6Phone: (0651) 32316, 33999Fax : (0651) 31555
E. Gasida Karya Travel Agent

Jl. KH. A. Dahlan No. 41BPhone : (0651) 22245
F. Sejati Wisatama

Jl. T.P Polem No. 1Phone: (0651) 22581Fax : (0651) 31770Telex : 51414
G. Tripa Wisata Tour

J1. Mesjid Raya No. 24Phone : (0651) 21455Fax : (0651) 21790 
H. Krueng Wayla Tour

Jl. Sri Safiatuddin 26Phone: (0651) 22066Telex : 54124
I. Natrabu Tour
Taman Tepi Laut, LhokngaJl. Raya Banda Acehmeulaboh Km. 17Phone: (0651) 32029Fax : (0651) 32029
J. Nustra Agung Travel Agent

Jl. Diponegoro No. 7BPhone: (0651) 22026
K. Sastra Avla Travel Agent
Jl. Jend. A. Yani No. 60BPhone: (0651) 22207
III. Rumah sakit

  1. RS Harapan Bunda Telp : 0651-41294
  2. RS Fakinah Telp : 0651 - 41454 47646
  3. RS Malahayati Telp : 0651-41517
  4. RSJ Banda Aceh Telp : 0651-32010/25857
  5. RS kesdam Telp : 0651 -22550/24712
  6. RS Zainoel Abidin Telp : 0651-22077/23068

IV. Pelayanan umum lainnya

  1. Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh 741-3351-22930-32281
  2. pemadam kebakaran 0651-44123, 0651-41830
  3. Pelayanan dan pengaduan PDAM 0651-21396
  4. POS Banda Aceh 161
  5. Poltabes Banda Aceh-Polres Aceh Besar 0811689110 
  6. Dinas Syariat Islam/Polisi Syariat (WH) Banda Aceh 085260400543 


Sumber : http://vhourkhanrasheed.blogspot.com
Baca Selengkapnya

Biografi Singkat Pahlawan Aceh Yang Gagah Berani

Berikut ini adalah nama Pahlawan Perempuan yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam:

1. Cut Nyak Dhien 


Cut Nyak Dien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Ia lahir sekitar tahun 1850. Setelah wilayah 4 Mukim di serang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda.Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda. Cut Nyak Dien bersumpah hanya akan kawin dengan laki laki yang mau membantunya melawan belanda untuk membalas dendam suaminya yang sudah di bunuh.

Lalu Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan belanda. Namun Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh  pada 11 Februari 1899 sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit encok, sehingga pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba. Ia akhirnya di tangkap dan di bawa ke Banda Aceh. Akibatnya, Cut Nyak Dien di buang ke Sumedang. Cut Nyak Dien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang. 

2. Cut Nyak Meutia 

Cut Mutia bernama lengkap Cut Nyak Meutia. Ia salah satu pahlawan nasional dari Tanah Rencong selain Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Teuku Cik Di tiro dan tokoh lainnya. Seperti pejuang Aceh lainnya, Cut Mutia terkenal dengan keberanian, keteguhan jiwa dan daya juangnya. Beliau lahir di Pirak, Keureutoe, Aceh Utara tahun 1870 dan wafat di Alue Kurieng 24 Oktober 1910. Makamnya juga terletak di Alue Kurieng.

3. Laksamana Malahayati

Dia adalah wanita pertama (bahkan mungkin satu2nya) yg menjabat sebagai Laksamana Angkatan Laut dan mempunyai tentara dan teritori sendiri. Dia adalah wanita yg turun langsung di garis depan dan menggempur armada belanda yg dipimpin oleh Cornelis De Houtman, bahkan Cornelis De Houtman sendiri mati dibunuh oleh Laksamana Malahayati dalam pertempuran. Selain armada belanda Malahayati juga menghalau armada portugis yg hendak menyerbu aceh dan reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk menempuh jalan damai. 

4. Pocut Baren

Pocut Baren adalah wanita bangsawan dilahirkan pada tahun 1880 di Tungkop Aceh Barat. ayahnya adalah teuku Amat (ulee balang (tokoh adat) tungkop yang berpengaruh saat itu. Ayahnya sering berdiskusi dengan ulama untuk masalah-masalah keagamaan dan ini tertanam dalam kepribadian Pocut Baren sehingga menjadi wanita yang pemberani dalam menegakkan agama sekaligus agama.

Suami Pocut sendiri adalah seorang pejabat daerah yang juga menjadi Ulee Balang Gume, Aceh Barat. Perjuangan Pocut dilakukan secara bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien yang rela hidup menderita dan susah.

5. Teungku Fakinah

 Menurut catatan pada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, adalah seorang pahlawan yang juga ulama puteri yang terkenal di Aceh. Ia lahir pada tahun 1856. Orang tuanya Teungku Datuk dan Cut Mah dari Kampung Lam Beunot (Lam Taleuk), Mukim Lam Krak VII, Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Sejak kecil, Teungku Fakinah diajarkan mengaji oleh kedua orang tuanya. Di samping itu, Teungku Fakinah juga diajarkan keterampilan seperti menjahit, membuat kerawang sutera dan kasab. Dari ketekunan dan kegigihannya belajar ilmu Agama Islam, maka setelah dewasa ia digelar Teungku Faki.

Pada usia 16 tahun, Teungku Faki menikah dengan Teungku Ahmad, yang setahun kemudian syahid bersama Panglima Besar Rama Setia dan Imam Lam Krak, dalam mempertahankan Pantai Cermin, Ulee Lheu, dari serangan Belanda. Setelah pernikahannya dengan Teungku Ahmad, Teungku Fakinah membuka sebuah pesantren yang dibiayai Teungku Asahan, yang tidak lain adalah mertuanya. Dalam bukunya "59 Tahun Aceh Merdeka", A. Hasjmi menyebutkan, pesantren tersebut bernama Dayah Lam Diran, yang akhirnya berkembang dan banyak dikunjungi pemuda-pemudi dari daerah lain di sekitar Aceh Besar, dan bahkan dari Cumbok, Pidie. Sejak menjadi janda diusianya yang masih remaja, Teungku Fakinah bersama para janda dan kaum wanita lain membentuk sebuah badan amal yang mendapat dukungan dari seluruh muslimat di Aceh Besar dan sekitarnya. Badan amal ini kemudian berkembang sampai ke Pidie, dengan kegiatannya meliputi pengumpulan sumbangan berupa beras maupun uang yang digunakan untuk membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Atas mufakat masyarakat, Teungku Faki kemudian menikah dengan seorang alim ulama yakni Teungku Nyak Badai, bekas murid Tanoh Abee yang berasal dari Kampung Langa, Pidie.

