Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Monday, 24 September 2012

“Pulo Aceh Surga yang Terabaikan” kini menjadi Perhatian Dunia


Film dokumenter “Pulo Aceh Surga yang Terabaikan” yang masuk 10 besar Festival Film Dokumenter Internasional (International Documentary Film Festival/IDFF) akan diputar di Pusat Kebudayaan Kerajaan Belanda, Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta. Film karya R.A. Karamullah Cs itu akan diputar dua kali.

Film yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar, itu akan diputar di Erasmus Huis Jalan H.R. Rasuna Said Kav. S-3 Kuningan, Jakarta, pada 27 September 2012 pukul 16.30 WIB dan 29 September 2012 pukul 09.30 WIB.

“Pulo Aceh Surga yang Terabaikan” masuk dalam 10 film terbaik SBM Golden Lens 2012, ajang yang digelar School of Broadcasting Media dan Erasmus Huis. Ajang ini diikuti tak kurang dari 100 film dari pelbagai daerah di Indonesia.

R.A. Karamullah, sutradara Pulo Aceh, mengaku senang film yang digarap bersama kawan-kawannya sesama mahasiswa itu diputar di pentas nasional. “Kami sangat senang. Sudah ditonton saja kami bangga,” kata pria yang akrab disapa RA ini kepada acehkita.com, Senin (24/9).

Setelah masuk dalam katagori 10 film terbaik, dua pembuat film Pulo Aceh ini (sutradara R.A. Karamullah dan kameramen Ahmad Ariska –red.) mendapat kesempatan mengikuti workshop selama dua pekan di School of Broadcasting Media di Utan Kayu, Jakarta Timur. 

Selain diputar di Erasmus Huis, film ini pernah diputar di Bandung, Jawa Barat, pada lomba film pariwisata. Film ini kembali diputar di Festival Media 2012 yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Gedung Indonesia Menggugat Bandung pada 16 September 2012 lalu. 
 
sumber : www.acehkita.com (Visit Now)
Baca Selengkapnya

Yuk Ikuti "International Tsunami Games 2012" di Aceh


Kepada Bidang Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, Nuzuli MS mengatakan event bertaraf internasional, Tsunami Games 2012 akan digelar di Aceh, Desember mendatang.
“Akibat tragedi bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami yang telah melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, yang telah meluluh lantakkan infrastruktur sarana dan prasarana di Aceh. Tragedi tersebut juga dirasakan oleh negara-negara terdekat antara lain Malaysia, Thailand, Srilangka, India, Suriname, bahkan sampai ke Negara Madagaskar. Dalam rangka mempererat rasa persaudaraan di antara sesama atlet yang terkena imbas tsunami saat itu, sangat layak para atlet ditemukan pada suatu event Internasional Tsunami Games yang dilaksanakan di Aceh,” ujarnya seperti dikutip SeputarAceh.com, Minggu (23/09) di laman International Tsunami Games.

Dengan alasan tersebut sangatlah tepat dilaksanakan di Aceh, mengingat event dan momen bertaraf internasional masih jarang dipusatkan di Aceh. “Momen tersebut sangatlah tepat, karena di Aceh belum pernah menyelenggarakan event bertaraf internasional,” tulisnya.
Salah satu event seperti Aceh Marathon 2012 ini tentu bisa membawa manfaat besar, selain dari sisi olahraga juga bentuk dari promosi pariwisata untuk mengenalkan Aceh pada dunia luar menyambut tahun kunjungan Visit Aceh 2013.

Gelaran acara yang dikemas dalam olahraga marathon ini ditargetkan lebih dari seribu pelari dari berbagai negara akan ikut ambil bagian, selain itu kategori lari maraton juga akan terbagi beberapa bagian, seperti Half Marathon dengan jarak 21.0975 km, lari 10K, Children’s Sprint dan kategori umum.

Event ini juga didukung oleh Pemerintah Aceh, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, serta Lembaga Aceh Marathon, bagi Anda yang tertarik untuk informasi lengkap bisa menghubungi email panitia di acehmarathon@gmail.com atau kontak +62821 6334 7349, Mr Ibrahim sebagai panitia penyelenggara.

 sumber : seputaraceh.com (Visit Now)


Baca Selengkapnya

Saturday, 22 September 2012

Kenali Ragam Suku Dalam Masyarakat Aceh

 
Suku Aceh
Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.

Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda.

Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.


Suku Gayo
Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh.

Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih.

Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.


Suku Aneuk Jamee
Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Dari segi bahasa, diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau. Namun, akibat pengaruh proses asimilasi kebudayaan yang cukup lama, kebanyakan dari Suku Aneuk Jamee, terutama yang mendiami kawasan yang didominasi oleh Suku Aceh, misalnya di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih lazim menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca). Adapun asal mula penyebutan "Aneuk Jamee" diduga kuat dipopulerkan oleh Suku Aceh setempat, sebagai wujud dari sifat keterbukaan Orang Aceh dalam memuliakan kelompok warga Minangkabau yang datang mengungsi (eksodus) dari tanah leluhurnya yang ketika itu berada di bawah cengkraman penjajah Belanda. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti "anak tamu".

Suku Singkil
Suku Singkil adalah sebuah suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil daratan dan kota Subulussalam di propinsi Aceh

Kedudukan suku Singkil sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah termasuk dalam suku Pakpak suak Boang atau berdiri sebagai satu suku yang tersendiri terpisah dari suku Pakpak.


Suku Alas
Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (yang juga lazim disebut Tanah Alas). Kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).

Sebagian besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Tapi selain itu mereka juga berkebun karet, kopi,dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

Kampung atau desa orang Alas disebut kute. Suatu kute biasanya didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup kekeluargaan mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.

Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian. Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar dari hama.


Suku Tamiang
Penduduk utama kabupaten Aceh Tamiang adalah suku Melayu atau lebih sering disebut Melayu Tamiang.

Mereka mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat, Sumatera Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian mereka telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh.

Dari segi kebudayaan, mereka juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya.

Suku Kluet
Suku Kluet adalah sebuah suku yang mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

Suku Devayan
Suku Devayan merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue. Suku ini mendiami kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

Suku Sigulai
Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara. Suku ini terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

Suku Batak Pakpak
Suku Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau Sumatera Indonesia dan tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yaki di Kabupaten Dairi,Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan( Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sabulusalam (Prov.Aceh.

Suku Pakpak terdiri atas 5 subsuku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima suak yang terdiri dari :

Pakpak Klasen(Kab. Humbang Hasundutan Sumut]
Pakpak Simsim(Kab.Pakpak Bharat-sumut)
Pakpak Boang (Kab.Singil dan kota Sabulusalam-Aceh)
Pakpak Pegagan (Kab.Dairi-sumut)
Pakpak Keppas (Kab.Dairi sumut)

Dalam administrasi pemerintahan Suku Pakpak banyak bermukim di wilayah Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian dimekarkan pada tahun 2003 menjadi dua kabupaten, yakni:

Kabupaten Dairi (ibu kota: Sidikalang)
Kabupaten Pakpak Bharat (ibu kota: Salak)

Suku Pakpak juga berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah. Suku Pakpak yang tinggal di wilayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Klasen.

Suku Pakpak juga bermukim di wilayah Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Singkil dan kota Sabulusalam yang disebut sebagai Pakpak Boang.

Suku Pakpak yang berdiam di Kabupaten Pakpak Bharat adalah Pakpak Simsim, sedangkan yang tinggal di kota Sidikalang dan sekitarnya merupakan suku Pakpak Keppas dan yang bermukim di Sumbul sekitarnya adalah Pakpak Pegagan.

Suku bangsa Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba sampai perbatasan Sumatra Utara dengan provinsi Aceh (selatan).

Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan Chola di Indiayang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi.


Suku Haloban
Suku Haloban merupakan suatu suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak merupakan suatu kecamatan yang terdiri dari 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

Suku Lekon
Suku Lekon adalah sebuah suku bangsa yang terdapat di kecamatan Alafan, Simeulue di provinsi Aceh. Suku ini terdapat di desa Lafakha dan dan Langi.


sumber : id.wikipedia.org (Visit This Site Now)
Baca Selengkapnya

Friday, 21 September 2012

Cut Nyak Dien dan Perlawanannya Terhadap Imperialisme

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. (QS. Yusuf (12) : 111)

Pikirkanlah dengan dalam..! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang.
Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini. (Kekaguman Buya Hamka atas keteguhan Cut Nyak Dien).
***
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya oleh karena itu belajarlah dari sejarah
Sejarah perempuan Indonesia bukah hanya membincangkan peran perempuan yang menuntut pendidikan dan kesetaraan di segala bidang, melainkan juga mengenai sejarah para perempuan yang pernah menjadi pemimpin sebuah kerajaan, negarawan maupun pemimpin militer. Di Aceh, misalnya sebut saja Laksamana Malahayati atau Ratu Nihrasiyah Chadiyn. Tetapi, jika kita maju hingga akhir abad ke-19 di masa Aceh berperang melawan penjajahan Belanda, maka kita akan bertemu dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Teuku Fakinah. Sayang, sejarah perjuangan mereka nyaris dilupakan bangsa.

