Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Tuesday, 10 July 2012

Tarian Ranup Lampuan

 Tari Ranup Lampuan adalah salah satu tarian tradisional Aceh yang ditarikan oleh para wanita. Tarian ini biasanya ditarikan untuk penghormatan dan penyambutan tamu secara resmi. Tari Ranup Lampuan dalam bahasa Aceh, berarti sirih dalam puan. Puan adalah tempat sirih khas Aceh. Karya tari yang berlatar belakang adat istiadat masyarakat Aceh, khususnya adat pada penyambutan tamu. Secara koreografi tari ini menceritakan bagaimana dara-dara Aceh menghidangkan sirih kepada tamu yang datang, yang geraknya menceritakan proses memetik, membungkus, meletakkan daun sirih ke dalam puan, sampai menyuguhkan sirih kepada tamu yang datang.
Baca Selengkapnya

Tarian Likok Pulo

Tari Likok Pulo adalah tari yang berasal dari Aceh. Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.

Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.
Baca Selengkapnya

Tarian Laweut

Tari Laweut adalah tari yang berasal dari Aceh. Laweut berasal dari kata Selawat, sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali disebut Akoon (Seudati Inong). Laweut ditetapkan namanya pada Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II). Tarian ini berasal dari Pidie dan telah berkembang di seluruh Aceh.

Gerak tari ini, yaitu penari dari arah kiri atas dan kanan atas dengan jalan gerakan barisan memasuki pentas dan langsung membuat komposisi berbanjar satu, menghadap penonton, memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada, kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.
Baca Selengkapnya

Friday, 29 June 2012

Mesjid Teungku Chik Kuta Karang


Mesjid Teungku Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu I Kemukiman Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Tgk. Chik Kuta Karang sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997. Imam mesjid ini sekarang dipangku oleh Teungku Muhammad, sebagai penanggungjawab pelaksanaan ibadah dan kegiatan lainnya di masjid.


Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Mesjid Jamik Jantho


Masjid ini terletak di Desa Weu Kemukiman Jantho Kecamatan Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 60 km dari Banda Aceh, dan 28 km dari Saree. Informasi dari imam masjid menyebutkan bahwa masjid ini dipindahkan ke lokasi yang sekarang di tahun 1710 M. Sebelumnya masjid ini dibangun di Desa Jantho Lama sekitar tahun 1640 M, di masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Masjid Indrapurwa


Menurut keterangan dari imam masjid, masjid ini dulu dibangun di Desa Pante Ara. Akibat abrasi, lokasi itu telah menjadi laut, pondasi mesjid itu masih terlihat saat air surut, kira-kira berjarak sejauh 2 kilometer dari bibir pantai. Kemudian masjid ini dipindahkan ke Desa Lam Badeuk Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Masjid Indrapuri


Mesjid ini terletak di Pasar Indrapuri Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, berjarak sekitar 24 km ke arah Utara Kota Banda Aceh. Bangunan mesjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 m2, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh. Ukuran masjid 18.8 x 18.8 meter, dan tinggi 11.65 meter.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 20 June 2012

Masjid Baiturrahim


Masjid Baiturrahim - Ulee Lheue adalah masjid di kemukiman Meuraxa, Desa Ulee Lheue, kira-kira berjarak 5 kilometer dari kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada tahun 1343 H, bertepatan dengan tahun 1926 M. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi, terakhir sempat rusak dalam terjangan tsunami 26 Desember 2004. Pada gambar di atas, tampak masjid Baiturrahim yang telah dipugar setelah tsunami.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Tuesday, 12 June 2012

Logo Visit Aceh 2013

Ini adalah logo yang direkomendasikan oleh DISBUDPAR untuk mengikuti aneka lomba Visit Aceh 2013
Baca Selengkapnya

Tuesday, 15 May 2012

Pasang Iklan


Pemasangan Iklan
(Alhamdulillah kini Blog OA -Only Aceh- sudah menyediakan kolom iklan di sidebar)

Apakah anda ingin memasang iklan merek/produk dagang di blog kami? Kami dengan senang hati menerimanya dan kami yakin iklan anda akan sangat mudah diterima oleh khalayak ramai.
Syarat  iklan :
1. ukuran width 190, height 300 (maklum agar sesuai dengan sidebar)
2. harga  Rp. 10.000/bulan,-
3. apabila anda perlu kami juga bisa mendasain iklan anda (dengan syarat memberikan beberapa foto tentang produk anda), tidak dipungut biaya.
4. iklan tidak mengandung unsur negatif.
5. iklan bebas.


Hubungi : 085277166272 (sms only, maklum microfon hp sedang rusak)



Baca Selengkapnya

Monday, 14 May 2012

Toko Soevenir Serba Lengkap

Jika Anda berkunjung ke Aceh, belum lengkap jika Anda belum mengunjungi Putroe Aceh Souvenir. Di toko yang berada di Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 67, Banda Aceh ini, sejumlah cinderamata seni dan budaya Aceh tersedia. Seperti batik, songket, kaos oblong, baju tari dan sejumlah busana lainnya. Aneka makanan, pernak-pernik khas Aceh juga bisa ditemui. Tidak terkecuali senjata khas masyarakat Aceh. Rencong.

Produk-produk ini adalah hasil kerajinan tangan dari masyarakat-masyarakat Aceh. Menurut Muhtar, pemilik Putroe Aceh Souvenir, sekitar 80 persen produknya diperoleh dari sejumlah pengrajin dengan cara konsinyasi. Muhtar memilih produk lokal, karena ingin mengangkat dan memperkenalkan budaya Aceh. Untuk menjaga produk tetap diminati, dia kerap melakukan survei terhadap barang-barang yang banyak diminati masyarakat.

Muhtar menjelaskan, Putroe Aceh Souvenir dirintis kembali dengan modal pas-pasan, setelah porak-poranda oleh hantaman badai tsunami, enam tahun silam. Selain di Jalan KH Ahmad Dahlan, shoow room Putro Aceh juga bisa ditemui di Jalan Panglateh Nomor 17, Merduati, Banda Aceh. Jika Anda tidak sempat ke sana, Anda juga bisa memesan melalui telepon di nomor 0651-21741 dan barang akan diantar langsung ke alamat Anda.

Alamat : Jalan Panglateh Nomor 17, Merduati, Banda Aceh
Phone : 0651-21741
Baca Selengkapnya

Sunday, 6 May 2012

Visi dan Misi Disbudpar Aceh


VISI
Terwujudnya Pembangunan dan Pengembangan Potensi Budaya dan Pariwisata sebagai andalan pertumbuhan ekonomi daerah dengan membuka lapangan kerja dan usaha baru bagi masyarakat.
MISI
Menjadikan Aceh sebagai salah satu destinasi wisata andalan nasional yang berbasis pada Agama Islam dan pelestarian nilai-nilai budaya.
  1. Tertatanya semua objek wisata (alam, agro, budaya dan minat khusus)  dan menjadikan sebagai objek yang layak jual.
  2. Meningkatkannya koordinasi dan kerjasama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah dengan Stakeholders/para pelaku usaha wisata dan pihak terkait lainnya dalam rangka mengembangkan dan memajukan kebudayaan dan pariwisata daerah.
  3. Menjadikan budayawan dan pekerja seni sebagai ujung tombak pelestarian budaya dan seni daerah serta berperan sebagai ajang promosi daerah baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.
  4. Terselenggaranya event-event daerah baik mayor, supporting, maupun corevent secara berkala sebagai media promosi wisata dan budaya daerah serta ikut berpartisipasi pada event nasional maupun event internasional.
  5. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan yang mampu membuka peluang lapangan kerja dan usaha baru disektor pariwisata dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Selengkapnya