Berikut nama pahlawan laki-laki/pria yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam: 

1. Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan 

2. Teungku Chik Di Tiro

Ketika awal pertama kali Tgk Chik Di Tiro berjuang, ia tidak mempunyai apa-apa. Tanggapan terhadap perjuangannya pun ada yang bersikap sinis kepadanya. Teungku Chik Di Tiro bukan keturunan panglima, ia hanya seorang haji dan ulama. Menghadapai sikap sinis sebagian orang tersebut, Tgk Chik Di Tiro menerima dengan sabar. Hal tersebut malah menjadikan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Usaha pertama yang dilakukannya adalah membangkitkan semangat para pejuang dan mengumpulkan para pejuang dalam satu kesatuan yang kokoh yang tidak dapat dipecah belah. Untuk itu, ia mengadakan perjalanan keliling Aceh. Pada setiap kesempatan ia singgah di suatu tempat, ia mengadakan ceramah di masjid atau mengadakan kenduri. Pada kesempatan itu ia pergunakan untuk menyebarluaskan ajarannya mengenai perang Sabil, menyadarkan orang-orang untuk memerangi kaum kafir, berjuang di jalan yang diridloi oleh Allah, serta untuk memperoleh segala informasi dari mereka yang hadir.

3. Teuku Umar

11 Februari 1899 atau 109 tahun lalu, bertepatan bulan Ramadhan, Teuku Umar tersungkur jatuh dihantam peluru Belanda di Suak Ujong Kalak, Meulaboh, saat para pejuang sedang menunaikan sahur, beliau langsung roboh dan syahid dalam usia yang sangat produktif yaitu 45 tahun, seluruh pasukan kacau balau, sebuah takdir dan ketetapan Allah berlaku. Menurut beberapa sumber kematian tersebut disebabkan peluru yang bersarang di dada sebelah kiri dan juga di usus besar.

Jenazah Ampon Meulaboh dibawa lari, ada versi mengatakan pelarian melalui Pucok Lueng, Suak Raya tepatnya di dusun —kemudian diberi nama Dusun Kubah Pahlawan, terus dilarikan ke Rantau Panyang – Pocut Reudep – Pasi Meungat dimana beliau sempat dikuburkan selama 6 bulan disamping sang ibunda dan takut diketahui Belanda kemudian dibongkar lagi dan dibawa ke Gunong Cot Manyang dikuburkan 8 bulan dan terakhir dikebumikan di Meugo (sumber Teuku Tjut Yatim dan Teuku Usman Basyah Asisten I Setdakab Aceh Barat, turunan ketiga dari Teuku Umar).

4. Panglima Polem

Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, yang jelas ia berasal dari keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXVI Mukim Aceh Besar.

Setelah dewasa, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan salah seorang puteri dari Tuanku Hasyim Bantamuda, tokoh Aeeh yang seperjuangan dengan ayahnya. Dia diangkat sebagai Panglima Polem IX paada bulan Januari 1891 untuk menggantikan ayahnya Panglima Polem Raja Kuala yang telah berpulang ke rahmatullah. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mempunyai nama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda setia Perkasa Muhammad Daud.

5. Teuku Nyak Arif

Teuku Nyak Arif, setelah menamatkan Sekolah Dasar di Banda Aceh pada tahun 1908, meneruskan ke Sekolah Guru (Kweekschool) di Bukittinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkan ke OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah calon pangrehpraja) di Banten, tamat tahun 1915. Ia memang disiapkan sebagai pegawai pamongpraja untuk menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI.

 Sebenarnya sejak 1911 ia sudah mewarisi kedudukan itu, namun karena masih terlalu muda, ayahnyalah yang mewakilinya hingga 1919. Sejak kecil Nyak Arif sudah tampak cerdas dan berwatak berani dan keras. Ia membenci Belanda karena menganggapnya bangsa itu penjajah negerinya yang membawa kesengsaraan rakyat Aceh. Sejak kecil ia sudah mengenal sumpah sakti orang Aceh, "Umat Islam boleh mengalah sementara, tetapi hanya sementara saja dan pada waktunya umat Islam harus melawan kembali". Kebenciannya kepada Belanda itu menyebabkan ia bersikap melawan. Ia tidak mau menerima tunjangan f 10,— setiap bulan yang disediakan pemerintah untuk anak-anak Aceh yang belajar di luar Aceh. Di sekolahan ia tidak mau tunduk kepada perintah gurunya, misalnya untuk menghapus tulisan di papan tulis dan sebagainya.

6. Mr. Teuku Muhammad Hasan

Teuku Muhammad Hasan adalah Gubernur Wilayah Sumatera pertama setelah Indonesia merdeka. Teuku Muhammad Hasan juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu dia dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Teuku Muhammad Hasan dilahirkan dengan nama Teuku Sarong pada tanggal 4 April 1906 di Sigli, Aceh. Dia adalah putra Teuku Bintara Peneung Ibrahim dengan Tjut Manyak. Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim adalah Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang adalah bangsawan yang memimpin suatu daerah di Aceh).

Setelah berumur delapan tahun, Teuku Muhammad Hasan mulai memasuki pendidikan formal, yakni Sekolah Rakyat (Volksschool) di Lampoih Saka pada tahun 1914. Pendidikan dasarnya ini ditempuh selama dua tahun. Pada tahun 1917, T.M.Hasan diterima di sekolah milik Belanda Europeesche Lagere School (ELS) dan diselesaikannya pada tahun 1924.

Selepas menyelesaikan studinya di ELS, Hasan melanjutkan sekolah menengah di Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia. Pada usia 25 tahun, T.M. Hasan memutuskan untuk bersekolah di Leiden University, Belanda. Selama di Belanda, dia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang dipelopori oleh Muhammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat dan Nasir Datuk Pamuntjak.
Selain kesibukannya sebagai mahasiswa, Hasan juga menjadi aktifis yang mengadakan kegiatan-kegiatan organisasi baik di dalam kota maupun di kota-kota lain di Belanda. T.M. Hasan berhasil menyelesaikan studinya di Leiden University dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) pada tahun 1933.

Baca Selengkapnya

Monday, 29 October 2012

Wisatawan Serbu Kota Sabang

Kota Sabang masih menjadi salah satu daerah tujuan (destinasi) wisata di Aceh yang diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Ini terlihat dari ramainya penumpang kapal penyeberangan yang berangkat dari Banda Aceh ke Pulau Weh itu, untuk menikmati libur Idul Adha kali ini.