Tentu kita bertanya, mengapa Aceh memiliki begitu banyak tokoh perempuan dalam melawan kaum imperialis? Menurut Teuku H. Ainal Mardhiah Aiy dalam artikelnya yang berjudul “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau sampai Masa Kini”, dijelaskan mengenai kedudukan perempuan di Aceh pada masa lampau. Perempuan Aceh diberi kesempatan dan penghargaan yang luar biasa untuk ikut serta dalam lembaga-lembaga negara serta kancah pertahanan karena Pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam mengambil Islam sebagai dasar negaranya dan Kanun serta Hadits sebagai sumber hukumnya. Oleh karena itu, perempuan setara dengan laki-laki dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Maka adalah hal yang wajar jika banyak tokoh perempuan yang bermunculan dan berperan sama pentingnya dengan laki-laki di Aceh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu pahlawan perempuan Aceh yang telah disebutkan di atas, yaitu Cut Nyak Dien. Siapa yang tidak kenal beliau dalam perjuangannya mengusir penjajah? Insya Allah masyarakat dalam negeri ini mengenalnya. Akan tetapi, adakah yang mengetahui mengapa beliau sangat gigih melawan penjajah? Hal inilah yang kurang atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang.
Cut Nyak Dien adalah keturunan dari bangsawan puteri Nanta Seutia Raja Ulebalang VI Mukim. Berwajah cantik, baik budi pekertinya, tangkas tingkah lakunya, dan mempunyai watak yang luar biasa menjadi kata yang pas disematkan pada Cut Nyak Dien.[1] Nanta Seutia mengharapkan putrinya menikah dengan seorang yang mencintai negaranya. Maka, Cut Nyak Dien akhirnya menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku merupakan seorang pahlawan yang memimpin peperangan melawan kolonial Belanda. Keduanya merupakan pasangan serasi dalam kepribadian, yaitu tegas dan tangkas dalam menyikapi “Kaphe (kafir) Belanda” yang merupakan musuh agama dan negara.

Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Ketika peperangan semakin memanas, Cut Nyak Dien terus menggembleng semangat para pejuang perempuan untuk turut serta membantu peperangan. Pun, ketika Teuku Ibrahim Lamnga gugur (29 Juni 1878), Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa, melainkan sebaiknya beliau merasa bangga atas kemuliaan suaminya yang syahid.

Seiring dengan berjalannya waktu, Cut Nyak Dien akhirnya melepaskan status jandanya. Kali ini pria yang dinikahinya adalah Teuku Umar yang setelah pernikahan diangkat menjadi panglima perang. Ketika banyak daerah yang telah dikuasai oleh Belanda dan Belanda menyatakan damai, banyak Hulubalang yang menyerah damai. Namun, Cut Nyak Dien tetap tegas menyatakan pantang tunduk. Atas kegigihannya mengobarkan semangat jihad, banyak para pahlawan kian bersemangat dalam berjuang mengusir Belanda untuk secara teratur munudr dari Jawa pada tahun 1873.


Rumah Cut Nyak Dhien di Desa Lampisang, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar

Setelah peperangan tersebut, Cut Nyak Dien pulang ke kampungnya, Lampisang. Sampai di Lampisang, ia menggantikan kedudukan ayahnya yang sudah lanjut usia sebagai Hulubalang VI Mukim. Selain memegang tampuk pemerintahan, Cut Nyak Dien juga mengatur siasat untuk menentang Belanda dari dalam rumahnya yang dijadikan “Markas Besar”. Cut Nyak Dien pun terus berusaha mengubah paham suaminya agar tidak berdamai dengan Belanda. Hal ini akan terlihat jelas saat Teuku Umar menyebrang ke pihak Belanda.
Teuku Umar mengajukan penyerahan diri dan menyatakan siap membantu Belanda mengamankan Aceh Besar yang diikuti sikap Jenderal C. Deijkerhoff untuk meneliti kesungguhan suami Cut Nyak Dien tersebut. Pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar dengan menggunakan kebijaksanaannya berhasil mengamankan Mukim XXV untuk membuktikan kesungguhannya. Deijkerhoff pun merasa puas atas sikap Teuku Umar dengan menerima penyerahan dirinya. Pada tanggal 30 Sempetember 1893, Teuku Umar bersama 15 orang panglimanya menyatakan sumpah setia di hadapan Deijkerhoff dalam sebuah upacara.[2] Gelar Johan Pahlawan Panglima Besar Hindia Belanda didapatkan pada upacara ini. Teuku Umar juga diberi sebuah rumah besar, diangkat sebagai pejabat pemerintah, dan mendapatkan gaji. Selama 3 tahun Teuku Umar berada di pihak Belanda, dan selama itu pula Cut Nyak Dien tetap tegas melawan Belanda dan berusaha mempengaruhi suaminya untuk tidak terus melanjutkan taktiknya.

Adalah Teuku Fakinah, seorang pejuang wanita yang selalu gigih melawan Belanda. Teuku Fakinah memiliki hubungan yang erat dengan Cut Nyak Dien karena keduanya saling membantu ketika peperangan. Saat Teuku Fakinah mendengar berita mengenai Teuku Umar, ia memikirkan bagaimana caranya supaya Cut Nyak Dien dapat mempengaruhi suaminya untuk kembali ke jalan yang benar. Maka Teuku Fakinah mengirim Cut Nyak Dien surat berisi permintaan agar suaminya menyerang benteng-benteng Inong Bale. Tujuannya agar dia tahu keberanian wanita Aceh yang terdiri dari janda-janda. Melihat kondisi tersebut, Cut Nyak Dien tersadar dan mengirim surat balasan pada Teuku Fakinah yang berisi harapan agar Allah mengembalikan langkah Cut Nyak Dien dan Teuku Umar ke jalan semula.

Teuku Umar mendapati bahwa walaupun berada di pihak Belanda, ia mengalami kesulitan untuk mengubah langkah Belanda agar menguntungkan pihak Aceh. Menyadari hal tersebut, maka Teuku Umar berencana untuk kembali berbalik melawan Belanda setelah mendapatkan senjata tambahan, yaitu 380 pucuk senapan achterlaad, 25.000 peluru Beamont, 120.000 slaghoedjes, 5.000 kg loods, dan uang $18.000. Setelah kembali ke pihak Aceh, Teuku Umar bersama Cut Nyak Dien melancarkan perang gerilya. Saat perang inilah, Teuku Umar meregang nyawa. Ia syahid dalam sebuah pertempuran. Berita syahidnya Teuku Umar sampat membuat Cut Nyak Dien terpaku. Namun tak lama berselang, kebanggaan tersirat dalam dirinya karena sejatinya Teuku Umar meninggal dalam kondisi syahid.

Pasca syahid suami keduanya inilah Cut Nyak Dien bersumpah: “Demi Allah, selama Pahlawan Aceh masih hidup, peperangan tetap kuteruskan guna kepentingan agama, kemerdekaan bangsa, dan negara.”[3] Cut Nyak Dien pun meneruskan perjuangan suaminya dan bergerilya selama enam belas tahun di tengah hutan.
Pada tanggal 6 November 1905, Belanda menyerbu ke hutan, tempat di mana Cut Nyak Dien bersembunyi. Dalam serbuan itu situasi menakdirkan Cut Nyak Dien tertangkap. Dalam kondisi yang lanjut usia dan tidak kuasa lagi melawan Belanda, perempuan pemberani itu mencabut rencong di pinggang pendukungnya lalu dihadapkan ke dadanya. Sebelum rencong tersebut menikam dadanya, Letnan Van Vuuren secepat kilat merampas rencong dari tangannya. Akibat perbuatannya, Van Vuuren membuat marah Cut Nyak Dien yang berkata, “Jangan kau menyinggung (menyentuh) kulitku, kafir!”[4] Versi lain menebutkan bukan Van Vuuren yang menangkap lengan Cut Nyak Dien, melainkan Panglima Laot, pengikut Cut Nyak Dien yang selalu menasehati pahlawan perempuan tersebut untuk menyerah pada Belanda.

