Ini Hanya Blog Biasa yang Menyediakan Informasi Hal-hal Menarik Tentang Aceh.
Kuah Pliek-U, Gulai Para Raja
Masakan atau gulai khas Aceh.
Okezine - Template
Mesjid Raya Baiturrahman
Saksi bisu sejarah Aceh.
Okezine - Template
Tari Saman
Satu ciri menarik dari tari Aceh
..
Prev 1 2 3 Next

Tuesday, 17 July 2012

Makam Sultan Iskandar Muda


merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636 ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Saat itu Banda Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa. Beliau bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak kandungnya. Dikisahkan, Sultan memiliki dua orang putera/puteri. Salah satunya bernama Meurah Pupok yang gemar pacuan kuda.Tetapi buruk laku Meurah, dia tertangkap basah sedang berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap sang suami, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong. Sang suami kemudian melaporkan langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang suami kemudian berharakiri (bunuh diri) Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda dan dipancungnya (dibunuh) sendiri di depan umum. Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala. Murah Pupok dikuburkan di kompleks pekuburan tentara Belanda yang terkenal dengan nama "KerKhoff Peutjoet"

sumber : sragen online
Baca Selengkapnya

Taman Sari


merupakan taman tempat bermain yang ramai dikunjungi oleh masyarakat dengan lokasi yang berada tidak jauh dari Mesjid Raya Kota Banda Aceh, Taman Sari merupakan salah satu tempat paling favorit di Kota Banda Aceh dengan fasilitas yang tersedia antara lain : mempunyai taman yang luas dan tertata rapi dengan aneka permainan gratis bagi anak-anak dan juga tersedia hot spot gratis sehingga setiap orang dapat mengakses internet serta di dukung oleh bangunan gedung untuk menunjang tempat ini sebagai pusat kegiatan masyarakat.

sumber : sragen online
Baca Selengkapnya

Taman Wisata Krueng Aceh


Taman Wisata Krueng Aceh Sungai yang membelah Kota Banda Aceh ini merupakan salah satu sungai yang cukup bersih untuk dijadikan sebagai objek wisata dengan konsep panorama aliran sungai dengan suasana tenang dan nyaman untuk melepas kepenatan. Titik Lokasi Waterfront City di Kota Banda Aceh meliputi kawasan Gampong Keudah, Gampong Kuta Alam dan Kawasan Gampong Lamgugob, dengan sarana yang tersedia yaitu tempat rekreasi keluarga di titik Keudah dan Kuta Alam serta wisata air di jembatan lamnyong dan juga Sebagai pelengkap bagi pengunjung yang tidak hanya melepas kepenatan dapat memanfaatkan lokasi jogging track dekat jembatan Peunayong sebagai sarana olah raga ataupun tempat pembibitan benih tanaman di Kampung Bar.

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pantai Kuala Geulumpang


Merupakan objek wisata Bahari dengan panorama pantai yang sangat indah menawan dengan pasir putih bersih yang membentang sepanjang pantai. Objek wista ini terletak di Kecamatan Julok yang berjarak 5 Km dari ibukota Kecamatan dari kota Langsa berharak 80 Km. Untuk menuju ke lokasi wisata dapat dilalui kenderaan roda empat maupun roda dua.sangat cocok buat wisata akhir pekan bersama keluarga.

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pantai Kuala Parek


Terletak di Kecamatan Rantau Selamat kota Langsa,terdapat sebuah objek wisata pantai yang mempesona yaitu pantai Kuala Parek. Pantai ini terletak + sekitar12 Km dari Ibukota Kecamatan atau lebih kurang 27 Km dari Kota Langsa, untuk menuju ke lokasi wisata ini dapat ditempuh dengan mempergunakan mobil dan dilanjutkan dengan menggunakan boat. Pantai ini merupakan wisata bahari yang memiliki pasir putih yang indah dan menawan.


sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pantai Matang Ulim


terletak 2,5 Km dari ibukota Kecamatan Idi Rayeuk atau 75 Km dari Kota Langsa dan dapat ditempuh dengan berbagai jenis kenderaan, pantai ini pangjangnya 1,5 Km dengan lebar pantai yang cukup luas. Sepanjang pantai ditumbuhi pohon cemara laut yang rindang dan memberikan kenyamanan jika panas siang hari. Angin laut yang berhembus sepoi-sepoi disela-sela pepohonan dan riak gelombang Selat Malaka yang tiada hentinya menghempas pantai membuat pantai ini begitu mempesona terutama bila hari panas. Pengunjung biasanya betah berada dipantai ini sampai sore hari.

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pantai Ujong Blang


adalah salah satu dari beberapa pantai yang berada di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara yang cukup terkenal. Pantai Ujong Blang terhampar dari muara sungai Cunda (kuala cangkoi) yang meliputi empat wilayah desa yaitu Desa Ujong Blang, Ulee Jalan, Hagu Barat Laut, dan Desa Hagu Tengah.
Objek wisata Pantai Ujong blang dinamakan berdasarkan desa di mana pantai ini berada. Arti “Ujong Blang” sendiri dalam bahasa aceh adalah “ujong” berarti ujung dan “blang” berarti sawah atau hamparan kebun. Karena pada awalnya, wilayah Lhokseumawe terdiri dari areal sawah, rawa, dan tanah kosong.

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pulau Seumadu


terletak di Kecamatan Muara Satu,Kota Lhokseumawe.Lokasi wisata pulau seumadu ini berada sekitar 10 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Jika sampai di depan komplek perumahan PT Arun, maka berbeloklah ke kiri. Lurus. Ikuti jalan itu. Sekitar 100 meter dari Jalan Medan-Banda Aceh, tepat di depan Kompleks Perumahan PT Arun, akan ditemui lokasi wisata pantai itu

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Taman Laut Rubiah


terletak sekitar 23,5 km sebelah barat kota Sabang, dapat dicapai melalui darat, atau sekitar 7 km dengan menggunakan perahu boat, dan terletak bersebelahan dengan desa Iboih. Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah perairan ini, sekitar 2600 hektar sekitar pulau Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Terletak di teluk Sabang, dimana air disini relatif tenang dan sangat jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan ikan bermacam warna. Dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion fish, sea fans, dan banyak lagi.