Bahkan, selain menambah trip pelayaran, PT ASDP juga menambah satu unit kapal untuk melayani penumpang. Sehingga, tidak terjadi kelebihan muatan pada angkutan reguler yang ada, dan penumpang tetap terlayani sesuai jadwal tanpa ada penundaan keberangkatan dari Pelabuhan Ulee Lheue.

“Wisatawan yang menyerbu Sabang pada libur lebaran Idul Adha tahun ini mencapai dua ribu orang per hari. Lonjakan penumpang itu mulai terjadi sejak Sabtu (27/10) dan Minggu (28/10),” ungkap Ampon, Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, kepada Serambi, Minggu (18/10).

Dia menjelaskan, pada hari Jumat (26/10) yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, kapal Fery BRR hanya berangkat satu kali pukul 16.00 WIB. Namun pada hari Sabtu (27/10) dan Minggu (28/10) kemarin, kapal berangkat dua trip dengan jumlah penumpang 440-520 orang dalam satu kali pelayaran. Sehingga, total penumpang per hari dengan dua kali pelayaran mencapai 1.040-1.100 orang.

“Itu untuk penumpang kapal Fery BRR saja, belum termasuk jumlah penumpang kapal cepat Express Bahari yang mencapai 235 orang dan kapal Pulo Rondo sebanyak 218 orang dalam satu kali pelayaran,” papar Ampon.

Kedua kapal cepat itu, ungkapnya, juga melayani dua trip pelayaran khusus pada musim liburan yang berlangsung tiga hari ini. Dengan penambahan jadwal pelayaran, jumlah penumpang pada dua kapal cepat yang ada, mencapai 906 orang per hari.

Selain dua kapal cepat tadi, kata Ampon, masih ada satu kapal feri kecil berkapasitas 100 orang lagi yang dioperasikan PT ASDP untuk menghadapi ledakan penumpang dari Pelabuhan Ulee Lheue ke Sabang, yaitu kapal Fery Papuyu yang biasanya melayani rute Ulee Lheue-Lamteng (Pulo Aceh).

“Kapal Fery Papuyu, baru dioperasikan untuk melayani penyeberangan Banda Aceh-Sabang sejak dua hari lalu (Sabtu dan Minggu), untuk mengangkut penumpang yang tidak terangkaut kapal Fery BRR,” jelasnya.(her)

Wisatawan Carter Kapal

TINGGINYA daya tarik Sabang sebagai lokasi wisata, membuat 80 wisatawan etnis Cina dari Medan untuk mencarter satu kapal untuk penyeberangan ke Sabang, Minggu (28/10) pagi. Sehingga membuat penumpang lain terpaksa harus berangkat dengan kapal lainnya. Untung saja pejabat pelabuhan telah mengantisipasinya dengan menyediakan kapal tambahan. Sehingga tidak ada penumpang yang telantar.

Mereka dari Medan naik bus pariwisata dan mencarter kapal cepat untuk berpergian ke Sabang. Rombongan wisatawan ini pergi ke Sabang untuk liburan dan melihat-lihat potensi Pulau Weh itu.

“Sepulang dari Sabang, mereka mengaku sangat puas dan senang berwisata ke Sabang. Meski fasilitas wisatanya belum cukup memadai, tapi menurut mereka, pemandangan Kota Sabang yang berbatasan dengan Samudera Hindia sangat menarik serta cukup menyenangkan  untuk dijadikan tempat libura,” kata Ampon mengutip ketua rombongan wisatawan tersebut.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2012/10/29/wisatawan-serbu-sabang
Baca Selengkapnya

Tempat Wisata di Agara "Full In Action"

Beberapa tempat rekreasi (wisata) di Kabupaten Gayo Lues (Galus) ramai dikunjungi wasatawan lokal memanfaatkan libur pascalebaran Idul Adha 1433 H. Para pengunjung datang dari berbagai daerah.

Pantauan dan laporan yang diterima Serambi, Minggu  (28/10) kemarin, suasana di beberapa tempat wisata membludak pengunjung. Bahkan, para pengunjung tampak bersama keluarga membawa makanan ke tempat wisata tersebut. Begitu juga halnya dari kalangan anak muda memilih tempat rekreasi ke tempat yang jarang dikunjungi para pengunjung yang berkeluarga.

Tempat rekreasi yang ramai dikunjungi seperti tempat rekreasi (wisata) di Blangsere, Kecamatan Kutapanjang, Kala Pinang Kecamatan Blangkejeren, Blangtasik, Blanglopah Kecamatan Blangjerango dan Aih Terjun Rerebe Tripe Jaya, serta beberapa tempat wisata  lainnya.

“Jumlah pengunjung di beberapa tempat wisata membludak pada pekan ini, bahkan para pengunjung rata-rata membawa makanan bersama keluarganya ke tempat itu,” kata seorang pedagang makanan di tempat wisata Kala Pinang kepada Serambi, Minggu (28/10). Ia mengaku, jumlah pengunjung jarang terjadi seperti kali ini.

Hal yang serupa disebutkan Iskandar, dari Aih Terjun Kecamatan Tripe Jaya. Jumlah pengunjung betul-betul membeludak pada pekan ini. Para pengunjung didominasi kalangan muda mudi. Berbeda dengan tempat wisata yang lain yang dikunjungan para pengunjung yang sudah berkeluarga.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2012/10/29/tempat-wisata-di-agara-penuh-pengunjung
Baca Selengkapnya

Batee Iliek Tetap Masih Yang Terfavorit

Lokasi wisata Krueng Batee Iliek, Kecamatan Samalanga, masih tetap menjadi pilihan favorit warga dalam mengisi hari libur Idul Adha 1433 H. Selain di Batee Iliek, warga juga terlihat ramai di sejumlah lokasi wisata lainnya, seperti Krueng Simpo Juli, Pantai Ujong Blang, dan Pantai Kuala Raja, Kecamatan Kuala.

Amatan Serambi Minggu (28/10), lokasi wisata Batee Iliek selalu ramai sejak pagi hingga sore hari. Beberapa anggota Satuan Lalulintas dari Polres Bireuen, terlihat sibuk mengatur arus lalu lintas yang sempat macet karena ramainya pengunjung.

