Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next
Showing posts with label Aceh Darussalam. Show all posts
Showing posts with label Aceh Darussalam. Show all posts

Wednesday, 15 August 2012

“Beguru” Dalam Adat Gayo


ISTILAH “beguru” dalam bahasa gayo punya multi arti. Misalnya: jika si A menuntut ilmu kebal kepada B, maka A dikatakan “beguru” dalam ilmu kebal kepada B. “Beguru” berarti pula meniru atau mengikuti aliran/mazhab atau budaya asing. Dalam kaitan ini dikatakan: “urang gayo nge beguru ku budaya luer.” (Orang Gayo sudah ‘membeo’ budaya luar) Selain itu, “beguru” bermakna berobat. Misalnya: “Kusa wè beguru?” (Kepada siapa dia berobat?) Pengertian lain dari “beguru” ialah: upacara penyampaian nasehat terakhir kepada calon pengantin lelaki atau perempuan, yang berlangsung secara terpisah dalam lingkungan keluarga masing-masing, diadakan pada malam menjelang keesokan hari dilangsungkan acara aqad nikah, dihadiri oleh sanak saudara dan penghulu kampung.

Acara “Beguru”, selain untuk menjalin hubungan silaturrahmi, juga media dakwah dan pendidikan. Betapa tidak! Nasehat difokuskan pada masalah tauhid dan aplikasi ‘akhlaqul karimah’. Untuk itulah, konsep pendidikan Islam yang tedapat dalam (QS: Luqman, 12-19) sangat relevan dipaparkan, karena materinya sarat dengan nilai-nilai moral dan pengenalan jati-diri –sadar bahwa nikmat yang dirasakan oleh manusia– merupakan rahmat dan karunia Allah yang harus disyukuri. Luqman adalah figur yang memenuhi criteria penerima hikmah. Inilah esensi dari (QS: Luqman, 12).

Ajaran tauhid yang dimaksud adalah: tidak mempersekutukan Allah (lihat: QS: Luqman, 13), (An-Nahl, 74) dan (Al-Ikhlas, 1-4), sehingga calon pengantin berhati teguh dan terbentuk suatu keluarga sakinah dan mawaddah bersama “orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82). Wasiat Luqman kepada anaknya (Tsaran) merupakan hal penting dalam acara “beguru”, agar anak yang akan dilepas, tetap berpegang kepada ‘hablum-minAllah’ (tali Allah); dimana saja dan dalam lingkungan keluarga mana saja berada.

Akan halnya dengan implikasi ‘akhlaqul karimah’, menekankan kepada perintah berbuat baik kepada kedua orang tua; seraya mengingatkan: kalau Ibu telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan dalam keadaan lemah, yang diceritakan dalam (QS: Luqman, 14). Dengan begitu, calon mempelai tahu diri: darimana dia berasal dan akan melangkah kemana? Bagaimanapun, dalam hal-hal tertentu ada pengecualian, yaitu: jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS: Luqman, 15).

Ini penting, karena setelah berkeluarga, banyak pasangan suami/isteri bersikap kurang ajar, mengecewakan kedua orang tua dan mendewakan institusi pasangan suami/Isteri. Untuk mengelaknya, calon pengantin diberi kesadaran bahwa: sesudah berkeluarga: Ibu/Bapak-nya dua pasang, yakni: orang tua kandung + Mertua, yang tidak diperlakukan berat sebelah. Jadi, “beguru” benar-benar suatu wadah pendidikan akhlaq, yang menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, “agar orang terhindar dari perbutan tercela”. Selain itu, memelihara adab sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat (hablum-minannas). Tentang hal ini ditegaskan: “Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka.” (lihat: QS: Luqman, 18). “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37) “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu…” (QS: Luqman, 19). Jadi, wasiat Luqman merupakan konsep pendidikan keluarga dan hidup bermasyarakat. Diingatkan pula tentang kewajiban mengerjakan shalat dan melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar’ (QS: Luqman, 17). “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali-Imran, 104)

Demikian pula kreativitas, yang masuk dalam ‘accound ‘amal setiap orang, diperhitungkan betapapun kecil nilainya (QS: Luqman, 16). Ditegas lagi: “Siapapun yang mengerjakan kebajikan seberat zarrah, niscaya Dia akan membalasnya. Siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya Dia akan membalasnya pula” (QS: Al-Zalzalah, 7-8). Dalam konteks inilah, Al-Qurthubi berkata: “seseorang tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya.” (Lihat: tafsir Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, Kairo, 1994.