Pantai IboihBagi penggemar snorkel berpengalaman, Octopus dan Stingrays dapat dilihat disini. Berjemur sinar matahari di pantai dengan pasir yang halus dan putih dapat dilakukan pada pantai yang berseberangan. Tempat ini merupakan surganya turis penggemar snorkel dan selam.Terumbu karang hanya berjarak sekitar 5 meter dari tepi pantai berpasir.

Akomodasi berupa makanan dan penginapan tersedia di desa Iboih. Iboih adalah desa kecil dimana kondisi dan layanan penduduk sangat menunjang kenyamanan dalam menikmati atraksi alam sekitar.

Hutan Wisata Iboih terletak bersebelahan dengan Taman Laut Rubiah, dengan luas sekitar 1300 hektar dan juga merupakan daerah terlindung. Hutan ini merupakan hutan hujan tropis yang masih tinggi kerapatannya tetapi selalu mengundang pengunjung untuk menikmati keindahan keasliannya. Hutan ini tempat bagi beragam binatang, banyak terdapat monyet, reptil kecil dan besar, dan burung beraneka warna termasuk burung dara Nicobar yang tidak terdapat di bagian lain Indonesia.

sumber : sragenonline
Baca Selengkapnya

Pantai Pulau Weh


sangat beragam dan sangat menarik untuk dikunjungi. Pantai Kasih adalah pantai yang paling dekat dengan kota Sabang. Sekitar dua km ke arah Barat Daya terdapat pantai berbatu dengan banyak pepohonan kelapa sepanjang semenanjung. Di sepanjang semenanjung ini juga dapat ditemui beberapa peninggalan Perang Dunia II berupa benteng-benteng tempat senjata berat seperti meriam.

sumber : sragenonline

Baca Selengkapnya

Pantai Lhoknga


Berada di Tanah Aceh, jaraknya hanya 20 km dari Kota Banda Aceh tepatnya dikawasan PT. Semen Andalas Indonesia. Sebelum stunami menghantam Aceh taon 2004 lalu, kawasan pantai ini cukup memberikan nuansa wisata pantai yang alami. Banyak pohon-pohon rindang terutama pohon kelapa yang tumbuh berjejer dan rimbun memberikan kesejukan, juga pohon cemara atau aron. Pantai pasir putih dengan sedikit bebatuan yang memantulkan warna biru laut seolah-olah sebuah aquarium karena menampakkan ikan-ikan yang berwarna-warni. Deretan penjaja makanan dan minuman dibawah pohon serta gunung yang hijau bersebelahan dengan laut, cukup melengkapi sebagi obyek wisata pantai yang alami. Banyak wisatawan baik lokal maupun manca negara setiap harinya mengunjungi atau sebagian orang singgah untuk istirahat sebentar untuk melanjutkan perjalanan ke pantai barat-selatan

sumber : p.sragenonline

Baca Selengkapnya

Pantai Lampu'uk


Mempunyai pantai dengan pasir putih yang sangat indah, sehingga tempat ini sangat cocok sebagai area rekreasi baik untuk berenang, berjemur, memancing, berselancar atau pun sekedar menikmati suasana pantai yang indah. Sebelum terjadi tsunami, daerah ini merupakan perkampungan tradisional bagi masyarakat Aceh Besar dengan penduduknya yang bekerja sebagai nelayan, petani cegkeh, pegawai pabrik Semen PT SAI dan lain-lain. Di kawasan ini juga terdapat Padang Golf Seulawah dengan latar belakang panorama laut. Di sore hari pantai ini terasa lebih indah dan penuh pesona. Pengunjung dapat menyaksikan indahnya matahari terbenam, sehingga memberikan suatu kenikmatan tidak terlupakan. Disekitar pantai juga banyak tempat makan dengan penjaja ikan yang siap dipanggang dan bisa langsung dinikmati pengunjung.

Saat tsunami melanda Aceh, kawasan ini termasuk kawasan yang sangat parah kondisinya. Karena daerah ini terletak di bibir pantai dan di ujung pulau Sumatera, maka kerusakan akibat tsunami sangat fatal. Cukup banyak penduduk di daerah ini menjadi korban. Namun kini tempat ini telah dikelola kembali oleh pemerintah sehingga pengunjung dapat kembali menikmati keindahan pantai ini walaupun di pantai ini ada zona terlarang untuk berenang karena pusaran ombaknya yang terlalu berbahaya. Kawasan ini juga telah ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai monumen tragedi tsunami.

Sumber : sragen
Baca Selengkapnya

Pantai ujong Batee


Terletak di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, jaraknya menuju lokasi sekitar 17 ( tujuh belas ) kilometer dari kota banda aceh menuju Pelabuhan Malahayati.
Dan di sebelah kanan dari posisi pantai ujong batee hanya ada pulau weh di laut bebas persis di pintu masuk Selat Malaka. Sementara sebelah kirinya Pulau Aceh di samudera Hindia.
karena Pantai ujong Batee rusak gara gara tsunami

From : sragen
Baca Selengkapnya

Pantai Lhok Me


Berada di Desa Lamreh, Dusun Lhok Mee, Jalan menuju Krueng Raya, sekitar 30 Km dari Kota Banda Aceh.
Untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.
Pantai Lhok Mee merupakan pantai berpasir putih yg indah dan menjadi salah satu tempat rekreasi bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Disepanjang pinggir pantai terdapat warung yg menjual makanan dan minuman bagi para pengunjung. Tidak jauh dari kawasan pantai terdapat perumahan penduduk setempat.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Air Terjun Suhom


Ini berada di tengah panorama alam yang indah dan alami. Di sekitarnya terdapat banyak pohon durian, pada musim durian banyak yang berjualan durian di sekitar air terjun. di sekitar air terjun juga terdapat lokasi yang dapat digunakan untuk berkemah (camping).
Air terjun yang deras ini menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat di sekitar Desa Kreung Kala. Sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro kini telah dibangun di dekat air terjun dan dioperasikan untuk mengaliri listrik kepada penduduk Desa Kreung Kala.