Keramaian juga terlihat di Pantai Ujong Blang dan Kuala Raja. Sebagian pengunjung ada yang datang dari Bener Meriah dan Aceh Tengah. Mereka menggunakan bus, mobil bak terbuka, dan mobil pribadi secara berombongan terdiri dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Tuesday, 23 October 2012

Yuk Berwisata Religi ke Makam Raja Aceh

1. Makam Pahlawan Teuku Umar
 
Teuku Umar adalah Pahlawan Nasional, beliau merupakan suami Cut Nyak Dhien yg juga merupakan pahlawan nasional dari Aceh. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Desa Meugo Rayeuk, jarak tempuh sekitar 35 km dari Kota Meulaboh Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Barat

2. Pusat Kerajaan Samudra Pasai (Makam Para Raja Pasai)

Kerajaan Pasai merupakan Kerajaan Islam pertama dan terbesar di Indonesia pada abad XIII. Disinilah dahulu berdirinya Kerajaan Samudra Pasai yg berjaya pada masanya, thn 1267, disini juga tempat pemakaman para raja yang berkuasa tersebut. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Desa Kuta Krueng, Kec.Samudra Geudong, sekitar 18 km dari Kota Lhokseumawe. Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Utara

3. Makam Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda adalah Raja yang terkenal berhasil membawa Aceh Darussalam pada Puncak kejayaan diberbagai bidang pada masa Pemerintahannya. Sultan yg bergelar: Meukuta Perkasa Alam ini lahir pada thn 1520 M, dan wafat pa 27 Desember 1636 M Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Jln. Japakeh, Kompleks Baperis Museum Aceh, disamping Pendopo Gubernur NAD. Kabupaten/Kota : Kota Banda Aceh

4. Makam Syuhada 8 (Kubu Lapan)
Makam Syuhada 8 terletak dipinggiran jalan B. Aceh - Medan. Makam ini merupakan salah satu makam syuhada yang syahid dalam peperangan melawan Penjajah Belanda. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Jalan B.Aceh - Medan, Simpang Mamplam, Kabupaten Bireun Kabupaten/Kota : Kabupaten Bireuen

5. Makam Datu Beru

Datu Beru adalah salah satu Pahlawan dari Tanah Gayo, Aceh. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Desa Tunjang Datu Beru, Kec.Timang Gajah, Kab.Bener Meriah Kabupaten/Kota : Kabupaten Bener Meriah

6. Makam Teungku Chik Di Tiro

Teungku Chik Ditiro adalah Pahlawan Nasional yang berasal dari Aceh. Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda dikenal dengan nama "Perang Sabil" Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Desa Mureu Lam Glumpang, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar

7. Makam Laksamana Malahayati

Laksamana Keumala Hayati atau dikenal dengan Laksamana Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Makam ini berada di atas bukit, di desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau sekitar 34,5 kilometer dari Kota Banda Aceh. Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Besar

8. Makam Raja Linge

Makam Raja Linge adalah pemakaman yang dikhususkan untuk keluarga Raja Linge dan keturunannya dimakamkan. Kerajaan Linge merupakan salah satu kerajaan tertua di Aceh. Kategori : Tempat Penting Sejarah Alamat Lokasi : Kecamatan Linge, jarak tempuh sekitar 70 km dari kota Takengon Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Tengah 


Baca Selengkapnya

Sunday, 21 October 2012

Amazing, Akhirnya Lubok Sukon jadi Desa Wisata di Aceh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menetapkan Gampong (desa) Lubok Sukon di Kabupaten Aceh Besar, sebagai ikon Aceh dalam dunia pariwisata. Gampong Lubok Sukon telah melalui berbagai tahapan seleksi oleh Pemerintah Aceh sehingga ditetapkan sebagai Desa Wisata Aceh guna mendukung peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh.

Pada peluncuran Lubok Sukon sebagai Desa Wisata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jasman J Ma'ruf mengatakan, terpilihnya Gampong Lubok Sukon menjadi Desa Wisata Aceh tahun 2013 karena telah memenuhi empat kriteria dasar yakni asli, lokal, unik dan indah. Empat kriteria menjadi Desa Wisata Aceh tersebut akan menjadi ikon bagi wisatawan untuk melihat dan merasakan kondisi keunikan asli Aceh.

Lubok Sukon dijadikan Desa Wisata guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara untuk melihat langsung miniatur berbagai sisi kehidupan Aceh di perkampungan itu. "Gampong ini memang sudah merepresentasikan kehidupan asli Aceh yang sebenarnya, seperti kuliner Aceh yang khas dan asli, rumah tempat tinggal warga yang masih merupakan rumah Aceh asli dengan pagar daun teh, serta tata ruang dan kehidupan masyarakat yang tidak terpengaruh sisi negatif modernisasi," ujar Jasman saat upacara peluncuran Desa Wisata Lubok Sukon, Senin (15/10/2012) sore.

Setiap wisatawan yang berkunjung ke Lubok Sukon, tambah Jasman, bisa menginap langsung di rumah warga dan bisa mengikuti keluarga yang ditumpangi. "Misalnya para wisatawan boleh ikut ke sawah, ikut berkebun menanam sayur, memasak masakan khas aceh, bahkan ikut berbaur dalam rutinitas keluarga tempat mereka tinggal," jelas Jasman.

"Sehingga bisa disebutkan Lubuk Sukon sebagai The Truly Aceh," tambah Jasman.

Sementara itu, Asisten II Pemerintahan Aceh, Said Mustafa, mengaku saat ini tren wisata alami dan natural menjadi pilihan bagi para wisatawan. "Oleh karena itu dalam menyambut Tahun Kunjungan Aceh 2013 kita juga menyiapkan fasilitas wisata alami dimana para wisatawan akan mendapatkan kenyamanan yang berbeda dari yang wisata biasanya," ujar Said Mustafa.

Senada dengan itu, Bupati Kabupaten Aceh Besar, Mukhlis Basyah, menyambut baik terpilihnya Gampong Lubok Sukon menjadi desa wisata, sebuah destinasi wisata bagi para wisatawan yang berkunjung ke Aceh. "Di Kabupaten Aceh Besar sendiri, ada banyak lokasi wisata sejarah dan religi yang memang belum tersentuh secara profesional dan kami berharap pelan-pelan ini bisa dikembangkan demi menjaring wisatawan datang berkunjung ke Aceh," kata Mukhlis.

Saat ini ada empat lokasi yang akan dijadikan desa wisata di Aceh, selain Lubok Sukon. Diantaranya adalah Desa Lampulo di Kota Banda Aceh. "Desa ini masuk 10 besar desa terbaik tingkat nasional," kata Asisten II Pemerintahan Aceh, Said Mustafa.

Gampong Lubok Sukon memiliki luas 112 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 920 jiwa. Gampong Lubok Suko merupakan salah satu gampong (desa) di Aceh yang masih terjaga kearifan lokalnya, masih tinggi rasa sosialnya dan masih ada kegiatan peringatan hari besar Islam dan tradisi masyarakat tradisional. 