Akhirnya, “beguru” merupakan adat masyarakat Gayo yang sarat dengan pelajaran tentang panduan, supaya berinteraksi dan berkomunikasi dengan sopan-santun kepada kedua orang tua; bersyukur kepada Allah; mengikuti pola hidup para anbiya’ dan shalihin; mengerjakan shalat dan berbuat ’amar ma’ruf nahi munkar; bersikap sederhana dan menjaga sopan-santun dalam pergaulan bermasyarakat. Melarang berbuat syirik, bersikap angkuh/arogan, tabiat berlebihan dan serakah dalam segala hal.

Memandangkan “beguru” begitu penting, sehingga adat tersebut tetap dipelihara dan dilestarikan oleh orang gayo dimana saja mereka berada, sekaligus melegitimasi ungkapan: “si penting imente si turah kuet, mujegei edet ni muyang datu” (lirik Didong: Kabri Wali) dan “edet gayo peger ni agama”. (Yang penting iman kita harus kokoh, menjaga adat nenek moyang dan adat gayo pagarnya agama). Wallahu’aklam bissawab! Yusra Habib Abdul Gani (Pemerhati Masalah Islam dan Budaya, tinggal di Denmark)

sumber : lintasgayo.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 14 August 2012

Bukit Kerang



Bukit Kerang merupakan obyek wisata yang unik dari Kabupaten Aceh Tamiang, dimana Bukit Kerang ini adalah kumpulan dari kerang-kerang yang sangat banyak sehingga menyerupai bukit. Bukit Kerang ini juga terdapat di desa lainnya di Kabupaten ini yaitu di Desa Pangkalan, Kec.Kejuruan Muda, yang merupakan salah satu situs purbakala, dimana telah ditemukan fosil-fosil manusia purba yang telah hidup ribuan tahun yang lampau.

sumber : http://gulee-jampu.blogspot.com (Viit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Tapak Tuan



Tapaktuan adalah ibu kota dari Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Kota ini memiliki luas 92,68 km² dengan jumlah penduduk sekira 22,343 jiwa. Saat Tsunami 2004, kota ini terlindungi Pulau Simeulue sehingga terjangan ombak yang dahsyat terpecah dan berkurang intensitasnya ketika sampai di pesisir pantai. Kota Tapaktuan menyimpan cerita menarik tentang legenda naga dan wisata bahari yang alami belum banyak diketahui dan dikunjungi.

Topografi kota ini di ketinggian 500 m dpl membawanya pada iklim tropis basah dengan keindahan alam, gugusan pantai berkarang, dan teluk yang memesona. Wisata bahari dapat dilakukan di sini, seperti di Pantai Teluk Tapaktuan dan Pantau Labuhan Haji. Ada pula tujuan wisata menarik lainnya, yaitu, Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.

TapaktuanTapaktuan merupakan kota di pesisir selatan pantai Aceh yang posisinya strategis dengan pelabuhan alam dan menjadi basis ekonomi kelautan di Provinsi Aceh. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Tenggara di utara, di selatan dengan Samudera Indonesia, di barat dengan Kabupaten Aceh Barat Daya, dan di timur dengan Kabupaten Singkil dan Kota Subulussalam.

Tapaktuan dikenal dengan sebutan Kota Naga dimana berasal dari sebuah Legenda Putri Naga dan Tuan Tapa yang sudah menjadi sejarah lisan masyarakatnya secara turun temurun. Orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, saat Anda memasuki kota ini, sekira seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan maka akan melihat gambar naga tepat di dinding pinggir jalan.

Legenda Naga mengisahkan tentang sepasang naga jantan dan betina yang mendiami teluk (Tapaktuan). Keduanya diusir dari negeri Tiongkok karena tidak memiliki anak. Suatu ketika kedua naga ini mendapati sesosok bayi perempuan terapung di lautan kemudian dipelihara dengan penuh kasih sayang. Beranjak dewasalah bayi tersebut menjadi gadis cantik yang disayangi pasangan naga tersebut.