Dari Banda Aceh menuju ke lokasi air terjun, terhampar pemandangan pantai yang menakjubkan dengan keindahan yang luar biasa, deburan ombak dan pasir putih terlihat dekat di sepanjang jalan, dan tampak pula barisan pegunungan yang tinggi dan indah.

Lokasi wisata alam Air Terjun Suhom, ramai dikunjungi pada hari libur , di tempat ini terdapat pemandu wisata yang berasal dari warga lokal

From : sragen
Baca Selengkapnya

Air Terjun Kuta Malaka


Adalah air terjun yang berada di Kuta Malaka, Kecamatan Samahani, Kabupaten Aceh Besar, Nanggro Aceh Darussalam.
lebih kurang 600 m dpl, yang bertingkat-tingkat.
Konon kata masyarakat setempat mencapai 8 tingkat dan ada yang mengatakan 20 tingkat.Untuk menuju ke lokasi kita harus menempuh perjalanan sejauh 30 km dari pusat kota Banda Aceh

From : sragen
Baca Selengkapnya

Air Terjun Peukan Biluy


Adalah Objek Wisata Air Terjun yang merupakan salah satu obyek wisata alam yang ada di Kabupaten Aceh Besar tepatnya di Desa Biluy, Kecamatan Darul Kamal, dan juga merupakan tempat rekreasi bagi penduduk setempat.

Tempat wisata air terjun Pekan Biluy ternyata masih meninggalkan sisa-sisa kejayaannya. Sebuah bekas bangunan kafe kayu masih berdiri rongsokannya, juga ada 2 tempat duduk beton memanjang disitu. Untuk melihat langsung posisi air terjun pengunjung harus menaiki anak tangga sebanyak 172 buah dengan kemiringan rata-rata 45 derajat

Pasca bencana tsunami 24 Desember 2004 silam,jalan menuju air terjun Peukan Biluy rusak parah bahkan perbukitan tersebut banyak yang telah hilang namun sudah diperbaiki.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Waduk Kelling Aceh


Berada di Desa Lam Leuot Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.
Dari arah jalan raya Medan-Banda Aceh menuju ke waduk ini bisa kita tempuh sejauh kurang lebih 7 ( tujuh ) kilometer.
Waduk Keuliling yang berada di antara bukit-bukit tersebut memberikan suasana tersendiri, Waduk Keuliling yang merupakan wisata buatan dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai tempat melepaskan hobi bagi mereka yang suka memancing.
Baca Selengkapnya

Wisata Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan


Mempunyai sejarah panjang sebelum ditetapkan menjadi Tahura. Sejak tahun 1930 kawasan Seulawah Agam telah ditetapkan menjadi kawasan hutan. Pada tahun 1990 Pemda Daerah Istimewa Aceh, melalui SK Gubernur Kepala D.I. Aceh No. 522.51/442/1990 tanggal 4 September 1990 membentuk Tim Taman Hutan Raya Seulawah. Luas peruntukannya mencapai 25.000 hektar, dari luas tersebut akan dipilih 10.000 hektar yang dianggap layak dan dapat mewakili keanekaragaman potensi flora, fauna maupun potensi fisik lainnya yang ada. Ternyata dari luas yang diperkirakan awal 10.000 ha, hanya 6.300 ha yang ditetapkan sebagai luas areal Tahura, dan nama Tahura Seulawah kemudian ditetapkan menjadi Tahura Pocut Meurah Intan. Tahura Meurah Intan terletak di gugusan kawasan hutan Seulawah Agam, berjarak 70 kilometer dari Kota Banda Aceh, di dominasi vegetasi hutan pegunungan dan Pinus Merkusi. Secara administratif berada di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Keadaan topografi Tahura Pocut, umumnya berbukit-bukit. Sebagian kecil adalah dataran dengan status sebagai hutan negara bebas dengan ketinggian 0 sampai 40 meter di atas permukaan laut (DPL) dan berada di kaki Gunung Seulawah Agam. Tahura Pocut menyimpan berbagai jenis flora yang didominasi kayu Pinus (Pinus mercusii) dan Akasia (Acasia auriculiformis) seluas 250 Ha, dan padang alang-alang yang luasnya 5.000 hektar atau 20 persen yang diselingi hutan-hutan muda. Penyebaran jenis-jenis flora ini hampir merata di semua kawasan, mulai hutan pantai, hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi. Sedangkan jenis fauna antara lain Rusa (Cervus unicolor), Babi (Sus Scrofa), Landak (Hystrik brachyura), Kancil, Kera ekor panjang, Burung sri gunting, Burung sempala, Ayam hutan, dan Lutung. Di samping itu dijumpai juga jenis mamalia besar di antaranya Gajah (Elephas maximus). Penyebaran jenis fauna hampir merata di seluruh kawasan. Alamnya yang potensial sebagai tempat wisata karena didapati sejumlah obyek alam menarik, seperti air terjun berair panas, sumber air panas, kawah ie juk, kawah belerang, tempat mengasin satwa, kubangan gajah, rumah, kolam, saluran pembagi air, bendungan tua peninggalan Belanda, mata air, lembah Mon Jasa Ma, Makan Tgk. Lamcut, Mesjid Tgk. Keumuruh, tebing batu bersusun, lintasan gajah, lantai gunung berbatu, alur besar berbatu, gunung gajah, batu monyet, tempat bermain.

From : sragen
Baca Selengkapnya

(PLG) Pusat Latihan Gajah Saree

 
Berada di lokasi Kabupaten Aceh Besar, Hewan Gajah adalah satwa herbivora pemakan tumbuhan dan penyebar bibit dari hasil kunyahan yang tertelan melalui prosesi memamah biak dan dari kotorannya dapat membantu proses pembiakan biji secara natural, kotoran tersebut membantu proses percepatan tumbuhnya biji (dormansi) menjadi kecambah, juga kotorannya menghasilkan pupuk organik bagi hutan yang menjadi daerah lintasannya.

Awalnya, gajah yang menghuni PLG Saree merupakan gajah-gajah liar, yang kemudian ditangkap. Tetapi gajah-gajah ini ditangkapi karena kebanyakan dari mereka pernah melakukan tindakan-tindakan merusak seperti merusak kebun penduduk.

Gelar khas untuk gajah di Aceh adalah Teungku Rayeuk ini berarti penunjukan dan penamaan berdasarkan ciri phisik gajah yang besar dan raya, gelar tersebut ditabalkan para endatu Aceh pada zamannya, hingga kini sebutan itu juga masih lekat, dimana para endatu dapat hidup berdampingan dengan satwa besar ini bahkan dalam dinas peperangan kerajaan Aceh dimasa gemilang, dimana gajah menjadi teman disaat menjadi pasukan dan berperan sebagai tuan dan pengendara tapi cerita ini begitu sopan dan arif sehinga menjadi legenda turun menurun.

Mengapa demikan, kenapa begitu ramah dimasa endatu orang Aceh tersebut memperlakukan gajah sebagai teman dan sahabat baik manusia dan menempatkan gajah sebagai Teungku Rayeuk , di Aceh gelar Teungku berarti Orang Alim , kenapa gajah dianggap alim dan bersahaja,

Era tahun 70-an hingga 80-an ketika kita berangkat menjelang malam hari dari banda Aceh menuju Pidie disebutkan Teungku Rayeuk sering melintas jalan raya di sekitar Hutan pegunungan Seulawah tanpa ada mengganggu manusia bahkan penumpang bis pun tak terusik. Ini menandakan hubungan manusia dan satwa terjalin dengan baik..mungkin kondisi hutan pada saat itu lumayan baik, pembukaan hutan terasa kecil dan kondisi hutan masih dalam kondisi normal.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Gunung Seulawah Agam


Kabupaten Aceh Besar. Seulawah Agam kaya akan berbagai Flora dan Fauna. Sebut saja Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis), Kedih (Presbytis Thomasi), Burung Rangkong (Buceros Rhinocerous), dan Jamur (Fungi) berbagai species serta satwa-satwa lainnya. Menurut kabar, nantinya Seulawah Agam dan kembarannya Seulawah Inong akan dijadikan sebagai kawasan konservasi. Itu penting, mungkin saja mengingat perambahan kayu kian marak saja di sana.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Cagar Alam Jantho


Dari Banda Aceh (Ibukota Propinsi NAD) berjarak sekitar 50 Km. Dari Kota Jantho (Ibukota Kabupaten Aceh Besar) ke Kawasan Cagar Alam sekitar 9 km.
Menggunakan kendaraan pribadi ataupun sarana transportasi umum
Penjelasan Kawasan Cagar Alam Jantho menjadi kawasan lindung bagi pemerintah daerah Nangroe Aceh Darussalam. Berbagai Flora dan Fauna hidup dalam cagar alam ini. Waktu kunjungan terbaik pada bulan April s/d Agustus (Musim Kemarau) untuk menikmati pemandangan/panorama yang indah. Jenis Flora yang bisa didapati diantaranya hutan Pinus, Mampre, Jambu air, Gleum, Bremen, Sampang, Ara, Damar, Medang, Kayu hitam, Beringin, Meranti, Kandis, Rambutan hutan, Tampu, Ketapang, Medang ara, Lukup, Tampang, Lawang, Semiran, Anang, Jenarai, Kerakau, Rengen, Merbau.

Sementara keanekaragaman fauna yang bisa dijumpai seperti siamang, Owa, Macan dahan, Kucing Hutan, Rusa, Kijang, Kancil, Napu, Gajah, Kambing Hutan, Beruang, Trenggiling, Kukang, Kuao.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Pantai Kuala Katung


Merupakan objek wisata pantai yang terletak di Desa Ujung Serangga, tempat wisata ini memiliki fasilitas seperti cafe-cafe yg berada di sepanjang jalan, juga sangat dekat dengan pelabuhan perahu nelayan untuk menangkap ikan dan pelabuhan bongkar muat barang dari kapal-kapal luar daerah.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Krueng Babahrot


Sungai indah yang memanjang ini mengalir dari pegunungan yang hijau, air yang bersih dan sejuk akan terlihat ketika melintasi jembatan panjang krueng babahrot, panorama alam yang sangat indah dan asri menjadi pesona dan daya tarik tersendiri bagi pengunjung-pengunjung yang datang ke daerah Krueng Babahrot ini, dengan luas sekitar 8,5 Ha dan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang pariwisata berupa kantin dan rumah makan.

From : sragen
Baca Selengkapnya

Tugu Perjuangan Teungku Peukan


Tugu yang terdapat di Kabupaten Aceh Barat Daya ini dibangun untuk mengenang Teungku Peukan yang tewas tanggal 11 September 1926 dalam sebuah penyerangan ke Bivak/Tangse Belanda di Blangpidie. Teungku Peukan merupakan seorang ulama yang berpengaruh dan kharismatik. Beliau merupakan sosok pejuang perintis kemerdekaan yang pantang menyerah.

From : sragenonline
Baca Selengkapnya

Tari Ratep Meuseukat


Merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu ratéb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.

Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.

Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.

Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman milik suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang.


From : sragenonline
Baca Selengkapnya

Monday, 16 July 2012

Hmmmm...Enaknya Durian Aceh

Sumber : Antarafoto
(17/6/2012).Seiring dengan mendekati suasana Ramadhan, banyak durian yang dijual di sekitar Ule Kareng Banda Aceh, Lapangan Tugu Darussalam, Lamnyong, Peunayong dan daerah-daerah lainnya. Selain rasanya yang enak, durian juga dijual dengan harga yang murah. Durian di berbagai daerah sudah panen dan tentunya para penikmat durian bisa datang langsung ke Aceh untuk menyantap rasa durian yang enak ini.
Sumber : thyaonly
Baca Selengkapnya

Visit Aceh 2013

Logo Visit Aceh 2013 yang merupakan lambang untuk menyampaikan pesan indah kepada seluruh wisatawan nasional dan internasional untuk "menjenguk" nuansa keindahan Aceh.
Baca Selengkapnya

Waterboom Lhokseumawe





Waterboom Mangat Ceria , merupakan pioner sarana permainan air di kota Lhoksumawe,Desa Alue Lim. Diresmikan pada (1 April 2012). Kemudian mengikuti dengan membangun sarana permainan air seperti ini. Saat ini, Waterboom Mangat Ceria terus berbenah diri. Salah satunya dengan menambah kolam maupun seluncuran yang meliuk-liuk dari atas bukit.
Sehingga hal tersebut menambah nuansa tersendiri yang tidak didapatkan di tempat lain kecuali di Waterboom Mangat Ceria. Bouncer atau sebuah Game Zone yang khusus diperuntukkan buat anak-anak juga bisa ditemui di Waterboom Mangat Ceria


Mengingat semakin banyaknya kompetitor yang membuka permainan yang sama (Waterboom), dan untuk lebih memaksimalkan pengembangan serta memberikan pelayanan lebih baik terhadap pengunjung; maka Objek Wisata Waterboom Mangat Ceria yang selama ini dikelola oleh Pemerintah Daerah Kota Lhoksuemawe kini diserahkan dan dipercayakan kepada pihak Swasta yakni PT. WWS pada tanggal 29 Desember 2009. Dengan ditangani oleh Pihak Swasta diharapkan Objek Wisata Waterboom Mangat Ceria akan semakin profesional.


Untuk saat ini, langkah pertama yang diambil PT. KALIL terhadap Waterboom Mangat Ceria yaitu memfasilitasi area Hot Spot ( WIFI )masih dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana internet gratis ini diharapkan para pengunjung yang tidak ingin berendam dalam air, misal saja sekedar ingin bersantai sambil menunggu keluarga/kerabatnya bisa browsing di dunia maya atau bermain game online. Ataupun jika sedang tidak ingin melakukan aktifitas apapun bisa beristirahat dengan suasana alam yang asri dengan bersantai di Gazebo-gazebo yang tersebar di sekitar bukit.
Fasilitas lainnya yang ada di Waterboom Mangat Ceria antara lain: slide/seluncuran yang dibedakan antara seluncuran untuk anak-anak dan untuk pengunjung dewasa, flying fox, pujasera, klinik, dan lain-lain.
sumber : skyscrapercity
Baca Selengkapnya

Lhokseumawe sebagai tempat wisata


Sektor pariwisata merupakan salah satu andalan pemasukan bagi Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, yang perlu dikembangkan di antara berbagai potensi lainnya, pascagas PT Arun NGL.


Kadis Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe Miswar Ibrahim di Lhokseumawe, Sabtu (19/11/2011), mengatakan dengan tidak adanya lagi gas, berakibat pada minimnya dana bagi hasil antara pusat dan daerah serta mempengaruhi keuangan daerah dalam membiayai berbagai program pembangunan.


Untuk itu, katanya, salah satu upaya mengantisipasi hal tersebut adalah dengan mengoptimalkan berbagai potensi pendapatan, yakni sektor pariwisata. Menurutnya, potensi pariwisata di Kota Lhokseumawe banyak yang bisa dikembangkan, terutama wisata bahari dan situs sejarah.


Ia menjelaskan untuk wisata bahari ada Pantai Ujong Blang, salah satu objek wisata yang bisa dijual. Malah, melalui dana dari Provinsi Aceh sebesar Rp 1,5 miliar digunakan untuk membangun lokasi wisata di bekas lahan Cottage. Tempat ini berlokasi di Desa Hagu Barat Laot, yang berupa sarana dan prasarana wisata bahari.


Selanjutnya, pihak Dishubparbud Kota Lhokseumawe, juga telah merencanakan tempat wisata bahari lainnya, yaitu di lokasi waduk Pusong. Rencanannya, waduk Pusong tersebut akan dibuat sedemikian rupa, sehingga layak disebut sebagai tempat wisata.


"Seperti, pembangunan sarana memancing, halte, pos pengawasan dan juga pos restribusi dan sarana pendukung lainnya, karena lokasi waduk Pusong sangat strategis dijadikan tempat wisata, selain daripada fungsinya sebagai pencegah banjir di Kota Lhokseumawe," terangnya.


Terhadap realisasi rencana tersebut, Miswar mengaku sudah mengusulkan kepada tim pembahasan anggaran Kota Lhokseumawe, untuk meluluskan berbagai usulan yang diajukan sebagai instansi yang membidangi sektor pariwisata. Namun, belum mendapat tanggapan yang maksimal.


Pada pembahasan tahun anggaran 2012, yang disetujui hanya pembangunan pos restribusi dan pos pengawasan saja. Sementara, lanjutnya, pihaknya mengharapkan banyak terhadap pengadaan dan pembangunan berbagai sarana pendukung tersebut.
sumber : skyscrapercity
Baca Selengkapnya

Pemerintah Aceh Dukung Arun Jadi Terminal Penerima



 Pemerintah Aceh mendukung alih fungsi kilang LNG PT Arun di Lhokseumawe menjadi receiving terminal (terminal penerima gas) paska berakhirnya persediaan gas di propinsi ini yang diperkirakan pada 2013.
"Kita mendukung sepenuhnya pengalihan fungsi kilang PT Arus paska berakhirnya gas menjadi terminal penerima gas," kata Wakil gubernur Aceh, Muhammad Nazar, di Banda Aceh, Jumat (2/12).

Dijelaskan, jika bekas kilang LNG PT Arun itu difungsikan menjadi terminal penerima gas, maka minimal akan mampu memasok kebutuhan gas untuk menghidupkan sejumlah industri di Aceh, seperti PT KKA, PT AAF, PT Kraf Aceh dan PT Aromatic.

Muhammad Nazar menjelaskan jika bekas kilang LNG PT Arun itu dialihkan fungsinya menjadi terminal penerima gas, maka akan terkoneksi dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

"Aceh merupakan salah satu propinsi yang masuk dalam program MP3I di kawasan Sumatera. Dengan difungsikan bekas kilang LNG PT Arun menjadi terminal penerima gas, maka akan memberi manfaat besar bagi Aceh," kata Wagub.

Karenanya, Muhammad Nazar menyatakan pihaknya akan menyampaikan langsung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait rencana alih fungsi kilang LNG PT Arun paska berakhirnya gas di Aceh menjadi terminal penerima gas.

“Saya akan menyampaikan kepada Kepala Negara, mudah-mudahan dikabulkan untuk memberi jaminan ketersediaan gas bagi kebutuhan menghidupkan kembali sejumlah industri vital di Aceh," kata dia menjelaskan.

Itu juga bagian dari upaya revitalisasi PT Arun dengan harapan aset negara tersebut tidak menganggur setelah berakhirnya ketersediaan gas di Aceh, ujar Muhammad Nazar menambahkan.

Selain itu, ia juga mengatakan sarana pendukung pemanfaatan kilang LNG Arun untuk terminal penerima gas di Lhokseumawe tersebut tersedia seperti pelabuhan bagi kapal-kapal yang akan memasok gas.

"Selain bekas kilang bisa dimanfaatkan kembali untuk terminal penerima gas, infrastruktur pendukung juga sudah tersedia, termasuk letaknya yang sangat strategis di Aceh," kata Muhammad Nazar. (ant)
sumber : skyscrapercity
Baca Selengkapnya

Thursday, 12 July 2012

Mengenal Lebih Dekat “Rumoh Aceh”


Rumoh Cut Meutia
Rumoh Cut Meutia/Acehpedia.org



kalau ditanya hampir semua orang di Aceh pasti tahu yang mana rumoh Aceh (Rumah Aceh merupakan rumah tradisional Aceh, -pen). Tapi kalau ditanya dimana sekarang masih bisa ditemukan rumoh Aceh yang asli, rata-rata akan menjawab ada di Banda Aceh, tepatnya di Museum Negeri kota Banda Aceh diseberang Pendopo berdekatan dengan makam Sultan Iskandar Muda.


Lalu, apakah cuma ada di Banda Aceh saja yang masih mempunyai rumoh Aceh yang asli? kalau mau ditelusuri secara menyeluruh hampir diseluruh kabupaten dan kota di Aceh, rata-rata masih “menyimpan” barang langka rumoh Aceh ini.

Yang menjadi tanda tanya adalah apakah semua orang tahu dimana keberadaannya dan satu hal lagi kita harus ke gampong-gampong yang boleh dikatakan ke daerah pedalaman Aceh untuk menemukan rumoh Aceh ini yang masih asli dan otentik.

Seperti di Aceh Besar, disini masih bisa banyak ditemukan rumoh Aceh dengan keasliannya. Salah satu rumoh Aceh Cut Nyak Dhien yang sekarang dijadikan sebagai museum, tepatnya berada di Desa Lampisang, Kecamatan Lhok Nga. Kemudian ada juga rumoh Aceh Cut Meutia yang bisa dijumpai di Desa Mesjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara.

Jika mau menelusuri berbagai pelosok desa di Aceh Besar atau di Aceh lainnya, kemungkinan besar berbagai etnis keaslian rumoh Aceh masih bisa ditemukan.
Pada postingan lain, saya sempat melakukan ekspedisi bersama rekan-rekan Aceh Blogger Community Reg. III Bireuen (X-ABC III Bireuen) untuk menelusuri kediaman almarhum ulama sufi Aceh, Tgk. Chik Awe Geutah di kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Nah, disini kami juga menemukan rumoh Aceh yang sampai sekarang masih dijaga keasliannya (foto di atas, -pen), bahkan perkarangan yang masih identik dengan konsep ratusan tahun lalu.

Apa itu Rumoh Aceh?
Rumoh Aceh merupakan rumah panggung yang miliki tinggi beragam sesuai dengan arsitektur si pembuatnya, namun pada kebiasaannya memiliki ketinggian sekitar 2,5 - 3 meter dari atas tanah. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang utama sering disebut dengan rambat.

Merombak rumoh Aceh terbilang tidak begitu susah, misalnya saja ingin menambah ruangan dari tiga menjadi lima, maka tinggal menambahkan atau menghilangkan tiang bagian yang ada pada sisi kiri atau kanan rumah. Karena bagian ini yang sering disebut dengan seuramoe likot (serambi belakang) dan seuramoe reunyeun (serambi bertangga), yakni bagian tempat masuk ke rumoh Aceh yang selalu menghadap ke timur.

Rumoh Aceh yang bertipe tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan untuk tipe lima ruang memiliki 24 tiang. Bahkan salah satu rumoh Aceh (peninggalan tahun 1800-an) yang berada di persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, milik dari keluarga Raja-raja Pidie, Almarhum Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) memiliki 80 tiang, sehingga sering disebut dengan rumoh Aceh besar. Ukuran tiang-tiang yang menjadi penyangga utama rumoh Aceh sendiri berukuran 20 - 35 cm.

Saat pembuatan film sejarah Pahlawan Nasional Tjut Nyak Dien dalam Perang Aceh - Belanda, sang sutradara Eros Djarot, memilih rumoh Aceh besar tersebut untuk mengisi beberapa scene dari filmnya tersebut.
Tangga Rumoh Aceh
Tangga menuju pintu masuk rumoh Aceh, rumoh Aceh milik Tgk. Chik Awe Geutah

Memasuki pintu utama rumoh Aceh, kita akan berhadapan dengan beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu pada umumnya. Untuk tingginya sendiri, pintu tersebut pasti lebih rendah dari tinggi orang dewasa.
Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk, konon makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.

Saat berada di ruang depan ini atau disebut juga dengan seuramoe keu/seuramoe reungeun, akan kita dapati ruangan yang begitu luas dan lapang, tanpa ada kursi dan meja. Jadi, setiap tamu yang datang akan dipersilahkan duduk secara lesehan atau bersila di atas tikar bak ngom (sejenis tumbuhan ilalang yang ada di rawa lalu diproses dan dianyam) serta dilapisi dengan tikar pandan.

Bagian-bagian Rumoh Aceh
Saat melihat rumoh Aceh, kita akan menjumpai terlebih dahulu dengan bagian bawahnya. Bagian bawah ini akrab disebut dengan yup moh/miyup moh, yakni bagian antara tanah dan lantai rumah.
Miyup moh
Bincang-bincang santai, juga merupakan salah satu kegiatan di 

Lazimnya dibagian bawah ini bisa kita dapati berbagi benda, seperti jeungki (penumbuk padi) dan kroeng (tempat menyimpan padi). Tidak hanya itu, bagian yup moh juga sering difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, membuat kain songket Aceh yang dilakoni oleh kaum perempuan, bahkan bisa dijadikan sebagai kandang untuk peliharaan seperti ayam, itik, dan kambing.

Beranjak ke bagian dalam rumoh Aceh merupakan tempat dimana segala aktifitas tuan rumah, baik yang bersifat pribadi ataupun bersifat umum. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.

Ruangan depan atau disebut dengan seuramoe reungeun merupakan ruangan yang tidak berbilik (berkamar-kamar). Dalam sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji saat malam atau siang hari. Disaat-saat tertentu, seperti ada upacara perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan inilah yang menjadi tempat penjamuan tamu untuk makan bersama.

Ruangan tengah yang disebut dengan seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, maka dari itu banyak pula disebut sebagai rumoh inong (rumah induk). Sedikit perbedaan dengan ruang lain, dibagian ruangan ini terlihat lebih tinggi dari ruangan lainnya, karena tempat tersebut dianggap suci, dan bersifat sangat pribadi. Di ruangan ini pula akan kita dapati dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dengan posisi menghadap ke utara atau selatan dengan pintu yang menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik itu terdapat pula gang yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Rumoh inong biasanya ditempat untuk tidur kepala keluarga, dan anjong untuk tempat tidur anak gadis.

Bila anak perempuan baru saja kawin, maka dia akan menempati rumah inong ini. Sedang orang tuanya akan pindah ke anjong. Bila ada anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke seuramoe likot, selama belum dapat membuat rumah baru atau merombak rumahnya. Di saat upacara perkawinan, mempelai akan dipersandingkan di bagian rumoh inong, begitu juga saat ada kematian rumoh inong akan digunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.

Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai yang sama dengan seuramoe reungeun, serta tidak mempunyai bilik atau sekat-sekat kamar. Fungsinya sering dipergunakan untuk dapur dan tempat makan bersama keluarga, selain itu juga dipergunakan sebagai ruang keluarga, baik untuk berbincang-bincang atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari perempuan seperti menenun dan menyulam.
Namun, ada waktunya juga dapur sering dipisah dan malah berada di bagian belakang seuramoe likot. Sehingga ruang tersebut dengan rumoh dapu (dapur) sedikit lebih rendah lagi dibanding lantai seuramoe likot. 

Setelah bagian bawah dan bagian dalam, kita lihat bagian atas dari rumoh Aceh. Tentunya bagian ini terletak di bagian atas seuramoe teungoh. Pada bagian tersebut sering diberi loteng yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.

Ternyata membuat rumoh Aceh bukan hal mudah, jika dilihat dari segi bahan-bahan bangunan yang digunakan bisa susah kepayang untuk dicari saat ini, terutama kayu yang merupakan bahan utamanya. Kayu sendiri banyak digunakan untuk membuat tameh (tiang), toi, roek, bara, bara linteung, kuda-kuda, tuleueng rueng, indreng, dan lain sebagainya. Ada juga kayu yang telah dijadikan sebagai papan, ini biasanya akan digunakan untuk membuat lantai dan dinding rumah.

Trieng (bambu) juga tidak kalah penting dalam pembuatan rumoh Aceh, salah satu gunanya untuk membuat gasen (reng), alas lantai, beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya. Enau atau aren juga adakalanya digunakan untuk membuat lantai dan dinding selain menggunakan bambu, daun Enau sendiri bisa juga sebagai pengganti daun rumbia untuk atap rumoh Aceh.

Ada juga taloe meu-ikat (tali pengikat) yang dibuat ijuk, rotan, kulit pohon waru, dan terkadang untuk saat ini biasa digunakan tali plastik. ‘Oen meuria (daun rumbia, buahnya sering dikenal dengan salak Aceh) merupakan salah satu bagian penting untuk pembuatan atap dari rumoh Aceh. Dan yang terakhir setelah ada daun rumbia, tentu peuleupeuk meuria (pelepah rumbia). Salah satu kegunaan pelepah rumbia digunakan untuk membuat dinding rumah, seperti rak-rak, dan sanding. Namun, pelepah ini bukan semata-semata pengganti dari papan.
Salah satu ukiran
Salah satu ukiran yang berada di dekat pintu masuk rumoh Aceh menuju ke tangga

Filosofi dan Keunikan Rumoh Aceh
Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang di yakini oleh masyarakat Aceh. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya yang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia.

Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika hendak menggabungkan bagian-bagian rumah yang tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun. Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat.

Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya, keberadaan rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya. Semakin banyak hiasan pada rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Dalam rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu:
  1. Motif keagamaan yang merupakan ukiran-ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran;

  2. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah merah dan hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah;

  3. Motif fauna yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai;

  4. Motif alam digunakan oleh masyarakat Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan

  5. Motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
Motif
Lekuk ukiran yang masih terasa begitu khas di rumoh Aceh Tgk. Chik Awe Geutah

Wujud dari arsitektur rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adap tasimasyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya. Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosialuntuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung).

Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan itu sendiri. Hal itulah mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah memenuhi beberapa persyaratan dan melalui beberapa tahapan. Persyaratan yang harus dilakukan misalnya pemilihan hari baik yang ditentukan oleh Teungku (ulama setempat), pengadaan kenduri, pengadaan kayu pilihan, dan sebagainya.

Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani. Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan.

Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong. Kecerdasan masyarakat dalam menyikapi kondisi alam juga dapat dilihat dari bentuk rumoh Aceh yang menghadap ke utara dan selatan sehingga rumah membujur dari timur ke barat.
Tali hitam
Tali hitam yang menghubungkan seluruh elemen dari atap rumah/abuafatah.blogspot.com

Ada juga keunikan lainnya dari rumoh Aceh, yakni terletak di atapnya. Tali hitam atau tali ijuk tersebut (lihat gambar sebelah kiri) mempunyai kegunaan yang sangat berarti, saat terjadi kebakaran misalnya yang rentan menyerang atap karena bahan dari rumbia yang begitu mudah terbakar, maka pemilik rumah hanya perlu memotong tali tersebut. Sehingga, seluruh atap yang terhubungan atau terpusat pada tali hitam ini akan roboh dan bisa meminimalisir dampak dari musibah yang terjadi.

Dalam perkembangannya, masyarakat Aceh memiliki anggapan bahwa dalam pembuatan rumoh Aceh memiliki garis imajiner antara rumah dan Ka’bah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya.

Jika arah rumoh Aceh menghadap kearah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk kekamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk rumoh Aceh.

Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti rumoh inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat.

Keberadaan tangga untuk memasuki rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke dalam rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila dirumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka “pantang dan tabu” bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat.

Rumoh Aceh Kini

Ada salah satu pesantren di Lueng Putu, Kabupaten Pidie Jaya, yakni Dayah Jeumala Amal yang ternyata sengaja membuat rumoh Aceh di dalam kompleks gedung-gedung santri, hal ini diyakni menjadi simbol perpaduan nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai modern kontemporer yang masih bisa dijaga sebagai nilai luhur peninggalan pendahulu.

Seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien serta semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlah rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit.
Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah dari pada rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit, pengadaan bahannya lebih sulit, dan biaya perawatannya lebih mahal. Namun, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka.

Saat ini, taksiran untuk membuat rumoh Aceh memang terbilang mahal, salah seorang utoh (tukang) dari  Peukan Pidie, Syafie menuturkan bahwa membangun rumoh Aceh yang sedang pada masa sekarang bisa berkisar Rp 20 juta, itu terdiri dari bahan-bahan kayu, atap daun rumbia yang bagus dan semua bagian rumah bisa menghabiskan uang lebih dari Rp 75 juta. Kalau yang besar, tidak kurang Rp 300 juta, jika melihat maksud dari yang besar ini tidak lain adalah rumoh Aceh yang memiliki 80 tiang.

Dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam rumoh Aceh, maka kita akan mampu memahami dan menghargai beragam khazanah yang terkandung di dalamnya. Bisa saja, karena perubahan zaman, arsitektur rumoh Aceh berubah, tetapi dengan memahami dan memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol yang digunakan, maka nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh para pendahulu dapat terjaga dan tetap sesuai dengan zamannya.

Satu hal lainnya, walaupun ketidakmampuan kita untuk membangun rumoh Aceh seperti sediakala dulu, paling tidak menjaga dan melestarikan pusaka Nanggroe ini menjadi hak atas masyarakat Aceh semua. Karena dari setiap pemaknaan rumoh Aceh, setidaknya kita bisa mengambil berbagai pelajaran berarti tentang Aceh, dan masyarakatnya.

Sumber : Klick Disini


Baca Selengkapnya

Tuesday, 10 July 2012

Tarian Ranup Lampuan

 Tari Ranup Lampuan adalah salah satu tarian tradisional Aceh yang ditarikan oleh para wanita. Tarian ini biasanya ditarikan untuk penghormatan dan penyambutan tamu secara resmi. Tari Ranup Lampuan dalam bahasa Aceh, berarti sirih dalam puan. Puan adalah tempat sirih khas Aceh. Karya tari yang berlatar belakang adat istiadat masyarakat Aceh, khususnya adat pada penyambutan tamu. Secara koreografi tari ini menceritakan bagaimana dara-dara Aceh menghidangkan sirih kepada tamu yang datang, yang geraknya menceritakan proses memetik, membungkus, meletakkan daun sirih ke dalam puan, sampai menyuguhkan sirih kepada tamu yang datang.
Baca Selengkapnya

Tarian Likok Pulo

Tari Likok Pulo adalah tari yang berasal dari Aceh. Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.

Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.
Baca Selengkapnya

Tarian Laweut

Tari Laweut adalah tari yang berasal dari Aceh. Laweut berasal dari kata Selawat, sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali disebut Akoon (Seudati Inong). Laweut ditetapkan namanya pada Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II). Tarian ini berasal dari Pidie dan telah berkembang di seluruh Aceh.

Gerak tari ini, yaitu penari dari arah kiri atas dan kanan atas dengan jalan gerakan barisan memasuki pentas dan langsung membuat komposisi berbanjar satu, menghadap penonton, memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada, kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.
Baca Selengkapnya

Friday, 29 June 2012

Mesjid Teungku Chik Kuta Karang


Mesjid Teungku Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu I Kemukiman Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Tgk. Chik Kuta Karang sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997. Imam mesjid ini sekarang dipangku oleh Teungku Muhammad, sebagai penanggungjawab pelaksanaan ibadah dan kegiatan lainnya di masjid.


Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Mesjid Jamik Jantho


Masjid ini terletak di Desa Weu Kemukiman Jantho Kecamatan Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 60 km dari Banda Aceh, dan 28 km dari Saree. Informasi dari imam masjid menyebutkan bahwa masjid ini dipindahkan ke lokasi yang sekarang di tahun 1710 M. Sebelumnya masjid ini dibangun di Desa Jantho Lama sekitar tahun 1640 M, di masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Masjid Indrapurwa


Menurut keterangan dari imam masjid, masjid ini dulu dibangun di Desa Pante Ara. Akibat abrasi, lokasi itu telah menjadi laut, pondasi mesjid itu masih terlihat saat air surut, kira-kira berjarak sejauh 2 kilometer dari bibir pantai. Kemudian masjid ini dipindahkan ke Desa Lam Badeuk Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Masjid Indrapuri


Mesjid ini terletak di Pasar Indrapuri Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, berjarak sekitar 24 km ke arah Utara Kota Banda Aceh. Bangunan mesjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 m2, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh. Ukuran masjid 18.8 x 18.8 meter, dan tinggi 11.65 meter.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya

Wednesday, 20 June 2012

Masjid Baiturrahim


Masjid Baiturrahim - Ulee Lheue adalah masjid di kemukiman Meuraxa, Desa Ulee Lheue, kira-kira berjarak 5 kilometer dari kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada tahun 1343 H, bertepatan dengan tahun 1926 M. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi, terakhir sempat rusak dalam terjangan tsunami 26 Desember 2004. Pada gambar di atas, tampak masjid Baiturrahim yang telah dipugar setelah tsunami.

Baca Sejarahnya di (aceh.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=bukumasjid)
Baca Selengkapnya