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Andi RIF : "Pantai Aceh Sangat Indah"

Andi, vokalis group musik Rif memuji keindahan pantai Aceh. “Setelah belasan tahun di industri musik, kenapa baru sekarang saya ke Aceh, padahal pantainya sangat indah,” katanya disambut tepuk tangan pengunjung pantai Lampuuk, Minggu sore, 21 Oktober 2012.

“Mudah-mudahan suatu hari saya bisa datang kembali, pastinya dalam rangka liburan.” Andi Vokalis Band Rif datang ke Aceh, untuk mengisi konser Gebyar Raya A Mild.Konser yang hanya menghadirkan Andi (tanpa group band Rif) menyedot perhatian ratusan pengunjung pantai berpasir putih tersebut. Sorak-sorai penonton terlihat saat vokalis yang tampil nyentrik dengan setelen topi cowboy itu.

Group musik Rif rencananya akan menggelar konser di Aceh, Desember, akhir tahun ini. “Sekarang dalam rangka persiapan, mudah-mudahan jadi, karena ini konser pertama kita di Aceh,” sebut Andi.
sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Ini Dia Pemenang Duta Wisata Aceh 2012

Muhammad Fathun dari Banda Aceh dan Yosa Lanovastia dari Aceh Barat Daya (Abdya), dinobatkan sebagai Duta Wisata Aceh 2012 dalam prosesi pemilihan yang diikuti oleh pasangan Agam-Inong utusan 22 kabupaten/kota di Aceh, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (20/10) malam tadi.

Ketua Dewan Juri, Arifin Syama’un, mengatakan selain menetapkan juara terpilih berdasarkan peringkat nilai (lihat: Pasangan Juara-red), Dewan Juri Duta Wisata Aceh 2012 juga memilih enam peserta dengan kriteri khusus. Untuk kriteria intelegensi terpilih Fajar Hidayat dari Aceh Tamiang dan Syarifah Munira dari Banda Aceh.

Kriteria penampilan terbaik T Muammar Qhadafi Tuwasza dari Pidie, dan Suci Taharatunnisa dari Lhokseumawe. “Sedangkan kriteria presentasi terbaik dinobatkan kepada Azhiemi Iqbal dari Aceh Selatan dan Siti Hajar dari Bener Meriah,” kata Arifin, yang didamping anggota Dewan Juri masing-masing Muchtar Mahmud, Nur Janah Nitura, Yuniati, dan Salman Abdul Muthalib.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata (Disbudpar) Aceh, Jasman J Ma’aruf mengatakan, peserta yang terpilih sebagai Juara I Duta Wisata Aceh 2012 akan diikutkan mewakili Aceh ke pemilihan Duta Wisata Nasional yang akan digelar di Bali, pada 18-22 Desember mendatang. “Kita menargetkan bisa masuki dalam 5 Besar dalam pemilihan Duta Wisata Nasional itu,” katanya.

Sedangkan Untuk juara dan runner up, tambah Jasman, akan menjadi panitia yang akan mempersiapkan acara pemilihan Duta Wisata Aceh 2013 dan pemilihan Duta Wisata Nasional 2013 yang akan digelar di Aceh. “Kita juga akan persiapkan mereka yang terpilih malam ini untuk dilatih tentang objek wisata dan daya tarik budaya kita. Karena kita ingin menjadi Aceh sebagai wisata religi bernuansa budaya pertama di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sedangkan Staf Ahli Gubernur Aceh, Ismayani, mengharapkan kepada peserta yang menang atau tidak menang agar tetap mempromosikan wisata Aceh. Begitu juga dengan duta wisata dari tingkat kabupaten/kota agar tetap mempromosikan dan menjadi duta wisata bagi kabupaten/kota masing-masing termasuk mempromosikan Aceh. “Kita berharap agar wisata Aceh menjadi investasi yang menguntungkan di masa depan,” harap Ismayani yang mewakili Gubernur Aceh.(adi)

pasangan juara

* Juara I: Muhammad Fathun (Banda Aceh) dan Yosa Lanovastia (Abdya) * Juara II: Muhammad Anis Kelda (Aceh Timur) dan Afla Nadya (Aceh Barat) * Juara III: T Akbar (Aceh Utara) dan Rizki Hawalaina Aceh Tengah) * Juara Harapan I: Abrar Hidayatullah (Lhokseumawe) dan Misrul Rahmi Utami (Sabang) * Juara Harapan II: Rahmat Akbar (Aceh Tengah) dan Afyela Risqa (Aceh Utara) * Juara Harapan III: Ichwan Hassafa dan Winda Ulfa (keduanya dari Aceh Besar).

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Abu Lam U, Ulama Pendidik Melalui Syair

Abad ke 17 merupakan puncak zaman keemasannya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya ulama-ulama besar, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Al Raniri, dan Abdur-Rauf Singkel.
Kemajuan yang dialami tersebut ternyata tidak selamanya abadi, karena lambat laun daerah yang juga dijuluki dengan sebutan Serambi Mekkah ini tidak pernah “sepi” dari polemik bahkan konflik yang berkepanjangan, bahkan kondisi tersebut masih terjadi hingga hari ini.

Walaupun demikian, daerah ini masih menyisakan ulama-ulama yang memiliki komitmen yang tinggi dalam mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan kepada masyarakat.Tulisan ini mencoba mendeskripsikan salah seorang tokoh ulama abad ke-20, yaitu Tgk. Abdullah Lam U yang lebih popular dengan gelar Abu Lam U. Ulama ini memiliki keahlian di bidang seni syair dalam “membumikan” nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat, seperti yang akan diuraikan selanjutnya.

Biografi Singkat Abu Lam U

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Umar bin Auf Lam U, selanjutnya disebut Abu Lam U. Dilahirkan di Lam U Aceh Besar pada penghujung abad ke-19, yaitu tahun 1888 M (1305 H).Pada masa kelahirannya, kerajaan Aceh baru beberapa tahun memulai perang melawan aggressor Belanda. Jadi, dalam kondisi demikianlah ulama ini tumbuh dan berkembang serta dibina oleh ayahnya sehingga menjadi ulama yang memiliki nama yang cukup popouler, khususnya di bidang keagamaan.Abu Lam U adalah putra Tgk. Chik Umar Lam U, ulama asli Aceh –bukan pendatang– yang memiliki keahlian dalam ilmu Fiqh dan hafidz al Qur`an. Ayah Abu Lam U memiliki 3 orang isteri; seorang berasal dari Yan (Malaysia).