Panglima Laot-lah yang melapor kepada Belanda mengenai posisi Cut Nyak Dien. Panglima Laot melapor akibat ia tidak tahan lagi melihat kondisi Cut Nyak Dien yang begitu menyedihkan. Ketika Panglima Laot menangkap tangan Cut Nyak Dien agar melepaskan rencong, Cut Nyak Dien marah dan menjeritkan hinaan: “Cis, kau pengkhianat!” Cut Nyak Dien juga berkata kepada Kapten Veltman: “Kau kafir jahanam, tembak saja aku! Di Meulaboh pun kau nanti akan membuangku ke laut.”[5] Dari perkataan Cut Nyak Dien ini, kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun dalam keadaan terdesak, beliau tidak begitu saja takut dan menyerah. Beliau terus melawan, walau kemungkinan untuk menang sangat kecil. Sikap beliau terhadap Belanda sama sekali tidak berubah, tetap tegas menghadapi mereka.

Alhasil, Cut Nyak Dien dibawa ke Meulaboh. Dari sana, beliau diberangkatkan ke Kutaraja. Awalnya, Cut Nyak Dien tidak akan diasingkan. Tetapi, Pemerintah Belanda khawatir jika tidak diisolir Cut Nyak Dien dapat kembali mengobarkan semangat perjuangan. Akhirnya keputusan mengasingkan Cut Nyak Dien itu dipilih belanda. Perempuan gagah berani itu dibawa ke Batavia hingga kemudian diasingkan ke Sumedang. Namun dalam pengasingannya, Cut Nyak Dien mendapatkan perlakuan istimewa meski ia tetap tidak diizinkan melihat tanah Aceh. Hingga pada tanggal 6 November 1908, mujahidah tersebut meninggal dalam pengasingan.

Ketahuilah, Cut Nyak Dien memiliki pengaruh besar di masyarakatnya dan cukup ditakuti oleh Pemerintah Belanda. Beliau disegani kawan maupun lawan. Hal ini terbukti dari kebijakan Belanda untuk mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, jauh dari tanah dan rakyatnya. Padahal Cut Nyak Dien pada saat itu telah berusia lanjut dan lemah.

Pengaruh Cut Nyak Dien, seperti yang diuraikan dari karangan Pol bahwa di Meulaboh kejuruan/uleebalang, datuk-datuk, penghulu-penghulu, dan lain-lain mulai dari setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya betul-betul menjadi momok menakutkan bagi Belanda.[6]. Walaupun tidak dapat berjuang dengan tangan dan kaki, tapi pikirannya mampu mengobarkan semangat para pahlawan Aceh untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Selain itu, beliau juga dapat bertahan di hutan-hutan dengan makanan seadanya, bahkan berminggu-minggu tanpa sesuap nasi. Padalah pada saat itu, usia Cut Nyak Dien telah udzur. Hal inilah yang menyebabkan para pengikutnya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi Cut Nyak Dien dan ingin menyelamatkannya.

Cut Nyak Dien bukan hanya pejuang yang gigih, tegas, dan tangkas, tapi beliau juga seorang istri yang selalu menyayangi dan menghormati suaminya. Cut Nyak Dien memang tidak menyukai taktik yang dijalankan oleh Teuku Umar, tapi beliau terus mendukung dan mengingatkannya dengan berbagai cara. Beliau juga tidak terlena dengan perlakuan istimewa Pemerintah Belanda ketika Teuku Umar berada di pihak Belanda. Saat Teuku Umar kembali melawan Belanda, Cut Nyak Dien mendukung suaminya dan berusaha agar para pejuang Aceh dapat menerima suaminya.

Cut Nyak Dien berjuang bukan hanya dengan tenaga dan kekuatannya, tapi juga dengan pemikiran dan keteguhannya membela agama. Seperti yang dikatakan Snouck Hurgronje, kekuatan perjuangan pasukan Aceh bukan dari tenaga mereka tapi dari agama mereka. Begitu pula dengan semangat perjuangan Cut Nyak Dien. Wallahu’alam bi ash shawwab. (islampos.com)
*Penulis adalah Guru Pesantren Husnayain, Sukabumi

sumber : seputaraceh.com (Visit Now)
Baca Selengkapnya

Thursday, 20 September 2012

Mesjid Al-Muhajirin



Mesjid Al-Muhajirin berada di lingkungan Rindam Iskandar Muda - Mata Ie. Tepatnya di Desa Lheu-U Kemukiman Daroe Jeumpet Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Masjid ini didirikan pada tahun 1835, bangunan aslinya telah direnovasi menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 19 September 2012