TapaktuanSuatu ketika munculah sebuah kapal dari Kerajaan Asralanoka di India Selatan dimana 17 tahun yang lalu rajanya kehilangan bayi yang hanyut ke laut. Sang raja mengenali gadis itu sebagai bayinya yang hilang dahulu dan hendak meminta kepada sepasang naga tersebut untuk mengembalikannya. Akan tetapi, sepasang naga itu menolak sehingga menimbulkan perkelahian di lautan dan mengusik seorang petapa yang bertubuh besar dan berdiam di Gua Kalam, yaitu dikenal sebagai Tuan Tapa.

Tuan Tapa yang terusik saat sedang bertapa segera melerai perkelahian sepasang naga dengan raja dari Kerajaan Asralanoka. Tuan Tapa meminta sepasang naga untuk mengembalikan sang gadis kepada orang tuanya. Akan tetapi, kedua naga tersebut menolak dan malah menantang Tuan Tapa untuk bertarung. Terjadilah perkelahian di laut dimana kedua naga kalah oleh Tuan Tapa dan gadis pun dikembalikan kepada orang tuanya. Gadis tersebut kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’ dan kembali bersama orang tuanya tetapi mereka tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka melainkan memilih menetap di pesisirnya. Keberadaan mereka diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.

Naga jantan mati terbunuh akibat pukulan tongkat Tuan Tapa. Tubuhnya hancur berserakan dan darah berceceran menyebar memerahkan tanah, bebatuan, bukit, dan juga air laut. Hati dan tubuh naga hancur berkeping-keping menjadi bebatuan hitam berbentuk hati yang saat ini dapat dilihat membekas di sisi pantai (baca: dikenal sebagai Batu Itam). Darah naga yang membeku menjadi batu (baca: dikenal sebagai Batu Merah). Begitu pula sisa pijakan kaki Tuan Tapa nampak terlihat, tongkat dan sorbannya juga turut membatu hitam beberapa ratus meter dari kedua tapak kaki sang petapa di pinggir pantai.

TapaktuanSementara itu, sang naga betina yang melihat pasanganya tewas segera melarikan diri kembali ke negeri Tiongkok. Sebelumnya, ia mengamuk dengan membelah sebuah pulau menjadi dua (baca: sekarang Puau Dua) dan memporak-porandakan pulau terbesar hingga menjadi 99 buah pulau kecil tersebar. (baca: saat ini gugusan pulau tersebut dikenali sebagai Pulau Banyak di Kabupaten Aceh Singkil).

Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit, seminggu kemudian meninggal pada Ramadhan tahun 4 Hijriyah. Jasadnya makamkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo, Gampong Padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Hingga saat ini makam manusia keramat itu sering dikunjungi peziarah dalam dan luar negeri. Makamnya sendiri pernah mengalami beberapa kali pemugaran semasa Pemerintahan Hindia Belanda. Pada 2003 Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berziarah ke Makam Tuan Tapa.


Anda dapat membaca utuh legenda masyarakat Aceh Selatan ini dalam sebuah buku, “Legenda Tapaktuan dan Kisah Naga Memelihara Bayi Raja” yang ditulis Daruk Qutni Ch, terbit 2002. Buku tersebut pernah meraih juara tiga dalam Sayembara Penulisan Buku Bacaan Fiksi 1996 tingkat nasional.

sumber : http://indoneia.travel.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Air Terjun Tingkat Tujuh



Terletak di Desa Sawang, Kecamatan Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, Propinsi Nanggro Aceh Darussalam.Bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum.

Baca Selengkapnya

Pantai Batu Berlayar



Pantai yang terletak di pesisir Kabupaten Aceh Selatan ini memiliki panorama yang indah di sekitar lepas pantai. Pantai yang indah ini juga bisa untuk memancing ikan.
Baca Selengkapnya

Monday, 13 August 2012

Pantai Air Dingin



Pantai air dingin terletak di kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Jarak tempuh sekitar 17 Km dari kota Tapaktuan. pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat setempat saja, akan tetapi dari luar pun juga banyak yang datang ke pantai tersebut.Biasanya pantai ini ramai pada akhir pekan.
Baca Selengkapnya

Wednesday, 1 August 2012

Mengapa Aceh Digelar Serambi Mekkah?