Melalui isterinya ini lahir 2 ulama besar, yaitu: Tgk. Ahmad Hasballah Indrapuri yang populer dengan nama Abu Indrapuri (lahir pada 1888 M/1305H), dan Tgk. Muhammad Dahlan atau Tgk. Madhan, yang bergelar Tgk. Chik di Yan (lahir pada tahun 1891 M/1308H). Isterinya yang kedua bernama Nyak sunteng berasal dari Lam U.Abu Lam U memulai pendidikan dasar dari ayahnya, Tgk. Umar (Tgk. Umar Di Yan). Materi dasar yang dipelajarinya adalah Al Qur`an, menulis Arab, tauhid, dan ibadah. Setelah mendapat pendidikan dasar dari ayahnya, Abu Lam U melanjutkan pendidikanya pada dayah Piyeung, sebuah desa dalam kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar, yang berjarak 8 km dari kampungnya.

Gurunya di dayah ini bernama Abdullah bin Al Faqih yang juga ulama ternama. Melalui guru ini Abu Lam U mendalami materi tauhid, fiqh, sejarah Islam, Nahwu, Sharaf, dan lain-lain.Faktor integritas intelektual yang baik yang dimiliki Abu Lam U menyebabkan gurunya tertarik kepadanya. Selain dijadikan menantu, ia juga sering dibawa pergi oleh Abdullah bin al Faqih ke daerah lain, dan di sanalah ia bertemu dengan tokoh-tokoh kenamaan dan berkenalan dengan para thalib (pelajar) lainnya.

Ulama dari Lam U ini juga pernah menimba ilmu di negeri jiran, Malaysia, tepatnya di kampung Yan. Di sana ia belajar pada seorang ulama yang dikenal dengan nama Teungku Chik di Bale.Putera Tgk. Umar ini pernah juga melakukan pengembaraan intelektualnya hingga ke Makkah bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji pada tahun 1924. Ia menetap di sana selama 6 bulan dan menimba ilmu dari guru-guru besar yang mengajar di Masjidil Haram.

Di negeri kelahiran nabi inilah Abu Lam U memperoleh informasi modernisasi pendidikan, sehingga Abu Lam U termasuk salah seorang dari ulama PUSA yang turut melakukan modernisasi pendidikan di Aceh sebelum kemerdekaan Indonesia. Berkat ketekunan dan kegigihan dalam menimba ilmu, akhirnya Abu Lam U merupakan bagian dari ulama Aceh yang memiliki kapasitas ilmu keagamaan yang dalam, khususnya di bidang ilmu kebahasaan, tauhid, fiqh, dan sejarah. Hal ini tercermin dari kedudukan dan pengaruhnya dalam masyarakat serta karya yang pernah ditulisnya.

Kedudukan dan Pengaruhnya dalam Masyarakatat

Abu Lam U tidak merasa sulit dalam mengabdikan ilmunya kepada masyarakat karena ayahnya, Tgk. Umar, memiliki lembaga pendidikan dayah, tempat dirinya menimba ilmu dasar pada masa kecil. Sepeninggal ayahnya, Abu Lam U melanjutkan kepemimpinan pada dayah tersebut. Jadi, tugas utama Abu Lam U adalah mengelola dayah tersebut.

Di samping itu, putra Abu Umar ini juga turut aktif mengajar masyarakat di sekitar kampung tersebut. Pembinaan nilai-nilai agama yang diberikan kepada mereka dikenal dengan meusifeut. Kegiatan ini biasanya dipentaskan bersama-sama secara sinkron hingga merupakan suatu kegiatan seni tari, karena ada gerakan kepala dan badan.

Demikian pula suara yang ditimbulkan olh para pesertanya yang melahirkan sebuah kepaduan. Karena ada rasa seni dan rangsangan dalam kegiatan ini, maka sari pelajaran yang diajarkan akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh pelakunya sendiri bahkan juga orang yang turut menyaksikannya. Melalui meusifeut, masyarakat memperoleh ilmu pokok agama tentang tauhid dan aqidah, fiqh, akhlak/tasawuf, sejarah, dan lain-lain.

Abu Lam U juga pernah memangku jabatan qadhi pada masa Panglima Polem Muhammad Daud Syah. Ia juga memiliki andil besar dalam organisasi PUSA, oleh karenanya, dia merupakan bagian dari anak bangsa Aceh yang telah mereform sistem di Aceh. Putra Abu Umar ini juga merupakan bagian dari anggota Syarikat Islam (SI), organisasi politik yang turut membidani kemerdekaan Indonesia di Aceh.

Dari uraian di atas tampak dengan jelas bahwa Abu Lam U merupakan seorang tokoh Ulama Aceh pada masanya. Karena ketokohannya, putra Abu Umar ini termasuk salah seorang ulama yang diperhitungkan, sehingga sering sekali diundang dalam pertemuan-pertemuan besar yang dilakukan oleh Pemerintah, seperti undangan untuk menghadiri peletakan batu pertama berdirinya Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam (Kopelma Darussalam) yang dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 September 1959.

Setelah sekian lama Abu Lam U mendermakan ilmunya kepada masyarakat luas, akhirnya pada tanggal 4 Juni 1967 berpulang ke rahmatullah dalam usia 79 tahun. Semoga amal baiknya diteladani oleh anak bangsa yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam dan mendapat ridha dari Allah SWT.

Sekilas Tentang Karyanya

Abu Lam U merupakan salah seorang tokoh intelektual muslim Aceh abad XX. Ia juga merupakan ulama yang aktif dan produktif. Aktif berarti mau menulis dan hal ini terbukti dengan adanya 3 risalah yang ditinggalkannya, yaitu: Munjiatul Anam (Penyelamat Manusia), Mursyidul Anam (Penuntun Manusia), dan Sejarah Nabi Muhammad.

Produktif dalam arti bahwa karyanya, terutama Munjiatul Anam, banyak digunakan oleh masyarakat Aceh, terutama di desa-desa di kawasan Aceh Besar, hingga saat ini.
Tgk. Abdullah Lam U yang lebih popular merupakan salah seorang ulama Aceh yang telah berupaya maksimal mendidik anak bangsa di Aceh, khususnya di Aceh Besar, agar mengetahui berbagai ajaran agama yang dibawa oleh Rasul.

Cara putra Tgk. Umar ini mengajarkan ilmu agama dengan menggunakan pendekatan syair tampak menjadi strategi yang jitu, khususnya penyampaian bagi masyarakat awam, karena cara tersebut tidak terkesan memaksa dan tidak pula membuat masyarakat jenuh.

Dewasa ini cara tersebut semakin “membumi” di Aceh, khususnya dalam kegiatan dala’il khairat seiring dengan implementasi syariat Islam di Aceh. Oleh karena itu, Abu Lam U dapat dikategorikan sebagai ulama pendidik melalui syair.