Mesjid Teungku Fakinah


Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1915 oleh Teungku Fakinah dan dibantu oleh santriwan dan santriwati yang mengaji di dayahnya. Luas masjid Teungku Fakinah adalah 15 x 15 meter. Bangunan ini terletak di Desa Blang Miro Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar. Masjid ini telah dimasukkan sebagai salah satu cagar budaya oleh Pemerintah Daerah setempat.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Abu Budi Lamno Ulama dari Negeri Meureuhom Daya

Bila kita melakukan perjalanan dari Banda Aceh kearah Meulaboh, setelah melewati puncak tertinggi di daerah tersebut yaitu puncak gunung Geurute maka kita akan memasuki sebuah kota yang terkenal dengan kota Lamno atau Peukan Lamno. Di daerah Lamno inilah dulu pernah berdiri kerajaan Daya yang pernah mengalahkan pasukan Portugis dan mengislamkan mereka serta mendirikan perkampungan etnis Portugis, sehingga daerah ini juga dikenal dengan perkampungan Si Mata Biru. Diatas puncak bukit di daerah Kuala Daya terdapat perkuburan raja – raja Daya yang terkenal dengan Almarhum Daya atau dalam bahasa Aceh biasa disebut dengan Meureuhom Daya, karena itulah daerah ini dikenal juga dengan negeri Meureuhom Daya.

Setelah peleburan kerajaan Daya menjadi kerajaan Aceh Darussalam di tahun 1520 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah nama Daya terasa hilang seiring perjalanan waktu. Kemudian semenjak didirikan pesantren BUDI di tahun 1967 oleh Teungku Haji Ibrahim Ishak, nama daerah Meureuhom Daya atau Lamno kembali mencuat kepermukaan, terutama bagi yang ingin mengecap pendidikan agama.A. Silsilah
 
Teungku Haji Ibrahim Ishak atau lebih dikenal dengan panggilan Abu Budi Lamno lahir di Mukhan, Lamno, Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya) pada tahun 1936. Beliau berumah tangga dengan seorang perempuan bernama Hajjah Sunainiyah. Dari perkawinan itu beliau dikarunia empat orang anak yaitu Nabhani, Chairiati, Afifuddin dan Nurhidayati.

B. Pendidikan
Ketika umurnya telah sampai usia menuntut ilmu, Teungku Ibrahim dimasukkan oleh orang tuanya untuk mengecap pendidikan dasar pada Sekolah Rakyat (SR). Dengan ketekunan dan kedisiplinannya, beliau menyelesaikan pendidikan di sekolah ini pada tahun 1949. Walaupun pendidikan dasarnya pada lembaga pendidikan umum, namun orang tuanya melihat putranya ini memiliki bakat dan minat pada pendidikan agama. Karenanya Teungku Ibrahim Ishak selanjutnya dikirim ke Labuhan Haji untuk belajar di Dayah Darussalam yang dipimpin oleh Abuya Muda Waly. Lama beliau belajar di dayah ini hingga tahun 1958.

Seiring dengan kepulangan guru beliau Teungku Abdul Aziz (Abon Samalanga) dari Labuhan Haji ke Samalanga pada tahun 1958 untuk memimpin Dayah MUDI MESRA (Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya), maka Teungku Ibrahim Ishak ikut serta ke Samalanga guna untuk menambah ilmu yang dirasakan belum cukup serta untuk membantu Abon Samalanga mengajar di MUDI MESRA. Teungku Ibrahim Ishak mengabdi di Samalanga hingga tahun 1963. Kehausan terhadap ilmu agama tidak pernah membuat Teungku Ibrahim Ishak merasa puas sehingga dari Samalanga beliau berangkat ke Sumatera Barat untuk belajar di sana hingga tahun 1966.