Pertama, Aceh merupakan daerah perdana masuk Islam di Nusantara, tepatnya di kawasan pantai Timur, Peureulak, dan Pasai. Dari Aceh Islam berkembang sangat cepat ke seluruh nusantara sampai ke Philipina. Mubaligh-mubaligh Aceh meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan agama Allah kepada manusia. Empat orang diantara Wali Songo yang membawa Islam ke Jawa berasal dari Aceh, yakni Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Syarif Hidayatullah, dan Syeikh Siti Jenar.
Kedua, daerah Aceh pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Nusantara dengan hadirnya Jami’ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman) lengkap dengan berbagai fakultas. Para mahasiswa yang menuntut ilmu di Aceh datang dari berbagai penjuru dunia, dari Turki, Palestina, India, Bangladesh, Pattani, Mindanau, Malaya, Brunei Darussalam, dan Makassar.
Ketiga, Kerajaan Aceh Darussalam pernah mendapat pengakuan dari Syarif Makkah atas nama Khalifah Islam di Turki bahwa Kerajaan Aceh adalah “pelindung” kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Karena itu seluruh sultan-sultan nusantara mengakui Sulatan Aceh sebagai “payung” mereka dalam menjalankan tugas kerajaan.
Keempat, daerah Aceh pernah menjadi pangkalan/pelabuhan Haji untuk seluruh nusantara. Orang-orang muslim nusantara yang naik haji ke Makkah dengan kapal laut, sebelum mengarungi Samudra Hindia menghabiskan waktu sampai enam bulan di Bandar Aceh Darussalam. Kampung-kampung sekitar Pelanggahan sekarang menjadi tempat persinggahan jamaah haji dulunya.
Kelima, banyak persamaan antara Aceh (saat itu) dengan Makkah, sama-sama Islam, bermazhab Syafi’i, berbudaya Islam, berpakaian Islam, berhiburan Islam, dan berhukum dengan hukum Islam. Seluruh penduduk Makkah beragama Islam dan seluruh penduduk Aceh juga Islam. Orang Aceh masuk dalam agama Islam secara kaffah (totalitas), tidak ada campur aduk antara adat kebiasaan dengan ajaran Islam, tetapi kalau sekarang sudah mulai memudar. (Koran Serambi Indonesia, sekitar tahun 1990-an)
sumber : www.lensameulaboh.blogspot.com (Viit This Blog Now)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 31 July 2012

Turis Malaysia Terbanyak Kunjungi Aceh


aceh

BANDA ACEH — Wisatawan Malaysia menduduki peringkat utama para turis asing yang berkunjung ke Aceh. Tahun lalu tercatat lebih dari 18 ribu wisatawan dari Negeri Jiran tersebut melawat ke Serambi Mekah. Demikian dikatakan Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Prof Jasman J Ma,ruf, kemarin.
Secara keseluruhan turis manca negara yang berkunjung ke Aceh mencapai angka 23 ribu, lebih 70 persen dari mereka adalah jiran dari Malaysia, yang datang ke Serambi Mekah untuk beribadah dan berziarah ke makam ulama.
Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh merupakan tujuan utama wisatawan, kata Jasman, selain mesjid Baiturrahim, dibibir pantai Ule Lheu yang masih utuh meski dihempas tsunami, mereka juga mengunjungi makam ulama Syiah Kuala (Syech Abdur Rauf As Singkily), yang makamnya juga dibibir pantai.
Aceh dikatakan Jasman memiliki banyak situs-situs sejarah Islam, seperti mesjid kuno Tgk.Di Anjong, mesjid Samalanga, serta makam ulama seperti Syech Hamzah Fansury di perbukitan Pancu, Peukan Bada.
Para turis Malaysia dikatakan Jasman merasakan kenyamanan saat beribadah di Aceh, mereka terasa lebih khusyuk berpuasa dan melakukan shalat wajib dan tarawih di mesjid raya Baiturrahman.
Para wisatawan yang datang ke Aceh juga dapat melihat suasana tradisional kehidupan masayarakat Aceh yang masih asli di desa Leubok Sukon, disana para turis bisa menginap dan tinggal serta beraktivitas bersama warga, dengan kehidupan yang masih sangat alami.

sumber : www.harianterbit.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 26 July 2012

Waaahh, Asyiknya Berwisata Ke Aceh.