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

ABU KEUMALA, Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat

Secara umum masyarakat di Aceh lebih mengenal Teungku Haji Syihabuddin Syah dengan nama Abu Keumala, nama tersebut merupakan nama panggilan beliau sewaktu mengaji di Labuhan Haji. Selain sebagai ulama, Abu Keumala juga di kenal sebagai orator ulung di masanya. Keunikan pidato Abu Keumala adalah apa saja yang dilihat atau yang sedang terjadi, bisa beliau ciptakan sebagai perbandingan dalam berpidato, terutama yang menyangkut tentang masalah ketauhidan.

Abu Keumala merupakan pencerah di bidang Tauhid Sehingga beliau juga di gelar sebagai Ulama Tauhid. Disamping mengadakan pengajian dan ceramah, Abu Keumala juga aktif menulis, di antara buku karangan beliau yang terkenal adalah Risalah Makrifah.
Asal usul
Seuneuddon merupakan salah satu kecamatan di pesisir Aceh Utara, daerah ini telah banyak melahirkan ulama–ulama besar, tapi kebanyakan ulama tersebut tidak bermukim di Seuneuddon. Di antara ulama besar  yang tidak bermukim di Seuneuddon tersebut adalah: Teungku Muhammad (Abu Seuriget) Pimpinan Dayah Darul Muarif Langsa, Teungku Muhammad Amin pendiri dayah Malikussaleh Panton Labu (mulai tahun 1965–1975), Teungku Ibrahim Bardan (Abu Panton) pimpinan Dayah Malikussaleh di Panton Labu (mulai tahun 1975 hingga sekarang), Teungku Karimuddin (Abu Alue Bilie) pimpinan dayah Babussalam Panteu Breuh, Kemudian Teungku Syihabuddin Syah atau yang lebih terkenal dengan panggilan Abu Keumala juga berasal dari Seuneuddon, tepatnya di desa Tanjong Pineung, beliau lahir sekitar tahun 1928.

Ketinggian ilmu agama Teungku Syihabuddin Syah karena beliau merupakan murid ulama–ulama besar di Aceh. Semenjak remaja Teungku Syihabuddin Syah sudah belajar di dayah Keumala Kabupaten Pidie kemudian di dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan yang dipimpin oleh ulama besar Teungku Haji Muhammad Waly Al-Khalidi (Abuya Muda Waly). Karena lama belajar di dayah Keumala , maka Teungku Syihabuddin Syah dikenal dengan panggilan Teungku Keumala atau Abu Keumala.

Mungkin panggilan seperti ini agak sedikit tidak lazim, karena biasanya seorang ulama dipanggil berdasarkan nama kampung asal atau tempat di mana beliau menetap, bukan dimana tempat beliau mengaji. Teungku Syihabuddin Syah menikah pada tahun 1957 dengan salah seorang putri yang merupakan  cucu gurunya di Keumala, dari perkawinan tersebut beliau dianugrahi Sembilan orang anak.

Bermukim di Medan
Ketika  Konflik bersenjata di Aceh tahun 1953, beliau memperlihatkan sikap tidak menyetujuinya. Karena itu beliau pindah ke Medan. Seorang pemuka masyarakat, Haji Manyak Meureudu, mewakafkan sebidang tanah 25 x 25 meter yang diatasnya ada bangunan sederhana terletak dipasar II jalan Sei Wampu, Kampung Babura, Medan Baru. Di tempat ini ditampung 30 orang pelajar Aceh yang menuntut ilmu di berbagai peguruan tinggi di Medan. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama, baik bagi penghuni asrama maupun bagi kaum muslimin di sekitar  tempat itu. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama kepada keluarga – keluarga tokoh – tokoh masyarakat Aceh di Medan.

Pertikaian antara dua etnis di Medan pada tahun 1956, menyebabkan Asrama Pelajar di Pasar II Jalan Sei Wampu Kampung Babura Medan Baru, diserbu oleh sekitar 36 orang tidak dikenal. Asrama tersebut di porak–porandakan, kemudian dibakar. Penghuninya Teungku Syihabuddin Syah yang mengajar di tempat itu di pukul dengan broti di  kepalanya hingga tidak berdaya namun beliau dapat di selamatkan ke rumah sakit.

Hancurnya asrama yang selama itu di huni oleh 30 orang pelajar dan mahasiswa  yang juga tempat pengajian bagi masyarakat yang ada di sekitar tempat itu, maka menjadi masalah bagi pemuka – pemuka masyarakat Aceh di Medan. Mereka mencari jalan untuk menampung pelajar dan mahasiswa yang asramanya tidak ada lagi juga tempat pengajian telah porak–poranda.

Pendirian Sekolah Islam
Masalah asrama pelajar/mahasiswa Aceh sekaligus tempat pengajian berhasil diatasi pada tahun 1956 itu juga. Hal itu berkat jasa baik Tuanku Hasyim S.H. atas nama Yayasan Sosial Medan mewakafkan sebidang tanah ukuran 9,5 x 17 meter. Di atas tanah itu ada bangunan tua yang dapat digunakan. Tanah itu terletak di pasar Melintang, sekarang Jalan Darussalam 24 Medan. Nama jalan itu diusulkan oleh Teungku Syihabuddin Syah kepada Wali Kota Medan dan di terima baik oleh Wali Kota, Haji Muda Siregar (tahun 1957).

Karena digunakan untuk kegiatan pendidikan agama, maka pada tahun 1960 tempat itu diberi nama Asrama  Madrasah Pesantren Miftahussalam. Kemudin dibuka SRI (Sekolah Rendah Islam), SMI (Sekolah Menengah Islam), SMIA (Sekolah Menengah Islam Atas), yang langsung dipimpin oleh  Teungku Syihabuddin Syah dan Teungku Abdussalam Abdullah. Nama tingkat pendidikan itu kemudian berubah menjadi Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Untuk memperkokoh perhatian kaum muslimin terhadap Miftahussalamah, Teungku Syihabuddin Syah mengajar orang–orang tua murid untuk mengikuti majelis pengajian yang diberi nama Safinatussalamah (kapal penyelamat), sedangkan yang menjadi guru adalah beliau sendiri. Pengajian itu berkembang dengan pesat di kota Medan. Pada waktu yang bergiliran Teungku Syihabuddin Syah memberi pengajian yang berjumlah sekitar 11 tempatdi Kota Medan dengan menggunakan kendaraan VW Combi yang di setir oleh beliau sendiri.

Nama komplek Asrama Madrasah Pesantren itu oleh Teungku Syihabuddin Syah diganti pada tahun 1977 menjadi Pendidikan Islam Miftahussalam. Lancarnya pembangunan komplek Miftahussalam itu atas dasar wakaf kaum muslimin, sehingga berhasil membuka  SLTP dan SMU Darussalam. Tenaga pengajarnya adalah para sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi penghuni asrama.