C. Kiprah terhadap masyarakat
Pada tahun 1967 atau sekembali dari memperdalam ilmu agama di Sumatera Barat, Teungku Ibrahim Ishak membuka lembaga pengajian di kampung halamannya. Lembaga pengajian ini bernama Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah, dayah ini disingkat dan lebih dikenal oleh masyarakat dengan dayah BUDI, maka terkenallah beliau dengan panggilan Abu Budi. Semenjak beliau dirikan pesantren ini hingga akhir hayatnya, beliau selalu memimpin lembaga pendidikan ini dan membina santri – santri yang berdatangan dari seluruh wilayah Aceh serta ada beberapa santri dari luar propinsi Aceh. Beliau seolah – olah tidak mempunyai perasaan bosan dan jenuh untuk membina dan memberi semangat kepada para guru dan santri untuk selalu giat belajar. Abu Budi berpandangan bahwa ilmu akan mudah didapat apabila para pelajar agresif, maka Abu Budi menganjurkan agar dihidupkan Munazharah (berdebat Hukum agama) di setiap pengajian. Oleh karena itu dayah BUDI Lamno terkenal dengan ciri khasnya yaitu diadakannya munazharah disetiap pengajian.

Kepiawan Abu Budi dalam mengupas hukum – hukum agama dengan menggunakan dalil aqli dan naqli dalam setiap pengajian dan acara mubahasah agama dengan gaya beliau yang khas membuat beliau sangat terkenal, sehingga ada yang menjuluki beliau sebagai ulama Mantiq dan juga terasa hambar acara mubahasah agama tanpa kehadiran beliau. Lokasi dayah yang tidak begitu strategis karena berada di muara sungai Lamno yang membuat air di situ menjadi payau dan krisis air bersih, tapi karena karisma Abu Budi yang terkenal membuat santri dari berbagai daerah bahkan yang sudah menjadi guru di pesantren yang lain berdatangan ke dayah BUDI karena ingin menimba ilmu di dayah tersebut. Dayah ini dikenal oleh masyarakat umum, ada 800 orang santri pria dan 700 orang santri perempuan belajar di dayah ini pada tahun 1997, tercatat ada yang berasal dari Jambi, Lampung, Padang, Sulawesi dan Malaysia.

Pada tahun 1990 Abu Budi menjabat sebagai ketua MUI (sekarang MPU) kecamatan Jaya dan pengurus Persatuan Dayah Inshafuddin. Jabatan lain yang dijabatnya hingga akhir hayat adalah ketua IPHI Kecamatan Jaya, ketua DPC PERTI Aceh Barat, wakil ketua MPW PPP Aceh dan ketua DPC PPP Aceh Barat. Semenjak usia muda, Teungku Haji Ibrahim Ishak sangat aktif di bidang pendidikan agama dan sangat berperan dalam bidang sosial kemasyarakatan dalam upaya membantu berbagai program pemerintah. Setiap pemilu Teungku Haji Ibrahim Ishak aktif berkampanye untuk PPP.

D. Akhir hayat
Teungku Haji Ibrahim Ishak atau Abu Budi Lamno salah seorang ulama karismatik Aceh meninggal dunia pada tanggal 14 Mei 1997 dalam usia 61 tahun. Pimpinan dayah BUDI Lamno itu menghembus nafas terakhir dirumahnya desa Jangeut Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya).
Menjelang detik – detik ajalnya , Abu Budi sempat menitip sebuah amanah kepada keluarga, santri dan dewan guru "jagalah dayah ini baik – baik", demikian pesan Abu Budi yang diulang sebanyak tiga kali. Berita meninggalnya Abu Budi begitu cepat menyebar. Gelombang masyarakat tak pernah henti berdatangan hingga berlangsungnya pemakaman di desa Jangeut, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.#
 


Ditulis oleh :
 Tgk Zulfahmi MR; staf pengajar di Dayah Raudhatul Ma'arif, Cot Trueng. Tulisan ini merupakan nukilan dari buku "Biografi Ulama Aceh Abad XX Jilid II".

sumber : Klick Disini
Baca Selengkapnya

Tuesday, 18 September 2012

Alas Tempat Duduk Yang Bernama Tikar






Seuke (dalam bahasa Aceh) disebut juga dengan daun pandan adalah bahan baku yang sering digunakan dalam membuat kerajinan anyaman salah satunya adalah tikar. Tikar digunakan oleh rakyat Aceh untuk alas tempat duduk dan lain sebagainya. Tikar disulam dengan tangan dengan menggunakan jarum dari bambu sebesar dua jari. Tikar sangatlah nyaman untuk diduduki
Baca Selengkapnya