(Pengalaman Pribadi Muhammad Muhajir di Aceh)
Sabang, NAD , April 2009
Gak niat awalnya, realisasi akhirnya, finally .... sepertinya ungkapan yang tepat ketika aku menginjakkan kaki di negeri Cut nyak Dien ini. Meskipun letaknya bersebelahan dengan propinsi yang aku tinggali, tapi karena alasan keamanan beberapa kali ku tunda keberangkatan ke wilayah ini.
Aceh (especially Sabang) biota lautnya gak kalah koq jika di bandingkan dengan kota lain yang telah tersohor alamnya, Iboh, Rubiah, Gapang Island adalah jaminan tuk melihat keindahan trumbu karang dan mahluk laut lainnya, even hanya dengan bersnorkling, sayang sarana transportasi yang relatif tidak mudah dan tidak murah tuk mencapai tempat-tempat indah tersebut.






Iboh Island







                                                                    Rubiah Island


View From The Top, Zero Km




Bermain pasir di Sumur Tiga, Sabang


 
Menjelang Sunset, Kasih Beach, Sabang


Tangkapan Nelayan Sabang



Road to Water Fall of Sabang 

Track to Volcano


Museum Tsunami, Banda Aceh

Mesjid Raya-Baiturrahman, Banda Aceh
 
Belanja oleh-oleh Toko Souvenir
Rencong Aceh, Banda Aceh

Lapangan Blang Padang, Banda Aceh







sumber : http://ajimdnkota.blogspot.com/ (Visit This Blog Now)

#Waaahhh.. menarik bukan?? ingin seperti  Muhajir? makanya kunjungi segera Aceh...






Baca Selengkapnya

Mau Membeli Souvenir Aceh? Ini ada Alamat dan Tokonya (Bisa Online juga Lho!!)

Foto : http://ajimdnkota.blogspot.com (Visit This Website)

Untuk Mempermudahkan Anda memperoleh barang-barang unik, menarik, dan indah dari Aceh. Ini ada beberapa toko yang memperjual belikan segala aneka ragam souvenir Aceh.
Berbelanja di Aceh merupakan hal biasa yang tidak bisa Anda tolak. Produk yang dijual berkisar kebutuhan harian dan komoditas pertanian. Untuk berbelanja souvenir dapat ditemukan di beberapa tempat berikut ini.
  • Pusaka Souvenir di Jalan Sri Ratu Safiatuddin No. 78, Peunayong, Banda Aceh. Telp: +62 651 741 1510
  • Pasar Aceh tepat di belakang masjid agung Baiturrahman. Bertemu penduduk lokal dan berbelanja di pasar.
  • Rencong Aceh di Jalan Mohd. Jam, no. 1-E Banda Aceh. Hubungi pemiliknya di +62 852 6010 1687
  • Nyak Ni Usaha Souvenir di Jalan Singgah Mata 10 Blower, Banda Aceh. +62 651 48474
  • Lhoong Raya Souvenir di Jalan Malikul Shaleh No. 56 Neusu. Hubungi mereka di +62 651 21357

  • Store Souvenir Aceh  Alamat: Jln Banda Aceh - Medan, Simpang Komplek Dayah Raudhatul Ma'arif Cot Treung, Muara Batu - Aceh Utara, Code Pos : 24355
    Telepon: 0852 6088 9865 (Pesan Online melalui www.souveniraceh.com)
     


     

Baca Selengkapnya

Perempuan-perempuan Aceh yang Tempo Dulu Perkasa



Perempuan millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknya – yang terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan Aceh telah menikmati hak-haknya sebagai manusia yang setara tanpa perdebatan.

Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh,Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang nisannya bertuliskan bahasa Arab dan Jawa Kuno. Di nisan itu, tertoreh nama Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga terdapat dalam kitab Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca dan buku Hikayat Raja-Raja Pasai. Tidak banyak keterangan yang didapat oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.

Perempuan Aceh memang luar biasa.Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria. Bahkan, dalam peperangan pun, yang biasanya dilakukan kaum pria, diterjuni pula.Mereka menjadi komandan, memimpin ribuan laskar di hutan dan digunung-gunung. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya – bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. Kaum pria Acehpun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan menjadi anak buahnya. Diantara mereka menjadi amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nayk Dien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya.
Beberapa preode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan. Selain Ratu Ilah Nur,ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah. Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Ada pula yang menjadi ullebalang (penguasa lokal).

Ratu Nahrasiyah
Dr.C. Snouck Hurgronje terkagum-kagum menyaksikan sebuah makam yang demikian indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai di AcehUtara. Makam yang terbuat dari pualam itu, adalah makam Nahrasiyah,seorang Ratu, putri dari Sultan Zain al-Abidin. Ia memerintah lebih dari 20 tahun. Nama Sultan Zain al-Abidin dalam berita –berita Tiongkokdikenal dengan Tsai-nu-li-a-ting-ki. Kronika Dinasti Ming (1368-1643)menyebutkan, Ratu ini mengirimkan utusan-utusannya yang ditemani olehsida-sida China Yin Ching kepada mahararaja China, Ch’engtsu(1403-1424). Pada tahun 1415 Laksamana Cheng Ho dengan armadanya datang mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai. Ratu yang dimaksud dalam berita China itu tidak lain adalah Ratu Nahrasiyah.

Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675)
Bersyukur bahwa catatan tentang Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai tentang kiprahnya memimpin.Syafiatuddin Syah lahir tahun 1612 dan anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri Syafiatuddin gadis yang rupawan, cerdas dan berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan dengan Iskandar Thani,putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Sultanah Safiatuddin Syah memerintah selama 35 tahun(1641 – 1675), pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Potugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab. Ia meninggal 23 Oktober 1675.
Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah
Sultanah Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Hal penting dan fundamental yang dilakukan oleh Naqiatuddin pada masa pemerintahannya adalah melakukan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Acehdan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Maksud dari pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan menyerahkan urusan pemerintahan dalam negari-negari yang terbagi Tiga Sagi itu. Untuk situasi sekarang, sistem pemerintahan Kerajaan Aceh dulu sama dengan otonomi daerah. Masa pemerintahannya singkat(1675-1678).

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah
Naqiatuddin Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang. Inggris yang hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan dagangnya ditolak Ratu dengan mengatakan,Inggris boleh berdagang, tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Tamu lainnya adalah kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E. Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Ratu meninggal 3 Oktober 1688, lalu ia digantikan oleh Kamalat Zainatuddin Syah.
Ratu Kamalat Zainatuddin Syah
Silsilah ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya.Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga. Pada masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua pendirian. Orang kaya bersatu dengan golongan agama menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap menginginkan wanita menjadi raja, adalah Panglima Sagi. Ia turun tahta pada bulan Oktober1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapatkan kunjungan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang Inggris, East IndianCompany.
Cut Nyak Dien
Nama Cuk Nyak Dien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan : hidup atau mati di hutan belantara dari pada menyerah kepada Belanda. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia berminggu-minggu tidak menjumpai sesuap nasipun. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ia lahir tahun 1848. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang. Ibunya juga keturunan bangsawan. Cut Nyak Dien aktif di garis depan. Akibatnya ia jarang berkumpul dengan suami dan anaknya. Persembunyian Cut Nyak Dien ditemukan oleh Belanda. Dalam keadaan buta dan lemah, ia ditangkap.Dengan tandu, Cut Nyak Dien dibawa oleh pasukan Belanda. Tanggal 11Desember 1906, Pemerintah Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien dan kemanakannya ke Sumedang, Jawa Barat. Pada 9 November 1908 ia meninggal.
Cut Meutia
Memegang pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, rambut terurai, tanpa ada keraguan sedikit pun, Cut Meutia menyongsong pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mosselman. Satu peluru di kepala dan dua di tubuhnya merubuhkan wanita yang digambarkan berparas cantik, kulit kuning berambut panjang. Ia tewas tangal 25 Oktober 1910 di hulu Sungai Peutoesetelah pengejaran yang melelahkan oleh pasukan elit Belanda. Cut Muetia lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut Jah. Pesonanya sesuai dengan namanya Muetia yang diartikan mutiara. Ia menikah dengan Teuku Syamsarif seorang uleebalang tahun1890 dalam sebuah pernikahan yang agung sebagai anak uleebalang.Bercerai dari suaminya, gelora jiwanya terlepas bebas sudah. Ia punikut bergerilya bersama ayah dan saudara-saudaranya. Kemudian iadinikahkan dengan Teuku Cut Muhammad (Chik Tunong) dan barulah ia benar-benar ikut angkat senjata.

Pocut Baren
Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita,sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun1910. Ia memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut NyakDien ketika masih aktif dalam perjuangan. Suatu penyerangan besar-besaran dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluh lantahkankan benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan ia dibawa ke Meulaboh. Sebagai penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu untuknya yang didatangkan khusus dariBelanda. Ia wafat tahun 1933.
Pocut Meurah Intan
Pocut Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh.Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Ia menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh,yang gigih menantang kehadiran Belanda. Belanda mencatat, bahwa PocutMeurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling anti Belanda.Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905, sampai tahun1904 satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti Belanda adalah Pocut Meurah Intan.
Intensitas patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun sebelum tertangkap, ia masih melakukan perlawanan yang mengagumkan pihak lawan. Ia mencabut rencongya menyerbu brigade tempur Belanda. Terbaring di tanah digenangi darah dan lumpur, Veltman mengira ia tewas lalu meninggalkannya. KataValtman, biar dia meninggal ditangan bangsanya sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan. Valtman, pemimpin pasukanBelanda yang berpengalaman dan baik hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani). Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6 Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937 Pocut Meurah Intan meninggal. (Wanita Utama Aceh / Rizal Bustami)  (http://kabarinews.com/)
Baca Selengkapnya

Foto Aceh Tempo Dulu (Lanjutan)

PEMANDANGAN KRUENG ACEH TAHUN 1874
CUT NYAK DHIEN

KEDIAMAN GUBERNUR BELANDA DI KOETARADJA 1874


MESJID RAYA BAITURRAHMANMESJID RAYA BAITURRAHMANMESJID RAYA BAITURRAHMAN

MESJID RAYA BAITURRAHMAN


TRAM DI KOETARADJA SEKITAR TAHUN 1895


DAYAH DAN MAKAM TEUNGKU DIANJONG DI KOETARADJA SEKITAR THN 1892

PEJUANG ACEH TEMPO DULU


SULTAN ACEH TERAKHIR

HOTEL DE I'EUROPE DI KOETRADJA THN 1892

MEULIGOE TAHUN 1878

PRAJURIT KNIL DI GUNONGAN TAHUN 1874

BENTENG MERIAM BELANDA DI KRUENG ACEH THN 1874

ATJEH BENTENG

ATJEHNATIVEHOUSES 1890

SABANG

KAMPSIMPANG NEUSU (DEPAN PINTU MASUK TAMAN PUTROE PHANG)

TK PERTIWI BANDA ACEH TAHUN 1979



HOTEL ACEH (DEPAN MESJID RAYA) MUSNAH AKIBAT TERBAKAR, TIANG PANCANGNYA MASIH TERSISA


SABANG 1912

----------
Sumber :

http://www.bluefame.com/index.php?showtopic=124248

http://n4dz4r.multiply.com/photos/album/8/foto_tempo_doeloe_aceh

http://sarjan.multiply.com/photos/album/7/Foto_Tempo_Doeloe

http://roeshanny.wordpress.com/2008/10/28/aceh-tempo-dulu/

http://www.flickr.com/photos/12386296@N08/3728967499/page2/

http://kkrencong.wordpress.com/2009/01/06/tempo-doeloe/
http://aweaceh.blogspot.com (Visit This Website Now)
Baca Selengkapnya