Pendidikan Islam Miftahussalam telah berbadan hukum , yang Ketua Umumnya adalah Teungku Syihabuddin Syah, maka sekarang sudah lengkap tingkat pendidikan agama, dan juga SLTP dan SMU. Komplek Miftahussalam pada tahun 2004 menampung sekitar 1500 siswa dan siswi yang belajar pagi dan sore. Siswi SLTP dan SMU semua berjilbab dan pada waktu shalat Ashar seluruh siswa yang belajar sore shalat berjamaah di Mesjid Taqarrub. Di komplek Mesjid Taqarrub juga dibuka TK Al-Qur’an.

Ketika Asrama dan Pesantren Miftahussalam masih merupakan bangunan yang sangat sederhana, Abu Keumala mempunyai ruangan sendiri sekaligus tempat tinggalnya. Selama beberapa tahun di tempat itu beliau melakukan Khulwah di setiap bulan Ramadhan. Selama Khulwah beliau tidak berbicara dengan siapapun, komunikasi dilakukan dengan surat menyurat.

Akhir hayat
Sebelum meninggal kesehatan beliau terus menurun. Mula–mula gangguan mata hingga tidak dapat membaca kitab, walaupun telah berobat ke dokter ahli mata di Medan, tidak juga membawa hasil. Juga di bawa berobat ke Penang namun tidak ada perobahan. Kemudian datang lagi gangguan penyakit gula. Begitu pun beliau tetap berusaha menjadi imam seperti dalam bulan Ramadhan. Juga beliau memberi kuliah agama, walaupun porsinya tidak seperti sebelumnya.

"Seorang demi seorang  benteng agama meninggalkan kita. Kita bersedih bukan karena kepergian beliau, tetapi karena hilangnya benteng agama, mujahid Islam yang telah banyak jasanya kepada masyarakat". Demikian dikatakan oleh Al-Ustadz Drs Haji Halim Harahap, mewakili para khatib Masjid Taqarrub Jalan Darussalam 26 ABC Medan, ketika melepas jenazah Al – Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala sebelum di berangkatkan ke tempat persemayaman terakhir di komplek perkuburan Mesjid Raya Al-Mansur jalan Sisingamangaraja, Medan.

Abu Keumala meninggal di rumah kediamannya di jalan Karya Bhakti Gang Rukun No: 2 Medan, setelah menderita sakit semenjak bulan April 2004. Beliau meninggal hari Jumat, 9 Juli 2004. Upacara pelepasan jenazah dilangsungkan di Mesjid Taqarrub, mesjid yang beliau bangun bersama kaum muslimin, baik yang ada di Medan maupun yang berada di luar Kota Medan.

Masjid tempat beliau mengucurkan ilmu agama, baik dalam pengajian baik dalam pengajian ibu–ibu dan bapak-bapal. Kuliah agama di berikan di mesjid itu terutama di bulan Ramadhan selesai Shalat Tarawih, kemudian kuliah Shubuh baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Pada acara pelepasan juga ikut berbicara Prof Dr Haji Aslim Sihotang yang menguraikan tingginya ilmu yang di miliki oleh Almarhum Al–Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala. Ia menganjurkan supaya kitab yang ditulis olh Almarhum pada tahun 1983 yang 4 jilid berjudul Risalah Makrifah agar di cetak, yang pelaksanaannya dapat dilakukan oleh murid – muridnya. (Tgk Zulfahmi MR; staff pengajar di Dayah Raudhatul Maarif Cot Trueng – Muara Batu – Aceh Utara, Tulisan ini Merupakan nukilan dari buku : Biografi Ulama - Ulama Aceh Abad XX Jilid III).

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Nama-nama Ulama Aceh Yang Perlu Kita Ketahui

Inilah daftar nama Ulama Aceh dalam Naskah Jawi/Jawoe
A.  Naskah Teungku Di Cucum ( Tambeh Gohna Nan )
  1. Teungku Di Lueng Keueng
  2. Abunek Krueng Kale
  3. Teungku Gle Payong
  4. Teungku Keuneu’eun
  5. Teungku Di Anjong
  6. Teungku Di  Li -eue
  7. Teungku Lam Bhuek
  8. Teungku Di Jurong
  9. Teungku Lam Gut
  10. Teungku Di Bitai
  11. Teungku Gle Weueng
  12. Teungku Di Reuloh
  13. Teungku Di Blang
  14. Teungku Di Meugong
  15. Teungku Di Jabo
  16. Tuwan Di Pulo
  17. Teungku Lhok Pawoh
  18. Teungku Lhok Nibong
  19. Teungku Di Pu-uek
  20. Teungku Di Meuse
  21. Teungku Syekh Saman
  22. Syiah ‘Abdurrauf ( halaman 19 – 20 )
  23. Teungku Di Ulee Gle
  24. Teungku Awe Geutah
  25. Teungku Batee Badan
  26. Teungku Ulee Jurong ( sama dgn no. 8 di atas?)
  27. Teungku Di Bathoh
  28. Teungku Di Peulumat
  29. Teungku Pante Peulumat
  30. Teungku Tanoh Mirah
  31. Teungku Tanoh Abee
  32. Teungku Gunong Ijo
  33. Teungku Di Baet
  34. Teungku Bak Keureuma
  35. Teungku Di Cot Bak Goeh
  36. Tuwan Di Cantek
  37. Teungku Salah Nama
  38. Teungku Anoe Manyang
  39. Tuwan Pulo Angkasa
  40. Teungku Paya Duwa
  41. Teungku Di Gandrien
  42. Teungku Lam Guha ( gelar atau sekedar sebutan?)
  43. Teungku Lam Duson ( ada orangnya atau hanya sebutan?)
  44. Teungku Syik Krueng Kale ( sama dgn no. 2 di atas?)
  45. Teungku Batu Bara
  46. Teungku Di Aron ( halaman 142, 152 – 174 )
  47. Teungku Syekh Abbas Kuta  Karang
  48. Teungku Muhammad Amin Dayah Cut
  49. Teungku Zainul Abidin
  50. Teungku Di Cot Plieng
  51. Teungku Pante Kulu
  52. Teungku Pante Ceureumen/Teungku Nyak Kob
  53. Tuwanku Raja Keumala
Kami mohon maaf karena tidak bisa memberikan info profil pribadi Ulama Aceh secara lengkap karena keterbatasan sumber dan media. Mudahan info ini bisa bermanfaat untuk para pembaca semua.
 
Baca Selengkapnya