Monday, 17 September 2012

Kopi Aceh Menggoyang Lidah Konsumen Asing

Sepanjang tahun 2012 ini, nilai ekspor kopi arabika asal Provinsi Aceh mencapai angka 5.182 ton dengan nilai US$37,816 juta.
“Nilai ekspor tersebut tercatat pada semester pertama 2012,” kata Netty Muharni, Kepala Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Provinsi Aceh, seperti dikutip Antara, Senin (17/09).
Namun, lajut Netty, jika dibandingkan dengan jumlah ekspor kopi arabika yang tedapat di semester pertama 2012, terjadi sedikit penurunan.
Hal tersebut dikarenakan, pada periode yang sama di tahun lalu, jumlah ekspor kopi arabika Aceh mencapai angka 5.499 ton.
Menurut dia, kendati terjadi penurunan di semester pertama, namun diperkirakan total ekspor kopi arabika pada tahun ini bakal meningkat.
“Peningkatan tersebut terjadi karena makin tingginya permintaan kopi dunia. hal ini tentu menguntungkan petani kopi di sentra produksi, seperti di dataran tinggi Gayo,” tambahnya.
Total ekspor kopi arabika Aceh di tahun lalu mencapai angka 9.072 ton dengan nilai US$62,556 juta dengan target ekspor ke sejumlah negara di Eropa, Amerika, dan Asia.
“Inggris merupakan negara pengimpor kopi Aceh terbesar dengan jumlah 638,6 ton. Posisi selanjut ditempati Jerman dengan 478,9 ton dan Belgia 165,4 ton,” tambahnya.
“Pengekspor kopi arabika pada 2011 tercatat 17 perusahaan. Sedangkan tahun ini baru 12 perusahaan yang melakukan ekspor kopi tersebut. Namun, kebanyakan ekspor tersebut dilakukan melalui pelabuhan di luar Aceh,” pungkasnya.

sumber : seputaraceh.com (visit now)
Baca Selengkapnya

“Nonton Bareng Film Inspiratif” Hadir Juga di Aceh

Upaya penyemaian nilai-nilai budaya sebagai pembentuk karakter bangsa disajikan dalam bentuk unik. Dengan tajuk “Nonton Bareng Film Inspiratif”, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggelar nonton bareng di beberapa daerah yang tersebar di tanah air.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti menyampaikan, kegiatan ini akan segera dilaksanakan mulai bulan ini sampai Oktober 2012 yang menyasar pada para pelajar. Nonton bareng dan gratis ini bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan media dalam rangka menumbuhkan nilai karakter bangsa. Diharapkan, kegiatan ini dapat membuka kesempatan khususnya pada pelajar di daerah untuk menonton film berkualitas dan penuh inspirasi.

“Bisa juga menggugah pelajar untuk berdiskusi mengenai nilai positif yang terkandung di dalam film, sejalan dengan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai karakter bangsa,” kata Wiendu, di gedung Kemendikbud, Jakarta beberapa waktu lalu.

Di luar itu, lanjut Wiendu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang diskusi seluruh pemangku kepentingan di daerah tentang pentingnya menumbuhkembangkan pendidikan nilai-nilai kebangsaan.
Sasaran utama dari kegiatan ini adalah pelajar, dan para tenaga pendidik. Alasan lain digelarnya kegiatan ini adalah karena semakin maraknya budaya asing yang masuk dan dengan mudahnya digandrungi generasi muda.

Film-film yang akan diputar dibagi dalam beberapa kategori dan judul film. Kategori film anak, misalnya Garuda di Dadaku 2 dan Lima Elang. Sedangkan film Batas, Negeri 5 Menara (18 September di Aceh), dan Ruma Maida dimasukkan dalam kategori film umum. Kelima judul film itu dinilai mewakili dan bermuatan nilai-nilai positif guna persemaian karakter dan semangat kebangsaan.
Nonton bareng akan digelar di sejumlah sekolah dan balai rakyat atau alun-alun warga di 12 daerah di Indonesia, yaitu Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Aceh.

sumber : seputaraceh.com (visit now)
Baca Selengkapnya

Mesjid Quba-Bebesen


Masjid ini terletak di Kampung Bebesen, Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, lebih kurang berjarak 2.5 km dari ibukota Takengon. Di lokasi masjid ini, sebelumnya berdiri masjid kayu beratap ijuk yang didirikan pada masa awal kedatangan Islam ke tanah Gayo. Lalu digantikan dengan masjid bertiang beton dan beratap seng pada tahun 1917. Berikutnya pada tahun 1947 dibangun masjid semipermanen yang kemudian dibakar oknum PKI pada tahun 1965. Maka pada tahun 1966, dimulailah pembangunan masjid Quba yang sekarang ini.


Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya